
"Kenapa gak Tante kamu aja yang suruh jemput ke sini?"
"Enggak, ah, Bun. Kasian kalo harus muter dulu. Mending Safa aja yang ke sana."
Pagi-pagi sekali, Miranti meminta Safa menemaninya meninjau wedding venue di Hotel. Katanya, Om Tirta lagi sibuk-sibuknya di kantor untuk persiapan cuti nikah bulan depan. Safa yang baik hati dan tidak sombong fine-fine saja, asal nanti pas pulang dibeliin lipstik Chanel sekebon. Haha, canda.
Safa tidak sekejam itu memeras tantenya, apalagi dengan prepare pernikahan yang butuh biaya besar, Safa cukup tahu diri untuk tidak menambah beban.
Safa berdiri di pinggir jalan menunggu jemputan. Sebelumnya dia sudah memesan taksi untuk mengantarnya ke rumah Oma. Tapi kok lama, ya? Padahal tadi Abang Grabnya bilang sudah dekat. Safa melihat jam tangan dan waktu sudah berjalan hampir tiga puluh menit sejak pesan terakhir dari si pengemudi.
Mau minta antar Dava, tapi abangnya itu sudah berangkat bahkan saat Safa baru keluar kamar. Pak Iwan juga tidak mungkin karena harus mengantar Tuan dan Nyonya Halim kondangan ke Bogor. Mereka berangkat pagi-pagi buta. Jadilah tinggal Safa dan Bik Inem di rumah.
Safa menghela nafas bosan. Menunggu adalah satu hal paling menyebalkan dalam hidup. Apalagi menunggu perasaan orang yang tak kunjung bersambut. Lebih-lebih hati Safa malah semakin kecut setiap harinya. Safa memutar bola mata melihat Alisia yang berjalan mendekat. Tujuannya jelas rumah yang ada di sebelahnya. Terlebih wanita itu membawa rantang seperti biasa.
Apa Tuhan sedang mempermainkannya? Kemarin Liandra, sekarang Alisia. Sungguh mujur nasib Edzar.
Safa melengos saat tanpa sengaja mata mereka bertemu. Dia bahkan bisa merasakan tatapan mencemooh yang Alisia layangkan padanya. Wanita itu pasti tengah merasa menang.
Kalau saja dia tahu lelaki yang dipujanya sudah memiliki calon, apa ekspresinya masih akan sepongah ini?
"Pagi, Safa. Rapi banget. Mau ke mana?" tanya Alisia menilik penampilan Safa dari atas ke bawah. Ada sedikit rasa iri yang terpancar dari matanya melihat outfit Safa yang bernilai ratusan juta. Ia tahu karena sering melihat headline dari salah satu brand yang produknya Safa pakai.
Alisia segera menormalkan wajahnya demi menjaga imej. Bisa jatuh harga dirinya kalau Safa tahu ia tengah panas hati.
"Bukan urusan Mbak," jawab Safa ketus tanpa membalas sapaan paginya.
Kontan wajah Alisia mengecut. Namun ia tak menyerah begitu saja. Sejak awal dia memang berniat membuat Safa kepanasan. Lihat saja nanti kalau Edzar sudah muncul, Alisia jamin ekspresinya tak tertolong.
"Kamu memang tidak bisa bersikap sopan pada orang yang lebih tua, ya?" ejeknya. "Tapi gak papa, sih. Aku juga gak butuh kesopanan dari kamu."
Alisia menunduk melihat tangan Safa, "Omong-omong, akhir-akhir ini aku lihat kamu gak pernah lagi bekalin Mas Edzar. Tumben. Kenapa? Biasanya kamu paling gercep," lanjutnya dengan nada tak kalah ketus.
Safa mendelik malas sambil bersidekap. Sikapnya masih tenang meski tahu sedang dipojokkan.
__ADS_1
"Bukankah itu bagus buat Mbak? Lagipula aku sudah tidak punya waktu untuk hal setidak penting menyiapkan bekal."
"Mending makanannya dikasih ke anak yatim dan duafa. Bukankah memang seharusnya kita berbagi pada orang yang lebih membutuhkan?"
"Dan aku rasa Om Edzar tidak termasuk dalam kategori orang yang butuh uluran tangan. Untuk apa repot-repot memikirkannya?"
Alisia menelengkan kepala, "Bukankah kamu menyukainya?"
Hening sesaat. Lalu Safa menoleh menatap Alisia, ekspresi lugu setia mendominasi wajahnya. "Suka? Kata siapa?" Matanya berkedip pura-pura polos.
Kalimat dengan nada tanya itu membuat Alisia mendengus. "Setelah berbagai perhatian kamu layangkan, kamu masih mau mengelak?"
"Sulit dipercaya," bisik Alisia.
Safa tak peduli. Apapun yang Alisia pikirkan tak akan berpengaruh apa-apa padanya.
"Kamu pikir selama ini aku tidak menyadari perasaanmu? Orang buta sekalipun akan langsung tahu kalau kamu memang menyukainya."
Sebenarnya apa mau anak Pak RT ini? Sebegitu pentingkah pengakuan Safa? Lagaknya seperti istri yang diselingkuhi. Menyebalkan.
Memangnya Alisia pikir dia itu siapa?
"Lalu kenapa? Bukankah itu merupakan hak dari setiap orang?"
"Ya—"
"Ya. Aku memang menyukainya," penggal Safa memotong ucapan Mbak Alis.
"Heh, benarkan," dengus Alisia berupa gumaman.
"Tapi itu dulu. Sebelum aku menyadari ada banyak pria yang lebih potensial untuk didekati."
"Hey... aku masih muda, okey? Tidak papa berlayar sebentar sebelum berhenti di pelabuhan. Benar 'kan?" ucapnya dengan lengkung manis di bibir.
__ADS_1
"Sebelum membeli barang, kita harus mengetahui spesifikasinya. Dan dari surveiku sejauh ini.... Rasanya Edzar tidak masuk dalam kriteria pria idamanku."
Safa berdecak mengedipkan sebelah mata, "Mbak Alis tenang saja. Tidak perlu bersikap preventif seperti ini padaku. Ayolah... Kita tetangga. Aku tidak akan merebut umpan yang kau lemparkan."
Safa mengikis jarak mencondongkan sedikit wajahnya. Senyum ceria masih terpatri di bibirnya yang manis. Alisia menatap itu dengan kening berkerut. Sedikit benci mengetahui dia cukup merasa terintimidasi.
"Karena sepertinya level kita berbeda." Safa menyeringai lebar menjauhkan wajahnya.
Diam-diam tangan Alisia mengepal. Berusaha menahan diri agar tetap bersikap elegan. Memaki Safa hanya akan mempermalukan diri sendiri.
Kalimat itu menjadi penutup perbincangan mereka. Karena detik berikutnya Edzar muncul membuka pagar. Mata tajamnya menatap bergantian Safa dan Alisia yang serentak menjauh satu sama lain.
Safa kembali pada tempatnya di depan rumah, berdiri membuang muka mengedarkan pandangan. Dan dia baru sadar Grab pesanannya belum juga datang.
Apa sopirnya tersesat? Atau bagaimana? Kenapa bisa selama ini? Tidak tahukah kalau Safa ingin cepat-cepat pergi? Karenanya mau tak mau Safa harus menebalkan telinga mendengar suara-suara di sebelahnya.
"Eh, Mas Edzar. Selamat pagi.... Gimana tidurnya semalam? Nyenyak? Ini aku bawain sarapan buat Mas. Kalo gak sempat makan sekarang, boleh kok bawa ke kantor buat bekal. Hehe."
Sikap Alisia berubah 180 derajat. Wanita itu bersikap malu-malu di hadapan Edzar. Terlihat sangat dibuat-buat. Cih.
Diam-diam Safa mencibir, menggerakkan bibirnya tanpa suara mengikuti ucapan Alisia yang menurutnya terdengar lebay. Tentu saja dengan wajah tak terjangkau oleh penglihatan keduanya.
Edzar hanya menggumamkan kata terima kasih. Safa tak bisa melihat ekspresinya karena posisinya yang membelakangi. "Terima kasih. Seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini."
"Tirimi kisih. Sihirisnyi tidik pirli ripit-ripit sipirti ini." Lagi-lagi Safa menirukan kalimat tanpa suara.
"Siapa bilang repot? Aku malah senang masakannya bisa Mas cicipin. Ini aku sendiri, lho yang masak. Dimakan, ya?"
"Hm."
Safa masih setia memberi punggung. Tangannya terlipat dengan dagu sedikit terangkat, menanti Abang Grab yang entah kapan akan datang. Safa mengipas-ngipas lehernya yang berkeringat. Entah karena cuaca atau hal lain. Yang pasti dia kesal pada supir taksi yang tak kunjung kemari.
Halah, kesal karena panas hati kali.
__ADS_1
Safa merengut. Pagi-pagi sudah dibuat keki. Sungguh hari yang memuakkan.