SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 93


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Safa mengurungkan niatnya untuk mengunci diri di kamar. Nyatanya saat ini bukan Edzar yang patut ia tangisi. Karena orang tuanya sendiri kini tengah menangis dengan wajah frustasi.


Seolah dunia melarang hatinya untuk mereda, sebuah kenyataan lain menghantam membuat jantungnya tersentak.


Awalnya Safa bertanya-tanya saat melihat beberapa mobil terparkir di depan rumahnya. Tentu ia gegas berlari dengan rasa penasaran yang tinggi siapa gerangan yang bertamu malam-malam seperti ini.


Namun Safa dibuat mematung saat mencapai pintu. Pemandangan selanjutnya yang ia lihat adalah perseteruan hebat antara Dava dan Tuan Halim. Bahkan, ini pertama kali Safa melihat Sang Ayah berteriak sekeras itu. Dava menunduk di hadapannya. Menerima segala cacian yang Tuan Halim layangkan dengan membabi buta. Melihat dari ruam-ruam membiru di wajahnya, Safa yakin sebelum ini Dava sempat kena pukul.


Sebenarnya ada apa?


"Apa yang kamu pikir telah kamu lakukan!!"


"Ayah tidak menyangka kamu bisa sampai berbuat seperti ini!"


"Apa penghasilan perusahaan masih kurang? Apa benefit dari usaha kita yang lain tidak cukup? Ayah mengajarkanmu mencari banyak uang bukan untuk ini.... Tidak dengan cara tamak seperti ini...."


"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"


"Kamu sudah mencoreng wajah Ayah, Dava!!"


"Ayah percayakan perusahaan pada kamu! Tapi sekarang malah kamu jadikan tempat untuk berbuat curang."


"Sekarang jawab Ayah dengan jujur. Apa benar yang mereka tuduhkan itu?" Suara Tuan Halim sedikit melunak. Namun Dava tetap bungkam dengan posisi menunduk.


Tanpa diduga, diamnya Dava malah memancing emosi Sang Ayah hingga membuatnya kalap. Lelaki itu memukuli Dava dengan membabi-buta. Nyonya Halim berteriak histeris, berusaha menarik Tuan Halim agar menjauh dari putranya. Dibantu beberapa orang yang masih tidak Safa ketahui maksud dari keberadaannya.


Siapa mereka?


Dava tertunduk dalam dengan keadaan wajah memprihatinkan. Safa mematung di ambang pintu, berusaha mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi selama dirinya pergi? Kenapa semua mendadak kacau seperti ini?


Nyonya Halim jadi yang pertama menyadari kehadirannya. Wanita itu sedikit tersentak sebelum kemudian menghampiri Safa dengan cepat dan memeluknya erat. Mengusap punggung dan rambutnya dengan lembut. Bunda sangat jarang bersikap lemah seperti ini padanya. Pasti benar, telah terjadi sesuatu yang besar selama ia tak ada.


"Bunda, ada apa? Mereka siapa?" tanya Safa berbisik. Matanya mengarah pada beberapa orang asing di ruang tamu rumahnya.

__ADS_1


Nyonya Halim terdiam sebentar. Gerakan tangannya sempat berhenti, dan Safa bersumpah ia mendengar segukan kecil dari bundanya. Ada apa? Pertanyaan itu kembali melayang di kepala Safa.


"Bukan siapa-siapa. Mereka hanya tamu."


Bohong.


Safa jelas tahu kedatangan mereka yang menyebabkan kekacauan.


"Kenapa Abang dipukul?"


Safa melihat abangnya yang terduduk di lantai dengan kepala menunduk. Serta-merta dia melepas pelukan bundanya dan berjalan mendekat ke arah Dava. Safa masih berusaha berpikir positif walau keadaan menunjukkan lain.


"Abang?" panggil Safa lirih.


Dava masih setia merundukkan kepalanya menatap lantai. Lalu, sebuah suara menyeruak, membuat Safa tersentak dengan jantung yang hampir jatuh dari tempatnya.


"Saudara Davandra Halim, kami sudah menemukan barang bukti berupa elektronik dan sejumlah dokumen di ruangan Wakil Direktur PT. Esensi Natural, yakni ruangan milik anda sendiri. Juga sejumlah uang sebesar 20 juta dollar di berangkas tersembunyi PT. Esensi Natural."


"Mohon anda bersikap kooperatif untuk ikut bersama kami dan menjalani pemeriksaan."


"Kenapa Abang harus diperiksa?"


Nyonya Halim tergugu di dekat pintu. Pun Tuan Halim yang enggan membuka suara. Begitupula Dava yang tak berani mengangkat kepala. Safa semakin bingung dibuatnya. Apalagi melihat wajah-wajah tegang itu, perasaan Safa semakin tak enak.


Dan benar saja, kalimat selanjutnya yang ia dengar betul-betul membuatnya terkejut sekaligus tercenung.


"Saudara Davandra Halim kami tangkap karena keterlibatannya dalam kasus korupsi yang dipromotori oleh Menteri Sosial Santoso Ilyas."


Hening.


Tiba-tiba kepala Safa terasa pening. Bayangan orang-orang itu berputar di sekelilingnya. Dan seakan tak peduli keadaan Safa, orang itu kembali berbicara.


"Santoso Ilyas berhasil ditangkap oleh tim kami yang lain di kediamannya. Beberapa saksi juga sudah kami bawa untuk diperiksa. Mohon kerja samanya untuk keluarga dan saudara Dava. Kami harus membawa anda untuk penyidikan lebih lanjut."

__ADS_1


Safa terdiam saat orang-orang itu menyergap abangnya. Matanya terlihat kosong. Ini pasti bohong. Semua ini tidak benar. Dava tidak mungkin melakukan hal seperti yang dituduhkan. Iya, kan?


Tolong katakan Safa tengah bermimpi atau berkhayal karena cemburu yang sempat ia rasakan. Hatinya menjadi lebih sensitif. Iya, pasti begitu.


Tapi, kenapa semua ini terlihat nyata? Rasa lemas yang ia rasakan di kakinya juga jelas terasa. Kali ini Dava berdiri di hadapannya dengan wesket oren khas narapidana. Safa menggelang pelan. Ia masih tidak percaya. Abangnya orang baik, tidak mungkin berbuat jahat apalagi menerima uang yang bukan haknya.


"Safa—"


Safa menghindar saat Dava ingin menyentuh kepalanya. Kakinya mundur beberapa langkah memberi sedikit jarak di antara mereka. Dava yang melihat itupun menatap Safa dengan nanar. Hatinya berdenyut nyeri menerima penolakan adiknya. Tangannya yang menggantung ia turunkan. Safa tak mau ia sentuh. Kenyataan itu berkali lipat lebih pedih ketimbang saat dipukuli ayahnya.


"Dek—"


"Jangan katakan apapun, kalau Abang tidak mau Safa menangis."


Wajah Safa terlihat datar setengah linglung. Dan itu membuat Dava mengepal, marah pada dirinya sendiri.


"Maafin Abang," bisik Dava dengan suara serak. Jika ia masih bisa menahan diri di hadapan Sang Ayah, tapi tidak di hadapan adiknya yang lugu dan selalu ia jaga sejak dulu.


Dava tidak bisa bayangkan sehancur apa hati Safa saat ini. Ia telah mematahkan sosok sempurna seorang kakak baginya. Meski selama ini mereka sering bertengkar, tapi itu tak lebih dari sekedar senda gurau.


"Jaga diri kamu baik-baik."


"Abang pasti akan rindu kamu," lanjut Dava untuk terakhir kali sebelum kemudian berjalan melewati Safa bersama orang-orang yang Safa ketahui sebagai penyidik.


Safa masih mematung di tempatnya. Ia bahkan tak menoleh saat bundanya histeris mengikuti Dava yang diboyong keluar. Hanya Tuan Halim yang terduduk lesu di sofa. Pria itu menunduk dengan tangan bertumpu di lutut. Punggung tegapnya kini meluruh terlihat rapuh.


"Pak Edzar, terima kasih atas kerja sama anda sebelumnya. Dulu mereka sempat lolos. Berkat anda kami bisa memberantas mereka sekarang."


Samar-samar Safa mendengar seseorang berbicara di belakangnya. Pelan-pelan Safa menoleh untuk memastikan. Dan benar, di ambang pintu sana ada Edzar yang berdiri bersama seorang pria yang merupakan anggota tim.


Safa tidak tahu ternyata Edzar mengikutinya kemari.


Edzar menoleh, tatapan mereka bertemu beberapa saat. Sebelum kemudian pandangan Safa memburam. Safa tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, yang ia dengar terakhir kali adalah seruan seseorang memanggil-manggil namanya.

__ADS_1


Tubuhnya ambruk menimpa lantai. Lalu, semuanya gelap.


"Safa...."


__ADS_2