
Yah ... meski Safa akui hasilnya tidak buruk. Benar kata orang, jangan remehkan ibu-ibu berdaster. Karena saat dia keluar kandang, habislah kalian semua.
Ada kalanya Safa bangga pada bundanya. Nyonya Halim itu tipe-tipe emak gaul yang dijamin gak akan malu-maluin kalau dibawa main. Main di sini maksudnya nge-mall ya, bukan main lego.
Oke, cuss ... markiton. Mari kita nonton.
Safa sudah menyiapkan banyak cemilan untuk menemaninya. Bagus, Safa, kamu akan menambah daftar kemarahan bundamu setelah ini. Nyonya Halim paling tidak suka melihat orang makan di atas kasur, kecuali kalau sedang sakit wanita itu akan memakluminya.
Bodo amat. Yang itu bisa pikirkan nanti. Mari mulai pencarian drama apa yang harus kita tonton saat ini. Tapi sebentar, ponselnya mana, ya?
Safa mengedarkan pandangan dan ketemu, benda pipih itu ada di atas meja dekat jendela. Aih ... malas banget harus bangun. Tapi Safa ingat dia belum membalas pesan Kamila. Mau tidak mau Safa bangkit dari rebahannya dan berjalan lemas.
Safa berniat kembali setelah mendapatkan ponselnya. Tapi entah kenapa tiba-tiba matanya mengarah ke luar jendela.
Safa mengernyit.
Siapa itu?
Seseorang berdiri di seberang jalan, dan kalau Safa tidak salah mengira orang itu sedang memandangi rumah ... Edzar?
Dilihat dari pakaiannya sepertinya seorang pria. Safa tidak bisa melihat wajahnya karena jarak pandang yang cukup jauh, terlebih orang itu memakai topi.
Mungkin karena merasa diperhatikan pria itu tiba-tiba menoleh, membuat Safa terperanjat dan tanpa sengaja menjatuhkan ponsel.
Aih ... ngagetin aja si Abang. Nolehnya gak kira-kira. Kok, bisa tepat banget gitu?
Bentar, kok Safa jadi tremor sendiri, ya? Sumpah demi Lee Minho tatapannya serem banget. Pelan-pelan Safa menolehkan lagi kepalanya ke luar jendela, tapi orang itu sudah tidak ada. Hiih ... kok merinding ya. Berasa lagi meranin film horror. Apa jangan-jangan yang tadi itu hantu?
Drrtt ...
“Omo hantu eh hantu!”
“Haish! Ngagetin aja, sih.” Safa meraup ponselnya yang bergetar.
Drrtt ... Drrtt ...
Kamila?
__ADS_1
“Halo, Mil?”
“Halo, Saf. Lagi ngapain? Sibuk gak?”
Safa memutar bola mata, “Kamu ngejek, ya?”
Kamila terkekeh pelan, senang banget kayaknya bikin Safa kesal.
“Hehe, enggak lah. Kamu ‘kan kerabut.”
Kening Safa mengernyit, “Kerabut?” tanyanya bingung. Istilah aneh apa lagi itu?
Di seberang sana Kamila mengangguk.
“Iya, kerabut. Kaum rebahan anti gabut, hahaha ...”
Sementara Kamila tertawa, Safa berdecak sembari meluruskan kakinya, berdiri menghadap jendela dengan mata mengarah ke luar. Otaknya masih dibuat penasaran dengan pria bertopi tadi. Tapi celingukan selama apa pun Safa tetap tak menemukannya.
Lari kemana orang itu? Kok, cepat banget ngilangnya. Apa Safa hanya berhalusinasi? Gak mungkin. Atau yang tadi itu benar-benar hantu?
Astaga, tiba-tiba rumahnya terasa horror. Mana gak ada siapa-siapa pula, cuman ada Bik Inem yang sibuk di belakang. Duh, memang penakut banget Safa tuh.
“Kamu ngapain nelpon?” tanya Safa pada Kamila.
Safa bisa mendengar keributan di seberang sana. Itu pasti teman-teman Kamila.
“Ck, emangnya gak boleh nelpon teman sendiri?” Lalu Kamila melanjutkan, “Entar malem aku mau nonton sama temen-temen. Kamu ikut, ya?”
“Malem?”
“Enggak terlalu malam juga, sih. Ya ... sekitar jam tujuhan lah. Gimana, mau gak? Nanti aku jemput kalo mau.”
Safa berpikir sejenak, dia bingung, di satu sisi ia ragu ayahnya akan mengizinkan, di sisi lain Safa tertarik untuk ikut. Huh, nasib punya ayah protektif, kemana-mana perlu izin, kalau enggak nanti dimarahin.
“Lihat nanti, ya. Aku perlu bilang Ayah Bunda dulu ...”
“Ya, ya, oke. Dayang ini mengerti Tuan Putri gak bisa keluar sembarangan, apalagi malam hari ...”
__ADS_1
Safa mencebik, “Apaan sih kamu, Mil.”
Kamila tertawa mendengar nada kesal di suara Safa, ia tebak sahabatnya itu tengah cemberut sekarang.
“Haha ... udah dulu, yah. Ada kelas, nih. Bye, Safa ....”
“Bye ....”
Safa menurunkan ponselnya dari telinga, ia berbalik menuju ranjang di mana laptop dan semua cemilannya berada. Niatnya untuk menonton sudah sirna. Tiba-tiba Safa lebih tertarik bereksperimen di dapur. Mumpung Nyonya Halim tidak di rumah. Benar, ini adalah kesempatan, pikirnya.
Safa beranjak keluar kamar. Ia mencari Bik Inem, meminta beliau untuk menjadi tutornya saat memasak nanti. Safa tak berniat merusakkan dapur kesayangan Nyonya Halim. Bisa-bisa bundanya itu marah dan menendangnya dari daftar anggota Kartu Keluarga.
Jika hal itu terjadi, habislah ia. Safa tidak mau jadi gembel apalagi kehilangan uang belanja. Safa masih mau jajan skincare dan tas-tas mahal. Meski yang memberi uang bulanan bukan Nyonya Halim, melainkan Tuan Halim sang ayah, tetap saja, ayahnya itu paling lemah dengan kemarahan sang bunda.
Alasannya tentu saja karena tak ingin dikunci di luar kamar. Biasa, laki-laki takut kehilangan jatah malam.
"Bik Inem ...!" teriak Safa seraya menuruni tangga. Kepalanya menoleh kanan kiri mencari keberadaan wanita baya itu.
Namun yang Safa dapati suasana rumah yang sepi. Juga secarik kertas yang menempel di pintu kulkas.
"Non, Bibi keluar sebentar, ya. Mau ke ATM, transfer uang buat di kampung. Katanya, anak Bibi yang di SMA mau pariwisata."
Safa menghela nafas. Kalau begini ceritanya ia tak jadi belajar memasak. Karena tanpa Bik Inem Safa tak bisa melakukan apa pun.
Akhirnya ia kembali ke kamar saja, melanjutkan niatnya untuk menonton Drama Korea. Sebelumnya ia malas karena tak memiliki referensi drama yang seru. Belum ada yang benar-benar memikat hatinya hingga membuatnya menonton sampai habis.
Memang, rata-rata Safa selalu berhenti di pertengahan, atau bahkan hanya menonton satu hingga dua episode saja jika benar-benar membosankan.
Bukan hanya soal makanan, masalah seperti ini pun ia terbilang rewel dan pilih-pilih. Maklum, seleranya terlalu tinggi dan unik. Berbeda dari yang lain. Termasuk seleranya dalam menyukai Edzar.
Tuh kan Edzar lagi. Padahal ia sedang kesal pada pria itu.
Safa merengut, lantas bernyanyi lesu. "Om Edzar ... seleraku ...."
\=\=\=
“Pak, Anda yakin dengan tuntutan ini? Saya rasa ini cukup berbahaya.”
__ADS_1
“Kenapa? Karena dia seorang pejabat negara?”
“Masalahnya ...”