
"Kamu mikirin apa?"
"Eh?" Safa tersentak dan menoleh ke samping. Lalisa mematapnya dengan kening berkerut. Wanita itu tak jadi tidur di kamar Dava. Katanya takut tak bisa menahan rindu. Karena tak ingin menangis semalaman, Lalisa memutuskan tidur bersama Safa.
"Enggak. Safa cuman laper, kepikiran seblak bikinan Bik Inem."
"Bukannya tadi kamu udah makan?"
"Mbak Lisa tau sendiri kita sering merasa lapar kalau sudah di atas jam sepuluh malam, meski sebelumnya sudah makan."
"Iya, ya, kenapa? Huhu... Mbak jadi ikutan pengen. Terakhir makan seblak setahun lalu sama.... Dava." Suaranya memelan di akhir kalimat. Tatapannya berubah sendu.
Safa mengulurkan tangan mengusap bahu Lalisa. Calon kakak iparnya pasti sedih. Ditambah perasaannya yang sensitif karena datang bulan. Tuh, kan. Baru juga bilang sudut matanya sudah berair. Haih, kalau begini apa bedanya tidur di kamar Dava atau Safa. Ujung-ujungnya juga tetap nangis.
"Mbak jangan nangis. Seprai baru ini....."
Plak!
"Dasar gak tau diri! Orang lagi sedih yang dikhawatirin malah seprai!"
"Mbak ralat aja hadiah skincare-nya. Gak jadi ngasih... Hiks."
"Ya-yah... Jangan, dong, Mbak! Barang yang udah dikasih jangan diambil lagi. Gak baik!"
Malam itu mereka banyak berdebat sesuai kebiasaan kalau bertemu. Lalisa itu sebelas dua belas sama Dava, hobinya bikin Safa kesal. Mereka emang pasangan yang rada-rada. Tapi baiknya dua orang itu sama-sama royal, gak nanggung-nanggung kalau ngasih.
Safa mengayunkan tangannya di depan wajah Lalisa yang tertidur. Nafasnya terhela panjang mengulas senyum. Akhirnya dia bisa mengalihkan perasaan sedih wanita itu. Safa pun termenung menatap langit-langit kamarnya, pikirannya kembali menerawang pada Diko.
Lebih tepatnya pertemuan lelaki itu dengan Liandra siang tadi. Ada hubungan apa mereka sebenarnya? Diko juga tak menjawab saat ditanya. Entah kebetulan apa yang membuat ponsel pria itu berbunyi di saat yang tidak tepat.
Tidak tepat bagi Safa, namun kesempatan bagi Diko. Pria itu pulang lebih cepat meninggalkannya. Sikapnya jelas berusaha menghindar. Dan hal itu membuat Safa semakin penasaran. Apa yang Diko sembunyikan darinya?
Mungkin Safa tak ada hak untuk mengetahui urusan pribadi orang. Tapi karena yang Diko temui itu Liandra, Safa jadi merasa janggal. Apalagi dia baru saja mendapat informasi bahwa Liandra salah satu tersangka kasus korupsi Pak Menteri. Ternyata Liandra wanita simpanan Santoso Ilyas.
Ya ampun, Safa terbayang wajah Ineu. Entah bagaimana perasaan gadis kecil itu. Meski di awal pertemuan mereka Ineu tampak menyebalkan, tetap saja dia hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa.
Safa hanya bisa berdoa semoga Ineu baik-baik saja.
Tuk tuk.
Tuk tuk.
Safa menoleh ke arah jendela mendengar suara ketukan. Keningnya berkerut, tentu saja ia merasa bingung. Orang jail mana yang beraksi di jam seperti ini? Apa tidak takut pada petugas keamanan yang berpatroli?
Tunggu, ini sudah hampir jam dua belas malam. Lalisa saja sudah tidur. Orang rumah juga pasti sudah terlelap. Tinggal Safa yang masih membuka mata.
Jangan-jangan hantu?
Sret!
Safa menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Di saat seperti ini ia malah susah bobo. Safa membaca kalimat dzikir apapun yang ia hapal. Ya, walau ayat kursi saja dia hanya bisa setengah. Ya Tuhan, ternyata Safa secetek ini soal agama. Maafkan Safa Ya Allah....
Safa janji gak akan bolong-bolong lagi shalatnya. Tapi tolong usir dulu setannya....
Tuk tuk.
__ADS_1
"Omama!"
Kaget aku.
Safa semakin meringkuk berharap segera tidur. Suara itu sudah berhenti, anehnya Safa jadi penasaran. Padahal rasa takut masih mendominasi. Safa melirik Lalisa yang tak terganggu sama sekali. Perempuan itu tidur sangat lelap. Safa jadi iri.
Dengan keberanian sebesar biji kacang, Safa bangkit menyingkap selimutnya. Menurunkan kaki secara perlahan dan mengendap ke arah jendela. Jangan tanya detak jantungnya, temponya mengalahkan musik DJ hingga membuat Safa lemas.
Bismillahirrahmanirrahim.
Allahumma lakasumtu....
Eh, itu doa buka puasa...
Safa menepuk jidatnya sendiri.
Ah, bodo amat. Yang penting menyebut nama Allah.
Safa meneruskan doanya sambil pelan-pelan membuka gorden. Awas kau setan, Safa makan kalau berani menampakkan diri!
Srek!
Nafasnya tersengal dengan mata terpejam erat. Rasanya kayak lagi syuting film Conjuring. Tangan dan kakinya tremor parah. Sejenak Safa terdiam meraba situasi. Sepertinya aman, tidak ada apapun di hadapannya. Pelan-pelan Safa membuka satu matanya untuk mengintip.
Fyuhh....
Aman.
Mengusap dada merasa lega, berusaha menormalkan jantungnya yang belum pulih dari berpesta. Safa sedikit melongokkan kepala menyisir suasana balkon.
Baru saja Safa hendak menutup kembali gorden, matanya menangkap sesuatu yang aneh
Eh, apa, tuh?
Safa menunduk untuk melihat lebih jelas. Sebuah kotak persegi panjang dengan penutup mika di atasnya. Seutas pita merah muda mengikatnya dengan manis. Kalau Safa tidak salah lihat dalamnya itu cokelat.
Tunggu, siapa yang taruh ini di sini? Apa setan yang mengetuk jendela tadi?
Haish! Geleng-geleng.
Tidak mungkin. Sudah pasti itu orang. Tapi siapa?
Ada suratnya!
Safa membuka kunci jendela dan membuat sedikit celah. Tangannya terulur melalui teralis besi berusaha menggapai kotak cokelat yang tergeletak di lantai.
Berhasil. Safa menarik lagi tangannya dengan hati-hati. Melihat dengan seksama butiran cokelat berbentuk bulat-bulat kecil dari balik penutup mika. Lalu beralih membuka note kecil yang terselip di antara tali pita.
Safa mengernyit. Apa ini? Hanya sebuah kalimat pendek yang terdiri dari dua kata.
'Selamat Malam'
Idih, Safa kira apa. Gini doang? Safa membolak-balik kartunya berharap menemukan nama si pemberi. Namun ia tak menemukan apapun.
"Ck, apaan, sih. Secret admirer, nih, ceritanya?" gumam Safa pelan.
__ADS_1
Safa menutup kembali jendela. Namun samar-samar telinganya menangkap suara pintu digeser dari rumah sebelah. Sejenak ia mematung, berusaha memastikan pendengarannya tidak salah. Refleks ia mendorong kembali jendela dan melongok keluar.
Tidak ada siapapun.
Safa menggeleng. Sepertinya dia mulai gila dengan berkhayal cokelat ini dari Edzar. Mana mungkin pria itu meloncati balkon dan mengetuk jendela hanya untuk menyimpan ini. Mustahil.
Tapi, kok, sedikit masuk akal?
Ah, sudah lah. Dari siapapun itu gak penting. Anggap saja rezeki dari langit.
Safa menyimpan kotak cokelat itu di atas nakas, namun ia memasukkan notenya ke dalam laci. Kemudian menaiki ranjang, menarik selimut dan menutup mata.
Keesokan paginya, Safa mendapati kotak cokelat itu telah raib dari tempatnya saat ia membuka mata. Safa berkedip berusaha memperjelas penglihatannya karena belek yang masih menggumpal. Tahu-tahu terdengar suara gumaman serta kunyahan seseorang.
"Hemm... Rasanya tidak buruk. Pasti cokelat mahal. Kebetulan sekali aku sedang butuh sesuatu yang menenangkan. Ternyata makan cokelat di pagi hari cukup lumayan."
Safa berkedip pelan. Kepalanya menoleh pada Lalisa yang tengah duduk bertumpang kaki di atas sofa sebelah ranjang. Safa menatap calon kakak iparnya itu dengan lamat, hingga Lalisa menyadari dan menoleh membalas tatapannya.
"Oh? Kamu sudah bangun? Makasih cokelatnya. Kamu memang adik ipar yang pengertian. Tahu saja Mbak sedang gugup mau ketemu abangmu hari ini. Oh Tuhan.... Rasanya sungguh berdebar."
"Yah... Walau saat ini aku harus cukup puas berkencan di rutan. Tapi gak papa, setidaknya aku bisa mendapat satu ciuman."
Lalisa terus saja mengoceh dengan wajah tanpa dosa. Bahkan dia tak merasa bersalah telah menghabiskan cokelat milik Safa.
Safa menatap kakak iparnya itu dengan datar. "Mbak."
"Hem?"
"Sebelum memikirkan ciuman, lebih baik Mbak pikirkan dulu nyawa sendiri."
"Itu cokelat hasil mungut, gak tau dari siapa. Aku belum makan karena takut ada racunnya," lanjut Safa masih dengan wajahnya yang datar.
Hening. Lalisa berhenti mengunyah, dia menunduk melihat kotak yang telah kosong, tersisa sebiji cokelat yang hendak ia makan. Susah payah Lalisa menelan ludah, mendadak keringat mulai bermunculan sebesar biji jagung.
Seolah baru saja tersadar, kepalanya menoleh cepat pada Safa yang tengah menatapnya polos dengan muka bantal. Perlahan matanya membelalak ngeri. "Whaatt....!!!"
Tap tap tap.
Lalisa berlari menghampiri Safa yang masih enjoy di atas kasur. Serta-merta dia mengguncang bahu gadis itu dengan kencang. "Katakan. Katakan kamu bercanda! Ini tidak mungkin, Mbak gak ngerasain apapun selain manis. Itu berarti gak ada racunnya!"
"Safa jangan diam aja! Mbak belum ketemu Dava.... Huek... Heuk... Huhu..."
Buk buk buk.
Lalisa memukul dadanya sendiri dengan pose siap muntah.
"Mbak jangan muntah sini yampuun.... Jorok banget!"
"Aaahhh....!"
"Hoeekk...."
Dengan hasil usaha kerasnya, Lalisa berhasil memuntahkan kembali cokelat-cokelat yang dimakannya. Walau tidak semua, tapi... itu sangat MENJIJIKAN!
"BUNDAAA.....!!!"
__ADS_1