SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 171


__ADS_3

"Sebenarnya kita mau ke mana, sih? Harusnya A Uda tidur aja, bukan malah jalan-jalan kayak gini," protes Safa ketika Edzar melajukan mobilnya ke tempat antah berantah.


Safa tidak tahu suaminya itu hendak mengajak ke mana. Selepas sarapan Edzar gegas menyuruh Safa ganti baju. Lucunya, pria itu meminta warna yang senada. Biar serasi, katanya. Sejak kapan Edzar jadi se-alay ini?


"Sudah, diam. Nanti juga tahu." Jawaban yang sama setiap kali Safa bertanya.


Safa manyun, malas mendebat dan memilih melihat ke luar jendela. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah rumah mewah bergaya Eropa. Edzar turun mendekati gerbang, membuka besi tinggi berukiran rumit itu, lalu kembali ke mobil, melajukannya memasuki halaman berpaving cukup luas dengan sedikit lahan hijau di sudutnya.


Safa celingukan, sementara Edzar sudah keluar dan berputar membuka pintu untuk Safa. Safa yang masih kebingungan hanya menurut saat Edzar mengangkat pinggangnya hingga kakinya menginjak tanah.


"Ini rumah siapa?" tanya Safa keheranan. "Kenapa A Uda masuk sembarangan? Udah gitu punya kuncinya."


Bukannya menjawab, Edzar meraih bahu Safa, menggiringnya menaiki undakan tangga yang dibingkai dua pilar tinggi dan besar. Safa sampai harus maksimal mendongakkan kepalanya hanya untuk melihat ukiran emas di atasnya.


Tuk.


Edzar melotot saat Safa tersandung anak tangga. Untung dia merangkulnya. "Jalannya lihat ke bawah, Ai," tegas Edzar.


Safa hanya memberi cengiran polos. "Maaf, Safa hanya penasaran dengan ukiran di atas."


Edzar menggeleng, kembali mengajak Safa berjalan, lalu mengeluarkan kunci lain dari saku jaketnya.


"A Uda sewa rumah?" Hanya itu yang ada di pikiran Safa. Melihat Edzar yang begitu leluasa bahkan memiliki akses memasuki tempat asing itu.


"Jatuh harga diri Uda di depan Ayah kamu, Ai."


"Terus, ini kita di rumah siapa?"


"Rumah kita."


"Lebih tepatnya rumah kamu. Karena rumah ini atas nama kamu."


Safa berkedip, "Maksudnya? A Uda beli rumah?"

__ADS_1


Edzar mengangguk, "Untuk kamu." Tangannya beralih memeluk bahu Safa dari belakang, menumpukan dagunya di atas kepala sang istri.


"Mungkin kamu sedikit kecewa dengan mas kawin yang Uda berikan saat kita menikah. Semuanya sangat mendadak, dan hanya segitu tunai yang Uda pegang. Sementara jarak ATM terlalu memakan waktu."


"Sebagai gantinya Uda berikan ini untuk kamu. Gak papa 'kan? Kamu suka? Kalau ada yang tidak suka bilang saja. Nanti kita bisa rombak atau renov kalau bisa."


Lantas Edzar mengajaknya keliling ruangan. Dari mulai ruang tamu, ruang tengah, hingga dapur yang ada di lantai bawah.


Ruang makan yang menghadap langsung area hijau taman belakang. Ruang olahraga lengkap dengan peralatan gym. Dan yang membuat Safa tercengang, Edzar juga menyiapkan ruang teater alias bioskop pribadi.


Jangan bayangkan bioskop besar yang ada di mall, ya. Namanya juga pribadi, pasti tempatnya lebih minimalis dan efisien.


Yang ada di otak Safa sekarang ini adalah, kok bisa orang sekaku Edzar bisa terpikir bikin bioskop di rumah. Sementara Safa saja ragu pria itu pernah menginjak ruang teater.


Eh, pernah. Kalau gak salah sama Mbak Dian. Safa ingat waktu itu dia cemburu. Edzar juga yang menyelamatkannya dari dekapan maling.


"Rencananya di taman belakang Uda mau buat gazebo dan kolam ikan. Lumayan buat kita santai sore. Apalagi udaranya enak, sejuk. Menurut kamu gimana?"


Tak ada jawaban dari Safa. Edzar menoleh pada sang istri yang berdiri di sampingnya, Kemudian dahinya dibuat berkerut melihat Safa yang ternyata tengah merengut dengan wajah memerah, "Hey, kok nangis?"


"Ai, jangan bikin Uda merasa bersalah karena tidak memberitahumu lebih awal perihal rumah ini. Uda hanya ingin memberi kejutan. Tapi, kalau kamu gak suka-"


"Safa gak ngerti lagi sama A Uda."


Edzar tertegun. Apa Safa tidak menyukai rumahnya?


"Ai?"


"Kenapa A Uda bisa sedetail ini mengerti selera Safa?"


"Dulu Safa sangat ingin punya rumah yang ada bioskopnya. Sempat minta juga sama Ayah buat bikin, tapi Bunda larang karena katanya nanti Safa keasikan nonton Drakor." Safa tergugu, mengusap matanya dengan punggung tangan.


Edzar meraih tangan itu, sebagai gantinya dia bersihkan air mata Safa dengan saputangan. "Syuut ... Syukurlah kalau kamu suka. Uda sudah khawatir saat kamu nangis barusan. Omong-omong kita belum selesai. Berhenti menangis. Ayo ke atas, lihat kamar."

__ADS_1


Safa menurut kala Edzar menggiringnya ke ruangan lain di lantai dua. Hal yang pertama Safa lihat adalah lampu kristal besar yang menjuntai hingga ke bawah. Dikelilingi tangga melingkar yang membawa Safa ke sebuah area luas yang belum terisi perabot apapun.


"Uda mau kamu yang memilih sendiri perabotan di sini. Sebenarnya yang di bawah tadi bisa kamu ganti kalau tidak suka," ucap Edzar seraya berjalan ke arah jendela tinggi yang ternyata terdapat pintu penghubung menuju balkon.


Beranda lantai duanya cukup luas. Tapi karena memang dasarnya pinggir jalan, tak ada pemandangan berarti dari sini.


"Best view-nya ada di belakang, sih. Makanya Uda mau tata sebaik mungkin area itu."


Safa menatap Edzar ragu. "A Uda. Maaf kalau Safa terkesan lancang. Tapi, Safa sudah penasaran sejak lama, dan sekarang Safa ingin bertanya. Boleh?"


Edzar menoleh, "Apa itu?"


"Sebenarnya, A Uda kerja apa lagi selain jadi Jaksa?" Safa meringis, menundukkan kepala karena merasa terlalu kepo. Namun dia tak bisa mengerem mulutnya sendiri. "Lalu, penghasilan Cafe saja pun Safa rasa tidak akan cukup untuk beli ini semua. Terus, apa yang A Uda pakai juga Safa tahu bukan barang murah."


"A Uda dapat uang dari mana? A Uda bukan Crazy Rich abal-abal yang lagi viral 'kan? Ngakunya kaya, taunya afiliator judi."


Hening.


Edzar menatap sang istri dengan raut tenang. Cenderung datar, namun tak meninggalkan kesan teduh dalam matanya. Tak lama senyum Edzar terbit. Dia mengusap kepala Safa dan mengecupnya sesaat. Ibu jarinya menyentuh bibir Safa yang mengerucut. Pertanyaan polos barusan membuat Edzar tak kuasa menahan kekehan.


"Ini yang Uda tunggu. Kamu yang bertanya dan penasaran mengenai keuangan Uda."


"Uda juga mau jelasin, tapi bingung harus memulai dari mana. Terlebih, ekonomi Uda mungkin masih jauh jika dibandingkan keluarga kamu."


"Tenang saja, Uda tidak sejahat itu dengan memberimu uang haram. Semua ini Uda dapatkan dari hasil menabung."


"Sebenarnya, selain 2 yang kamu sebut tadi, Uda punya sampingan lain yang cukup menghasilkan. Uda juga punya sejumlah saham di beberapa perusahaan, salah satunya perusahaan Ayah kamu."


Edzar membawa Safa ke pelukannya. Membaui rambut Safa yang sudah menjadi kebiasaan barunya. "Baru-baru ini Uda mulai merintis usaha baru dengan Heru. Doakan saja, ya. Semoga semuanya lancar, dan Uda bisa memanjakan kamu selayaknya kamu yang dimanjakan keluargamu."


"Uda memintamu dari Ayah dan Bunda bukan untuk dibuat susah. Sebisa mungkin Uda akan utamakan kebutuhan kamu. Uda tidak mau membuatmu merasa kekurangan setelah keluar dari lingkup keluarga. Ini menjadi tanggung jawab Uda ke depannya. Uda harap kamu bersedia mendapingi sampai akhir. Meski mungkin suatu saat ada beberapa kerikil yang harus kita lewati. Uda mau, kamu genggam tangan Uda. Percaya sama Uda."


"Harus kamu tahu, apapun yang Uda lakukan semuanya demi kebaikan kamu. Demi hubungan kita," pungkas Edzar dengan kalimat penuh arti. Pun tatapannya tampak menerawang.

__ADS_1


Safa menyandarkan pipinya di dada Edzar. Tanpa Edzar ketahui, netra sewarna madu itu masih menyimpan keraguan terhadapnya.


__ADS_2