
Dua hari kemudian, Tuan dan Nyonya Halim berkunjung ke rumah Bu Dyah, sesuai janji mereka pada saat itu. Safa tak bisa menahan senyum bahagianya kala calon Opa dan Oma itu silih berganti memegang perutnya.
Pemandangan ini akan lebih ciamik jika kehamilannya sudah membesar. Tapi gak apa-apa lah, maklum, ini calon cucu pertama mereka.
"Alhamdulillah. Ya Allah, Ayah. Sebentar lagi kita punya cucu. Bunda akan jadi Oma muda ini ...." ucap Nyonya Halim penuh haru.
Sementara sang suami hanya tersenyum. "Iya, Bunda akan jadi Oma muda. Tapi Ayah tetap jadi Opa tua."
Safa tertawa kecil. Meski ayahnya mengatakan itu dengan raut lemah lembut seolah menyanjung, tapi dia tahu ada sindiran di dalamnya.
Edzar yang duduk di lengan kursi pun ikut tersenyum. Sesekali tangannya mengusap bahu Safa dari belakang. Sedikit tak menyangka ia dan Safa bisa sampai di momen ini. Edzar semakin tak sabar melihat anaknya menatap dunia. Sepertinya ia sudah harus mempelajari ilmu parenting sebelum si kecil lahir.
"Pak Halim, Bu Halim. Sebelumnya saya ingin mengusulkan saran. Ini 'kan pernikahan pertamanya Safa, tentu mungkin harus ada momen spesial. Apa tidak sebaiknya kita cepat-cepat adakan resepsi untuk mereka sebelum perutnya membesar?" Bu Dyah tiba-tiba bersuara.
Sesaat keadaan menjadi hening. Tuan serta Nyonya Halim terlihat memikirkan ucapan besannya. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Bu Dyah ini tidak hanya akan berbesanan dengan mereka, tapi juga Oma Halim setelah Tirta dan Miranti menikah nanti.
"Benar, Ayah. Bunda setuju dengan Bu Dyah. Masa iya anak kita gak dibikinin resepsi. Nanti kolega Ayah pada tanya kita punya cucu dari mana, sementara mereka saja tidak tahu kapan Safa menikah. Nanti dikiranya anak kita Parabola. Parawan Bobol Tiheula."
"Hush! Ngomongnya, ya. Ya dijaga itu mulut, lho, Bun." Tuan Halim terlihat geregetan dengan istrinya. Sedangkan Nyonya Halim merasa biasa saja, seolah dirinya tak melakukan salah apapun. Dia 'kan bicara sesuai kenyataan. Begitu pikirnya.
"Ya Ayah, sih, terserah. Mau diadakan kapan hari pun siap-siap saja. Gak tau sama anaknya. Gimana, Nak Edzar?"
Edzar nampak berpikir sejenak. Sebenarnya dia merasa bersalah. Ia pun tak menyangka Safa akan hamil secepat ini. Rencananya dia mau resepsi setelah pernikahan Tirta dan Miranti. Tapi mereka menikah masih sebulan lagi. Itu berarti kalau Edzar memilih waktu setelahnya, perut Safa kemungkinan sudah terlihat membuncit.
Edzar menunduk, saling melempar tatap dengan istrinya. Dan seketika itu juga ia merasa belum memberikan yang terbaik untuk wanita cantik yang kini mengandung anaknya.
Sungguh tega sekali dia.
__ADS_1
Edzar menghela nafas, mengusap sekilas kening sang istri. Kemudian menatap ibu juga orang tua Safa yang menunggu pendapatnya.
"Nanti kami bicarakan lagi. Yang pasti secepatnya, sebelum kehamilan Safa semakin terlihat. Karena pasti tidak nyaman juga kalau perutnya sudah membesar."
Malam itu suasana rumah Bu Dyah terasa lebih hangat dan ramai. Padahal hanya diisi obrolan ringan yang mengarah pada berbagai hal. Yang membuat gaduh itu bundanya. Safa jadi malu sendiri melihat sang bunda yang kalau tertawa suaranya setara dengan pakai mik.
Tapi sepertinya hal itu yang membuat Bu Dyah lebih leluasa. Mertuanya yang kalem jadi tidak canggung lagi saat mengobrol dengan Nyonya Halim.
Tepat pukul 9 malam Om Tirta pulang dari kantor. Makin ramailah ruang tamu karena adik iparnya itu ikutan nimbrung.
Sebentar. Om Tirta memang adik iparnya. Safa baru sadar. Apa tidak masalah kalau dia masih panggil Om? Terus, nanti Safa harus panggil apa sama Tante Miranti? Masa panggil nama saja?
Dibanding ikut perbincangan, Safa malah berputar-putar memikirkan silsilah keluarganya nanti. Baru sadar ternyata situasinya cukup lucu dan membuat orang merasa bingung.
Intinya, suatu saat Safa akan dipanggil Mbak oleh Tante sendiri ...!
Gila, ini sih namanya menantu tertua sekaligus termuda. Safa kan menikah dengan Edzar yang merupakan anak pertama. Otomatis dia jadi menantu pertama juga 'kan? Eh, gimana, sih? Tau, ah, gelap.
"Ke kamar, gih. Tidur."
"Belom ngantuk."
"Tidur, Sayang. Sudah malam." Edzar menunjuk jam dinding dan ternyata sudah pukul 10.
Cepat sekali waktu bergulir.
"Ayo, Uda temenin."
__ADS_1
Safa menggeleng mengerucutkan bibir. "Belom ngantuk~" rengeknya.
Tapi Edzar tetap kekeh membawanya ke kamar. Pria itu tak main-main soal kesehatannya sekarang. Bahkan mengatur makanan yang hendak ia makan. Meski begitu Edzar tak memaksa Safa untuk mengkonsumsi sayur yang tak disukainya. Kebanyakan menyarankan buah dan makanan sehat lain. Yang pasti Edzar menyuruh Safa sebisa mungkin untuk menjauhi junk food.
"Sikat gigi, cuci muka, cuci tangan, cuci kaki," ucap Edzar mengabsen seraya mendorong punggungnya ke kamar mandi.
"A Uda enggak?" tanya Safa saat Edzar hanya berdiri di ambang pintu.
Edzar tersenyum menggeleng. "Nanti, kalau sudah mau tidur. Gak enak kalau Uda tidur duluan sementara orang tua kamu ada di luar."
Begitu?
Safa mengangkat bahu dan segera melakukan rutinitas yang sebenarnya tak pernah ia lewatkan setiap malam. Tapi, entah kenapa kali ini ia malas sekali.
Selepas cuci muka dengan sabun dan mengeringkannya dengan handuk kecil, Safa beralih ke bekas meja belajar Edzar yang beralih fungsi jadi meja rias sementara. Benda itu penuh dengan peralatan skincare Safa yang seabrek.
Edzar sampai menggeleng tak percaya melihatnya. Lebih tak mengerti lagi saat Safa memakai semua itu secara bersamaan di mukanya.
"Ai, apa semua itu aman untuk ibu hamil? Tolong lebih hati-hati, ya. Takutnya ada kandungan yang tidak baik untuk kamu dan anak kita."
Sejenak Safa terdiam, memikirkan kekhawatiran Edzar. Iya, dia belum cek apa saja bahan skincare yang aman untuk ibu hamil. Mungkin besok dia akan mulai mencari tahu atau bertanya-tanya pada sepupunya.
Akhirnya karena tidak mau menanggung resiko, Safa tak jadi menggunakan produk perawatan itu dan memilih langsung berbaring saja.
Edzar tersenyum. Safa sudah mulai berubah. Wanita itu mulai bisa menurunkan egonya. Dan semoga ke depannya ada perubahan yang lebih baik lagi.
Menyusul Safa, Edzar ikut berbaring di sampingnya, tepat di pinggir tempat tidur yang Safa tempati. Setengah bersandar di kepala ranjang, tangannya memberi usapan di pucuk rambut sang istri. Berharap supaya wanita hamil itu bisa cepat tidur.
__ADS_1
Tak lupa dia melantunkan salah satu shalawat sebagai pengantar Safa ke alam mimpi. Dia juga mengingatkan untuk tidak lupa berdoa. Dan tak berapa lama mata Safa sudah terpejam.
Edzar memindahkan Safa agak ke tengah, menjaga kalau-kalau wanita itu bergerak ekstrim yang akan membuatnya terjatuh. Membenarkan letak selimut, mengecup keningnya lalu keluar dan menutup pintu dengan pelan.