
"A Uda~"
Edzar menghela nafas dengan mata terpejam. Dia sedang berusaha sabar, entah kapan mulanya Safa terpikir menggabungkan dua kata panggilan itu. Dimulai tadi pagi gadis itu memanggilnya Aa sekaligus Uda. Rasanya Edzar ingin memijat kepala.
"A Uda, ayo~"
"Memangnya kamu beli apa, sih, Ai? Kita sudah keliling mall hampir setengah jam, lho. Dan belum ada satupun barang yang kamu beli."
"Ya makanya ayo ke sana." Safa menunjuk gerai pakaian yang berjarak kurang lebih 10 meter di hadapan mereka. Keduanya baru saja keluar dari toko sepatu.
Lagi-lagi Edzar menghela nafas, "Tadi kita sudah masuk ke sana, Sayang," ujarnya gemas.
Safa manyun, "Safa mau lihat lagi."
Edzar berkedip tak percaya. Apa semua wanita seperti ini saat belanja? Loncat sana, loncat sini, balik ke toko semula, ujung-ujungnya tak ada yang terpakai.
"Kamu yakin?"
Safa mengangguk dengan bibir mengerucut. Menggemaskan, tapi sedikit menyebalkan. Sialnya Edzar terlanjur sayang.
Entah berapa kali Edzar menghela nafas hari ini, "Ya sudah, ayo. Tapi kamu harus beli salah satu dari sana. Jangan enggak, malu kita bolak-balik."
Wajah yang barusan merengut seketika tersenyum. Safa merangkul lengan Edzar lalu menggeretnya menuju gerai yang dimaksud.
Edzar berusaha menebalkan muka saat petugas toko itu melihat mereka. Dengan percaya diri Safa mengajaknya melihat-lihat pakaian, seolah sebelumnya dia belum pernah ke sini.
Tiba-tiba mata Edzar tertuju pada satu dress yang tergantung di atas. Edzar menghentikan langkah Safa. Dia menoleh pada seorang petugas wanita yang mengikuti di belakang.
"Mbak, bisa saya lihat itu?" tunjuknya pada dress tersebut.
Pramuniaga itu mengangguk senang, "Bisa, Mas. Tunggu sebentar," ucapnya kemudian berbalik mengambil alat yang diperlukan.
"Ini, Mas."
__ADS_1
Edzar menerima dress itu dari tangan si petugas. Dress cantik bertema vintage dengan motif bunga-bunga warna purple yang lembut. Panjangnya sekitar selutut, tapi karena tinggi badan Safa sedikit pendek jatuhnya jadi sebetis. Meski begitu masih terlihat sangat cantik. Sepertinya Safa memang cocok mengenakan apapun.
"Ai, ini bagus. Uda suka. Kamu coba, ya?" ucapnya seraya menempatkan dress itu di depan tubuh Safa, guna melihat kecocokan keduanya.
Safa melirik ke bawah. Cantik. Selera Edzar boleh juga. Safa mengambil alih baju itu dan menelitinya sendiri. Dia menoleh pada petugas toko. "Ruang gantinya di mana, Mbak?"
"Mari ikut saya, Mbak."
Safa mengikuti mbak-mbak itu, berjalan ke bagian ujung sedikit belakang dari gerai ini.
"Silakan, Mbak."
Safa mengangguk mengucapkan terima kasih. Kemudian dia masuk dan mulai mengganti baju.
Beberapa menit kemudian Safa keluar dengan dress yang sudah terpakai di tubuhnya. Matanya melirik Edzar yang ternyata sudah menunggu di depan. Pria itu sedikit terpaku saat melihatnya, lalu tersenyum mendekat.
"Sudah saya duga, pakaian itu cocok di kamu, Ai."
"Cantik."
"Ambil ini, ya?"
Safa berkedip menatap lelakinya. Jangan-jangan Edzar menyuruhnya beli ini karena malu mereka sudah bolak-balik. Seperti yang tadi dia bilang, Safa harus ambil salah satu. Tapi, ekspresinya terlihat tulus.
"Ya sudah, Mbak. Saya ambil ini," ujar Safa pada pramuniaga.
Baru dia hendak masuk kembali ke ruang ganti, Edzar menahannya. "Gak usah dilepas. Mbak, langsung bayar bisa, kan?" tanya Edzar. Pramuniaga itu mengangguk. "Bisa, Mas."
Edzar menoleh lagi pada Safa, mengusap ringan rambut kecoklatan itu. "Pakai saja, ya?"
Safa menurut saja. Dia mengangguk, hal itu membuat Edzar semakin gemas. Safa sangat manis jika penurut begini.
Mereka berjalan ke kasir untuk melakukan pembayaran. Saat itulah Safa tahu harga bajunya 1.282.000 (satu juta dua ratus delapan puluh dua ribu).
__ADS_1
Kontan dia melirik Edzar, apa ini gak kemahalan? Meski dia sering belanja di atas itu, tapi tetap saja ini Edzar. Safa takut lelaki itu mengeluh. Belum nikah saja sudah keluar uang banyak. Nanti dikiranya dia yang morotin Edzar.
Tapi, kenapa Edzar tampak biasa saja?
Seolah mengerti keresahannya, lelaki itu menoleh pada Safa. Bibirnya mengulas senyum singkat saat mengeluarkan dompet. Jangan-jangan dalam hati Edzar menggerutu.
"Uda—" Safa hendak menghentikan Edzar, tadinya dia berniat bayar sendiri saja. Safa tahu Edzar mampu, tapi tidak menutup kemungkinan pria itu kesal.
Namun apa yang dia lihat. Edzar punya kartu platinum? Meski tidak semewah black card, platinum memiliki limit tak kalah besar, bisa sampai 1 Milyar.
Penghasilan Edzar sebagai jaksa sekitar 10 juta. Lalu pria itu juga punya Morinaza. Sebenarnya, berapa pendapatan Edzar dalam satu bulan? Apa dia memiliki usaha lain di luar yang dua itu?
Selesai dengan pembayaran, Edzar mengajaknya keluar. Safa masih melamunkan angka-angka yang sekiranya Edzar miliki. Jiwa matrenya mendadak keluar. Jika Safa minta dijajanin Edzar, tidak apa, kan? Jangan salah faham dulu. Maksud Safa jajan otak-otak yang sempat dilihatnya di gerai lantai dasar.
Gini-gini Safa masih waras, mana berani dia minta yang bukan-bukan. Tapi....
"Eh, kita ngapain ke sini?" tanya Safa saat Edzar mengajaknya ke gerai sepatu.
Pria itu hanya menoleh sekilas. Tangannya setia menarik Safa hingga mereka sampai di salah satu rak.
"Saya tahu sebenarnya sejak kita berkeliling tadi ada beberapa barang yang kamu inginkan. Kamu hanya tidak enak mengatakannya karena takut saya yang akan bayar. Lalu kamu juga takut menyinggung perasaan saya jika kamu yang membayar. Apa saya benar?"
Safa terpaku, apa yang dikatakan Edzar adalah benar. Kenapa dia bisa sejeli itu?
Matanya mengamati Edzar yang mengambil sepasang heels berwarna nude yang sempat menarik perhatiannya. Safa menurut kala Edzar mendorong pelan tubuhnya untuk duduk si meja sofa yang ada di sana.
Edzar meraih kaki Safa, melepas sepatu yang semula Safa pakai, lalu menggantinya dengan heels baru itu.
"A Uda...."
"Cantik. Seharusnya kamu bilang dari awal. Dengan begitu kita tidak akan berkeliling tak jelas, kan?"
Safa mengulum bibir tak tahu harus berkata apa. Dia takut melukai perasaan Edzar.
__ADS_1
"Kamu khawatir dengan harganya?" lagi-lagi Edzar dapat menebak pikiran Safa. "Ai, sepuluh juta bukan masalah. Itu bahkan masih lebih rendah dari penghasilanku satu hari. Kamu tidak perlu merasa resah seperti itu. Kamu mau minta apapun, silakan. Asal harganya masih wajar dan masuk akal. Mengerti?"
Safa mengangguk pelan. Meski begitu, dia tetap tak enak hati harus mendapat semua ini dari Edzar. Sepertinya Safa harus mengontrol kegemarannya akan belanja. Sebanyak apapun uang, lama-lama akan habis. Benar, kan?