
"Bagus, gak?"
"A Uda!"
"Ya?"
"Bagus enggak?" tanya Safa geregetan. Ia tengah mencoba sebuah hijab segi empat dengan motif bunga sakura berwarna pink pudar.
Edzar terpaku. "Cantik," ucapnya menjawab pertanyaan Safa.
"Kok, gitu jawabnya? Kayak gak seneng." Safa merengut, lebih ke heran dengan reaksi Edzar. "A Uda kenapa, sih? Dari tadi Safa perhatiin kayak gak fokus. Ada masalah, ya? Coba cerita. Kita 'kan suami istri. Kalo ada sesuatu jangan disimpan sendiri."
Edzar tersenyum. Mengikis jarak di antara mereka. Tangannya terulur membenarkan letak hijab yang Safa kenakan. Merapikan anak rambut yang mencuat keluar. Kemudian membingkai wajah itu. Mengusap lembut pipinya seraya menatap lekat netra yang selalu membuatnya hanyut pada kedalaman tanpa dasar.
"Kamu cantik. Sangat cantik sampai Uda merasa takut."
Kening Safa berkerut. "Takut kenapa?"
Edzar terdiam sebentar. Kemudian menghela nafas sebelum menjawab. "Uda takut kamu berpaling dan meninggalkan Uda."
Sontak Safa berdecak. "Apaan, sih, A Uda. Di mana-mana itu istri yang takut suaminya selingkuh."
Safa melepas tangan Edzar dari wajahnya. Lantas berbalik menatap cermin besar di hadapan mereka.
Berlenggok, berputar, menilik segala sisi tubuhnya yang terbalut setelan panjang.
"Safa belum bisa pakai gamis. Gak papa, ya?" Ia menoleh pada Edzar di belakangnya.
Lelaki itu lagi-lagi tersenyum. "Gak apa-apa, Sayang. Pelan-pelan saja. Semuanya kan butuh proses dan bertahap. Uda gak paksa kamu buat pakai syar'i, kok. Santai. Pakailah apa yang membuat kamu nyaman. Tapi sebisa mungkin harus tertutup. Jangan pakai yang ketat, ya?"
Safa mengangguk. Matanya menyipit membalas senyuman Edzar. Lantas fokusnya kembali larut mencoba pakaian yang tadi dibelinya bersama sang suami.
Tanpa tahu Edzar memperhatikannya secara lekat. Sudut bibirnya terangkat. Menatap teduh sang istri yang kini sibuk melepas pasang beberapa setel baju dan hijab. Mencocokkannya satu sama lain.
Edzar senang, akhirnya Safa terketuk untuk mengubah penampilan menjadi lebih tertutup. Menampilkan jati dirinya sebagai Islam. Jujur saja, saat pertama bertemu kembali dengan Safa, Edzar hampir putus asa karena mengira wanita ini tak seiman.
__ADS_1
Tapi Alhamdulillah itu hanya sekedar tebakan yang tidak benar. Dan sekarang Safa perlahan-lahan mulai tertarik dengan hal-hal yang menyangkut keagamaan. Memang, setelah menikah Edzar membuat agenda rutin yang harus mereka lakukan bersama.
Seperti sholat berjamaah jika ia ada di rumah. Membaca Al-Qur'an sehabis magrib dan subuh. Edzar tak bosan menemani meski bacaan Safa tidak lancar. Dengan senang hati ia ajarkan apapun yang belum diketahui istrinya.
Ia sangat bersyukur dengan hidayah yang Tuhan berikan. Dan Edzar berharap semua kekhawatiran yang dirasakannya hanya sebatas kecemasan menjelang kelahiran.
Dokter bilang Safa sehat. Bayi mereka kuat. Pasti semuanya akan baik-baik saja.
Selepas magrib, Edzar membacakan ayat suci untuk bayi mereka. Safa berbaring di atas ranjang. Setengah bersandar pada bantal yang ditumpuk sedemikian rupa oleh Edzar. Tubuhnya masih terbalut mukena.
Dan Edzar bersumpah, wajah Safa tampak bersinar berkali lipat dari biasanya.
Ia terpesona. Merasa seolah Tuhan baru saja menurunkan salah satu bidadarinya dari Surga. Inikah istrinya? Berapa kali ia dibuat terkagum oleh kecantikannya yang memabukkan? Dari dulu hingga sekarang, Edzar tak pernah bosan memandanginya berlama-lama.
Sungguh, betul-betul nikmat Tuhan yang tak bisa ia dustakan.
Hati tak henti bersyukur setiap mengingat perjalanan untuk bisa sampai di tahap ini.
Dulu, Safa adalah hal mustahil untuk sekedar ia harapkan. Tapi kini, Edzar masih setengah tak percaya bahwa Safa sudah sah menjadi miliknya secara hukum dan agama. Bahkan mengandung calon putranya yang sebulan lagi akan lahir melihat dunia.
Ia tersenyum, melantunkan sebaris ayat seraya terus mengusap perut sang istri yang membesar. Kerap ia rasakan pergerakan di dalamnya. Hal yang selalu membuatnya bersemangat dalam hal apapun.
Sesekali matanya mendongak melirik Safa. Wanita itu tersenyum. Terlihat nyaman dan menyukai aktivitas mereka. Menikmati lantunan Surah Yusuf yang ia bacakan.
Tak pelak perasaan damai menghinggapi hati Edzar. Dan sepertinya Safa juga.
"Shadaqallahul adzim ...." Edzar membacakan ayat terakhir, kemudian menutup kitab suci itu, lantas menciumnya sejenak, menyentuhkannya pada kening sebelum kemudian ia simpan ke atas nakas.
Edzar tersenyum. Memeluk perut Safa dan memberinya kecupan. Ia terkekeh saat lagi-lagi merasakan pergerakan. Putranya benar-benar aktif.
Ia rebahkan kepalanya di sana. Melempar pandangan dengan Safa yang juga tengah menatapnya. Mata Edzar seketika terpejam kala tangan halus nan lembut itu menyisir surainya. Bibirnya tak henti tersungging menikmati family time paling syahdu yang pernah ia rasakan.
"A Uda ...." Suara Safa sangat merdu di telinganya.
"Hmm? Kenapa, Sayang?" Edzar membuka mata.
__ADS_1
"Safa punya firasat. Anak kita akan mirip A Uda."
"Kenapa begitu?"
Safa mengangkat bahu. Pun Edzar kembali tersenyum, mengambil tangan Safa dan mengusap jemarinya. "Mirip siapapun, yang penting sehat dan selamat."
"Semoga kamu jadi anak yang shaleh, ya, Nak. Cerdas dan berbakti pada orang tua," ucap Edzar pada perut Safa.
"Aamiin ...." Safa mengaminkan. Pun keduanya tersenyum satu sama lain.
Edzar menempatkan punggung tangan Safa di pipinya. Membelai permukaan halus kulitnya yang putih. Sesekali menghirup aromanya yang wangi. Menggeselkan hidungnya hingga Safa kegelian.
Safa terkikik. Terlebih ketika Edzar menggigit pinggiran telapak tangannya dengan gemas. "A Uda, ih. Jadi batal 'kan," rengutnya. Namun ia tak berniat menghentikan Edzar.
"Gak papa. Ambil wudhu lagi."
Safa tak mau kalah. Ia mengambil tangan Edzar yang satunya. Lantas melakukan persis apa yang Edzar lakukan.
Edzar tertawa. Padahal Safa menggigitnya lumayan keras.
"Awh." Tiba-tiba Safa meringis. Kontan Edzar terlonjak mengangkat kepalanya dari perut sang istri.
"Ada apa? Ada yang sakit?" tanyanya panik.
Bukannya menjawab, Safa malah tertawa, terpingkal melihat kegusaran Edzar. Ia memeletkan lidah, merasa berhasil telah mengerjai suaminya.
Sementara Edzar langsung mendecak. Merengut sambil merebahkan kembali kepalanya di atas perut Safa. "Lihatlah, Nak. Mamimu nakal jailin Papi." Ia mengadu pada sang anak di dalam sana.
Lagi-lagi Safa tertawa. Raut Edzar terlihat lucu saat merajuk. Sangat kontras dengan imej kaku yang melekat dalam kesehariannya. Begitu pula wajah seram yang kerap menjadi hantu di ruang sidang.
"A Uda lucu banget, sih. Haha ...." Safa tak berhenti tertawa. Sudut matanya bahkan berair.
Dibanding itu, Edzar tersenyum teduh dengan mata tak lepas menatap sang istri.
Safa yang tertawa adalah keindahan yang haram ia lewatkan. Bahkan tak sebanding dengan bongkahan berlian yang kerap ditawarkan. Baginya, tawa itu paling berharga dari sesuatu yang termahal di dunia.
__ADS_1