SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 34


__ADS_3

“Ada apa?”


Safa terdiam sebentar, lalu menggeleng. “Enggak. Emang aku kenapa?”


Kamila menghembuskan nafas menarik kembali tangannya. Malah balik nanya ini anak. “Dari tadi diam aja. Kamu gak papa?”


Safa berkedip, “Mil, film udah mau mulai, kita dilarang berisik.”


“Ck, alesan. Sejak dari luar juga kamu udah diam. Kenapa, sih?”


“Gak papa, kok. Lagi gak mood aja.” Safa mengalihkan pandangan menatap layar.


Oke, Kamila bisa menyimpan dulu pertanyaannya. Tempat dan situasi tak memungkinkan dia untuk berisik. Kamila akan mendesak Safa saat di luar nanti.


Terhitung 30 menit film diputar, Safa masih nampak termenung, larut dalam dunianya sendiri. Berbeda dengan Kamila yang menikmati tayangan di depan, walau sesekali dia akan melirik Safa dan menyodorkan makanan.


Dua orang memasuki ruangan dengan terlambat. Mereka menuruni satu demi satu anak tangga, hingga tibanya melewati tempat Safa duduk. Si pria dengan telaten menuntun wanitanya agar tak terjatuh, membimbingnya menduduki kursi di depan Safa.


Safa memerhatikan itu semua dengan seksama. Walau dalam keadaan gelap sekalipun, Safa tahu mereka siapa. Mereka lah yang membuat hatinya resah sejak tadi. Saat di toilet Safa tanpa sengaja bertemu seorang wanita yang sempat dilihatnya tempo hari. Karena penasaran dia mengikuti kemana wanita itu pergi, Safa berharap praduganya tak benar, namun kenyataannya tidak begitu. Safa benar-benar menemukan Edzar di sana, bersama wanita itu, yang tempo lalu Safa lihat memasuki kafe bersama Edzar.


Apa kali ini cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan? Ternyata rasanya sesakit ini. Safa terbiasa dikejar dan menjadi pihak yang mencampakkan. Tidak pernah sekalipun dia menjadi korban patah hati.


Mungkinkah ini karma karena dia sering memberi harapan palsu pada teman-teman prianya dulu?


Terlalu larut dalam pikiran membuat Safa tak fokus hingga tersedak pop corn yang entah sejak kapan isinya tinggal setengah. Beberapa orang menoleh tak nyaman karena kebisingannya.


Safa meraup cup minum yang dikiranya milik Kamila, menandaskan isinya sampai batuknya berhenti, walau masih ada batuk-batuk kecil yang tersisa setidaknya tak separah tadi.


“Makasih...” ujarnya pelan.


Ini memalukan, patah hati benar-benar membuatnya sial.


“Sama-sama. Aku sama sekali tak merasa rugi berciuman denganmu.”


Itu bukan suara Kamila.

__ADS_1


Safa menoleh cepat, bukan pada Kamila melainkan Akmal yang duduk di sampingnya. Safa menatap bergantian dua orang itu, dari cara Kamila yang duduk merapat pada sandaran kursi seolah menghindari sesuatu, menunjukkan bahwa uluran tangan tadi bukan berasal darinya.


Kamila pun melakukan hal yang sama, menatap bergantian dua orang di sampingnya. Dia yang berada di tengah-tengah seketika merasa telah jadi penghalang. Sungguh situasi yang konyol.


Safa menunduk melihat cup minum yang telah kosong di tangannya. Ini bukan punya Kamila, Safa ingat betul minuman jenis apa yang dipesan sahabatnya, tentunya bukan sejenis capuccino. Kalau bukan punya Kamila, lalu ini....


“Kita baru saja minum dari sedotan yang sama,” ujar Akmal dengan nada menggoda.


Sial beribu sial. Belum cukup kekesalannya pada dua sejoli di depan sana yang sekarang nampak berbisik-bisik sok mesra, Safa juga harus bersabar menghadapi Akmal yang selalu membuatnya naik darah.


Dari dulu sampai sekarang pria itu senang sekali mengganggunya.


\=\=\=


“Ini, nih, yang bikin kesel. Nonton sama kalian tuh gak pernah bener. Belom juga setengahnya udah ngajakin keluar. Buang-buang duit aja beli tiket,” dumel Ola.


“Ya udah, sih. Nonton mah tinggal nonton aja, gak usah ikut-ikut kita. Ribet amat. Ya gak, Mal?”


“Masalahnya si Nadine jadi ikut-ikutan, Kamila juga, heran. Gak asik kalian tuh.”


“Terus nanti balik sama siapa?” tanya Ola sengit.


Angga menatap malas pada Ola. “Naik Grab, lah....”


“Males.”


“Bilang aja gak punya duit.”


“Hahaha....”


Berbeda dengan Ola yang menggerutu karena kena tanggung saat nonton, Safa justru bersyukur karena merasa terselamatkan. Sejak kedatangan Edzar dengan wanita yang entah siapa, ruang teater itu berubah jadi neraka baginya. Sepanjang waktu dia harus merasakan hatinya kepanasan. Udah gitu Edzar duduk tepat di hadapannya, meski terhalang satu kursi tetap saja kelihatan.


“Kalian gak mau makan dulu? Ikut kita nongkrong, gitu?”


Kamila menggeleng pada teman-temannya, “Enggak. Aku langsung pulang, bawa bayi besar soalnya.”

__ADS_1


Safa menyenggol lengan Kamila yang ditanggapi malas oleh gadis itu. Apa maksudnya coba? Harus banget bilang Safa ini bayi besar?


Saat ini mereka ada di dalam lift dengan dinding kaca yang transparan. Niatnya teman-teman Kamila akan mampir ke suatu tempat dulu untuk makan.


Sayang sekali Safa dan Kamila tak bisa ikut, sudah terlalu malam bagi Safa yang jarang kelayapan. Lagian mereka sudah janji pada Nyonya Halim sebelumnya.


“Ya elah... ini masih sore kali. Lagian besok libur,” celetuk Ozan.


“Pala kau libur! Bukan libur, bolos iya.”


“Ck, apa sih, Nes. Nyambar-nyambar aja kayak petir. Suka kamu sama aku?”


Agnes mendecih tak percaya, “Suka? Sama kamu? Idih... pede banget. Gak akan pernah dalam mimpi sekalipun aku suka sama Otan!”


“Otan?” beo Safa gak mudeng.


“Orang Utan,” jelas Nadine yang ternyata mendengar Safa. “Jangan heran, ya. Mereka tuh emang kayak air dan minyak, gak bisa disatukan. Masih mending kucing dan anjing masih bisa akur, buktinya banyak yang pelihara mereka dalam satu rumah.”


Pfft...


“Oh....” Safa mengangguk mengerti. Memang, ya, pertemanan itu kadang unik. Ada yang berantem dan adu mulut terus tapi sebenarnya mereka saling peduli.


Menginjak lantai dasar, sebagian besar ritel sudah menutup gerainya. Tak heran, mengingat waktu yang menunjukkan hampir pukul 9 malam. Suasana juga sudah mulai sepi, terlihat dari pengunjung yang hanya tinggal segelintir hampir bisa dihitung jari.


“Mau aku antar?”


Safa mendesah lelah kala lagi-lagi mendengar suara Akmal. Sudah cukup satu jam atau lebih telinganya tercemar, Safa tidak mau menambahnya lagi.


“Enggak, makasih.”


“Gak usah caper, deh, Mal. Kita naik apa kalau kamu nganterin dia?” tanya Angga.


“Hooh. Lagian Safa sama Kamila,” timpal Ozan.


Akmal mendelik, keduanya kompak membuang muka pura-pura tak melihat. Dasar, gak bisa lihat temennya seneng sebentar aja.

__ADS_1


Keluar dari lobi, Safa berdiri dengan yang lainnya, menunggu Kamila mengambil mobil bersama Akmal dan Nadine.


__ADS_2