SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 128


__ADS_3

Tut.... Tut.... Tut....


Edzar menghela nafas karena lagi-lagi teleponnya tak diangkat. Entah sudah berapa kali dia melakukan panggilan, pun dia mengirim pesan sejak semalam dan semuanya tak ada jawaban.


"Kamu di mana?"


Meski begitu Edzar tetap mencoba peruntungan dan tak berhenti mengirim pesan. Namun seperti halnya yang sudah-sudah, Safa bahkan tak membaca chat-nya. Gadis itu bak hilang ditelan bumi.


Sejak Edzar melihatnya dijemput seseorang, Safa belum kembali sampai terakhir kali dia memantau tadi pagi.


"Pak Edzar habis begadang, ya? Matanya merah banget," celetuk Doni.


Tak heran Doni bertanya seperti itu, Edzar memang tidak tidur semalaman. Dia tak bisa berhenti berpikir mengenai Safa pergi ke mana, dengan siapa, apa dia baik-baik saja. Pertanyaan demi pertanyaan terus berseliweran di otaknya. Terlebih ia merasa Safa sengaja menghindarinya.


Sejak hubungan mereka membaik, Safa tak pernah mengabaikan pesan juga telepon dari Edzar. Ini sudah lebih dari 10 jam, pasti ada sesuatu yang tidak Edzar ketahui terjadi.


Melihat raut Edzar yang seperti itu, Doni tak berani bertanya lagi. Dari roman-romannya Edzar sedang tak ingin ditanya maupun menjawab pertanyaan. Ada apa pagi dengan atasannya itu. Akhir-akhir ini dia kelihatan sedikit tak fokus.


"Hari ini Pak Edzar tidak ada jadwal sidang, jadi Bapak bisa santai sedikit. Kalau begitu saya permisi. Mari, Pak." Tak butuh waktu lama untuk Doni ngacir dari ruangan itu.


Merinding. Dia berasa ngomong sendiri. Ada orang, tapi orangnya gak jauh beda dengan tembok.


"Pak Edzar kenapa lagi?" tanya salah satu staff wanita yang berpapasan dengannya.


Doni mengangkat bahu, "Entahlah, mungkin ada masalah sama pacarnya," jawab Doni kalem. Tanpa tahu si lawan bicara membelalak seolah matanya akan menggelinding.


"Pak Edzar punya pacar?"


Doni berkedip menatap wanita di depannya. Lalu dengan polos dia bertanya, "Loh, kamu gak tau, ya?"


"Emangnya di sini ada yang tahu selain kamu?"


"Enggak ada, sih."


Mata berlapis eyeliner dan maskara itu mendelik, kemudian memutar malas sambil berdecak. "Kamu sendiri dapat berita dari mana? Jangan nyebar hoax gara-gara kamu yang sok tahu."


Doni pun mendengus, "Bilang aja kalian patah hati kalau Pak Edzar beneran punya pacar. Ya, kan? Ngaku aja. Aku sering denger, tuh, para staff wanita gosipin Pak Edzar."

__ADS_1


"Ya memang kenapa? Wajar, kan, karena Pak Edzar masih single. Kalau dia punya istri atau tunangan, barulah kita gak wajar bicarain dia."


"Dan sebentar lagi hal itu akan terjadi."


"Dari mana aku tau? Ya jelas karena aku teman curhatnya," ucap Doni bangga.


"Ngaco."


"Gak percaya? Sini aku bisikin." Doni mencondongkan tubuhnya sedikit. "Saat ini Pak Edzar lagi backstreet. Tapi belum diketahui sosok yang jadi pacarnya siapa."


"Yang pasti ini sangat rahasia. Kamu juga dilarang menyebarkannya."


"Ha! Apa kamu gak sadar kamu baru saja menyebarkannya?"


"Itu karena aku percaya kamu bisa menjaga mulut," ucap Doni sembari berkedip.


Wanita itu meringis mendapati tingkah genit Doni. Dalam hati dia mendengus menanggapi mulut besar pria itu. Apa dia percaya? Tentu tidak. Mimpi apa Pak Edzar menjadikan pria seperti itu sebagai teman curhatnya.


Dibanding itu, Edzar tengah uring-uringan di ruangannya. Lagi-lagi Safa tak membalas juga mengangkat telponnya. Tidak tahukah gadis itu bahwa Edzar rindu padanya?


"Kamu di mana, Sayang...." gumam Edzar tak jelas. Suaranya tenggelam karena dia menumpukan wajahnya di atas lengan yang terlipat di meja.


"Halo, Safa? Kamu di mana?"


Lama tak ada jawaban, hingga yang dia dapat adalah sebuah ringisan. "Ma-maaf, Pak. Ini Hani. Tadi Mbak Safa pesan nugget pisang lima kotak. Apa perlu kami kirim pakai Gojek?"


Edzar terdiam mengusap wajahnya sebentar. "Safa pesan nugget pisang? Kapan?"


Kenapa dia tidak tahu?


Safa masih bisa melakukan kontak dengan orang lain, sementara panggilan Edzar tak satupun dia gubris.


Ada apa sebenarnya? Apa tanpa sadar Edzar telah berbuat salah?


"Beberapa menit lalu, Pak," jawab Hani.


"Ini saya antar pakai Gojek?"

__ADS_1


"Jangan! Biar saya yang antar," putus Edzar.


Selesai menelpon dengan Hani, Edzar gegas bangkit meraih kunci mobilnya dan segera keluar. Pertama-tama dia mencari Doni untuk mengatakan kepergiannya.


Beruntung Doni bilang hari ini dia tak ada sidang. Tak apa izin keluar sesekali, kan? Lagipula Edzar hampir tidak pernah absen selama bekerja.


................


Beberapa menit kemudian dia sampai di Cafe, mengambil pesanan Safa lalu gegas pergi lagi menuju kediaman gadis itu. Jantung Edzar bertedak cepat, senyumnya terbit karena mengira akan segera bertemu dengan gadis yang sejak semalam dirindukannya.


Namun ekspektasi tak sesuai harapan. Edzar hanya mendapati Bik Inem yang membuka gerbang menerima pesanan. Sontak dia bertanya, "Safa-nya mana, Bik?"


Bik Inem yang masih dalam posisi heran karena Edzar yang mengantar makanan pun mengerjap, "Non Safa sedang tidak di rumah, Mas. Ini saya dipesenin lewat online. Kenapa, ya? Ada yang perlu saya sampaikan?"


Edzar mematung. Safa tidak di rumah? Itu berarti dia belum pulang dari semalam? Edzar pikir pesanan itu milik Safa. Ternyata dia hanya memesan.


Terpaksa dia menggeleng dengan senyum kaku, "Tidak ada, Bik. Kalau begitu saya permisi."


"Oh, mangga, silakan, makasih nugget pisangnya. Ngomong-ngomong, kenapa Mas yang antar?" sahut Bik Inem seraya bertanya penasaran.


Edzar mengulas senyum tipis, "Kebetulan saya yang punya cafe itu. Mari Bik, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam...."


"Walah, gak hanya jaksa dia juga pemilik cafe?" gumam Bik Inem dengan mata tak lepas dari Fortuner yang kini mulai menjauh. Kepalanya menggeleng sambil berdecak, "Keren. Pantas si Non sempat tergila-gila. Apa sekarang juga masih, ya? Beberapa kali saya lihat mereka bersama? Atau saya yang mulai pikun?"


"Tau, ah. Ngapain mesti dipikirin. Mending cobain nugget pisang yang kata si Non rasanya juara. Yuhuu... Dam-du-di-dam-du-di-dam-dam-dam." Bik Inem menutup kembali gerbang dan berjalan melenggok memasuki rumah sang majikan. Pinggulnya bergoyang mengikuti irama yang dia nyanyikan.


Pantas rasanya juara, yang punya cafe orangnya ganteng tenan, hihi.


Di sisi lain, Edzar termenung memegangi setir mobilnya. Sebenarnya apa yang terjadi. Ada di mana Safa saat ini. Diliriknya kembali ponsel yang tergeletak di dashboard. Mati, tidak ada satupun pesan balasan maupun panggilan dari Safa. Edzar semakin yakin gadis itu menghindarinya.


Buktinya, hanya pesan-pesan Edzar yang diabaikan.


Edzar menunduk menumpukan keningnya di atas setir. Tak lama kemudian sebuah denting pesan membuatnya terlonjak. Berharap itu dari Safa, Edzar pun gegas mengeceknya. Namun lagi-lagi harapannya harus terkubur saat yang tertera bukan nama gadisnya, melainkan Dyah—ibunya.


"Edzar, weekend ini kamu pulang ke Depok, ya."

__ADS_1


Nafas Edzar terhela berat. Disimpannya lagi ponsel itu sementara keningnya kembali bertumpu di atas setir. Edzar tak membalas pesan sang ibu karena dia tahu apa tujuannya menyuruh Edzar pulang.


__ADS_2