
Derap langkah terdengar susul-menyusul, dua pasang kaki berjalan dengan tergesa menuju sebuah ruangan. Edzar melangkah cepat bersama Doni di sampingnya. Dua lelaki itu nampak terburu-buru menyusuri lorong yang cukup sepi meski di siang hari. Tangannya terangkat mendorong pintu ketika sampai. Dua orang pengawal mempersilahkan dengan mudah. Mungkin karena Edzar cukup tak asing dan pernah sekali dua kali kemari.
Edzar memasuki ruangan berfasilitas VIP itu diikuti Doni. Langkahnya berhenti di tengah ruangan. Matanya jatuh pada seorang pria yang tengah duduk merundukkan kepalanya menyentuh ranjang pasien. Di depannya terdapat seorang wanita yang masih setia menutup mata.
Edzar mendekat, pria itu itu menyadari kehadirannya. Kepalanya mendongak hingga Edzar bisa melihat wajah kuyu bangun tidurnya. Satu orang lain berdiri di sampingnya, Edzar mengenalnya sebagai asisten pria itu.
"Selamat pagi, Pak Bernadin," sapa Edzar.
"Pagi," sahut Bernadin. Lalu kembali menatap wanita di depannya, menggenggam halus tangannya yang rapuh. Meski lemah dan termakan usia, Edzar bisa melihat jejak kecantikan di wajahnya yang menua.
"Bagaimana keadaan istri anda?"
"Kamu bisa melihatnya sendiri."
"Terima kasih. Karena telah memberitahu tepat waktu. Pria itu sudah diamankan."
Edzar tak memberi tanggapan. Namun maniknya setia menatap Bernadin yang enggan melepas tatap dari sang istri. Syukurlah wanita itu selamat. Edzar sudah berjanji memberi jaminan keselamatan untuk menyeret Bernadin sebagai saksi.
"Kami sudah melimpahkan perkara ini ke Tipikor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Seharusnya dalam minggu ini sudah ada surat panggilan."
Bernadin terdiam, kepalanya mengangguk pelan. "Baguslah. Lebih cepat lebih baik. Kalian mengulur waktu terlalu lama."
"Anda siap untuk bersaksi?"
Bernadin menoleh, "Kalau tidak siap, untuk apa aku membiarkanmu berdiri di sini? Bahkan dengan sukarela mengikuti arahanmu untuk berpindah-pindah tempat." Dengusan terdengar dari mulutnya.
"Bagaimana kau bisa tahu istriku dalam bahaya?" tanya Bernadin.
Sesaat mereka saling bertatapan, ada jeda sebelum Edzar menjawab. Doni pun menoleh menanti suara Edzar, karena dia juga merasa penasaran dengan hal itu. Namun jawaban Edzar selanjutnya sungguh mengecewakan.
"Itu tidak penting. Yang lebih penting sekarang adalah memindahkan istrimu ke luar negeri."
"Pergilah ke Jerman. Saya ada kenalan yang bisa dipercaya bisa menjaga Nyonya Bernadin di sana."
"Jerman?"
"Hm."
..........................
"Pak, Anda serius mengirim mereka ke Jerman?" tanya Doni saat mereka telah duduk di mobil.
"Hanya istrinya. Bernadin harus menjalani pemeriksaan sebagai saksi." Edzar menjawab selagi tangannya menarik perseneling. Fortuner hitam itu pun melaju membelah jalanan, berbaur dengan kendaraan lainnya.
Doni mengangguk-angguk. "Memangnya, siapa kenalan yang anda maksud?"
Edzar tak langsung menjawab, matanya fokus pada lalu lintas di depan. Membuat Doni dongkol sendiri menunggunya.
"Seseorang yang tidak mungkin disentuh olehnya," jawab Edzar diplomatis.
Doni menyerah. Seharusnya dia tahu bertanya pada Edzar tidak akan memuaskan. Mereka pun diam sepanjang jalan. Lebih tepatnya Doni merajuk dan malas membuka mulut. Hal itu malah menguntungkan bagi Edzar yang memang tidak suka banyak bicara.
Edzar tetaplah Edzar, selalu menyimpan rahasianya sendiri.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya. Edzar membuka chat yang ternyata dari Liandra.
"Mas, nanti sore sibuk, gak? Makan bareng, yuk?"
......................
"Tuh 'kan, bener ada pohon tumbang. Pantas semalam mati total."
"Aku anterin kamu nanti sore aja, ya. Soalnya pasti sekarang masih macet, atau bahkan mungkin jalur itu ditutup," lanjut Kamila.
Kamila menoleh saat tak mendapat sahutan apapun dari Safa. Kemudian berdecak menyadari gadis itu tengah melamun.
"Heh!" tegurnya mendorong bahu Safa.
Safa terlonjak saat tubuhnya tiba-tiba miring karena ulah Kamila. Spontan bibirnya mengerucut tak senang. Matanya mendelik tajam sembari mengembalikan posisi.
"Ngelamun apa, sih? Perasaan dari semalem bengong terus. Mikirin apa, hah?"
"Mikirin kapan aku bisa berc*nta dengan seseorang." Safa menjawab asal.
Kamila mendengus, "Hah, bohong. Jujur gak!" desak Kamila.
__ADS_1
"Enggak."
"Safa! Jangan bikin kepo!"
"Siapa yang nyuruh kamu kepo?"
"Kamu! Ngapain merenung-renung depan aku? Bikin penasaran orang tau, gak. Cepetan ih bilang...."
Safa menghela nafas sebelum akhirnya membuka suara, "Aku masih kepikiran tentang semalam. Aku yakin banget semalam tuh ada orang di depan rumah kamu."
"Ck, itu lagi."
Safa mendelik dengan mulut mencibir, "Tuh, kan. Kamunya gak percaya. Makanya aku malas cerita."
"Ya udah ya udah, sebutin ciri-ciri orang yang kamu lihat itu," ucap Kamila tak tega. Bagaimanapun dia akan selalu jadi pendengar yang baik untuk Safa.
"Baju hitam, celana hitam, topi hitam. Rasanya familiar banget."
"Familiar gimana maksudnya? Kan emang banyak yang suka berpakaian seperti itu."
"Tapi posturnya aku gak asing," kekeh Safa.
"Safa, gak sedikit orang yang punya bentuk badan yang sama. Aku juga pernah ngalamin kayak kamu. Dulu kukira itu mantanku, ternyata bukan. Aku kira liat Park Seo Joon, eh... taunya malah si Jojon. Gak usah terlalu dipikirin. Palingan orang numpang lewat."
"Mila, aku gak lagi becanda, ya!"
"Aku juga gak becanda, Cintah.... Aku serius, kok. Emang kadang suka gitu. Semua orang juga ngalamin. Tanya, deh."
"Tau, ah!" Safa merengut melipat tangannya di atas perut.
Kamila berdecak menggeleng kepala, "Haihh, merajok lagi, merajok teros kerjaan awak tu."
"Dahlah. Lupain. Ngapain mesti pusing, sih?"
Ting tong!
"Sebentar!" seru Kamila saat suara bel menyeruak memecah ruangan. Bergegas kakinya melangkah meninggalkan Safa ke ruang depan.
Tak lama Kamila kembali dengan membawa se-kresek makanan entah apa. Tapi dari logonya Safa tahu itu dari salah satu gerai makanan dekat sini.
"Apaan, tuh?"
Kamila menyerahkan satu pada Safa tanpa bertanya Safa mau yang mana. Benar-benar dia, tuh. Tanpa protes, Safa membuka kotak lumpia basah berikut sumpit yang disertakan dari sana. Topping-nya lumayan tumpah-tumpah. Safa mengaduk isi kotaknya dan bersiap menyuapkannya ke mulut. Namun tangannya berhenti di udara kala mendengar suara jepretan kamera.
Kepalanya menoleh pada Kamila yang tengah memegang ponsel, mengarahkan kamera pada Safa. Setelah itu mengotak-atiknya dengan serius. Tak lama ponsel Safa berdenting pertanda ada pesan masuk. Bukan dia yang mengecek, tapi Kamila yang buru-buru mengambilnya dan menyuruh Safa membuka kode. Setelah itu Kamila sibuk dengan posel Safa tanpa menoleh sedikitpun pada pemiliknya.
Safa menatap datar wajah tanpa dosa itu. Kemudian dia menyeletuk, "Ada, ya, manager kayak kamu. Yang diendorse siapa yang sibuk siapa. Udah gitu gak ada kompromi dulu sama bosnya."
Kamila meringis menampilkan giginya, "Tenang. Nanti duitnya ditransfer."
Safa tak menghiraukan, fokusnya kembali pada makanan dan televisi di depan. Mengabaikan Kamila yang aktif mengais rupiah dari beberapa foto yang diunggahnya.
Safa akui dia bangga pada Kamila. Diam-diam Safa berterima kasih karena Kamila mampu menyeretnya sampai sejauh ini. Sedikit demi sedikit Safa mulai meninggalkan kebiasaan malasnya. Safa juga mulai mengurangi meminta uang pada ayah dan abangnya. Dan semua itu berkat Kamila.
Tanpa Kamila, mungkin saat ini Safa masih sibuk bergumul dalam selimut karena patah hati.
"Mil."
"Hmm."
"Makasih, ya?"
"Huh?" Kamila mendongak tak mengerti, namun sedetik kemudian dia kembali sibuk pada ponsel dan bergumam sambil lalu. "Sama-sama."
Safa mendengus. Bisa-bisanya Kamila tak menghiraukan ucapan terima kasihnya yang tulus. Tapi tak mengapa, karena jujur jika dalam keadaan biasa Safa gengsi mengucapkan itu.
Sore harinya sesuai janji Kamila pada Safa, dia mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Beruntung cuaca tidak seburuk kemarin, hari ini lumayan cerah, tidak tahu kalau malam. Hanya saja mereka tetap harus berjibaku dengan kemacetan. Jam pulang kerja kerap membuat lalu lintas lebih penuh.
Safa menoleh ke sisi jendela. Mobil Kamila berada paling pinggir, hanya terhalang satu motor dari trotoar. Sebenarnya Safa tak enak hati pada sahabatnya itu, dia bisa saja naik taksi ketimbang harus membuat Kamila berdesak-desakan di jalan demi mengantarnya pulang.
Tapi Kamila memaksa. Dia bilang banyak kasus tak mengenakan yang melibatkan pengemudi ojek atau taksi online. Mau tak mau Safa jadi ikutan parno sendiri.
"Aku akan merasa bersalah seumur hidup kalau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Kamila sesaat sebelum mereka keluar rumah.
Safa mengulas senyum mengingat kekhawatiran Kamila padanya. Namun garis bibir itu harus lenyap kala matanya menangkap sebuah pemandangan mengiris hati. Di sana, di sebuah Cafe bernuansa ciamik, Edzar duduk tepat di sisi jendela. Yang membuat hati Safa bergejolak adalah sosok yang duduk di hadapannya. Liandra, perempuan itu tersenyum mesra menatap Edzar.
__ADS_1
Lagi-lagi Safa harus menyaksikan dua orang itu. Kenapa Tuhan selalu mempertemukan mereka jika ujungnya harus Safa yang menanggung sakit sendiri. Mereka memang hidup dalam satu kota yang sama, bahkan satu komplek tempat tinggal. Tapi apa harus dengan kebetulan seperti ini?
Kenapa sedikit terdengar kejam? Safa merasa tak adil karena di sini hanya dia yang merasa terpukul.
Tak ingin berlama-lama menatap, Safa meluruskan pandangan pada ramainya kendaraan yang mengantri di depan sana. Tuhan, sampai kapan perasaan ini akan mengendap di hatinya?
Di sisi lain, Edzar berusaha keras bersikap ramah dengan cara menjadi pendengar yang baik. Liandra tengah bercerita tentang kesehariannya di tempat kerja. Edzar menghela nafas menahan bosan yang membuatnya ingin segera pulang. Mandi dan istirahat.
Netra hitamnya beralih ke samping, menatap ramainya aktivitas lalu lintas yang bukan lagi hal asing. Edzar termangu sebentar, memikirkan berbagai masalah yang akhir-akhir ini menyita waktunya. Mungkin beberapa tahap lagi semuanya akan selesai. Tinggal menunggu tindakan dari pengadilan. Edzar harap tak ada drama yang akan menyulitkannya.
Seharusnya Edzar tak ada urusan lagi, karena sejatinya kasus korupsi merupakan tugas KPK dan jajarannya. Edzar hanya membantu sedikit, dan itu sudah membuatnya mengorbankan banyak hal.
Tak apa. Sebentar lagi. Hanya sebentar lagi dan Edzar akan memperjuangkan apa yang harus ia perjuangkan.
...........................
"Abang?" panggil Safa ketika melihat bayangan seseorang di balkon lantai dua, dia baru saja keluar kamar hendak membuat susu. Tapi sebuah suara yang terdengar samar mengurungkan niatnya.
Dava berdiri di luar sana dengan handphone menempel di telinga. Lelaki itu menoleh seiring Safa yang mendekat. Kening Safa dibuat berkerut. Apa hanya perasaannya saja wajah Dava terlihat tegang? Lelaki itu juga nampak sedikit pias saat melihatnya.
"Abang ngapain malam-malam di sini?" Safa menengok keadaan rumah yang sudah gelap. Dan keberadaan Dava cukup membuatnya terkejut. "Telpon siapa, sih? Harus banget di balkon? Ngagetin tau. Safa kira hantu." Bibir Safa mengerucut.
Dava tersenyum kaku. Lalu berbicara sebentar sebelum mengakhiri panggilan, "Sudah dulu. Saya tutup telponnya," ucapnya entah pada siapa.
Safa melihat gerak-gerik Dava yang agak aneh. Pria itu terlihat sedikit gugup tak seperti biasanya. Apa ada masalah di perusahaan? Atau ada hal lain? Apapun itu, Safa belum siap kalau harus bangkrut!
"Kenapa belum tidur?" tanya Dava yang malah terkesan mengalihkan pembicaraan.
Safa menunjukkan tumbler di tangannya. "Mau ambil minum, sekalian Safa belum bikin susu."
Dava mengangguk sambil bergumam 'oh'.
"Memangnya berani ke dapur sendiri?" tanya Dava dengan tatapan mengejek.
"Tadi berani. Tapi lihat abang di sini jadi takut, kebayang hantu," jawabnya polos.
Dava terkekeh mengacak rambut adiknya dengan gemas. Kemudian merangkulnya menuruni tangga menuju dapur. "Ayo, abang antar."
Safa menurut tanpa banyak bicara, Dava menungguinya hingga selesai menyeduh susu. Hal itu mengundang heran dalam benaknya. Biasanya, Dava paling anti kalau dimintai tolong olehnya, apalagi Dava sering mengejeknya jika sudah bersikap penakut di malam hari.
"Abang mau?" tanya Safa menyodorkan segelas susu hangat miliknya.
Dava berdecak dan mengernyit jijik, "Jauhkan. Jauhkan!" tegasnya sembari menutup hidung.
Safa lupa, Dava sangat membenci susu. Apalagi yang putih. Katanya, baunya tidak enak. Safa meringis pelan menjauhkan kembali gelasnya, lalu meminum susu itu hingga tersisa setengah.
"Heran, seneng banget minum gituan. Kayak bayi aja." Dava menggerutu setengah mengejek. Tangannya mengibas-ngibas berusaha menghalau bau yang membuatnya mual.
Safa memutar matanya malas, meminum lagi susunya hingga tandas. "Belaga. Kayak pas orok gak nyusu aja," timpalnya tak kalah mencibir.
"Itu karena kebutuhan."
"Hah, alasan. Bayi mana tahu soal kebutuhannya. Kalo gak suka ya gak suka."
"Ngejawab terus, ya, kamu. Udah belom? Abang tinggal, nih," ancam Dava.
Kalang-kabut Safa menaruh gelas bekasnya di wastafel. Bergegas dia menyusul Dava yang hendak keluar dari dapur. Bibirnya mengerucut meraih lengan kekar itu. Cih, bisanya ngancam. Mentang-mentang Safa penakut.
Safa memeluk erat lengan Dava saat mereka menaiki tangga. Matanya mengedar di kegelapan. Bulu kuduknya berdiri tanpa bisa dicegah. Dava mendesah malas melihat itu. Adiknya benar-benar penakut. Ingin rasanya Dava kerjain, tapi takut bangunin orang rumah. Satu komplek bisa geger kalau Safa sudah berteriak.
"Dah, sana masuk. Tidur. Jangan gadang-gadang apalagi nonton Drakor." Dava menepuk kepala sang adik saat mereka sampai di depan kamar.
Safa manyun, padahal dia lagi maraton film. Tapi gak papa, kan Dava tidak tahu apa yang Safa lakukan di kamar. Safa tersenyum dalam hati.
Namun tanpa diduga Dava menyeletuk lagi, "Kalau mau begadang, ya silahkan. Padahal kemarin malam abang denger orang nangis waktu lembur. Hiih... serem pokoknya," ucapnya sambil berlalu ke kamar. Kamar mereka bersebrangan.
Spontan Safa meloncat menghampiri abangnya yang hendak menutup pintu. Ucapan Dava berhasil membuatnya merinding. Alhasil Safa merengek-rengek minta tidur di kamar Dava. Dava sampai kewalahan melepas pelukan Safa di perutnya. Dava menyesal. Tahu begini mending tadi diam saja. Niat hati ingin mencegah agar adiknya tak begadang, malah dia yang jadi pusing sendiri.
"Lepas lepas! Abang bohong, Dek. Gak ada, gak ada hantu! Demi Allah, abang bohong! Udah, ah elah... kayak anak mony*et aja gelantungan gini!" Dava menggeliat berusaha melepaskan diri.
"Abang...! Gak mau, Safa mau tidur sini aja.... Temenin Safa bobo.... Suruh siapa nakut-nakutin....!"
"Berisik!" desis Dava sambil melotot.
"Ya makanya temenin Safa tidur...." rengeknya dengan muka memerah siap menangis.
__ADS_1
Dava mengusap wajahnya berusaha sabar. Berkali-kali melakukan respirasi mengontrol emosi. Sepertinya besok Dava harus coba melakukan meditasi agar tak darah tinggi. Punya adik macam Safa itu tidak mudah. Butuh kesabaran tingkat langit untuk menghadapinya.
Ya Tuhan, tolong beritahu calon suaminya untuk latihan dari sekarang agar tidak syok.