
"Ibra jangan!"
Prak!
Terlambat. Safa baru saja menghampiri sang putra yang tengah bermain dengan anak rekan suaminya. Dan tebak apa yang baru saja Ibra lakukan. Benar, Ibra baru saja melempar ponsel milik teman bermainnya. Bukan hanya dilempar, tapi dipukul-pukulkan ke tembok dengan sangat keras.
"Astaghfirullah, Nak ... sudah Mami bilang jangan nakal, jangan suka rusakin barang orang." Safa meraih Ibra yang enggan menghentikan aksinya merusak ponsel.
Ia menatap nanar benda pipih itu yang sudah hancur menjadi rongsokan. Menatap bersalah pada anak di depannya, Safa berusaha minta maaf dan memeluknya ketika anak itu mulai terisak menangis.
"Huaaaa ... Papaaa ... hiks ... hiks ..."
Terdengar derap langkah dari dalam rumah. Edzar dan rekan jaksanya muncul dengan raut penasaran.
"Kenapa? Ada apa, Mam? Itu kenapa nangis?" tanya Edzar pada Safa.
Wijaya, teman Edzar pun langsung menghampiri putranya yang meraung dengan kaki menggasak lantai. "Hey ... Kakak kok nangis? Malu tahu."
Sementara Safa, ia menatap Edzar melas. Matanya melirik menunjukkan ponsel rusak di bawah mereka. Seketika itu juga Edzar paham.
__ADS_1
"Ya ampun. Mas, kamu nakal lagi? Jujur sama Papi, kamu yang rusak handphone itu?"
Ibra merengut tak menjawab. Tapi rautnya seakan pasrah dimarahi. Edzar hanya mampu membuang nafas, ia pun beralih menatap temannya yang kini sibuk menenangkan putranya yang mengamuk.
"Jay, maaf banget, ya? Nanti saya transfer untuk ganti rugi."
"Wah, Pak, sebetulnya tidak usah."
"Gak papa, saya gak enak soalnya. Sekali lagi maaf, ya? Ibra memang suka sekali rusakin ponsel, entah apa faedahnya buat dia," ringis Edzar malu.
"Namanya juga anak kecil, Pak, belum tahu apa-apa. Mereka akan langsung bertindak kalau gak suka. Mungkin anak Pak Edzar gak suka lihat ponsel?"
"Kalau gitu saya pulang, Pak. Pembahasan tadi bisa kita lanjut di kantor saja, ya?"
"Oh, iya iya. Sekali lagi maaf."
Wijaya mengangguk sambil tersenyum. Ia mengambil remahan ponselnya yang diserahkan Edzar, lalu menuntun anaknya menaiki motor. Ia membunyikan klakson kemudian mengucap salam sebelum pergi.
Tin!
__ADS_1
"Mari, Pak, Bu, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam ..." sahut Edzar dan Safa berbarengan.
Keduanya lalu menatap Ibra di belakang mereka. Bocah laki-laki itu berdiri dengan wajah merengut polos. Edzar lagi-lagi membuang nafas. Ia berjalan menghampiri sang putra dan membawanya untuk digendong.
Ibra sudah berbuat salah, namun sebisa mungkin Edzar tak akan membentaknya meski semarah apapun dirinya. Paling banter ia akan menghukum Ibra untuk menulis angka dan huruf satu lembar penuh. Kalau belum selesai Ibra tak akan dikasih jajan. Ia sudah mengultimatum ini pada keluarganya. Jika Ibra tak diberi uang jajan, maka jangan ada yang memberinya karena anak itu tengah menjalani hukuman.
Edzar menurunkan Ibra di ruang keluarga, ia meminta Safa mengawasi anak itu sementara dirinya pergi ke ruang kerja. Tak lama Edzar muncul membawa kertas dan pulpen, ia meletakkannya di depan Ibra.
"Mas tahu salah apa?" ujarnya bertanya.
Ibra mengangguk kalem. Ia mengambil kertas polio dan pulpen itu lalu mulai menulis alpabet dari A sampai Z. Ibra sudah hafal saking seringnya menulis itu.
Tak heran di umurnya yang baru 3 tahun ia sudah lancar menulis angka dan huruf, bahkan merangkainya menjadi sebuah kalimat.
"Mami awasi, ya. Awas, jangan curang kalian. Papi tahu mana tulisan asli Mami atau Ibra."
Safa meringis. Ia memang kerap membantu Ibra secara diam-diam. Rupanya itu diketahui Edzar tanpa ia sadari. Aduh, bisa-bisa nanti dia sendiri yang kena hukum.
__ADS_1
"Maaf ya, Mas, Mami gak bisa bantu sekarang," ringisnya pada Ibra.