SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 126


__ADS_3

"Zar—"


"Ssttt...." Edzar memberi isyarat pada Heru yang baru saja masuk ke ruangannya.


Selepas dari Pengadilan Edzar membawa Safa ke Morinaza untuk makan sekalian dia memeriksa pekerjaan. Gadis itu tertidur pulas setelah kenyang dengan makanan yang disajikan. Benar-benar menggemaskan. Awalnya saja dia mendebat takut gendut, ujung-ujungnya dihabiskan.


"Om mau bikin aku gendut, ya! Kenapa makanannya banyak banget! Udah gitu tinggi kalori semua lagi."


Edzar mendengus tersenyum kecil mengingat itu. Safa adalah satu dari sekian wanita yang kadang memusuhi makanan. Edzar mengerti mereka butuh untuk menjaga bentuk dan berat badan. Dia pun tidak masalah dengan hal itu.


Hanya saja dia khawatir Safa akan stress bila memaksakan diri, terlebih gadis itu baru lepas dari permasalahan yang menimpa keluarganya. Kalau mau diet Safa harus benar-benar siap dengan segala situasinya, salah satunya kesehatan fisik juga mental.


Edzar siap membantu jika Safa mau. Dia bahkan bersedia menyediakan makanan sehat apa saja yang tetap enak dimakan, tentu yang sesuai selera Safa.


Lagipula tubuh Safa sangat ideal, Edzar tak munafik dia sering memperhatikan. Meski gadisnya terbilang mungil dan pendek, tingginya pun hanya sebatas dada Edzar. Tapi dia tidak kurus, tidak juga gendut. Malah cenderung padat dan sekal, dan Edzar suka itu.


"Biasa aja ngeliatinnya. Ingat, belum halal," celetuk Heru yang sudah berdiri di depannya.


Edzar tak menggubris, rautnya berubah datar saat matanya beralih menatap Heru. "Bagaimana? Sahamnya jatuh, kan?"


"Tentu saja," angguk Heru. "Aku sudah memantau dari beberapa hari. Perusahaan Galuh benar-benar terguncang melebihi dari yang kita duga."


Heru menyeringai, pun bibir Edzar yang tersungging tipis. Pria itu terlihat puas dengan apa yang didengarnya.


"Pastikan berita itu ditulis dengan jelas. Kita akan menggiring opini publik untuk memperbaiki citra Halim yang sudah dirusaknya."


"Beres. Kamu lupa aku mantan jurnalis juga?"


Kali ini giliran Edzar yang mengangguk, "Aku percaya kamu."


Sesaat suasana kembali hening. Heru melirik Safa yang terlelap. Hanya sebentar, tapi sudah membuat mata Edzar menajam. Dia pun mengangkat dua tangannya ke udara. "Santai My Boss. Bukan orangnya yang kulihat, tapi outfitnya."


"Gila, dari atas ke bawah nilainya hampir 300 juta, ya?" lanjutnya sedikit tak yakin. Lalu melirik Edzar yang kini fokus dengan laptopnya. "Kalau kalian jadi menikah, yakin kamu kuat menafkahinya?"


Edzar menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard, matanya melirik tajam merasa tersinggung. "Kamu meragukan finansialku?"


Heru meringis, "Tidak juga. Aku tau usahamu banyak selain kafe ini."


"Kalau begitu diamlah," ucap Edzar kembali berkutat dengan layar di depan. "Aku tidak keberatan menghabiskan seluruh uangku asal dia terus berada di sampingku," lanjutnya terdengar cuek.

__ADS_1


Heru mengangguk, "Lama tidak berhubungan, kamu mendadak berubah jadi budak cinta, ya?" Dia menatap Edzar prihatin. "Tergila-gila boleh, tapi bodoh jangan. Idiot namanya jika kamu sampai rela miskin karenanya."


"Cintailah dia sewajarnya."


Heru berbalik, "Oh ya, keluar sebentar. Ada pembaruan menu di dapur. Kamu harus coba." Setelah itu dia keluar, meninggalkan Edzar termenung di kursinya.


Ditatapnya Safa yang pulas meringkuk di sofa. Jaket Edzar menyelimuti dari pinggang hingga lututnya. Sengaja untuk menutupi roknya yang pendek.


Serta-merta dia bangkit, tungkainya mendekat dan berjongkok melihat seraut wajah cantik nan polos dengan mulut sedikit terbuka. Edzar terkekeh menekan pelan dagu si gadis hingga mengatup kembali. Dikecupnya kening itu sembari mengusap rambut halus Safa yang bertebaran di sofa. "Mungkin aku terlihat bodoh hanya saat bersamamu," gumamnya sebelum berdiri, melangkah ke arah pintu dan keluar dari sana.


Safa bergerak dalam tidurnya, entah disadari atau tidak, sudut bibirnya sedikit melengkung membentuk sebuah senyuman.


................


Semua yang ada di dapur harap-harap cemas menatap Edzar yang tengah mencoba makanan. Heru sudah menyimpan kembali garpunya ke atas piring yang dipegang oleh Chef. Kepalanya mengangguk merasa puas dengan hasilnya. Tinggal menunggu pendapat Edzar sang pemberi keputusan.


Tak lama Edzar meletakkan garpu dan menyusut bibirnya dengan tisu. Pria itu lantas mengangguk membuat semuanya hampir merasa senang, sebelum kemudian dia berkata. "Enak. Tapi rasanya terlalu kompleks. Tolong tonjolkan rasa cokelatnya."


Setelah mengatakan itu Edzar berlalu dari dapur, diikuti Heru yang mengernyit terheran-heran. "Dessert itu sangat enak, kenapa kamu menyuruhnya untuk dibuat kembali?"


"Siapa yang bilang tidak enak? Aku hanya memintanya menonjolkan rasa cokelat karena itu tokoh utamanya. Tidak etis kalau dia tenggelam oleh rasa keju yang asin."


"Benar juga," pikir Heru.


Edzar hanya mengangguk sebagai tanggapan. "Pastikan wanita itu mengatakan yang sebenarnya."


Heru tak menyahut, namun jarinya aktif bergerak di atas ponsel.


"Apa ibumu sudah tahu?"


Edzar mengangguk.


"Bagaimana tanggapannya?"


Dia tak langsung menjawab, matanya sedikit menerawang, kemudian menghela nafas. "Yang pasti dia merasa bersalah."


"Karena sempat memaksamu dekat dengannya?"


"Hm."

__ADS_1


"Kenapa tidak kenalkan saja gadis itu pada ibumu? Dengan begitu mungkin beliau akan merasa tenang dan berhenti memintamu kencan buta."


"Safa ingin hubungan kami dirahasiakan dulu."


Heru menoleh cepat, "What? Why?"


"Dia bilang malu karena merasa belum pantas untuk mendampingiku," gumam Edzar.


"Alasan macam apa itu?" dengus Heru. "Hati-hati dia punya pria idaman lain."


Dahi Edzar berkerut tak senang, "Apa kamu tak menyukainya?"


"Memangnya kamu ikhlas kalau aku menyukainya?"


"Kamu tahu apa yang kumaksud," kata Edzar datar.


"Aku bukan tidak suka, hanya sedikit khawatir." Heru menatap Edzar lamat, "Dia sangat sempurna hingga berpotensi mengecewakanmu. Aku hanya tidak mau kamu mengulang masa lalu. Secara yang kulihat kamu terlalu menjatuhkan perasaanmu padanya."


Edzar terdiam meresapi perkataan Heru. Lantas bibirnya tersenyum tipis menepuk pundak temannya itu. "Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kalau perlu aku akan menguncinya di suatu tempat agar tidak pergi," ucap Edzar disertai candaan.


Heru menonjok lengan kekar Edzar sembari berdecak. "Hey, aku serius."


"Memang siapa yang bercanda?"


Mata Heru melotot, "Kau benar-benar akan melakukannya?"


"Menurutmu?"


"Wah, benar kata Diko. Kamu memang sudah gila." Heru berucap ngeri.


Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari lantai atas. Kompak mereka mendongak mencoba menebak apa yang terjadi. Edzar mengernyit, sepertinya dia mengenali suara itu, dia yakin jeritan itu berasal dari ruangannya.


Kepala Edzar menoleh pada Heru, dan dia tahu Heru juga berpikiran hal yang sama. Tanpa menunggu waktu lama Edzar melesat menaiki tangga yang refleks diikuti Heru. Tingkah dua lelaki itu jelas menarik perhatian para pengunjung.


Setelah melewati koridor pendek Edzar gegas membuka pintu, tanpa sadar dia membantingnya hingga membuat beberapa orang di dalam sana menoleh.


Kening Edzar semakin berkerut tatkala menemukan Hani dan beberapa pegawai lain di ruangannya. Mereka mengerubuni sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.


Mata Edzar bergeser pada sofa yang telah kosong, lalu kembali ke arah mereka yang bersimpuh di bawah lantai. Sejenak Edzar terdiam berusaha mencerna keadaan. Kenapa para karyawannya berkumpul di sini.

__ADS_1


Pertanyaan itu segera terjawab setelah matanya bertemu pandang dengan seseorang yang dia cari sejak tadi. Refleks dia melotot mendapati apa yang dilihatnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa keningmu berdarah?" serunya seraya bergegas mendekati Safa yang tengah dikerubuni orang-orang.


__ADS_2