
Safa belum membuka suara lagi sejak pertanyaan tak terduga yang dilontarkan oleh Mbak Leni. Dia malu, hubungan mereka saja baru seumur jagung. Wajar, kan, kalau Safa belum seyakin itu?
Meski dia tahu Edzar sempat beberapa kali memberi kode, tapi kerap Safa abaikan. Dilihat dari umurnya Edzar, tak heran lelaki itu nampak terburu-buru, apalagi keluarganya sudah mendesak. Setiap bertemu pasti yang ditanya kapan nikah. Persis perawan tua yang masih betah melajang.
"Ibu mana?" Edzar menuntun Safa agar duduk di ruang kosong yang ada di sana. Gazebo itu terbilang luas, cukup muat untuk menampung belasan orang.
"Tadi ke warung sama Citra dan mamanya." Reno menyahut, matanya sesekali melirik Safa yang duduk di samping Edzar. Sudut bibirnya terangkat kala pandangan mereka bertemu. Hampir saja dia memutar mata saat Reno mengedip jail. Dokter satu itu memang kerap menggodanya setiap bertemu.
Bukan menggoda dalam artian lain, hanya sering melempar candaan, karena sifat Reno yang asik dan SKSD, berbeda dengan Edzar yang diam maupun Tirta yang biasa saja. Disebut pendiam, bukan. Disebut kalem juga sepertinya bukan. Entahlah, pokoknya Om Tirta itu biasa saja. Ada saatnya pria itu diam, ada pula saatnya dia riang. Begitulah, aneh memang.
Kalau Edzar jangan ditanya. Dia lempeng kayak trotoar baru dibangun, apalagi kalau sama orang asing. Beuh, cueknya bukan main. Belum lagi matanya yang tajam banget itu, kalau belum kenal dekat pasti mengiranya Edzar judes. Tapi memang judes, sih, haha.
Edzar mengangguk paham. Dia beralih menatap Safa di sampingnya, "Gerah?" tanyanya perhatian.
Safa menggeleng. Meski cuaca sedang panas-panasnya, tapi suasana taman belakang Uwa Nining sangat sejuk. Matahari tidak terlalu menyengat karena atap gazebo yang dibuat dari bahan alami.
Interaksi keduanya tak luput dari perhatian orang-orang di sana. Jelas, karena sejauh ini Edzar tak pernah membawa siapapun ke acara keluarga. Wajar mereka terlihat sangat penasaran dengan Safa. Apalagi sosoknya yang tak biasa, sekilas seperti keturunan Tionghoa.
"Jenengannya siapa, Neng?" tanya seorang wanita dengan pakaian syar'i kuning terang. Cukup membuat sakit mata sebenarnya, tapi mau menegur pun rasanya segan.
Sesaat Safa terdiam, dia sudah lama tidak memakai maupun mendengar orang berbicara Sunda. Jadi agak meraba-raba.
"Safa, Tante," jawabnya sehalus mungkin. Dia baru tahu Edzar juga memiliki darah Sunda.
"Ohh... Orang Bandung?"
Mungkin karena sempat mendengar Edzar menjemputnya ke Bandung, jadi semuanya mengira dia orang Bandung.
"Bukan, Tante. Safa orang Jakarta, tapi sekarang tinggal di Bandung sama Ayah."
"Oh, kitu. Manawi teh orang Bandung." (Oh, gitu. Kirain orang Bandung).
"Hehe, bukan, Tante."
"Jakarta mana, Neng?" tanya yang lainnya.
"Jaksel, Pak. Perumahan Cilandak."
"Oh, Jaksel. Bukannya sekarang Edzar kerja di sana, ya? Leres, Zar? Katanya kamu beli rumah juga?" (Betul, Zar?)
"Leres, Wa. Di Jagakarsa." (Betul, Wa. Di Jagakarsa.) "Kalau rumah, saya tetanggaan dengan Safa," lanjutnya.
__ADS_1
Terdengar gumaman kata 'oh' yang serentak. Safa masih merasa canggung duduk di tengah-tengah mereka.
"Cinlok meureun, nya? Cinta lokasi, hahaha...." kata seseorang yang kontan disambut tawa semuanya.
(Cinlok kali, ya?)
Safa hanya mengulas senyum, dia tak tahu harus menjawab apa. Apa kisahnya dan Edzar bisa dibilang cinta lokasi? Lebih tepatnya mungkin cinta satu komplek.
Sesuai perkataan Edzar, Safa serahkan semuanya pada lelaki itu. Mamam tuh pertanyaan.
"Bisa dibilang begitu," jawab Edzar seadanya. Lengkap dengan senyum kecil di bibirnya yang pelit tawa.
Tanpa diduga, salah satu Bibi Edzar kembali bertanya. Sejak tadi matanya menatap Safa dengan seksama. "Tapi, Safa ini muslim, kan?" ucapnya hati-hati. Mungkin dia kadung penasaran, tapi takut menyinggung.
"Alhamdulillah muslim, Tante."
"Alhamdulillah...." Serentak para Bibi dan Uwa Edzar menggumamkan hamdalah.
Edzar dan Safa saling melempar pandangan. Keduanya tersenyum. Namun tanpa Safa ketahui, keluarga Edzar melihat tatapan yang begitu dalam dari lelaki itu.
Edzar sudah move on. Itu pikir mereka. Diam-diam semuanya berdoa, semoga yang kali ini sampai ke pelaminan.
Haduh, Bu, kayak gadis saja malu-malu.
Kontan Edzar menatap Safa lagi. "Mau makan?"
"Make ditanya. Ya pasti mau lah, kalian kan habis perjalanan cukup jauh." Leni tampak geregetan.
Edzar meringis samar. Lantas mengajak Safa ke dapur sesuai arahan Leni.
................
"Mau makan apa?" tanya Edzar.
Safa tampak kebingungan, terlalu bayak makanan sampai dia tidak tahu harus memilih apa. Semuanya kelihatan enak.
"Syomai aja, deh."
Edzar tersenyum geli, kemudian mengisi piring Safa dengan syomai.
"Jangan banyak-banyak A Uda. Nanti gak habis."
__ADS_1
Namun Edzar tak menghiraukan. Dia tetap mengambil porsi yang terlalu banyak bagi Safa. Lelaki itu terkekeh melihat Safa mengerucutkan bibir. "Ini buat berdua," jelas Edzar pada akhirnya.
Safa mengernyit, "Kok, berdua? Kenapa gak masing-masing aja, sih?"
Bukannya apa, malu kalau dilihat orang.
"Sudah kamu diam saja. Duduk sana." Edzar menunjuk kursi beranda belakang dengan dagunya.
Meski kesal, Safa tetap menurut, berjalan menghentak keluar dari dapur, duduk di kursi rotan yang menghadap langsung ke taman belakang. Jarak dari gazebo cukup jauh, karena halaman Uwa Nining rupanya sangat luas.
Tak lama Edzar datang dengan sebaki makanan. Sepiring penuh syomai, bakso, soto, bahkan capcai dan gulai daging tak kalah ketinggalan. Ada sambal goreng kentang juga, plus setoples sedang keripik singkong.
Safa ternganga. "A Uda, ini...."
"Hehe, Uda lapar, Sayang," ringis pria itu menggaruk kepala.
"Emang semua ini bakal habis?"
"Gak tahu, sih."
Seketika Safa ingin menggetok kepala Edzar. Pria itu bertingkah seolah di rumahnya sendiri. Mentang-mentang ini rumah sodara.
Ya sudah, deh. Terserah Edzar.
Safa mulai menyendok syomai di hadapannya, menyuapkannya ke mulut, lalu mengunyah pelan hingga makanan dengan bumbu kacang itu lumer di lidahnya.
Enak. Benar kata Mbak Leni, rasanya gak kalah sama beli. Malah Safa rasa ini lebih lezat. Fiks, mertuanya Mbak Leni memang hebat.
Tiba-tiba Edzar menyodorkan sesendok soto. Safa menoleh mengangkat alis.
"Soto Betawi-nya enak. Coba, deh."
Refleks Safa membuka mulut menerima suapan Edzar. Tanpa mereka ketahui seluruh pasang mata di gazebo menatap interaksi keduanya. Terutama Reno, sang adik yang kini diam-diam berdecak. Dulu ngelak, sekarang luluh juga 'kan, ucapnya dalam hati.
Sayang seribu sayang, kemesraan itu harus terinterupsi oleh kedatangan seseorang.
"Edzar? Kamu sudah datang?" Suara itu berasal dari belakang.
Kompak Edzar dan Safa menoleh. Dyah berdiri di ambang pintu, menggandeng tangan Citra di genggamannya. Di belakangnya ada Dona yang melempar senyum, sedikit canggung.
"Ibu?"
__ADS_1