
“Apa kabar anak Ayah...?”
Nyonya Halim berdecak, tangannya sibuk merapikan kasur di belakang suaminya, lalu mondar-mandir entah membereskan apa.
“Apaan, sih, Ayah. Baru juga berapa jam gak ketemu udah nanya kabar,” sungutnya.
Tuan Halim melirik istrinya malas, “Ya namanya juga kangen, Bun. Ayah gak bisa jauhan sebentar aja sama putri Ayah yang cantik gemesin ini.”
“Lagian Ayah khawatir, takut Safa kenapa-napa saat kita gak ada. Kamu baik ‘kan, Nak?” tanyanya kembali menoleh pada Safa.
“Safa oke, kok Ayah... Ayah gak perlu khawatir. Safa ‘kan anak baik.” Tangannya berpose di bawah dagu saat mengatakan kalimat terakhir. Lalu kembali sibuk menatap cermin dan melanjutkan rutinitasnya memakai skincare.
“Alhamdulillah kalau begitu. Terus, anak baiknya Ayah sedang apa sekarang? Sudah sarapan?”
“Ayah gimana, sih. Jelas-jelas anaknya lagi dandan, baru selesai mandi. Ya pasti belum sarapan, lah.” Lagi-lagi Nyonya Halim menyela tanpa kelihatan wujudnya.
Tuan Halim menggeleng pelan menatap putrinya, “Bundamu sangat sensitif pagi ini. Apa-apa dikomentarin,” ucapnya setengah berbisik.
Safa terkekeh, “Bukannya Bunda setiap hari memang begitu, Ayah?”
“Kali ini beda. Bunda begitu karena semalam gagal klim-“
“Ayah!”
Seruan sang istri spontan membuat Tuan Halim menghentikan ucapannya, meringis pelan sambil menggaruk belakang kepala. Safa mengernyit, “Klim apa Ayah?”
“Hem?” Tuan Halim mengangkat alisnya bertanya.
Safa mendecak, “Tadi Ayah bilang Bunda gagal klim, klim apa?”
“Ah... hahaha. Itu, Bundamu kelimpungan dengan cuaca di sini. Tau sendiri lah di sini daerah pegunungan.”
Mata Safa memicing tak percaya, dipikir dirinya bodoh tak tahu apa yang dimaksud sang ayah. Tuan Halim tidak tahu saja otaknya tak sepolos yang dikira. Apalagi ucapan Ayahnya terdengar tak nyambung barusan.
Pegunungan katanya. Itu mau dinas luar kota atau bulan madu?
__ADS_1
Safa menepuk-nepuk pelan wajahnya yang telah dipolesi pelembab. Lanjut dia menggunakan sunscreen, menggores tipis alisnya, eyeliner, maskara, lalu liptint sebagai sentuhan akhir. Satu lagi, cream blush yang membuat pipinya segar merona. Perfect. Tanpa foundation dan alas bedak pun wajahnya sudah bercahaya.
“Ayah, sudah dulu, ya. Safa buru-buru.”
Gadis itu beranjak dari kursi rias yang didudukinya, berjalan menuju lemari yang menyimpan berbagai koleksi tas dan sepatu. Safa mengambil mule shoes berwarna pastel senada baju dan tote bag untuk sekedar menyimpan ponsel dan dompet.
“Memangnya kamu mau kemana pagi-pagi begini, Nak?”
“Mau main ke rumah Kamila, Ayah. Hari ini dia libur,” jawab Safa sambil lalu.
Safa balik mendekati meja rias meraih ponsel yang sejak tadi berdiri tegak. Sang Ayah mengernyit di balik layar. “Lho, kamu ‘kan belum sarapan. Masa mau pergi gitu aja?”
“Ini mau, kok. Makanya mau Safa matiin VC-nya. Repot, Ayah terlalu cerewet, Safa gak fokus.”
Kakinya mulai melenggang keluar kamar.
“Yah... jangan diputus, dong. Ayah masih kangen, lho sama kamu.”
“Terosss ... terosss ... Si Bungsu teros yang dikangenin. Dava yang capek kerja gak ditanyain,” ketus Dava yang juga baru keluar kamar. “Asal Ayah tau, ya. Baru ditinggal sebentar aja dia udah nyasar di rumah orang.”
Safa menjauhkan ponsel dari jangkauan wajahnya, mencegah Tuan Halim tahu bahwa dia tengah memelototi Dava saat ini. Abang sompret! Ngapain mesti bilang segala, sih? Dasar mulut lemes.
Dan Safa, dia hampir saja melepas mules-nya dan melemparnya ke mulut Dava kalau saja suara Tuan Halim tak menginstruksi.
“Kalian ngapain? Safa, benerin letak hapenya. Masa yang Ayah lihat langit-langit rumah,” ujarnya setengah menggerutu. “Tadi kamu bilang apa, Dava? Adik kamu nyasar di mana?”
Safa menggeleng panik pada Dava. Bisa bahaya kalau Tuan Halim tahu dia main-main ke rumah Edzar, langsung ke kamarnya pula. Ayah paling sénsitif dengan lawan jenis yang mendekatinya. Walau fakta yang terjadi adalah kebalikannya, Safa yang mendekati Edzar.
“Ayah, sudah dulu. Safa mau berangkat.”
“Satu lagi, kalo main jangan lupa pakai pengaman, Safa gak mau pulang-pulang Bunda bawa adik.”
“Eh-“
Tut.
__ADS_1
Safa segera mematikan sambungan video call dengan sang ayah. Kemudian berlalu melewati Dava yang kini sibuk menerka-nerka ucapan adiknya.
“Dek, maksud kamu apa tadi?” Kakinya mulai melangkah menyusul Safa.
“Soal apa?”
“Adik?”
“Oh... itu. Abang harus hati-hati kalau Ayah pergi berdua sama Bunda ke luar kota. Bisa aja mereka pulang bawa anggota baru. Safa sih gak mau, ya. Ihh... repot entar suruh jagain bayi, apalagi gantiin popok, iwhhh... gak mau pokoknya.”
Dava mengernyit, “Ngapain khawatir? Mereka ‘kan udah tua.”
Ucapan polos Dava membuat Safa berdecak, “Abang lupa? Bunda masih subur, masih menstruasi tiap bulan. Jadi kemungkinan itu tetap ada ‘kan?”
Ayah boleh tua, tapi Nyonya Halim masih muda, umurnya masih pertengahan 40. Apalagi fisik Tuan Halim yang terbilang kuat dan masih bugar, semangat bercintanya masih besar. Aih... pokoknya Safa gak mau punya adik, titik.
“Bik... bekal Om Edzar udah siap?” tanya Safa saat sampai di dapur.
“Sudah, Non. Tuh,” tunjuk Bik Inem ke meja pantri.
Safa mengambil rantang itu dan bersiap keluar, namun berhenti saat menemukan Dava berdiri tepat di belakangnya. Tangan pria itu bersidekap, matanya menatap Safa dengan cermat.
“Kenapa, Bang?”
“Kamu masih semangat aja deketin dia?”
Dia yang dimaksud adalah Edzar.
Alis Safa terangkat, “Memangnya?”
Dava terdiam sejenak sebelum menjawab, nafasnya terhela mendekati meja makan. “Gak pa-pa, sih. Abang kurang srek aja kalo kamu sama dia,” ucapnya santai.
“Udah sana. Keburu berangkat orangnya.”
Safa mengernyit dalam, Dava kenapa, sih? Kok, tiba-tiba aneh?
__ADS_1
Tak mau membuang waktu, Safa segera keluar takut-takut Edzar sudah pergi. Untungnya belum.
Tapi...