
Edzar mendekat perlahan, menghampiri Safa yang tertidur pulas di atas ranjang pasien. Dia baru saja kembali dari kantor polisi, menyerahkan visum yang dikeluarkan pihak rumah sakit pagi tadi.
Tangannya terangkat, mengusap hati-hati rambut Safa yang bersinar terkena biasan cahaya. Lantas Edzar berpindah tempat, berdiri menghalangi mentari yang bisa saja mengganggu tidur Safa. Meski tidak menyengat karena jendelanya dilapisi kaca khusus, namun sinarnya bisa menyilaukan, dan mungkin Safa akan terbangun nanti.
Hampir tiga puluh menit Edzar bertahan dalam posisi seperti itu, memperhatikan wajah gadisnya yang kini nampak pucat tanpa polesan apapun. Walau begitu Safa tetap terlihat cantik. Selain karena tidak lalai menggunakan skincare, kontur wajahnya memang sudah sempurna sedari lahir.
Tanpa sadar senyumnya terbit, Safa tampak damai dalam tidurnya. Edzar tak bisa menahan diri untuk membungkuk, mencium kening Safa yang bersih dan halus tanpa noda. "Maafkan Uda. Maaf karena Uda lalai menjagamu," bisiknya di atas kepala Safa.
Kemudian dia menjauh karena mendapati kelopak mata itu bergetar. Bulu matanya bergerak hendak terbuka. Safa mengerjap lamat, hingga akhirnya netra seredup rembulan itu dapat kembali Edzar lihat keindahannya.
Edzar mengulas senyum, tangannya kembali mengusap kepala Safa dengan ringan. "Siang," sapanya pertama kali.
Pandangan mereka bertemu. Safa menatap Edzar datar, lalu melengos menyamankan kembali kepalanya di atas bantal. Edzar terkekeh, sepertinya gadis itu masih mengantuk dan belum sepenuhnya sadar.
Dikecupnya kembali kening Safa, menghirup aroma harum yang menguar meski gadis itu tidak menyentuh air sejak kemarin. Safa menjauh, lalu mengeluh, "Geli."
Edzar tersenyum mendengar bisikan lemah Safa. Mau tak mau dia menjauh, duduk di kursi samping ranjang seraya meraih tangan Safa dalam genggaman. Mengusap pelan permukaannya yang halus sembari termenung memikirkan sesuatu.
Safa menoleh dengan dahi berkerut. "A Uda kenapa?"
Edzar mendongak mengangkat alis. "Hm?" Kemudian dia tersenyum dan menggeleng. "Enggak. Uda hanya berpikir sepertinya tangan kamu sudah cocok mengenakan cincin."
Safa tak menanggapi, tatapannya beralih pada jendela di belakang Edzar. Safa tidak tahu ini lantai berapa dan di rumah sakit mana, yang pasti pemandangan di luar cukup menyejukkan mata. Pasti akan sangat segar jika jalan-jalan pagi dan sore.
Tiba-tiba Edzar menyeletuk, "Nanti sore kita jalan-jalan. Sekarang masih jam dua. Matahari sedang panas-panasnya."
Memang tak sepanas Jakarta, tapi dengan kondisi Safa yang seperti ini, Edzar takut terjadi apa-apa. Bagaimanapun jalan-jalan siang memiliki efek tidak baik bagi tubuh, bisa menimbulkan pusing dan sakit kepala.
Safa hanya mengangguk tanpa suara. Dia sudah mulai terbiasa dengan Edzar yang seperti ini. Lelaki itu seakan tahu apa yang ia pikirkan.
"Ai?"
Safa menoleh lagi. Wajahnya masih menampilkan ekspresi tak berarti.
"Uda minta maaf."
__ADS_1
"Beberapa hari ini Uda sangat sibuk, jadi tidak bisa angkat telpon kamu."
Safa diam, menatap Edzar tak peduli. Hal itu membuat hati Edzar serasa tercubit. Apa dia memang sudah keterlaluan. Gadis itu pasti berasumsi yang tidak-tidak selama beberapa hari ini.
"Ada sesuatu yang Uda siapkan. Untuk kamu. Harusnya Uda berikan kemarin, tapi ..." Edzar tak dapat meneruskan kata-katanya. Dia takut melukai Safa jika teringat kejadian itu. Pun dia sendiri tak bisa menahan emosi.
"Uda tidak pernah sekalipun berniat menghindari kamu. Apalagi meninggalkanmu. Tidak, Uda bukan orang yang seperti itu. Meski keadaan mengharuskan kita berpisah, Uda akan bicarakan baik-baik. Bukan lari atau menghindar tanpa kabar."
"Uda punya alasan tidak menghubungimu. Satu hal yang harus kamu tahu, kamu satu-satunya wanita yang menempati hati Uda selain Ibu."
"Tolong percaya, Uda sedang mengusahakan hubungan kita. Memang sampai saat ini Ibu belum menunjukkan tanda-tanda menerimamu. Tapi Uda tidak akan pernah melepasmu. Sampai kapan pun."
"Uda cinta sama kamu." Edzar mengecup punggung tangan Safa lama, lalu membawanya ke pipi seraya matanya tak lepas menatap gadis itu.
Safa bisa merasakan rahang Edzar yang kasar oleh sisa jambang yang dicukur. Geli, tapi juga menyenangkan.
Kepalanya menoleh ke samping, menghindari tatapan Edzar ke arah yang berlawanan. Tiba-tiba dadanya kembali sesak oleh sesuatu. Sulit untuk mempercayai perkataan Edzar saat ini. Rasanya kepercayaan Safa pada pria itu sedikit demi sedikit mulai memudar.
Safa sudah tidak peduli. Kemana pun hubungan mereka mengarah. Meski tak dinyana perasaan Safa tetap utuh dan berkembang, namun sebuah hubungan tanpa komunikasi yang jelas kecil kemungkinannya akan berhasil.
Safa takut tak bisa menghadapi kekecewaan bilamana sesuatu terjadi. Akan lebih baik jika ia diam dan mengikuti alur. Safa akan tinggal jika harus tinggal, dan Safa akan pergi jika harus pergi.
Bunda benar, dia tak boleh terlalu menggantungkan perasaan terhadap seseorang. Sedalam apapun cinta harus ada batasnya. Dan Safa sedang berusaha mendorong kembali hatinya ke permukaan, untuk tidak mencintai Edzar secara berlebihan.
"Ai?" Edzar menatap Safa yang enggan melihatnya. Dia tahu mungkin Safa marah karena dia jarang menghubungi akhir-akhir ini. Tapi, sepertinya ada hal lain yang mengganggu pikiran gadisnya itu.
"Kamu masih marah sama Uda? Uda minta maaf, Sayang. Uda janji setelah ini akan kasih kabar sesering mungkin."
"Kamu jangan menghindar seperti ini. Apapun yang mengganggu pikiranmu, tolong katakan. Agar Uda bisa tahu dan kita bisa bicarakan ini baik-baik."
Safa masih tak bergeming. Mulutnya bungkam enggan bersuara.
"Ai-"
"Kenapa Uda gak pernah angkat telpon Safa? Balas pesan Safa?"
__ADS_1
Hening. Edzar tampak mengerjap, sedikit terkejut dengan pertanyaan Safa yang tiba-tiba. Jelas, karena sejak tadi Safa hanya diam. Dialah yang mendominasi pembicaraan.
"Ai-"
"Terlalu sibuk?" Safa mendengus. "Uda sangat sibuk sampai tidak sempat mengetik satu huruf pun. Tapi, Uda sangat sempat bertemu wanita lain di kafe," tandasnya.
Edzar termangu sesaat. "Wanita?"
"Wanita mana yang kamu maksud?"
Safa malah semakin berang. "Apa begitu banyak wanita yang A Uda temui? Sampai-sampai A Uda lupa siapa saja yang sudah A Uda jumpai tempo hari?"
"Sebentar, Ai. Kamu bilang Uda bertemu wanita di kafe. Tempo hari. Hari yang mana?"
"Oh, jadi A Uda tetap tak mau jujur? Mau pura-pura lupa?"
Edzar semakin pusing, tapi sebisa mungkin dia tetap mendengar keluhan Safa yang sebenarnya sama sekali tak ia mengerti.
"Ai, tunggu. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini."
"Kesalahpahaman apa!" bentak Safa.
Edzar tersentak. Sontak dia bangkit dari duduknya, wajahnya nampak sedikit kalut melihat kemarahan Safa yang sepertinya tidak main-main.
"Ai dengar dulu. Uda belum selesai."
"Jangan bicara!" tegas Edzar saat Safa hendak kembali membuka mulut.
"Uda gak angkat telpon kamu karena benar-benar sibuk. Uda ada tugas lapangan. Uda hanya sempat kirim kamu pesan saat pagi dan malam. Alasan Uda gak telpon atau video call kamu saat malam, karena Uda ingin kamu istirahat tepat waktu. Uda tidak mau ganggu waktu tidur kamu."
"Bohong," rengut Safa dengan mata berkaca.
Edzar menggeleng, "Uda gak bohong, Sayang. Kemarin Uda baru sampai dari Surabaya langsung ke sini."
"Ngapain ke Surabaya?" Safa bertanya meski dengan nada ketus.
__ADS_1
"Uda jemput Paman Robi."
"Terus wanita itu siapa!"