SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 44


__ADS_3

Edzar terdiam.


Bernadin baru saja hendak merasa menang. Tapi perkataan Edzar selanjutnya sukses membuat tangannya mengepal.


“Apa istrimu tahu suaminya pergi ke bioskop malam-malam dengan wanita lain?”


Hening.


Wajah Bernadin perlahan berubah. Rahangnya mengeras dengan mulut mengatup rapat. Pemuda ini, dia salah telah meremehkan Edzar sebelumnya.


Kurang ajar.


“Kau-“


Drrtt...


Di tengah suasana yang menegang, getar ponsel Edzar terdengar begitu jelas. Seluruh atensi kini beralih padanya. Tanpa mengalihkan pandangan Edzar merogoh benda pipih yang terselip di saku jaketnya.


Masih dengan ekspresi yang santai penuh kemenangan, Edzar mulai membuka pop up pesan tanpa benar-benar melihat nama si pengirim. Ternyata isinya sebuah foto. Edzar mengunduh gambar itu untuk melihat lebih jelasnya. Namun beberapa detik setelah selesai, mata Edzar hampir dibuat membola.


Reaksi itu tak kentara, seperti biasa Edzar pandai mengendalikan air muka.


Edzar berdehem kecil memasukkan kembali ponselnya. Doni yang melihat itu sedikit mengernyit. Apa hanya dia yang merasa wajah bosnya agak memerah?


Sementara di tempat lain Safa tengah cekikikan di dalam mobil. Dava yang sedang menyetir menatap heran adiknya. Apa yang membuat Safa tertawa seperti orang gila?


“Ngapain sih kamu, Dek. Bikin merinding aja. Suara kamu udah kayak kuntilanak tau.”


Safa tak menghiraukan, dia sedang sibuk membayangkan reaksi Edzar saat ini. Kira-kira apa yang lelaki itu pikirkan saat melihat foto selfie yang Safa kirim barusan. Apalagi Safa sengaja berpose sedikit seksi tadi.


“Oh iya, Dek. Nanti kamu di sana jangan pecicilan, ya. Jangan sembarangan ambil minum juga. Ada alkohol soalnya.”

__ADS_1


Safa berdecak, “Iya... gak perlu diulang-ulang juga Safa ingat, Bang.”


“Kasian amat yang LDR. Kondangan aja harus ngajak adeknya,” gumam Safa.


“Kamu bilang apa?”


“Apa? Abang ganteng?”


Dava tak menanggapi. Sepanjang jalan Safa terbayang wajah Edzar. Aduh... baru berapa jam gak ketemu udah kangen aja. Emang dasar, ya, kalau orang jatuh cinta. Gak bisa lama-lama berjauhan.


\=\=\=


“Pak Galih, selamat atas pernikahannya. Semoga sakinah, mawadah, warahmah, ya Pak,” ujar Dava saat bersalaman dengan sang mempelai pria.


“Aamiin... makasih. Ayolah... kenapa harus formal begitu? Ini bukan pertemuan bisnis.”


Dava tertawa, lalu memberi pelukan singkat menepuk pelan punggung Galih. Mereka terlihat akrab satu sama lain. Galih adalah teman sekaligus rekan bisnis Dava.


“Thanks, Bro. Setelah ini kami menunggu undanganmu.”


“Hahaha....” Mereka sama-sama tertawa. Safa dan mempelai wanita ikut mengulum senyum.


“Jangan LDR mulu. Keburu tua. Lalisa suruh pulang, lah. Sampai kapan dia mau di Singapura terus?”


Dava terkekeh pelan, “Dia ngabisin dulu kontrak kerja di sana. Tanggung, dua bulan lagi.”


Obrolan singkat itu harus berakhir karena antrian tamu undangan lain yang tidak mungkin diabaikan. Dava dan Safa meninggalkan pelaminan dan beralih pada meja prasman. Safa mengamati lekat berbagai jamuan yang tersaji. Dia masih ingat pesan Dava untuk tidak sembarang mengambil minum.


Aih... nyusahin, deh. Safa ‘kan gak tahu gimana cara bedain minuman beralkohol sama air biasa. Jaman sekarang yang bentukan jus aja bisa nipu.


Karena tidak mau ambil resiko Safa putuskan untuk mengambil beberapa cupcake. Urusan minum nanti saja, Safa bisa minta tolong Dava kalau pria itu selesai mengobrol dengan koleganya.

__ADS_1


Safa mengambil hape dan mengotak-atik nya sebentar. Tidak ada balasan dari Edzar. Safa manyun, apa yang sedang Om Ganteng itu lakukan sekarang?


Sebagian besar tamu undangan di sini merupakan pengusaha, jelas Safa merasa berada di tempat terpencil. Tidak ada teman ngobrol, tidak ada kawan bergosip, semua orang di sini membentuk fraksinya masing-masing.


Ini yang dia benci sendirian di tempat asing, sebenarnya Safa itu sedikit pemalu dengan orang baru. Safa akan bersikap supel hanya pada orang-orang tertentu saja, dia akan bersikap bebas kalau memang hatinya merasa nyaman.


Safa memakan cupcake-nya dengan pelan. Dia tidak begitu menyukai olahan kue, tadi asal mengambil saja karena Safa bingung harus melakukan apa setelah berpisah dari Dava. Tidak ada gunanya juga dia mengikuti abangnya itu, Safa malah akan sakit telinga mendengar obrolan seputar saham dan hal-hal lainnya yang tidak dia mengerti.


Di saat seperti inilah otaknya akan merasa insecure, melihat sekeliling semua orang cerdas. Apalah Safa yang sejak kecil tidak pernah mendapat nilai besar. Peringkatnya selalu berada paling bawah dari teman-temannya. Beruntung wajahnya bisa jadi penyelamat, tampangnya yang bisa dibilang memikat tidak membuatnya dijauhi oleh mereka.


Karena bosan Safa mengambil beberapa foto selfie dan mengunggahnya di instagram. Membalas sebagian komentar di postingannya untuk sedikit mengurangi rasa jenuh.


Kamila mengirim pesan.


Kamila : Kamu lagi di mana? Tumben cantik.


Safa mengernyit. Maksudnya apa, nih? Biasanya dia tidak cantik, begitu?


Safa : Maksud kamu apa? Princess selalu cantik setiap waktu, ya -_-


Kamila membalas dengan emot ketawa dan mata juling.


Kamila : Maksud aku dandanan kamu gak biasa. Kayak lagi acara resmi gitu?


Safa : Emang. Aku lagi nemenin Bang Dava kondangan. Kasian dia punya pacar tapi ngenes. Ngemis-ngemis minta dianter, eh sekarang malah aku yang terlantar dianggurin sama dia. Sebel -_-


Safa bisa membayangkan Kamila yang terbahak di sana. Dasar, orang satu itu memang paling senang mendengar penderitaannya.


Percakapan mereka berlangsung cukup panjang. Sayangnya hal itu harus berakhir karena Kamila bilang ingin fokus mengerjakan tugas. Tentu Safa tak bisa egois menahan temannya itu.


Lagi-lagi Safa kesepian. Dia juga haus tapi malas ambil minum di sini. Dava juga sepertinya masih lama, apa Safa keluar saja, ya? Itu terdengar lebih baik. Kalau sudah mau pulang Dava pasti akan menghubunginya.

__ADS_1


Safa berjalan keluar meninggalkan ballroom. Dia tidak akan jauh, mungkin Safa akan menunggu di restoran bawah hotel ini.


__ADS_2