
Lima hari berlalu, hubungan Safa dan Edzar semakin merenggang. Ralat, mereka tidak sedekat itu untuk bisa dikatakan renggang. Karena selama ini hanya Safa yang sibuk mengejar, pun Edzar yang terus berusaha menghindar.
Edzar memang diam, namun dalam hati pria itu pasti merasa risih. Sore itu merupakan puncak kekesalan Edzar terhadapnya, sekaligus —mungkin— akan menjadi akhir dari perjuangan Safa terhadap Edzar. Setidaknya itu yang Safa pikirkan.
Semoga dia mampu konsisten melupakan pria itu.
Sejak di mana Edzar merendahkannya, Safa tak pernah lagi menyiapkan bekal, menunggu dan menyapa Edzar dari atas balkon, meneror pria itu lewat chat atau telpon, dan hal-hal lain yang sering Safa lakukan untuk menarik perhatian Edzar.
Banyak. Dan semuanya tak ada yang membuahkan hasil. Seharusnya Safa sadar, bahwa pria itu terlalu sulit untuk dijangkau.
Ternyata, berjuang sendiri itu tidak menyenangkan. Mungkin, selama ini Safa terlalu diterbangkan oleh ekspektasi berlebih. Hingga rela menunggu berjam-jam tanpa kepastian. Apa yang perlu diharapkan dari cinta bertepuk sebelah tangan?
"Halah! Ngapain, sih, ngejar-ngejar cowok kayak gitu? Move on, Safa, move on! Masih banyak cowok di luar sana yang akan dengan senang hati menerima cintamu. Jangan membuang-buang waktu hanya untuk menumpahkan rasa pada seseorang yang bahkan tidak peduli padamu. Mencintai boleh, tapi gak perlu segila itu juga sampai kamu rela duduk dari siang sampai sore hanya demi ingin bertemu dengannya. Ini, sih udah gak sehat!" cerocos Kamila saat Safa menceritakan kegundahannya.
Pada akhirnya, Safa tak bisa menyembunyikan ini lebih lama dari Kamila. Kamila sempat merajuk karena Safa tak bercerita lebih awal, dia malah tahu setelah gadis itu mengalami patah hati.
Kamila memang sedikit kecewa karena merasa tak dianggap. Tapi, ya sudah lah. Marah pun tak ada gunanya. Safa sedang butuh sandaran, dia tak mungkin bersikap kekanakan hanya karena Safa telat bercerita. Kamila yakin Safa pasti punya alasan melakukannya.
"Safa, memilih pria itu bukan hanya berdasarkan kriteria fisik atau rasa suka semata. Tapi kamu juga harus lihat apakah dia layak untuk kamu pertimbangkan atau tidak?"
Safa menoleh merasa dejavu. Kenapa kata-kata Kamila terdengar satu frekuensi dengan kalimat Ibunya Edzar?
Apakah ini tanda bahwa Safa memang tidak ada harapan lagi pada pria itu?
Safa termenung, wajahnya berubah murung. Meski dia sudah menegaskan akan melupakan Edzar, namun hatinya masih merasa tak rela untuk itu.
Kamila berdecak, "Ah elah.... Nangis lagi. Katanya mau lupain? Yang tegas, dong!"
"Ingat, Safa. This is not about him. But, this is about how you respect yourself!"
"Kalau dia tidak bisa menghargaimu, maka tinggalkan! Jadilah wanita prioritasnya tanpa perlu membuang waktu!"
Benar. Tak sia-sia dia menemui Kamila. Gadis itu seringkali mendadak bijak jika menyangkut percintaan. Safa tak heran, selain jam terbang yang tinggi, Kamila juga pengikut setia love coach. Pasti kata-kata bijaknya sebagian diambil dari sana.
"Eh, iya. Jadi lupa kan mau bilang."
"Ini, aku baru aja dapat endorse lipstik buat kamu. Ada aksesoris juga. Terus... baju. Tapi hoodie. Gak papa, ya? Kamu mau pake apapun pantes, kok. Orang-orang pasti tertarik aja lihatnya."
Safa menatap Kamila sedikit tak percaya. Secepat itu dia mendapatkannya?
__ADS_1
Akhirnya, mereka fokus membicarakan masalah konten yang akan Safa pajang di Instagram. Mengetahui aturan main dari paid promote itu sendiri.
Meninggalkan topik patah hati yang selama berhari-hari membuatnya mendung.
Safa harus bangkit. Mungkin, dengan banyaknya aktivitas dia bisa lebih cepat melupakan Edzar dan cintanya.
.....................
"Edzar, katakan sesuatu."
"Kamu benar-benar memarahi Safa?" tanya Dian meminta penjelasan.
Edzar diam tak menghiraukan. Tangannya sibuk membolak-balik kertas di hadapannya. Hal itu membuat Dian berdecak kesal. Wanita itu meraup berkas yang tengah Edzar pegang.
"Aku sedang berbicara padamu."
Edzar menatap lurus tanpa menoleh sedikitpun pada Dian. Pria itu seolah tuli, mulutnya pun bungkam sedari tadi. Dian sampai pusing menghadapinya.
"Sebenarnya kamu itu kenapa, sih? Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu aneh sekali? Ada masalah apa sebenarnya?"
Beberapa detik berlalu, Edzar masih menolak untuk bicara.
Tingkahnya benar-benar bikin elus dada, membuat Dian memejamkan matanya gemas.
"Aku dengar kamu memarahi seorang gadis beberapa hari lalu. Itu pasti Safa 'kan?" tanyanya lagi.
"Jawab, Edzar!"
Hening.
Hingga akhirnya, Edzar menghela nafas seiring punggungnya yang terhempas ke belakang, bertumpu di sandaran kursi. Matanya datar menatap langit-langit ruangan. Wajahnya setia tanpa ekspresi.
"Ini masih jam kerja. Haruskah membicarakan hal tidak penting seperti itu?"
Dian terperangah. "Gak penting?"
"Kamu telah mempermalukan seorang gadis...."
"Lalu, kenapa?"
__ADS_1
"Kamu masih bilang kenapa? Edzar, kamu tidak pernah melukai perempuan."
Kali ini Edzar menoleh menatap Dian, "Melukai? Aku hanya berusaha melindungi privasiku. Apa itu masuk dalam kategori melukai?"
"Tapi tidak harus dengan berkata kasar, kan?"
"Memangnya apa yang aku katakan? Aku berkata dia tidak produktif, benar. Aku berkata dia sangat mengganggu itu juga benar. Lalu di mana letak melukainya? Semua yang aku katakan adalah kenyataan."
Dian menyugar rambutnya ke belakang, meremasnya sebentar, berusaha menghalau pening akibat kekeras kepalaan Edzar. Memang perlu kesabaran setinggi Everest untuk menghadapi pria itu.
"Mungkin, jika kamu mengatakan hal itu pada seseorang yang menganggapmu biasa saja, itu tidak akan berdampak terlalu buruk. Tapi Safa berbeda, dia melihatmu sebagai lelaki pujaannya. Menurutmu apa yang akan terjadi setelah kamu mempermalukannya di depan umum?"
Hening. Mereka saling berpandangan dengan sengit. Dian yang tak mau mengalah dan Edzar yang keras kepala. Keduanya bertolak belakang dalam hal berpikir.
"Katakan alasan kenapa aku harus peduli?"
Dian menghela nafas kasar sembari mengalihkan pandangan. Lalu kembali menatap Edzar.
"Sebenarnya apa masalahmu, Edzar? Apa salah Safa? Dia hanya terlalu menyukaimu! Haruskah kamu sekejam itu padanya?"
"Kalau kamu merasa tak nyaman, kamu bisa katakan dengan cara yang lebih halus. Tidak perlu merendahkannya seperti itu."
"Apa itu kesalahanku jika dia merasa sakit hati? Salahku juga jika dia menyukaiku? Bukan. Mentalnya saja yang terlalu lemah. Gadis itu terlalu bebal, sesekali perlu diberi pukulan keras."
Dian menatap sepupunya tak percaya. Apa di hadapannya ini benar Edzar? Di mana pria bijaksana yang selama ini Dian kenal? Kenapa sekarang Edzar terlihat sangat kekanakan?
"Beginikah caramu menghadapi wanita? Aku kecewa sama kamu."
Setelah itu Dian melenggang, meninggalkan Edzar yang termenung di ruangannya.
Edzar mengeluarkan ponsel dari saku celana, mengetik sesuatu di atas layarnya yang menyala.
"Cari tahu siapa yang meletakkan penyadap di sini. Secepatnya."
Doni yang baru saja berpapasan dengan Dian di koridor, merasa heran dengan wajah kecut wanita itu. Bahkan sapaannya saja tak ditanggapi.
"Ada apa dengan orang-orang di sini?" gumamnya sembari membuka lock screen di hapenya.
Doni membaca pesan dari Edzar, keningnya berkerut dalam.
__ADS_1
Penyadap?
Siapa yang berani berbuat curang seperti ini?