
"Maaf, Om jadi telat shalatnya."
"Gak papa. Kamu gimana, udah mendingan?"
Safa mengangguk lesu. Sesekali dia meringis saat denyutan itu datang di area bawah perutnya. Nyerinya hilang timbul. Meski begitu Safa sangat terbantu dengan botol kaca berisi air hangat yang dibawakan Edzar tadi.
"Airnya masih panas?" tanya Edzar menyentuh botol itu. Safa tak perlu menjawab karena pastinya Edzar sudah tahu.
"Sebenarnya tadi ditawari obat pereda nyeri. Tapi tidak saya ambil karena takut ada efek yang tidak-tidak. Gak papa, ya?"
"Hm."
Safa meringkuk dengan jaket Edzar menyelimuti pinggulnya. Joknya sengaja direndahkan agar Safa bisa berbaring dengan nyaman. Edzar juga membelikannya kayu putih dan teh manis hangat.
Pria itu sampai menunda waktu ibadahnya karena enggan meninggalkan Safa sendiri. Edzar bersedia memasuki mesjid ketika Safa harus ke kamar mandi untuk menggunakan pembalut. Itupun hanya sebentar. Karena saat Safa kembali, Edzar sudah menunggunya di mobil.
Haih, entah ada apa dengan pria itu.
Lucunya, Edzar sampai membelikannya ****** *****. Ini yang paling membuat Safa malu. Safa sangat berterima kasih, tapi rasanya dia sudah tidak tahu harus meletakan muka di mana.
Lelaki itu juga membawakan satu celana panjang yang entah didapatnya dari mana. Yang pasti masih baru. Mungkin di sekitar sini ada toko pakaian atau grosir? Entahlah.
Tak cukup sampai di sana, Edzar seperti hendak membunuhnya dengan perhatian pria itu sendiri. Dengan sukarela dia membersihkan bekas rembesan darahnya yang mengenai jok mobil. Bahkan menggelar sarung untuk melapisinya.
Safa sempat merasa bersalah gara-gara berpikir mungkin Edzar melakukannya karena takut darah Safa tembus lagi. Ternyata dugaannya salah. Edzar menggelar sarung dengan alasan takut Safa tak nyaman dengan bekasnya.
Padahal Edzar sendiri sudah menyemprotkan pewangi di sana. Benar-benar membuat Safa geleng kepala. Tidakkah ini terlalu berlebihan?
Safa jadi merasa berhutang budi, dan ini sangat menyebalkan.
"Mau makan dulu?"
"Gak usah...." sahut Safa pelan.
"Tapi saya tidak bisa membiarkanmu pulang dalam keadaan perut yang kosong."
"Kalau gitu untuk apa bertanya? Ujung-ujungnya juga Om ngajakin makan." Safa merengut kesal.
Dan Edzar mengulas senyum seolah membenarkan.
"Mau makan apa?"
Tuh, kan.
"Mau dimsum!"
"Dimsum? Oke."
Safa tak ambil pusing, dia kembali meringkuk membenahi botol kaca di perutnya. Bagian tubuh dari pinggang ke bawah semuanya terasa sakit, terutama lutut. Kakinya betul-betul ngilu dan lemas.
Safa tersentak saat Edzar menyentuhkan tangan di atas perutnya. Mengusapnya perlahan, menyalurkan rasa hangat yang sialnya membuat Safa nyaman.
__ADS_1
Ini berbeda dari hangatnya botol kaca. Kehangatan ini terasa alami dan menimbulkan distraksi yang menyebabkan rasa sakitnya seakan menghilang.
Aneh, tapi itulah yang Safa rasakan.
Tanpa sadar mata Safa terpejam hingga beberapa saat Edzar membangunkannya. Pria itu memanggilnya lembut seraya mengusap punggung tangannya halus.
Safa berkedip pelan mengumpulkan kesadaran. Mereka sudah berada di pinggir jalan yang penuh dengan pedagang kaki lima. Safa mengedarkan mata, membenahi diri sebentar dan duduk melihat-lihat ke luar.
Edzar bertanya, "Mau makan di luar atau di mobil?"
"Di luar aja. Aku butuh udara segar."
"Oke," angguk Edzar.
Pria itu keluar dan berputar arah membuka pintu di samping Safa. Seakan mengerti keadaan tungkainya yang lemas, Edzar dengan telaten membantunya turun dari mobil.
"Jaketnya gak dipake?"
"Enggak, ah. Gerah."
Pria itu hanya mengangguk, lalu menggenggam tangan Safa mengajaknya jalan bersama. Sesaat Safa terpaku melihat tangan mereka yang bertautan. Bolehkah Safa menyebut ini sebagai kencan?
Sebentar saja, biarkan Safa menikmati ini sejenak.
"Ada yang pake kuah katanya. Kamu mau?" tanya Edzar saat mereka memesan.
"Enggak, ah, pake saus yang kayak biasa aja." jawab Safa.
"Gitu. Ya sudah, kamu duduk dulu."
"Monggo, Mas!"
Safa hanya menurut ketika Edzar menuntunnya menduduki kursi itu. Sementara Edzar berdiri menunggu pesanan.
Kesempatan ini Safa gunakan untuk meneliti Edzar. Melihat bagaimana mencoloknya pria itu di antara puluhan pembeli yang mendesaki wilayah ini.
Parasnya yang rupawan, maskulin, juga pembawaannya yang elegan berhasil menarik perhatian orang. Edzar adalah wujud kearifan lokal yang pesonanya sulit untuk ditolak.
Rautnya tidak bisa ditebak, membuatnya terkesan penuh misteri hingga menimbulkan rasa penasaran tiap kali melihatnya.
Tatapannya membuat orang lain hanyut sekaligus terintimidasi. Rahangnya tegas dengan mata setajam elang. Alis tebal serta bulu mata yang lentik turut melengkapi keindahan rupanya yang setara Dewa.
Diamlah, jangan sebut Safa berlebihan. Biar kalian tahu inilah penjabaran seseorang yang dimabuk cinta.
"Safa?"
"Safa?"
Edzar menegurnya beberapa kali hingga Safa mengerjap. "Ke-kenapa?"
"Kamu yang kenapa. Kenapa bengong?"
__ADS_1
"Sudah selesai. Ayo kita pindah cari tempat yang lebih nyaman. Lebih enak kalau kamu selonjoran biar gak pegal."
"Eh, i-iya."
Safa berdiri mengikuti langkah Edzar yang membawa nampan berisi dimsum beserta saus cocolnya. Mereka berhenti di taman yang memang menjadi ikon utama daerah ini.
Safa disuruh menunggu sementara pria itu entah pergi ke mana lagi. Nampannya disimpan di salah satu bangku yang kini juga Safa duduki.
Tak lama setelah itu Edzar kembali dengan membawa sebuah tikar dan dua botol mineral. Safa tidak mau lagi bertanya-tanya karena sepertinya pria itu memang mampu melakukan apapun. Termasuk mendapat tikar di tempat seperti ini.
Edzar menggelar tikarnya tak jauh dari tempat Safa duduk. Pria itu mengambil nampan dan menatanya di sana.
Safa tak habis pikir. Pria itu benar-benar melakukan semuanya sendiri. Tanpa mengeluh sedikitpun.
Edzar, sebenarnya apa yang tengah kamu lakukan?
Ingin rasanya Safa bertanya seperti itu, namun hatinya urung karena terlalu takut menelan kekecewaan.
"Saya hanya beli air mineral, gak papa ya? Lagian kondisi kamu sedang tidak baik untuk minum minuman dingin. Perut kamu nanti tambah keram."
Safa hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Dia lekas duduk berhadapan dengan Edzar yang sudah melepas sepatunya.
Edzar melempar senyum, lalu menyiapkan bakul kecil berisi dimsum beserta sumptinya ke hadapan Safa. Tak lupa mangkuk berisi dua macam saus. "Makanlah."
Mereka makan di bawah langit malam, dengan sorotan lampu taman yang berpendar kekuningan. Wajah Edzar nampak bersinar, terlebih saat pria itu mendongak dan lagi-lagi tersenyum ke arahnya.
Sialan, sikapnya malah membuat Safa tak nafsu makan. Dia sibuk menenangkan jantungnya yang membuat kegaduhan gara-gara Edzar.
Belum lagi lengkung bibirnya yang bisa bikin orang diabetes. Tidak ada yang tahu sefrustasi apa Safa sekarang. Dia menggigit kecil dimsum yang sudah dicocolnya ke dalam saus. Matanya terus saja memperhatikan Edzar yang makan dengan lahap.
Wajar pria itu kelaparan, orang sejak tadi sibuk mengurusnya.
Safa tersentak merasakan sesuatu menyentuh permukaan mulutnya. Dia mengerjap menatap Edzar. Pria itu mengulurkan dimsum miliknya ke arah Safa.
"I-ini apa?"
"Dimsum," jawab Edzar polos.
Kening Safa berkerut. Bukan itu maksudnya. Tapi dia tak sempat protes karena Edzar terus mendesakkan dimsum itu ke mulutnya.
"Aaa... Buka," titah Edzar lembut.
Mau tak mau Safa membuka mulut dan dalam sekejap pipinya menggembung menerima bulatan lembut nan gurih itu.
Edzar tertawa renyah menyeka saus yang tertinggal di sudut bibir Safa, kemudian menyesap saus itu dari ibu jarinya, dengan mata tak lepas menghunus netra sewarna madu yang lebih indah dari bulan di atas sana.
"Kamu lucu sekali,"
"Ai."
Deg.
__ADS_1
"Bolehkan, aku panggil begitu?"
Jika Safa ini dandelion, dan senyum Edzar merupakan angin, maka Safa sudah dibuat gugur karenanya.