SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 42


__ADS_3

“Begini cara ngupas buah yang benar, Safa... nih, lihat.”


Safa memerhatikan dengan seksama, Dian mengajarinya dengan sabar dan telaten. Safa meringis malu menyadari dirinya tak bisa melakukan apapun.


Tapi sekarang Safa sudah bertekat akan belajar dengan sungguh-sungguh. Demi Edzar, Safa akan melakukan apapun untuk setidaknya menjadi lebih berguna.


“Itu, coba pegang agar-agarnya udah mengeras belum?”


Safa menjulurkan jari telunjuknya menyentuh permukaan bagian dasar puding. “Sudah, Mbak.”


“Oke, sekarang kamu taburin potongan buahnya, ya.”


Butiran buah dengan bentuk bulat yang terdiri dari melon, semangka, kiwi, mangga, anggur dan strawberry Safa tebar secara merata. Lalu Dian menyuruhnya menuang kembali agar-agar cair di atasnya. Tunggu sampai mengeras, lalu taburkan buah lagi, tutup lagi dengan agar-agar. Begitu seterusnya sampai puding buah kaca tersaji indah di atas meja.


Safa tak percaya dengan hasilnya. Kali ini dia berhasil. Tidak ada lagi puding air dengan rasa asin yang mengerikan. Tidak ada serpihan buah yang terpotong asal. Yang sekarang tersuguh adalah puding cantik dengan perpaduan warna kuning dan bening dengan warna-warni buah di dalamnya. Sangat segar di pandang mata. Sekarang Safa lebih percaya diri untuk memberikannya pada Edzar.


Edzar sendiri sejak tadi ada di taman belakang. Safa baru tahu Edzar suka bercocok tanam. Bukan cocok tanam tanda kutip, ya. Kalian yang berpikir itu pasti otaknya ngeres. Ini real cocok tanam. Safa bisa melihat banyaknya tanaman hidroponik yang menempel di dinding dengan pipa air sebagai medianya. Sangat subur, dan itu terlihat begitu estetik di mata Safa.


“Wahh... bagus banget. Ternyata Om pintar berkebun, ya.”


“Hanya sekedar selingan di waktu luang.”


“Gitu? Tapi hasilnya udah kayak profesional, ya. Cantik, ih... Safa foto, boleh?”


Edzar hanya mengangguk, tak ada gunanya melarang, kameranya sendiri sudah dinyalakan.


Safa langsung loncat kegirangan mendekati jejeran berbagai jenis tanaman. Dia mengambil beberapa gambar dengan semangat. Tak lupa Safa juga selfie dengan latar hijau sayur-sayuran itu.


Bukan hanya hijau, sih. Edzar juga menata entah itu selada merah atau apa Safa gak tahu. Pokoknya cantik.


“Om, fotoin.” Safa meletakan paksa ponselnya di tangan Edzar, membuat pria itu menghela nafas berusaha sabar. Lagi-lagi, ini kedua kalinya Edzar mendadak jadi fotografer untuk Safa. Meski begitu Edzar tetap membidikkan kamera dengan serius.


Saking seriusnya dia tidak sadar bahwa Dian tengah memperhatikan. Wanita itu berdiri di ambang pintu penghubung dapur. Kepalanya menggeleng, terdengar dengusan kecil disertai senyuman. Sebetulnya Dian merasa lucu dengan Safa dan Edzar. Yang satu begitu terang-terangan, satunya lagi sok jual mahal.


“Pudingnya....”

__ADS_1


“Syutt....” Dian buru-buru menjegal langkah Bik Yah yang mengarah ke taman belakang. Di tangannya ada piring berisi irisan puding.


“Jangan sekarang, Bik.”


“Eh? Kenapa, Non?“


“Ayo, Bibi ikut saya dulu.”


“Tapi ini-“


“Udah itu nanti aja. Bibi gak boleh ganggu orang lagi pacaran.”


“Lho, Den Edzar sama Neng Safa?”


\=\=\=


Tepat pukul 3 sore Safa pulang ke rumahnya. Edzar menghela nafas lega merasa terbebas dari kebisingan yang ditimbulkan oleh gadis itu. Tubuh jangkungnya terhempas di atas sofa ruang tamu. Sebelah tangannya terangkat menutupi kening dengan mata yang terpejam.


Sejak tadi dia ingin istirahat, tapi sangat sulit jika seseorang terus mengekorinya seperti anak ayam.


“Om, Safa ikut!”


“Om, cobain deh pudingnya. Aaa....”


“Om, kita foto berdua, yuk!”


“Om, om, om....”


Edzar benar-benar pusing. Dia merasa habis mengasuh keponakan. Bahkan menurutnya Safa jauh lebih merepotkan dari Citra, putrinya Reno.


“Halah... sok-sokan lemes gitu. Dalam hati seneng banget.”


“Ngomong apa sih kamu, Mbak,” lirih Edzar tanpa mengubah posisi.


“Ya itu kamu, keliatannya aja gak suka, padahal tergila-gila.”

__ADS_1


Edzar membuka mata dengan kening berkerut. “Maksudnya?”


“Udah deh jangan ngelak terus. Mau sampai kapan bohongin diri sendiri? Sebenarnya kamu juga naksir ‘kan sama dia?”


“Naksir siapa?”


“Safa.”


Edzar mendengus geli kembali menutup matanya. “Asumsi macam apa itu?”


“Heh, ini bukan asumsi, ya. Keliatan banget kamu itu berusaha lari dari perasaan sendiri.”


“Berhenti membahas perasaan. Dia hanya anak muda yang sedang jatuh cinta. Hatinya tak akan bertahan lama.”


Kini giliran Dian yang menatap Edzar dengan kening berkerut. “Jadi maksud kamu, karena dia perempuan muda dia gak akan bisa setia?”


Edzar tak menjawab.


“Kamu tahu? Perkataanmu terdengar keterlaluan. Belum apa-apa kamu udah nuduh dia macem-macem. Gak semua perempuan muda itu suka selingkuh. Selingkuh itu gak ada sangkut pautnya sama umur. Mau tua mau muda, kalo ada peluang dan niatan seperti itu siapapun bisa mengalaminya.”


“Tinggal bagaimana cara kamu menjaganya. Jangan samakan dia dengan masa lalumu. Mereka orang yang berbeda. Kasusnya juga tak sama. Mentang-mentang pernah gagal kamu jadi menilai semua wanita seperti itu. Enggak adil banget tau gak.”


“Buka mata kamu lebar-lebar. Kalau kamu kayak gini terus kapan bisa nikah?”


“Sudah?”


“Apa?”


“Ceramahnya.”


“Kalau sudah cepat keluar. Suami kamu sudah menunggu.”


Dian berdecak, karena sedikit kesal dia sampai tak menyadari suara mobil sang suami yang sekarang sudah terparkir di halaman. Dian bangkit mencangklong tasnya, sebelum keluar Dian berkata menatap Edzar.


“Jangan jadi pengecut terus. Kasih makanan aja gak berani. Segala pakai nyuruh anak kecil pula.”

__ADS_1


Spontan Edzar membuka mata. Kepalanya menoleh hanya untuk mendapati Dian yang sudah melenggang keluar rumah. Edzar mematung, dari mana Dian tahu soal itu?


__ADS_2