
Edzar merapatkan jaket menghalau udara dingin yang kian menusuk saat seseorang menduduki tempat di sampingnya. Lelaki itu sedikit menoleh hanya untuk mendapati Reno yang tengah merokok dengan satu tangan bersidekap.
Tatapannya lurus ke arah depan, sama seperti Edzar yang kini mengalihkan kembali pandangannya pada aktifitas di taman belakang, dimana acara barbeque tengah berlangsung.
Semua orang nampak sibuk kesana kemari, terutama para ibu-ibu yang mengambil peran penting dalam hal masak-memasak. Tawa riang anak-anak menambah ramai sekaligus hangat suasana. Kelucuan mereka mengundang gemas orang-orang dewasa, tak terkecuali Reno yang kini menyodorkan kotak berisi rokok pada Edzar.
Kini mereka sama-sama menghisap bahan nikotin itu dengan tenang, menciptakan asap yang seketika membaur dengan dinginnya angin malam.
Reno meniupkan kepulan putih itu hingga mengapung di udara. Terbiasa dengan panasnya ibu kota membuat Reno sedikit kewalahan menyesuaikan perbedaan suhu yang diterima tubuhnya.
Berbeda dengan Dona, sang istri yang memang lahir di tanah Bogor. Hal ini yang membuat Reno menyerang Dona sehabis magrib tadi. Entah karena udara dingin atau memang hasratnya sebagai lelaki yang memuja tubuh sang istri. Reno tak tahu, yang pasti suasananya memang cocok untuk itu.
“Adeknya Dava cantik, ya,” ujarnya tiba-tiba.
Lama tak ada jawaban, hingga kemudian Edzar menoleh dengan wajah datarnya. “Ingat istri.”
Reno terkekeh pelan, sepertinya Edzar salah paham. Reno bukan tipe lelaki yang suka jelalatan, tentu ia akan selalu ingat Dona dan anaknya. Tapi bukan itu yang ingin Reno bahas sekarang. Bukan tentang dirinya, tapi tentang abangnya yang sampai saat ini masih betah melajang.
“Tentu, Bang. Tanpa Abang ingatkan pun Dona selalu memenuhi isi kepalaku. Aku hanya menyuarakan isi kepala Abang saja.”
“Maksud kamu?” Edzar mengernyit.
Reno mengangkat alisnya menatap Edzar, “Ayolah, Bang. Semua orang juga akan berpikiran sama denganku, termasuk Abang.”
“Maksudnya kenapa tiba-tiba kamu membicarakan ini pada saya?”
“Karena aku rasa gadis itu menyukai Abang,” ujar Reno sembari mengangkat bahu. “Jangan terlalu naif. Abang bukan lelaki polos. Sedikit banyak pasti menyadari binar ketertarikan itu di matanya.”
“Lalu?”
“Lalu? Kenapa Abang tidak dekati saja dia? Mau sampai kapan sendiri terus? Sudah saatnya Abang cari pendamping. Ibu juga sudah lama menunggu calon menantu dari Abang.”
“Bukankah sebentar lagi Tirta menikah?”
Reno memutar bola mata. “Tirta ya Tirta. Abang ya Abang. Gak ada hubungannya.”
“Ada. Kita sama-sama putra Ibu.”
“Terus istri Tirta istri Abang juga, begitu?”
__ADS_1
Edzar mendelik. “Kamu gila?”
“Abang yang gila. Jelas-jelas yang sedang kita bahas di sini itu Abang, bukan Tirta.” Reno mendengus kesal.
“Terserah,” jawab Edzar kalem.
Reno hanya bisa melakukan respirasi berusaha sabar. Seharusnya dia tahu bicara dengan Edzar lebih sulit daripada bicara dengan Citra, anaknya.
“Susah ya bicara sama Abang. Udah kaku, keras kepala pula. Gak heran sih tiap hari kerja yang dilihat pria semua, pulang ke rumah mentok-mentok liat Bik Yah. Gak ada hiburannya banget. Sekali-kali kencan, kek, sama wanita cantik. Libur kerja bukannya main malah sibuk baca buku politik, Abang mau nyalon dewan?”
Edzar menghembuskan asap di mulutnya, mengabaikan ekspresi Reno yang kusut bagai benang rajut yang semrawut. Edzar baru tahu Reno secerewet ini. Dia jadi merasa meladeni perempuan alih-alih pria.
Kedatangan Dona membuat Edzar beribu-ribu mengucap syukur, akhirnya burung beo itu dibawa pergi oleh pawangnya. Reno tak tahu saja di Kejari bukan hanya pegawai pria, apa lelaki itu lupa eksistensi jaksa wanita?
Baru saja Edzar menikmati ketenangan, kemunculan seseorang kembali mengusik waktu sendirinya. Sosok yang sempat jadi buah bibir antara dirinya dan Reno sekarang berdiri di hadapannya dengan cengiran khas yang akhir-akhir ini selalu Edzar lihat.
Mata sipitnya semakin tenggelam menyisakan garis lengkung yang sangat manis. Memang benar kata Reno, siapa pun tak akan bisa menampik pesona gadis ini, Safana Halim terlalu bersinar untuk bisa dikatakan jelek.
Namun sayangnya semua itu tak lantas membuat Edzar menjatuhkan pilihan padanya. Meski dia tak bisa berbohong bahwa senyum Safa seringkali membuatnya terpaku untuk sesaat.
Itu hal yang normal, bukan? Bukan berarti dia tertarik secara perasaan. Lelaki manapun akan berlaku sama jika bertemu sesuatu yang menarik pada diri lawan jenis. Ini bukan soal fisik, tetapi soal hati yang bisa saja berubah sewaktu-waktu.
Mungkin Edzar bisa berkata seperti itu sekarang, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa saja semuanya berubah dalam sekejap, karena ada Tuhan yang maha membolak-balikan hati manusia.
“Jagung bakarnya, Om.” Safa mengulurkan satu tusuk jagung bakar yang menguarkan aroma wangi menggoda. Edzar menerimanya dan berterimakasih secara singkat.
Sebenarnya Safa ingin berlama-lama, tapi deretan jagung di atas baki yang ia bawa menuntutnya untuk segera cepat. Safa sudah seperti pedagang asongan saat diminta membagikannya oleh Tante Miranti. Kenapa tidak disuruh berkumpul saja?
Sebagian memang melakukan hal itu, tapi tak sedikit orang yang menjauh dari keramaian di sana, seperti halnya Edzar yang suka menyendiri, atau kesibukan lain berupa telepon yang sementara menyita waktu.
Safa berlalu setelah berpamitan pada Edzar. Lelaki itu mengangguk, matanya mengikuti Safa yang melenggang dari hadapannya. Yang tidak Edzar sadari, dia tidak pernah menatap seseorang selama itu, terutama wanita. Jika seperti ini bukankah dia terkesan menampik perasaan?
Hanya Tuhan dan Edzar sendiri yang tahu apa isi hatinya.
***
“Safa?”
“Eh, Tante?” Safa menoleh dan sedikit tersentak mendapati seseorang di belakangnya. Dia segera berbalik saat melihat sosok itu berjalan mendekat.
__ADS_1
“Kamu sedang apa?”
Safa tersenyum gugup. “Itu ... Safa lagi bikin susu hangat, Tante. Tante mau?”
Senyum lembut terpatri di wajah paruh bayanya. Kepalanya menggeleng pelan pertanda ia menolak, “Tidak, saya tidak minum susu sebelum tidur.”
Safa merasa kalimat itu seolah menegaskan bahwa dirinya tidak dewasa. Apa Safa saja yang terlalu paranoid gara-gara kalimat Mamanya Edzar tadi pagi? Bukan hanya dirinya yang suka minum susu di malam hari ‘kan?
Tante Dyah mendekati galon mengisi poci kecil yang terbuat dari kaca dengar air. Safa melihat punggung itu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada yang salah sama sekali. Mamanya Edzar baik, tapi entah kenapa Safa merasa wanita itu sedikit tak menyukainya.
Bukan tanpa alasan Safa berpikiran seperti itu. Siang tadi ia tak sengaja memergoki Tante Dyah yang tengah menatapnya dengan pandangan tak biasa. Wanita itu seolah mengamati dirinya secara diam-diam, karena saat pandangan mereka bertemu, Tante Dyah langsung mengulas senyum dan mengalihkan pandangan. Apa ia salah?
Entahlah, ibu dan anak sama-sama sulit ditebak.
Safa berniat pergi ke kamar duluan karena dia sudah selesai, tapi tiba-tiba Tante Dyah bersuara menahannya. Memaksa Safa bertahan lebih lama dengan rasa tidak nyaman di sana.
“Kamu menyukai anak saya?”
Jadi ini tujuannya kemari? Bukan sebuah kebetulan rupanya.
Safa terdiam mematung, bingung harus menjawab apa. Apa dia harus jujur sekarang? Di saat semuanya saja masih belum jelas?
“Maksud Tante?”
Hening cukup lama. Wanita beda generasi itu saling menatap dalam remangnya cahaya dapur. Safa baru menyadari Tante Dyah begitu tinggi hingga membuatnya harus mendongak.
Hatinya merutuk, kalau begini Safa semakin terlihat kecil. Kayaknya keluarga Edzar rata-rata punya gen tiang listrik. Ya Tuhan, bikin minder saja sih.
“Kamu pasti pernah mendengar bahwa mata menjelaskan semuanya.”
Safa mengerjap, sedikit bingung apa yang sebenarnya sedang dibicarakan, salahkan otaknya yang lemot.
“Begitupun saya yang melihat semua itu dari matamu. Kamu menyukai Edzar. Dan jika saya benar, kamu sedang berusaha menarik perhatiannya?”
Sesaat Safa terpaku, menatap kosong dinding di belakang tubuh wanita di hadapannya. Safa tak pernah segugup ini sebelumnya, beginikah rasanya berinteraksi dengan orang tua gebetan? Tolong beritahu dirinya harus apa.
Safa kembali mengalihkan matanya pada mama Edzar, berusaha mengumpulkan keberanian untuk bersuara. Sial, di mana rasa percaya dirinya yang setinggi langit? Kenapa sekarang malah menghilang saat dibutuhkan? Sudah kayak teman yang datang pas ada perlunya saja. Canda teman.
“Kalau benar, apakah Tante mengizinkan saya mendekati Edzar?”
__ADS_1