
"Oke, saya minta laporan keuangan bulan lalu sama bulan sekarang, ya? Dari Morinaza dan semua cabangnya." Edzar tampak sibuk menelpon ketika Ibra tiba-tiba masuk, membuka pintu ruang kerjanya pelan.
Ia sempat melirik anak itu sebentar sebelum kembali fokus mendengar pembicaraan di seberang telpon.
"Pi ..." bisik Ibra memanggil.
Edzar mengangkat tangan, menyuruh Ibra untuk diam dulu.
"Oke-oke. Saya tunggu dalam waktu 24 jam, ya? Makasih."
Panggilan berakhir, Edzar menoleh pada putranya sembari mengangkat alis. "Ada apa, Mas?"
Ibra tampak ragu untuk bicara, ia memilin baju dan sesekali menggaruk tengkuk saat melirik sang ayah yang menunggu.
"Pi, beliin hape baru, dong," celetuknya.
"Hape? Bukannya bulan lalu kamu baru ganti hape, ya?"
"Iya, itu ... rusak, Pi ..." cicitnya takut.
"Rusak? Kok cepet banget? Hape mahal, lho. Masa udah rusak aja, sih?" heran Edzar.
Ibra tampak kebingungan untuk menjawab. Ia menunduk tak berani menatap Edzar.
"Kamu makenya gimana, sih, Mas sampe cepet banget rusak gitu? Bulan lalu, lho, Papi beliin kamu hape, itu juga ganti yang 5 bulan lalu. Punya Papi aja udah mau satu setengah tahun masih awet." Edzar menunjukkan Samsung S22 Ultra miliknya yang masih mulus dari mulai body hingga layar, bahkan chipsetnya saja masih kencang.
Ibra hanya terdiam bungkam. Melihat anaknya yang tertekan Edzar pun mengambil nafas dan membuangnya pelan."Mana coba lihat hapenya, siapa tahu masih bisa dibenerin."
Ia menadahkan tangan pada Ibra. Namun seperti yang sudah-sudah, anak itu pasti menggeleng ketika diminta ponsel lamanya.
Ini yang membuat Edzar semakin aneh dan merasa curiga, Ibra selalu menghindar setiap kali ditanya wujud hape yang katanya rusak tersebut.
"Mas? Papi mau tanya, deh. Tapi kamu jawab jujur, ya?"
Pelan, Ibra mengangguk ragu.
"Sebenarnya hape-hape itu kamu kemanain, sih? Rusak apa hilang? Jawab jujur," tegas Edzar. "Karena setiap Papi minta handphone-nya selalu gak ada. Kamu kemanain itu? Beneran rusak? Kalau rusak mana wujudnya? Papi mau lihat."
Ibra tak bisa menjawab. Anak itu justru semakin menunduk, dan hal tersebut tentu membuat Edzar tak bisa menahan curiga.
__ADS_1
"Hilang?"
Lama terdiam, Ibra akhirnya mengangguk pelan. Ia mendongak takut melihat Edzar. "Maaf," cicitnya.
Edzar marah tentu saja. Siapa sih yang gak marah ketika berkali-kali membeli barang tapi dihilangkan? Terlebih totalnya lebih dari belasan juta.
"Ini udah yang ketiga kalinya kamu minta hape, Mas. Semuanya kamu hilangin? Masa iya kamu seteledor itu?"
Ibra diam.
"Sekolah masih SD tapi udah habisin 50 juta buat gadget doang. Untung komputer sama laptop gak ikutan kamu hilangin. Bisa bangkrut Papi lama-lama."
Ibra tambah mengkerut di tempatnya. Tepat saat itu pintu ruang kerja Edzar terbuka, menampilkan Safa yang masuk sambil membawa kopi yang sebelumnya Edzar minta.
Ia yang melihat Ibra juga ada di sana kontan mengernyit."Kalian lagi ngomong apa? Kenapa wajah kamu pucat begitu, Mas?"
Safa menyentuh kening Ibra yang berkeringat.
"Dia habis hilangin ponsel lagi," jelas Edzar sedikit ketus.
"Hilang?" Safa menoleh pada putranya yang terdiam. "Hape yang kita beli bulan lalu itu?"
"Kok bisa hilang, Mas? Bukannya rusak?" Biasanya Ibra selalu beralasan handphone-nya rusak jika minta lagi.
"Semuanya gak rusak, tapi hilang. Kalau rusak pasti ada wujudnya, kecuali kalau dia lempar ke sungai atau hapenya kelindas truk di jalan." Edzar masih dalam mode kesal.
Safa berkedip mendengar pernyataan suaminya. Ia menatap Ibra yang sedari tadi bungkam."Beneran hilang, Mas?"
Ibra mengangguk pelan.
"Bentar, coba Mami telpon nomornya."
Safa mengotak-atik ponselnya menelpon nomor Ibra, namun yang terdengar hanya nada sambung dan operator. Berkali-kali ia ulangi tetap sama. Malah yang terakhir langsung nada putus-putus.
"Kok gak aktif, ya?"
"Ini pasti ada yang pegang, deh," ucap Safa menyimpulkan.
Edzar turut menoleh menatap istrinya. "Besok Papi suruh lacak aja sama teman di kepolisian. Kalau memang ada orang yang nyimpen bisa dicari nanti."
__ADS_1
Mendengar itu Ibra tersentak. Wajahnya menegang dengan keringat sebesar biji jagung. Rautnya terlihat resah dan panik.
Karena tidak tahan berbohong, Ibra pun akhirnya angkat bicara."Se-sebenarnya ... hapenya Mas jual semua," lirih Ibra takut.
Edzar dan Safa kontan menoleh menatap putra mereka yang kini menunduk dalam. Keduanya mengernyit mendengar pernyataan Ibra.
"Dijual?" sahut mereka serentak.
Ibra tak mengangguk maupun menggeleng, namun diamnya sudah menunjukkan kata iya.
"Kenapa dijual? Kalau gitu uangnya masih ada, kan?"
Tentu saja, secara logika kalau Ibra menjual semua ponselnya pasti ada nominal dari hasil penjualan tersebut. Yang membuat heran kenapa tidak beli yang baru dengan uang itu saja? Kenapa harus minta lagi sama Edzar?
"Uangnya Mas sumbangin ke panti amal buat bencana ..."
Hening. Safa maupun Edzar sama-sama terdiam, mereka tak mampu bersuara mendengar celetukan polos bercampur takut itu.
Ibra pun tambah menunduk mendapati keterdiaman orang tuanya. Ia benar-benar menduga mereka semua marah dengan perbuatannya ini. Ibra benar-benar merasa bersalah. Ia tak bermaksud menghambur-hambur uang papinya yang banyak itu.
"Mas minta maaf, Pi, Mi. Mas ... Mas tahu Mas salah. Papi sama Mami boleh hukum apa pun," cicitnya pasrah. "Gak jadi minta hape," lanjut Ibra lagi, sambil cemberut.
Matanya bahkan sudah berair hendak menangis. Melihat itu tentu Safa sebagai Ibu yang lemah hatinya mengurungkan niat untuk memarahi.
Tiba-tiba ponsel Edzar berbunyi menampilkan telpon dari seseorang. Edzar mengernyit melihat siapa yang menghubungi.
"Halo, Pak Gunawan?"
"Halo, Pak Edzar. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas sumbang asih yang Bapak dan keluarga berikan pada yayasan amal kami. Sekali lagi saya turut merasa segan dengan bantuan ini. Anda salah satu penyumbang terbesar dalam program sekarang untuk bencana gempa bumi Bengkulu. Terima kasih karena sudah mempercayai kami. Saya dan tim akan segera menyalurkan dana ini mulai besok. Sekali lagi terima kasih, Pak."
"Padahal beberapa waktu lalu anda sudah menyumbang cukup besar, tapi beberapa bulan terakhir putra anda juga turut menjadi penyumbang. Saya salut, Ibra masih kecil tapi anda sudah mengajarkannya berbagi sebesar ini. Sungguh anak yang murah hati," puji Pak Gunawan.
Edzar hanya bisa melongo mendengar itu. Ia melirik istri dan anaknya bergantian. Mereka semua turut menatap Edzar dengan sorot penasaran.
Bagi yang tidak tahu, Pak Gunawan ini salah satu kenalan Edzar dari dunia politik. Beliau adalah pemilik perusahaan penyiaran sekaligus founder yayasan amal yang kerap aktif menggalang dana untuk sumbangan.
Sebentar, jadi Ibra menjual ponsel-ponsel itu untuk menyumbang?
Entah ini tindakan gila atau malah dermawan, yang pasti Edzar masih kesal dengan sang putra yang tidak jujur.
__ADS_1