
Ibra melarikan kaki kecilnya melintasi jalan menuju rumah seberang. Beberapa mobil baru saja sampai, termasuk mobil orang tuanya yang turut menjemput Uwa Lalisa yang katanya habis melahirkan di rumah sakit.
Ibra terdiam sebentar di tepi gerbang, menanti satu persatu orang memasuki rumah besar itu. Terlihat Uwa Dava begitu cekatan menuntun Ua Lisa menuju rumah. Satu yang menarik perhatian Ibra, gumpalan selimut di pelukan omanya.
Ia lekas berlari kecil mendekat. "Oma, itu Adik Bayi, ya?"
Sang oma menunduk. "Eehh ... Mas Ibra. Iya, ini adiknya Mas. Tuh, lucu, kan?"
Wanita baya itu sedikit merendahkan tubuhnya agar Ibra dapat melihat bayi di gendongannya.
Ibra tampak berkedip menatap bayi itu. Rautnya terlihat takjub dengan mulut terbuka. "Cewek cowok, Oma?"
"Cewek. Gimana, cantik?"
"Cantik banget, Oma. Nanti kalo udah gede bisa Mas nikahin gak, Oma?"
"Bisa, dong ..." tutur sang oma. Namun sesaat kemudian ia melotot. "Haish, apa sih kamu Mas? Kecil-kecil udah bahas nikah. Edzar, anakmu ini gimana? Kok ya kecil-kecil tahu nikahan? Emang di rumah suka main nikah-nikahan?"
Edzar yang baru saja keluar dari mobil kontan berbalik mendapat sambutan itu. Ia menatap bergantian sang putra dan mertuanya yang sama-sama menatap ke arahnya.
"Maksud Bunda?" tanya Edzar tak mengerti. Bukan hanya ia yang terbengong, melainkan Safa juga turut memerhatikan bingung.
"Aah .. . udah gak bener ini."
Alih-alih menjelaskan, Nyonya Halim langsung pergi meninggalkan ketiganya, sambil membawa bayi yang sedari tadi tak lepas Ibra amati.
"Mam, ajak Ibra. Papi bantuin Bang Dava beresin bagasi dulu," ucap Edzar sebelum kemudian berlalu.
Safa mengangguk mengiyakan. Wanita itu menghampiri putranya yang masih setia mematung di gerbang.
"Mas, kamu ngomong apa sama Oma?"
__ADS_1
Ibra berkedip polos. "Mas cuman tanya sama Oma, kok."
"Tanya apa?"
"Tanya, apa dedek bayi bisa Mas nikahin kalau udah gede nanti," jawab Ibra lempeng.
Seketika Safa tercengang. Apa-apaan pikiran anak kecil ini. Ya Tuhan, Safa rasa ia maupun Edzar belum pernah memberi edukasi soal nikah dan pasangan. Kenapa Ibra tiba-tiba menyeletuk hal nyeleneh begitu? Pantas bundanya kesal.
***
"E-eh, kamu mau ke mana?" Safa panik begitu Ibra terburu-buru turun dari mobil.
Mereka baru saja pulang sekolah dijemput sopir. Ibra berlari masih menggendong tasnya ke arah rumah Dava. Anak itu berteriak-teriak minta dibukakan gerbang.
"Uwa! Wa Lisa! Ini Mas mau jenguk Adik Bayi! Kasih masuk, dong!!!" serunya sambil meloncat-loncat berusaha menggapai bel.
Padahal tanpa pencet bel suara Ibra sudah mengalahkan toa.
"Uwa!!!" teriak Ibra sekali lagi.
Rupanya itu Bu Hanum, asisten rumah Dava yang baru bekerja beberapa bulan lalu.
"Hm. Aku mau jenguk adik bayi," ujarnya memaksa.
Safa yang melihat kontan menghampiri mereka. Ia meringis penuh maaf pada Bu Hanum yang tersenyum maklum.
"Mas pulang ganti baju dulu, ayo?"
"Gak mau. Mas mau lihat adik bayi."
"Ih, bandel banget, sih." Lama-lama Safa jengkel juga. "Pulang dulu, nanti Papi marah kalau Mas gak ganti seragam. Ayo?"
__ADS_1
Namun Ibra kekeh menggeleng. "Gak mau. Maunya lihat adik bayi."
Oh, Ya Tuhan. Tolong beri ia kesabaran menghadapi anak keras kepala ini.
"Ya udah, tapi jangan nakal. Mami mau masak makan siang dulu," putus Safa pada akhirnya.
Ibra mengangguk senang. Ia membiarkan saat sang mami melepas tas gendongnya dan mengusap sejenak rambut hitamnya yang lebat.
"Awas kalau Mami dengar kamu bikin nangis adik bayi, Mami akan hukum kamu lebih-lebih dari Papi."
Ibra mengangguk saja. Toh, ia yakin maminya yang tak tegaan itu tak akan mampu menghukumnya. Hihi, dengan semangat Ibra memasuki rumah uwa-nya dan langsung menaiki tangga menuju lantai dua di mana kamar bayi berada.
Rupanya bayi mungil itu tengah tertidur pulas. Entah Uwa Lisa sedang ke mana, yang pasti situasi itu memberi kebebasan bagi Ibra untuk memainkan bayi lucu yang mirip boneka milik salah satu teman di sekolahnya.
"Ih, kamu imut banget." Ibra mulai menyentuhkan jari telunjuknya menusuk-nusuk pipi bulat bayi itu.
Si bayi sedikit mengejat, namun kembali terlelap damai. Ibra yang merasa diabaikan pun tak berhenti menyentuh permukaan kulit bayi itu dengan gemas.
"Kulit kamu lembut banget, kayak baju tidur Mami, hihi ..."
"Hey, bangun, dong."
"Oya, nanti kalau kamu sudah besar, aku akan jaga kamu dari teman-teman sekolah yang nakal. Kita sekolah bareng, oke?"
"Kamu tahu gak? Aku mau banget punya adik yang lucu kayak kamu, tapi Mami sama Papi gak kasih kasih." Ibra mengutarakan isi hatinya sambil merengut.
"Kamu mau, kan, jadi adik aku? Nanti kamu juga panggil aku Mas, ya? Oke?"
Ibra terus saja mengajak bayi itu bicara. Lalu tiba-tiba saja ia merasa begitu gemas dan tak bisa menahan diri untuk mencubit pipi si bayi hingga menangis.
Ibra terkejut saat bayi itu menjerit keras. Ia panik, dan semakin panik saat mendengar derap langkah mendekat.
__ADS_1
Gawat, itu pasti Uwa! Lariiii....
"Adik bayi, nanti Mas main lagi!"