
Edzar menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Nafasnya terhela pelan, membuat Dian yang saat itu ada di sana terheran.
“Kamu kenapa? Kok, tiba-tiba lemes gitu? Jadi ke kantin enggak? Doni udah nungguin.”
“Duluan saja,” balasnya dengan mata terpejam.
Dian mengangkat alisnya lalu mengendik. Terserah lah. Kemudian wanita itu keluar dari ruangan Edzar dengan membawa beberapa map.
Kurang lebih 30 menit berlalu, ponselnya berdering menunjukkan nama Safa sebagai pemanggil. Ya, pada akhirnya Edzar men-save nomor gadis itu di kontaknya.
Bersamaan dengan Edzar yang mengangkat telponnya, Doni masuk tanpa permisi dengan raut bertanya-tanya. Pria itu langsung menghempaskan bokongnya di kursi.
“Pak, kenapa tidak makan dulu? Sebentar lagi ‘kan mau sidang?” tanya Doni.
Edzar menatapnya tanpa suara. Pria itu menempelkan ponselnya ke telinga, membuat Doni sadar bahwa Edzar sedang menelpon. Reflek dia menutup mulut.
“Halo?”
“Om, Safa sudah di depan. Om keluar, ya? Safa gak bisa masuk, lupa gak bawa KTP...” keluh Safa di seberang sana. Dia tak menyangka mengunjungi Edzar akan seribet ini.
Kening Edzar berkerut samar, ia kira gadis itu hanya membual saat mengatakan akan ke sini. Dia hanya iseng saja menunggu.
Menghela nafas, Edzar kemudian bertanya, “Kamu di mana?”
“Safa masih di luar, lah, Om... Om cepetan ke sini ih... panas tau...” rengeknya.
“Kenapa tidak tunggu di tempat penerimaan tamu?” tanya Edzar bingung.
“Ih, Om gak tau aja, Safa diusir karena gak bawa kartu identitas. Safa malah dikira bocah yang belum punya KTP. Padahal Safa udah bilang KTP-nya ketinggalan,” sungut gadis itu. “Udah gitu malah diminta kartu pelajar!”
Tanpa sadar Edzar mendengus geli, tak heran orang mengira seperti itu, mungkin karena wajah Safa yang terlihat kemudaan. Edzar saja sempat mengira gadis itu masih SMA saat pertama kali melihatnya. Ditambah posturnya yang mungil semakin menegaskan visualnya yang kekanakan.
Di sisi lain, Doni memicing curiga. Dia bertanya-tanya siapa kiranya orang yang menelpon itu. Dari gelagat Edzar Doni yakin itu seorang wanita. Dia jadi semakin percaya diam-diam atasannya memiliki pacar.
“Om?” panggil Safa saat Edzar tak juga bersuara.
“Hm.” Edzar menyahut dengan gumaman. Punggungnya terangkat dari sandaran kursi.
Pria itu menghela nafas. Tangannya terulur membereskan tumpukan berkas yang masih berserak di atas meja. “Tunggu sebentar,” ucapnya.
__ADS_1
Safa berdecak, “Jangan lama! Gak mau tau pokoknya harus cepet. Safa kepanasan ini...“
Edzar tak menjawab.
“Om....”
“Om cepetan, ih!”
“Aduh... kulit Safa gosong...!”
“Kenapa, sih, matahari jahat banget hari ini? Sejahat hati Om yang gak mau nerima Safa.”
Safa semakin melantur, membuat Edzar menggeleng tak habis pikir. Gadis itu sangat tak sabaran. Apa tidak lelah bicara terus?
Sedangkan Doni, dia tak lepas menatap Edzar dengan lekat. Tubuhnya sedikit condong, berusaha mencuri dengar. Namun kemudian dia meringis saat melihat tatapan setajam elang Edzar layangkan padanya. Mau tak mau Doni kembali menegakkan punggung, duduk dengan benar di kursinya.
“Om, Safa kayak mau mati ini... panas banget, yawloh....”
Edzar berdecak, “Kamu bisa diam? Saya gak punya kemampuan teleportasi untuk bisa sampai secepat itu.”
Tanpa Edzar ketahui Safa sedang manyun saat ini. Sumpah, panasnya gak ada obat. Mau ngumpet di semak, tapi malu. Nanti dikira lagi numpang pipis. Kayaknya setelah ini dia perlu mendatangi klinik kecantikan. Ambil perawatan termahal.
Safa menurunkan kakinya dari trotoar. Dia berjalan mondar-mandir sambil mengipasi dirinya dengan kipas angin genggam berwarna pink berbentuk kepala kucing. Tanpa tahu tindakannya itu bisa mengundang bahaya bagi dirinya sendiri. Dengan santainya Safa berjalan-jalan di pinggir jalan. Berharap Edzar segera muncul dan membawanya ke tempat teduh.
Kenapa di sini gak ada gubuk satupun? Paling enggak, warung gitu. Benar-benar bersih dan rapi lingkungan ini.
“Om Edzar oh Om Edzar, mengapa engkau lama. Macam mana kamu nak tega. Safa kepanasan. Safa kepanasan....” Safa bernyanyi dengan lirik asal. Membuat Edzar tanpa sadar terkekeh pelan.
Doni melotot tak percaya. Dia hampir terkena serangan jantung. Apa atasannya itu baru saja tertawa? Wah... gawat. Pertanda apa ini?
“Om Edzar oh Om Edzar, mengapa engkau ganteng. Macam mana saya tak ganteng, saya jodoh Safa, saya jodoh Safa....“
Edzar semakin menggeleng mendengar celotehan tak bermutu namun terdengar lucu itu. Bisa-bisanya gadis itu masih bisa bernyanyi di saat orang lain akan merasa kesal karena menunggu.
“Safa oh Safa. Kenapa kau tak pulang. Macam mana Safa nak pulang, ci—“
Safa menghentikan nyanyiannya saat matanya tak sengaja melihat security kejaksaan yang melambai-lambai padanya. Kening Safa berkerut. “Si Bapak ngapain? Oh... Safa tahu, Bapak itu pasti salah satu fans Safa,” ujarnya pede. Safa membalas lambaian security itu.
Security itu malah nampak kesal. Lha, kenapa toh?
__ADS_1
“Mbak! Jangan berdiri di sana!” teriak bapak itu keras-keras. Tapi Safa tak mendengar.
“Apa sih?” gumamnya. Safa malah fokus berusaha mengartikan gestur dari security itu. Si bapak kelihatan panik.
“Mbak, awas!!!”
Tin tin tin....!
Safa menoleh ke belakang.
“Aaa!”
Brak!
Edzar terlonjak di tempatnya. Dia reflek berdiri saat mendengar teriakan gadis itu yang tiba-tiba. Telinganya sempat menangkap kegaduhan sebelum telpon itu terputus.
“Halo?” seru Edzar panik. Wajahnya tampak menegang dengan pupil membesar. Keningnya berkerut dalam. Ekspresi yang sangat jarang orang temui. Termasuk Doni.
Doni ikut berdiri dengan wajah penasaran, terlebih saat melihat raut Edzar yang kini berubah pias.
“Pak, ada apa?”
Edzar tak menjawab. Serta-merta pria itu melempar ponselnya dan berlari ke luar ruangan. Reflek Doni mengikutinya tunggang-langgang.
Meski sudah berlari secepat atlet—menurut Doni—dia tetap tak bisa menyamai kecepatan berlari Edzar yang seperti kesetenan.
Orang-orang yang melihat terheran-heran, bahkan ada yang sampai ikutan berlari entah karena reflek atau penasaran.
“Pak Doni, kenapa kalian lari-larian?” tanya salah satu jaksa yang berhasil menghambat langkah Doni.
Doni berdecak, wajahnya panik tanpa alasan, membuat semua yang melihat ikutan tegang. “Aduh... saya gak tau. Saya cuman ikutan lari saja,” ucapnya cepat. Setelah itu kembali berlari menyusul Edzar.
“Waduh, Pak Edzar lewat mana, ya? Tangga apa lift?”
Di sisi lain, Edzar tergesa-gesa menuruni setiap anak tangga yang entah kenapa seolah tak ada habisnya. Nafasnya terengah memikirkan hal-hal buruk yang ia harap semua itu tidak terjadi.
Jantungnya berdetak menyakitkan mendengar teriakan terakhir yang didengarnya. Seketika perasaan menyesal menyusupi hatinya karena tak buru-buru menghampiri gadis itu tadi. Bagaimana kalau benar-benar terjadi sesuatu pada Safa? Edzar tak akan bisa memafkan dirinya sendiri.
Safana Halim, apa kamu baik-baik saja?
__ADS_1