SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 61


__ADS_3

Selesai menyuapi Safa, Edzar menyuapi dirinya sendiri. Hani sudah pamit keluar setelah sebelumnya menyimpan tas plastik itu di atas meja. Mau tak mau Safa menerima karena Edzar sendiri tak memberi tanggapan lebih.


Safa diam mengamati Edzar. Edzar lagi makan saja ganteng banget. Melihat gerakan mulut dan jakunnya membuat Safa teringat dengan ciuman mereka. Sensasi debarannya masih terasa. Safa jadi penasaran ingin mencoba lebih. Maksud Safa, yang dibilang orang-orang sebagai french kiss. Tuh ‘kan, Safa jadi merona lagi.


Safa menyentuh dua pipinya pelan. Ingat, tangannya masih sakit. Tanpa sadar hal itu memancing tatapan Edzar, pria itu mengernyit melihat Safa yang tengah senyum-senyum sendiri. Walau sesaat kemudian Edzar mengangkat bahunya tak peduli dan kembali makan.


Safa sih bodo amat Edzar mau berpikir apa. Dia lelah menghadapi Edzar yang apatis. Mending Safa mengingat sikap lembut dan manisnya tadi. Lumayan, buat naikin mood.


Cklek.


Seseorang tiba-tiba membuka pintu. “Zar, promo-“ ucapannya terhenti saat dilihatnya Edzar tak sendiri. “Lho, ada tamu, ya?”


Pria itu menatap Edzar dan Safa bergantian.


Edzar menoleh, tangannya terulur menyimpan piring kosong ke atas meja. Mengambil gelas dan meminum isinya hingga tersisa setengah. Matanya menunjuk sofa di depan menyuruh pria itu untuk duduk.


Heru mendekat menghempaskan tubuhnya di sana. Matanya melihat Edzar menuntut penjelasan. Tapi yang namanya Edzar itu menyebalkan. Dia seperti patung yang tak mau bicara.


Lalu, tatapan Heru beralih pada Safa, menatapnya dengan pandangan menilai. Safa sedikit risih dengan hal itu.


“Kamu... sebentar, kayak pernah lihat.” Heru menggaruk dagunya nampak berpikir.


Namun setelah lebih dari tiga menit pun pria itu tak mendapat pencerahan. “Ahh... ingatanku sepertinya buruk. Tapi aku yakin pernah melihatmu.”


“Kamu pacar Edzar?”


“Bukan.”


Bukan Safa yang menjawab, tapi Edzar. Diam-diam Safa merengut. Bukan pacar, tapi berani nyosor-nyosor. Huh.


“Oh? Begitu?” Heru mengangguk saja.


“Heru.”


Heru mengulurkan tangan bermaksud untuk berkenalan. Tapi Safa hanya menatapnya dengan wajah bimbang. Heru mengangkat kedua alisnya tak mengerti.


Tiba-tiba saja Edzar meraih tangan Heru yang menggantung dan menurunkannya dengan cara perlahan. “Tangannya sakit,” ucapnya pendek.


“Oh?”


Sontak mata Heru menurun dan baru menyadari perban putih yang membalut penuh tangan itu. Dia tertawa.


“Ahahaha... maaf, aku tidak melihatnya. Kulitmu terlalu putih seperti perban,” ucapnya terdengar garing.


Hening.

__ADS_1


Safa meringis menampilkan giginya, “Iya, Mas, gak papa, hehe.”


Merasa diperhatikan, Safa menoleh dan mendapati Edzar tengah menatapnya. Safa pun bertanya, “Kenapa, Om?”


“Tadi kamu bilang apa?”


Kening Safa berkerut, “Apa?”


“Mas?”


Safa berkedip heran. Maksud Edzar apa, sih?


“Maksud, Om?”


“Gak salah kamu panggil dia Mas?”


Safa semakin bingung, begitupun Heru yang ikut menatap Edzar dengan aneh. Apa yang salah?


“Ya, terus Safa harus manggil apa? Masa kakak? Ih, geli gak sih?”


“Dia seumuran saya.”


Safa menatap Heru memindai, “Masa, sih? Kok, kayak seumuran Abang.”


“27,” jawab Safa.


Heru terlonjak heboh, “Whoa... semuda itukah aku terlihat??” ucapnya berlebihan. Dia menyentuh wajahnya sendiri dengan bangga.


Sementara itu, raut Edzar berubah masam. Serta-merta dia berkata, “Jadi maksud kamu saya tua?”


Hening. Safa maupun Heru menatap Edzar tak mengerti. Apa hanya Safa yang merasa Edzar sedikit senewen hari ini?


“Safa gak bilang gitu, kok. Kan Om Edzar memang udah tua?” ucapnya polos.


“Kamu kenapa, sih, Zar? Aneh banget. Gak biasanya kamu masalahin perkara umur?” tanya Heru. “Lagian panggilan ‘Mas’ itu luas maknanya. Anak SMA aja ada, kok, yang dipanggil Mas. Bukankah kamu hidup lama di Surabaya? Pasti gak asing lah dengan itu.”


Edzar merasa terpojok. Dia sendiri tak mengerti kenapa harus merasa kesal hanya karena hal sepele berupa panggilan.


Edzar menghela nafas, “Lupakan.” Dia beralih menatap Heru. “Gimana promo menu baru itu? Lancar?”


Heru menepuk dadanya angkuh, “Beresss... sama Heru mah, apa sih yang gak berhasil?”


Dua pria itu larut membicarakan pekerjaan. Heru adalah teman Edzar sekaligus orang yang dipercaya mengelola cafe ini. Selama Edzar berpindah-pindah tugas, Heru lah yang ambil andil semuanya.


Safa hanya diam menyimak. Dia tidak mengerti topik yang dibahas. Mau main hape, gak bisa. Tangannya kaku. Sedangkan Safa menyimpan ponselnya di dalam tas.

__ADS_1


“Aku lagi nyari selebgram yang cocok buat promoin cafe ini. Kamu ada saran, Zar?” tanya Heru pada Edzar.


Edzar sendiri malah menoleh pada Safa. Safa berkerut tak mengerti.


“Kamu selebgram ‘kan?”


Safa berkedip, “Kok, Om tahu?”


Brak!


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan Heru yang menggebrak meja. Safa terlonjak di tempatnya. Sedangkan Edzar terlihat biasa saja. Gila, mukanya lempeng aja gitu.


“Ingat. Aku ingat sekarang,” ucap Heru sambil mengangguk-angguk menatap Safa. Tangannya menunjuk Safa seolah menemukan jawaban.


“Dari tadi aku merasa familiar dengan kamu. Kamu Safana Halim ‘kan?”


Safa mengerutkan sedikit bibir, seterkenal itukah dirinya?


“Mas kenal Safa?”


Heru mengangguk, “Kenal lah. Siapa, sih, yang gak kenal cewek cantik kayak kamu?” ucapnya mengedipkan sebelah mata.


“Ehm!” Edzar berdehem keras. “Kita lanjutkan besok. Saya harus pulang sekarang. Ada berkas pidana yang belum selesai.”


Tubuhnya bangkit yang sontak diikuti Safa juga Heru. Safa sedikit oleng saat berdiri, beruntung Edzar sigap menahannya.


Pria itu menuntunnya keluar diikuti Heru di belakang.


Safa malu saat Hani dan teman-temannya melihat ke arah mereka. Entahlah, dia merasa canggung karena merasa tatapan itu ditujukan untuknya.


Edzar membuka pintu mobilnya untuk Safa. Pijakan yang sedikit tinggi membuat Safa agak kesulitan.


Safa sedikit terlonjak saat sebuah tangan mampir di pinggangnya, mengangkatnya pelan hingga Safa berhasil menduduki kursi penumpang. Tak cukup di situ saja, Edzar juga memasangkan sabuk pengaman karena tahu Safa tak mampu melakukannya dengan tangan seperti itu. Safa berkedip menyadarkan diri. Dia masih agak terkejut dengan aksi Edzar barusan.


“Om, tas Safa masih di dalam.”


Edzar mengangguk. Tanpa bicara dia kembali memasuki cafe meninggalkan Safa yang terbengong. “Itu orang kenapa, sih?” gumamnya pelan.


Di sisi lain, Heru berdecak menggeleng-geleng kepala. Dia sedikit mencondongkan bahu saat Edzar hendak melewatinya di pintu masuk.


“Bukan pacar, eh? Kok, cemburu dan perhatian banget?” Matanya mengerling jahil dengan mulut menyeringai lebar.


***


__ADS_1


__ADS_2