
"Edzar minta maaf, Bu. Mungkin Edzar terlalu banyak menentang dan mengecewakan Ibu. Tapi, terima kasih."
Dyah mendekat, menepuk pundak Edzar yang kini menunduk menghindari pandangan. Dia peluk putra sulung yang beberapa saat lalu telah sah memperistri gadis dari keluarga Halim tersebut.
"Ibu mana yang rela melihat anaknya menderita? Mendapatimu yang bersikeras hingga terbang sana-sini menjemput Paman dan Uwa, Ibu yakin kamu tidak main-main dengan pilihanmu."
Edzar menggeleng, "Edzar tidak pernah main-main, Bu. Apalagi mengenai perasaan. Ibu tahu sendiri hal itu."
Dyah mengangguk. Lantas melepas pelukannya. Matanya beralih pada seseorang yang berdiri gugup di belakang Edzar. Tanpa bisa dicegah senyum kecil terbit di bibirnya yang kaku.
"Kemari."
Safa tersentak, matanya berkedip rusuh seolah baru saja ketahuan menguping. Dyah mengangkat alis melihat respon menggemaskan itu. Sekarang dia mengerti mengapa tembok sekokoh Edzar bisa jatuh dengan mudahnya.
"Kemarilah, Nak."
Edzar berbalik, mengangguk kecil seraya tersenyum menenangkan. Dia tahu Safa begitu tegang saat ini. Terbukti dari tangannya yang saling meremas, juga beberapa kali Edzar melihatnya meneguk ludah.
Ragu-ragu Safa mendekat, mengulurkan tangan menyalami Dyah. "Apa kabar, Tante?" cicitnya hampir tak terdengar. Seolah Dyah adalah orang yang sangat menakutkan.
"Ibu."
Safa mendongak, lagi-lagi matanya berkedip, tak mengerti. "Y-ya?"
"Panggil Ibu. Bukankah sekarang kamu menantu saya?"
"Ah, i-iya. I-ibu," ucap Safa tergagap.
Edzar terkekeh, merangkul bahu Safa seraya memberi usapan halus di sekitar lengan atasnya. "Rileks, Ai. Kamu kayak lagi ketemu preman."
Safa manyun, mendelik sekilas pada Edzar yang menatapnya geli.
Hal itu tak luput dari perhatian Dyah. Terutama sikap Edzar yang kerap berubah jika berada di sekitar Safa. Lelaki itu akan melunturkan sifat kakunya dengan mudah, seolah memiliki dua kepribadian yang berbeda.
Dyah mendekat, meraih tangan Safa. Gadis itu sedikit tersentak, lalu menoleh. Pun Edzar menurunkan tangan melepas rangkulannya dari sang istri. Berganti Dyah yang kini membawa Safa ke pelukannya. Mengusap halus punggungnya yang menegang karena terkejut.
"Selamat atas pernikahannya. Semoga sakinah, mawaddah, warohmah. Ibu serahkan Edzar padamu. Jangan sekali-kali berpikir untuk meninggalkannya. Dia sangat mencintai dan menyayangimu. Buktinya, dia sampai rela hampir memutuskan hubungan dengan ibunya sendiri untuk melamarmu."
"Pesan ibu, apapun yang akan kamu ketahui dari Edzar nanti, ibu harap kamu bisa dengan dewasa menerimanya. Kalian baru saja menginjak tahapan awal dari sebuah hubungan. Tentu masing-masing akan menemukan banyak hal yang tidak diketahui sebelumnya."
__ADS_1
"Jika ada masalah, langsung bicarakan, selesaikan secepatnya, jangan membiarkannya berlarut-larut. Salah satu kunci hubungan yang harmonis adalah komunikasi. Cobalah untuk saling terbuka satu sama lain. Jangan suka memendam perasaan sendiri. Beritahukan pada Edzar, mengeluhlah padanya, karena sekarang dia imammu."
Hati Safa menghangat. Mungkin, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah didengarnya dari Tante Dyah, wanita yang sekarang resmi jadi mertuanya. Salah satu hal yang membebani hatinya sedikit demi sedikit mulai terangkat.
Meski Safa tidak tahu isi hati Tante Dyah yang sebenarnya, setidaknya beliau sudah menunjukkan tanda-tanda menerima Safa sebagai menantu.
Safa mengangguk di balik bahu Tante Dyah. Atau, sekarang Safa boleh memanggilnya Ibu.
Edzar melihat dua wanita paling berarti dalam hidupnya. Bibirnya melengkung mengulas senyum, merasa damai dengan interaksi keduanya. Edzar benar-benar merasa lengkap sekarang. Tak pernah sekalipun ia berpikir bahwa malam ini akan menjadi begitu sangat berarti dan bersejarah.
Niat awal hanya ingin melamar Safa, siapa sangka Tuhan begitu baik menuliskan takdirnya. Hati Edzar meluap oleh kebahagiaan. Rasanya dia tidak pernah merasa sesenang ini dalam hidup.
Safa membuat semuanya berubah. Hari-hari yang semula terasa kelabu kini penuh akan pancaran warna. Dan Edzar tidak sabar untuk melihat warna lain dari gadis itu. Ralat, istrinya.
Sebuah tepukan mampir di bahu. Reno berdiri di samping Edzar, menatapnya jenaka dengan alis naik turun. Seketika raut Edzar berubah malas.
"Senangnya, menantu dan ibu mertua akur. Selamat, ya, Bang. Kamu berhasil melangkahi Tirta yang bahkan sudah melamar dari jauh-jauh hari."
"Haha, agak lucu, sih. Ini namanya LLM, Lamaran Langsung Halal. Hebat kamu, Bang."
Setelah mengatakan itu Reno berlalu dari sana. Disusul paman, bibi, serta uwanya yang menghampiri, manyalaminya untuk memberi selamat. Para sepupu lain yang juga ikut hadir tak kalah ketinggalan. Mereka sama tak menyangka kejadiannya akan seperti ini.
"Besok harus bangun pagi. Kami ambil penerbangan jam 7. Sehat-sehat kalian. Dan kamu, Nak. Semoga langgeng."
"Aamiin. Terima kasih, Paman."
"Kasih kabar kalau mau resepsi, ya."
Edzar mengangguk, "Pasti, Bi."
"Mbak Dy, kami pamit. Dek Safa, mari. Kapan-kapan main ke Surabaya, ya."
Safa yang sudah melepas pelukannya bersama sang ibu mertua pun tersenyum. "Insya Allah, Bi."
Selepas semuanya pergi, keluarga Safa dan Edzar berkumpul di ruang tengah, mengobrol ringan sembari menonton TV.
Safa melempar tubuhnya ke pelukan sang ayah yang langsung menyambutnya dengan ciuman gemas di atas kepala. Lelaki itu menggeleng melihat aksi manja putrinya. Padahal beberapa saat lalu baru saja menikah.
"Sudah punya suami, masih mau bermanja sama Ayah?"
__ADS_1
Edzar yang baru memasuki ruangan dan hendak duduk, tersenyum melihat istri dan mertuanya. Safa tampak nyaman bersandar di pangkuan ayahnya.
"Norak kamu, Dek. Masa udah nikah masih kayak anak kecil. Malu sama suami yang udah mau aki-aki," celetuk Dava yang langsung mendapat pelototan dari keluarganya, termasuk Lalisa yang kini mencubit gemas perut tunangannya, membuat Dava meringis dan mengeluh sakit.
Dasar tidak sopan.
Edzar hanya menanggapi dengan senyum tipis. Tak terpengaruh sedikit pun selorohan Dava yang terkesan bercanda. Malah Safa yang mencebik merasa tak terima suaminya dibilang aki-aki. "Sembarangan aki-aki. A Uda masih bugar gitu. Bahkan perutnya lebih kotak dari punya Abang."
"Emang kamu udah lihat? Kayak tahu banget. Jangan-jangan ...."
"Enggak lihat. Cuman rab—"
"Ai, kamu belum makan. Makan dulu." Edzar memotong pembicaraan Safa.
Seketika Safa diam, mengulum bibir merasa telah berlebihan dalam bicara. Hampir saja dia mengumbar aib. Kalau diteruskan pasti bisa mempermalukan Edzar. Bahwa sebenarnya hubungan mereka sebelum menikah tak sebersih yang orang kira. Mereka kerap beberapa kali hampir kelepasan saat ciuman. Beruntunglah Edzar pintar mengendalikan akal sehat.
Safa mengangguk, lantas berdiri dari pangkuan ayahnya. Pergi ke dapur sesuai arahan Edzar.
"Nak Edzar kapan kembali ke Jakarta?" tanya Tuan Halim setelah Safa berlalu dari ruangan itu.
Sontak Edzar menoleh menatap mertuanya. "Sepertinya dua hari lagi. Cuti saya habis hari itu. Ada apa, Ayah?"
Tuan Halim menghela nafas, "Untuk sementara ini, tidak apa-apa 'kan kamu bolak-balik Jakarta Bandung? Safa masih harus di sini."
Sesaat Edzar terdiam. Dia mengerti, Safa masih harus menjalani terapi. Rey bilang hal itu akan memakan waktu sekitar 5 bulan, bahkan lebih. Tapi bisa juga kurang dari itu.
Edzar tersenyum, lantas mengangguk. "Tentu, saya tidak keberatan, kok."
Namun, dia tidak tahu ternyata Dyah sedikit tak setuju dengan usulan itu. "Kenapa begitu? Bukankah setelah menikah seorang istri harus ikut suaminya?"
Dyah memang belum tahu perihal Safa yang memiliki trauma dan kecanduan obat. Edzar sengaja tak mengatakannya karena takut hal ini akan memperburuk pandangan ibunya terhadap Safa.
Lagipula, bukankah sekarang ini menjadi kewajiban Edzar, melindungi aib istri dari siapapun, termasuk ibunya.
"Safa baru mengalami kejadian buruk beberapa waktu lalu, Bu. Dia masih harus di sini karena pengadilan akan memintai dia keterangan sebagai korban."
Dyah mengangguk, seolah faham meski keningnya masih nampak berkerut. "Begitu?"
"Memangnya kamu gak capek pulang pergi Jakarta Bandung?"
__ADS_1
Edzar menggeleng, "Enggak, lumayan dekat, kok. Edzar masih sanggup."