
"Jangan lupa makan ya, Sayang. Dua hari lagi Uda pulang." Edzar tersenyum di balik layar.
Tiga hari berlalu sejak kepergian lelaki itu ke Jakarta. Selama itu pula Edzar kerap menghubunginya di sela-sela waktu kerja, pun sebelum berangkat atau saat mau tidur.
Seperti sekarang. Safa tengah bersandar di kepala ranjang, memeluk bantal bulu berbentuk mangga yang beberapa hari lalu Edzar kirimkan melalui kurir.
"A Uda ngisi ShopeePay Safa, ya?" Safa mempertanyaan perihal saldo di salah satu akun E-Comerce langganannya yang tiba-tiba bertambah 10 juta.
Pria itu mengangguk, "Iya. Uda juga sudah transfer ke rekening kamu. Sudah kamu cek?"
"Belum."
"Kalau mau beli sesuatu bilang saja. Nanti Uda tambahin kalau kurang."
Safa berdecak, "Memang A Uda pikir Safa semiskin apa?"
Edzar terdiam, matanya lekat menatap sang istri yang dia sadari masih bersikap tak acuh. Hal yang membuat Edzar resah dan tak tenang setiap harinya.
"Ai, mungkin Uda tidak semampu Ayah kamu dalam hal materi. Tapi harus kamu tahu, Uda akan usahakan apapun kebutuhan kamu. Jadi, Uda minta mulai sekarang kamu stop gunakan uang dari Ayah. Bisa?" tanya Edzar secara halus.
"Kenapa? Ayah selalu rutin kasih aku uang setiap minggu." Safa sedikit tak setuju dengan usulan Edzar. Memang apa yang salah dari memakai uang orang tua sendiri? Apalagi itu sudah dikasih ke kita. Jelas itu menjadi haknya.
"Benar. Makanya Uda minta kamu untuk berhenti menerima pemberian Ayah atau Abang kamu. Sekarang kamu sudah sepenuhnya tanggung jawab Uda. Uda mau kamu hanya pakai uang Uda saat butuh sesuatu. Mengerti, Sayang?"
Safa manyun, masih tak rela melepas aliran rupiah yang selalu membengkaki rekeningnya setiap satu kali dalam seminggu. Tapi, Bunda sempat mewejangi agar dia selalu nurut pada suami. Jika yang diminta bukan sesuatu yang mudarat, kita wajib mematuhinya.
"Ya udah deh," putusnya tak ikhlas.
Edzar mengulas senyum. "Yang sudah kamu terima simpan saja, atau kamu pakai juga boleh. Tidak perlu dikembalikan. Akan lebih baik jika kamu tabung."
"Hmm."
"Berapa nominal yang Ayah kasih setiap minggu?" tanya Edzar lagi.
"Lima puluh," jawab Safa singkat.
"Juta?"
"Hm."
"Ya sudah, Uda kasih enam puluh juta kalau begitu."
Kontan Safa menoleh cepat, "Serius?"
Edzar mengangguk. Matanya berpendar teduh, bibirnya menyungging tipis menatap sang istri.
Namun tanpa diduga raut Safa meredup. Kepalanya menggeleng, menunduk manatapi bantal lembut yang ia peluk.
"Enggak perlu. Dua lima saja cukup, kok."
Kening Edzar mengkerut, "Kenapa?"
Safa mendongak, mengulas senyum tulus. "Safa sedang belajar untuk berhemat. Semenjak terjun di perusahaan, Safa mengerti bagaimana rumitnya mencari uang. Meski kadang masih khilaf beli barang branded, setidaknya Safa sudah mulai mengurangi pemakaian dalam jumlah besar."
__ADS_1
Senyum Edzar semakin mengembang. "Ai, kamu tahu? Uda pengen cium kamu saat ini juga."
Obrolan terus berlanjut sampai Safa menguap dan tertidur. Meski begitu Edzar tak lantas memutus sambungan video call mereka. Lelaki itu menatap lekat wajah sang istri yang terpejam damai. Ingin rasanya Edzar berpindah tempat. Memeluk dan mencium istrinya, memberi ucapan selamat malam secara nyata. Menaikkan selimut Safa yang tak tertata dengan benar, pun tali gaun tidur yang sempat Safa turunkan atas permintaan Edzar, menampilkan gundukan yang tak tertutup bra. Edzar hanya berharap tidak ada yang masuk sembarangan ke kamar sang istri. Kecuali Nonya Halim tentunya.
"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah." Edzar berbisik seraya tersenyum. Membaringkan tubuh di atas ranjang sambil terus menatap Safa di layar ponselnya.
.............
"Ada apa?" tanya Edzar pada Doni yang sedari tadi tak lepas menatapnya.
Saat ini mereka tengah di kantin untuk makan siang. Doni berkedip mendapat pertanyaan dari sang atasan. Pria itu menyeruput minumannya dengan cepat. Lalu kembali fokus melihat Edzar.
"Perasaan saya saja atau bukan, ya. Tiga hari belakangan, wajah Bapak kayak bercahaya."
Edzar mendelik mendengar pernyataan konyol salah satu staf-nya itu. Kepalanya menengok kanan kiri depan belakang. "Apa kita sedang shooting iklan?"
"Kenapa Bapak bertanya begitu?"
"Kalimatmu pernah saya baca di Billboard produk skincare," ucap Edzar datar. Lalu kembali menyendok makanan ke mulut.
Doni mencebik, mencibir Edzar yang selalu tak acuh. "Saya serius tau, Pak. Aura Bapak tuh kayak beda aja gitu. Kayak lagi bahagia."
Edzar mengaduk isi piringnya dengan santai. Sesantai jawaban yang ia lontarkan pada Doni. "Memang."
"Jadi benar? Apa Bapak punya bisnis baru?"
"Hm." Edzar mengangguk. Dia memang tengah merintis usaha baru dengan Heru.
Edzar memutar bola matanya malas. Sudah ia duga Doni pasti mempertanyakan itu. Kenapa harus basa-basi dulu.
"Kamu pintar 'kan?"
Kontan Doni mengangguk, "Oh tentu!" serunya bersemangat.
Edzar menegakkan punggung, menatap lurus pria itu. "Pikir sendiri."
Setelah mengatakan itu Edzar berdiri, melenggang meninggalkan Doni yang seketika bersungut atas jawaban singkat Edzar. Ambigu seperti biasa. Doni jadi geregetan sendiri.
Berbeda dengan Doni yang menggerutu, Edzar justru tengah mesem-mesem sendiri di kamar mandi. Jemarinya sibuk mengetik balasan dari pesan sang istri. Safa mengeluhkan tanda merah di sekujur tubuhnya yang belum kunjung hilang, hingga dia harus terus memakai alas bedak untuk menutupinya.
"Pakai hijab aja, Sayang. Dijamin kamu aman sepenuhnya," tulis Edzar.
"Pakai hijab cuman mau nutupin kissmark. Ha ha, anda lucu sekali, Yolanda!"
Edzar terkekeh geli. Kepalanya menggeleng membayangkan raut Safa saat mengatakan itu.
"Ya sudah, pakai baju panjang yang kerahnya tinggi. Di sana dingin, jadi orang gak akan mempertanyakan."
"Masalahnya bukan cuma badan. A Uda juga gigitin pipi Safa. Bekasnya susah hilang tau."
Edzar meringis, sedikit menggaruk hidungnya. Apa dia memang seganas itu kemarin?
"Ehem." Ia berdehem saat seseorang membuka pintu toilet. Segera dia mengetik balasan untuk Safa dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
__ADS_1
"Pak Edzar? Gak ada jadwal sidang?"
"Kebetulan sedang free, Pak," jawab Edzar seraya mencuci tangan di wastafel.
"Enak ya, Pak, habis cuti panjang?"
Edzar hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan.
"Saya mau ajukan buat pulang kampung saja susah minta ampun. Bisa lah ajarin taktiknya, secara Pak Edzar kan pamannya juga kerja di Kejaksaan, jadi segala hal dipermudah. Termasuk naik jabatan."
Ini yang Edzar benci. Orang-orang selalu mengaitkan integritasnya dengan orang dalam, tak lain sang paman yang merupakan Kepala Kejaksaan di Surabaya.
Mereka mengira dia berada di sini karena rekomendasi beliau. Padahal Edzar tak pernah sekalipun mengeluh perihal jabatan pada pamannya.
"Pak Mukim." Edzar mengelap tangannya dengan tisu, lantas berbalik menghadap pria bernama Mukim itu.
"Apa anda masih ingat materi seminar yang anda presentasikan kemarin?"
"Tentu saja. Pak Edzar meragukan ingatan saya rupanya."
"Benar. Karena sepertinya anda memang lupa."
"Apa?" wajah Mukim tampak mengerut tak senang.
"Bukankah anda bilang kita harus hidup rukun sesama instansi hukum?"
"Bagaimana kita bisa sejalan jika anda saja sibuk mengomentari hidup orang?"
Edzar menepuk bahu pria itu, "Berhenti bersikap iri. Sebelum itu anda harus berkaca pada kinerja sendiri. Jadilah jaksa yang jujur, karena itu pondasi utamanya."
"Dengan anda menerima uang dari terdakwa sudah menunjukkan bahwa kualitas dan kredibilitas kita memang berbeda."
Edzar melenggang keluar, merogoh ponselnya yang bergetar dalam saku. Panggilan video dari Safa. Kontan wajahnya berubah total jadi sumringah. Edzar tersenyum lebar menyapa sang istri yang tengah manyun di seberang sana.
"Kenapa, Sayang? Wajahnya kok kecut gitu?"
"Kenapa gak balas! Safa tungguin juga," rengut wanita itu.
"Maaf, tadi habis dari toilet. Kenapa, Sayang?"
"Safa mau ke salon. Mau ganti warna rambut. A Uda maunya rambut Safa gimana?"
Edzar terdiam nampak berpikir. "Terserah, sih. Kamu mau dipakein warna dan model apapun tetap cocok. Tapi Uda lebih suka saat rambut kamu pirang. Seksi. Warnanya menyatu dengan kulit kamu."
Safa menggut-manggut. "Pirang, ya? Oke, deh. Makasih Mas Suami~ Yang semangat, ya, kerjanya. Dah, Safa pergi dulu. Babay, muah!"
Edzar terkekeh. Senyumnya lepas dengan mata menyipit, sesuatu yang langka orang lihat, namun bisa dengan mudah Safa terbitkan.
"Jadi, ternyata anda sudah menikah?"
Edzar menoleh ke belakang. Doni berdiri terperangah, matanya seolah hendak menggelinding keluar. Lalu netra itu bergeser pada Edzar yang setia memasang wajah tenang.
"Sekarang saya mengerti dari mana sinar itu berasal. Rupanya wajah anda lebih bercahaya karena ada aura pengantin baru!"
__ADS_1