
Milik Edzar mengacung tegak. Safa menelan ludah melihat batangnya yang berurat. Safa tergiur, tapi juga takut saat membayangkan efeknya.
"Masuk lah, Ai. Kan lubangnya elastis," terang Edzar dengan sabar.
"Ta-tapi .... A Uda pakai obat, ya! Kenapa bisa sebesar itu~" rengek Safa dengan bibir mencebik hampir menangis. Dia takut sekali. Katanya, jika pertama kali itu akan sangat sakit.
Edzar menunduk bingung, menatap miliknya sendiri yang sudah siap tempur. Apa yang salah? Dari dulu ukurannya memang segini.
"Memang harusnya sebesar apa?" tanya Edzar. Sesekali menggesekkan miliknya menggoda Safa, membuat Safa tak kuasa menahan lenguhan karena rasa asing yang cukup menyenangkan itu.
"A-anu, yang Safa tahu ukuran rata-rata orang Asia di bawah itu," cicitnya dengan nada semakin pelan.
Edzar membungkuk, mencium singkat bibir Safa. "Itu, kan, rata-rata. Gak bisa dijadikan patokan. Banyak, kok, yang punya ukuran seperti Uda." Kemudian dia mengernyit, matanya menyipit curiga. "Memangnya, kamu tahu hal itu dari mana? Baca di Google, atau ...."
"Safa lihat film blue," jawabnya polos.
Seketika Edzar terbatuk, tersedak oleh ludahnya sendiri. Dia bangkit, meraup gelas air di nakas dan meminumnya hingga tandas. Edzar memang terbiasa menyediakan air sebelum tidur.
Nafas pria itu terengah, menyimpan kembali gelas yang telah kosong. Matanya kembali menatap Safa yang berkedip bingung.
Edzar terkekeh, kemudian menggeleng dengan raut geli. Pengakuan Safa betul-betul mengejutkan. Bukan masalah film blue, tapi kejujurannya. Biasanya orang akan menyembunyikan kebiasaan atau sesuatu yang buruk mengenai dirinya kepada pasangan.
Tapi berbeda dengan Safa, entah karena kepolosannya yang mungkin membuat gadis itu jadi sulit berbohong. Yang pasti Edzar tetap suka. Gadis itu murni, bisa dibilang minim pengalaman dalam hal percintaan.
Dikecupnya kembali bibir gadis itu. Kali ini Safa membalasnya seirama. Edzar menggeram ketika jemari lentik Safa menari-nari, menjelajahi permukaan perut dan dada bidangnya. Edzar membalas dengan perlakuan sama, dia meremas dada Safa, sesekali mengusap puncaknya dengan ibu jari.
Safa melenguh kala Edzar mulai kembali mempertemukan milik mereka. Pria itu menggesek, menekan pelan batangnya di sela celah yang basah.
Bunyi cecapan mendominasi kesunyian. Diiringi desa-han juga lenguhan keduanya yang tengah berlomba saling memuaskan. Edzar beralih ke ceruk leher Safa. Menyesap pelan permukaan kulitnya yang lembut dan halus.
Kontan Safa mendesah merdu. Kecupan Edzar terus turun hingga bertemu dengan permukaan dada Safa, lagi, bermain lama di sana.
Safa sudah menggelinjang tak karuan. Sesekali dia menjerit kecil, tertawa saat Edzar memainkan lidahnya di sana. Geli, tapi juga menyenangkan. Mulut dan tangan Edzar tak henti memanjakannya.
Tanpa Safa sadari, Edzar mulai mendorong pelan miliknya. Gadis itu terkesiap, matanya membelalak saat rasa sakit itu datang dari bagian bawah tubuhnya.
"A Uda!" jerit Safa berusaha mendorong tubuh Edzar.
"Tenang, Ai. Hey, rileks. Jangan tegang," ucap Edzar meraih pergelangan Safa yang memukulinya brutal.
Safa menggeleng, matanya sudah berkaca dengan wajah merah padam. "Gak mau .... Hiks, sakit ...."
__ADS_1
"A Uda berhenti ....!" jerit Safa pada Edzar yang kini tengah fokus memasuki dirinya.
Safa menggeleng rusuh. Pinggulnya bergerak berusaha menjauhkan miliknya dari pusat tubuh Edzar yang hendak menerobos masuk.
"Arghh ...."
"Susah," geram Edzar saat berkali-kali gagal dan meleset.
Edzar semakin melebarkan paha Safa. Dia kembali menuntun miliknya menyusupi celah basah itu dengan hati-hati.
"Sshhh ...." Edzar berdesis saat ujung kepalanya berhasil masuk.
Safa kembali menjerit. Gadis itu menggelinjang berusaha melepas tautan tubuh mereka. Namun Edzar berhasil menahannya dan kembali mendorong perlahan.
"A Uda ....!!!"
"Aw! Stop, stop! Berhenti. Ahh ...! A Uda berhenti ....! Sakiiitt ....!!"
"Hiks, huaaa ....."
"Sakiitt ...."
Seketika Edzar menghentikan gerakannya. Safa nampak sangat kesakitan. Dan dia dibuat tak tega mendengar rintihan dan raungan Safa yang histeris.
"Huaa ...."
"Sayang?"
"Gak mau .... Hiks, sakiitt ...." raung Safa menggeleng.
"Ahh .... Keluarin!" Safa mendorong-dorong tubuh Edzar dari atasnya.
Edzar menghela nafas. Dilema dengan keadaan. Disatu sisi ia sudah tidak tahan, di sisi lain Edzar juga tidak tega melihat istrinya menangis histeris seperti itu.
Akhirnya dengan kerelaan luar biasa, Edzar menarik kembali dirinya dari dalam Safa. Padahal baru ujungnya saja yang masuk, tapi Safa sudah seheboh itu.
Apa rasanya memang sesakit itu?
Edzar tidak tahu. Mungkin karena pria hanya kebagian enaknya saja. Mau itu pertama atau seterusnya.
Dia kecup kening Safa seraya menempatkan diri di samping gadis itu. Iya, masih gadis karena Edzar gagal membobolnya.
__ADS_1
"Ssstt .... Sudah. Ayo, kita tidur saja," bisik Edzar sembari memeluk, mengusap-usap lengan dan punggung Safa.
Tak lupa Edzar menarik selimut menutupi tubuh polos keduanya. Safa masih sesenggukan, menyembunyikan wajah di dada Edzar yang bidang. Mati-matian Edzar menahan hasrat, berusaha untuk tidak terangsang. Gairahnya saja belum padam, jangan sampai dia lepas kendali lagi hanya karena nafas Safa yang menggelikan menerpa permukaan kulitnya.
Pada akhirnya, malam itu permainan mereka hanya sampai di sana karena Safa belum sanggup.
...........
"Ai?"
"Ai?"
"Engh ...." Safa mengerjap pelan. Membuka mata dan mendapati wajah Edzar yang tersenyum padanya.
Sejenak mereka saling berpandangan. Safa melirik ke bawah, pada tubuh Edzar yang sudah rapi terbalut koko dan sarung. Lalu kembali pada wajah tampan Edzar yang masih mengulas senyum.
"Bangun, ayo subuhan. Udah adzan, tuh," ucap Edzar.
Benar, saat ini adzan subuh tengah berkumandang. Safa melirik jam dinding di seberang tempat tidur, pukul empat lebih sekian, hampir setengah lima.
Dengan lemas Safa bangkit, duduk dengan mata mengantuk-ngantuk. Edzar terkekeh, dia ingin sekali menggasak rambut Safa yang sedikit berantakan, tapi takut batal karena sudah wudhu.
"Mandi, terus wudhu. Kita shalat bareng."
Bibir Safa mengerucut. Dia masih sangat mengantuk.
"Memangnya harus mandi? Kan semalam gak jadi? Dingin tau ..." keluhnya.
Edzar tersenyum, "Tetap saja, semalam Uda cicip kamu. Dan lagi punya Uda sudah masuk meski sebentar. Jadi kamu tetap harus mandi wajib."
Pandangan Edzar jatuh pada tubuh Safa yang terbalut selimut dengan asal. Pria itu menelan ludah melihat bagian dada Safa tak tertutup sempurna.
Meski gagal, tapi badan Safa penuh dengan bekas gigitan Edzar. Dia tersenyum, ada rasa puas tersendiri mengingat Safa sudah sah menjadi istrinya.
"Tapi, Safa gak bisa dan gak tahu niatnya," cicit Safa pelan sembari menunduk malu.
Kembali Edzar mengulas senyum, "Ayo, Uda barengi. Nanti Uda kasih tahu."
Safa menatap ragu, "Memangnya gak papa?"
"Enggak. Bahkan sebenarnya dianjurkan untuk mandi bersama. Tapi karena Uda sudah mandi, jadi Uda bimbing kamu saja, ya?"
__ADS_1
Safa menggeleng, "Bukan itu. Nanti kalau A Uda kepengen lagi dan lepas kendali gimana?"