SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 22


__ADS_3

“1001 resep puding enak dan sederhana ala rumahan.”


“Apa ini? Kamu mau bikin puding?” tanya Nyonya Halim saat berhasil mengeja sebuah kalimat di ponsel anaknya.


Safa mengkerut memeluk ponselnya, sejak kapan bundanya condong-condong ke arahnya?


“Bunda apaan sih ngintip-ngintip!”


“Kesambet apa kamu baca-baca begituan?” Nyonya Halim mengabaikan pekikan Safa, dia terlanjur penasaran dengan apa yang dilakukan putrinya.


Safa merengut mendelik tajam. “Kepo!” ketusnya.


Mulut Nyonya Halim sedikit terbuka mendapati balasan Safa. “Ini anak, ya ... Kapan sih kamu gak nyebelin?”


“Bunda juga kapan sih gak ngomelin Safa?”


“Apaan sih gak nyambung banget. Siapa yang ngomel? Bunda cuman tanya itu kamu mau bikin puding atau apa?”


“Bukan urusan Bunda!”


“Ck. Ngelunjak ya kamu!”


Nyonya Halim masih betah dalam posisinya. Tatapannya menyelidik melihat Safa yang merapat pada pintu mobil. Tingkah mereka sudah mirip Upin Ipin yang berhadapan dengan Kak Ros.


Kegaduhan kecil itu mengundang atensi Tuan Halim di kursi penumpang depan hingga membuatnya menoleh menatap keduanya. Apa lagi yang ibu dan anak itu ributkan?


“Rame banget. Ada apa, sih?”


Nyonya Halim membetulkan posisinya menjauhi Safa, pun dengan Safa yang kembali menegakkan tubuhnya bersandar di jok mobil. Kedua tangannya terlipat lengkap dengan ekspresi kesal dan bibir mengerucut.


“Itu, Yah. Masa dia searching-searching cara membuat puding?”


Tuan Halim mengernyit, “Ya ... terus? Ada yang salah?” Dia benar-benar tidak mengerti apa yang membuat istrinya seheboh itu.


“Safa nyari resep, Ayah. Itu artinya dia mau bikin sesuatu.”


“Terus?”


“Kok, terus, sih? Ya bahaya, lah.”


“Apanya?”


“Ish! Ayah lupa, ya? Terakhir kali Safa nginjak dapur dia hampir membuat rumah kita kebakaran!”

__ADS_1


“Bwahahahaha ....”


“Dava!” Tuan Halim melotot, “Fokus! Kamu lagi nyetir. Jangan ketawa-ketawa begitu. Bahaya!”


Sontak Dava membungkam bibirnya lalu berdehem. “Ehm. Maaf, Ayah.”


Gara-gara kecelakan artis yang viral, Tuan Halim jadi parnoan kalau naik mobil. Jelas saja Dava yang selalu jadi bahan ceramahan pria itu.


Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Puncak. Meski sebelumnya harus berjibaku dengan kemacetan, tapi syukurlah sekarang Pajero Sport milik Dava sudah keluar dari pintu tol. Resiko berlibur di akhir minggu ya begini, harus sabar antri di jalan.


Kali ini tidak ada agenda numpang mobil Edzar, karena Tante Erika sendiri pulang bersama Erina dan tunangannya. Kan, kelihatan banget semua itu rencana mereka. Tapi Safa sih gak masalah, dia berterima kasih malah. Karenanya Safa bisa punya waktu berduaan bareng Edzar.


Edzar sendiri pulang ke rumah orang tuanya di Depok. Sedikit kecewa, sih. Apalagi Safa merasa Tante Dyah sedang berusaha membuat jarak antara dirinya dan Edzar. Lagi-lagi Safa berburuk sangka. Tapi memang kenyataannya terlihat jelas.


Sejak pagi Safa susah sekali mendekati Edzar. Ada saja alasan Tante Dyah memanggilnya. Kan safa jadi merasa wanita itu sengaja, agar dia tidak punya ruang untuk sekedar berdekatan.


Memang selepas dari Taman Safari semuanya memutuskan langsung pulang, terutama mereka yang harus kembali bekerja di hari Senin. Para anak-anak banyak yang merajuk karena masih betah bermain, tapi syukurlah orang tua mereka bisa mengatasinya.


Keesokan harinya Safa bangun dengan semangat seperti biasa. Meski tahu Edzar menginap di Depok, Safa tetap menyempatkan diri melongok jendela. Siapa tahu Edzar mengirim sukmanya untuk menyapa Safa, ya ‘kan?


Dikata Prabu Siliwangi kali yang bisa jadi tujuh.


Selesai mandi dan sarapan, Safa balik lagi ke kamar untuk bersiap. Rencananya dia mau belanja bahan ke supermarket. Setelah debat alot bersama bundanya, akhirnya Safa diizinkan bereksperimen di dapur, dengan catatan harus didampingi Bik Inem.


Buah-buahan sudah, agar-agar sudah, susu UHT sudah, vanili juga sudah. Apalagi, ya?


Bruk!


“Eh, maaf ... maaf, saya tidak sengaja.”


“Kamu punya mata gak sih? Lihat belanjaan saya jadi berceceran! Telurnya pecah!”


“Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja ...”


“Maaf maaf! Saya gak mau tau pokoknya kamu ganti semua belanjaan saya!”


Safa menoleh saat mendengar kegaduhan di belakangnya. Kurang lebih sekitar 5 meter dari tempatnya berdiri, dua orang wanita nampak bersitegang. Lantai di bawahnya terlihat kotor karena barang belanjaan yang tercecer.


Safa mengernyit berjalan mendekat, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Dan memang benar, Safa mengenali salah satunya.


“Bu Sinta?”


Wanita yang dipanggil Sinta itu menoleh, sekilas wajahnya nampak terkejut saat melihat Safa. Wajar, sih, terakhir mereka bertemu saat Safa lulus SMA, beliau salah satu guru di sana.

__ADS_1


“Ibu apa kabar?”


“Safa? Alhamdulillah ... kabar saya baik. Kamu ... belanja juga?”


Safa mengangguk sambil tersenyum, “Iya, Bu.” Kemudian matanya melihat barang yang berserak di kakinya. Safa kembali mendongak menatap Bu Sinta. “Ini ... kenapa?”


“Heh! Bilangin temen kamu ini, ya. Kalau jalan tuh hati-hati! Jangan ceroboh! Bikin rugi orang aja!”


Safa tersentak begitu pula Sinta, dia lupa masih ada orang lain di sini. Seketika Sinta merasa malu pada muridnya, pun orang-orang di sana yang mulai memperhatikan.


“Bu, sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja. Saya mohon maaf-”


“Alah ... kebanyakan omong kamu! Maaf aja gak cukup! Ganti belanjaan saya!”


Sinta terdiam seolah memikirkan sesuatu, dan Safa menyadari keresahan yang dialami gurunya itu. Entah apa yang membuat Sinta termangu begitu lama, tapi nalurinya mengatakan bahwa Sinta membutuhkan bantuan.


Safa menoleh pada ibu-ibu yang masih dalam mode marah, matanya melirik kembali barang-barang yang berantakan itu. Dan ketika Safa menangkap keberadaan petugas, Safa semakin merasa harus melakukan sesuatu.


Diliriknya kembali Sinta yang menunduk dengan perasaan resah, lalu ibu-ibu sengak yang masih bertahan dengan mata melotonya yang seram.


Safa tak menyangka dia akan mengalami situasi seperti ini. Melihat Sinta yang setia terdiam, terpaksa Safa harus bertindak sebagai penyelamat.


“Ehm. Begini Bu. Kalau tidak keberatan, Ibu catat apa saja barang yang rusak, lalu ambil yang baru di counter sesuai jumlah yang harus diganti, ya Bu. Nanti biar saya yang bayar.” Safa meringis pelan. Sekali-kali jadi superhero gak ada salahnya ‘kan?


“Nah! Gitu dong daritadi!” Ibu-ibu sengak itu berlalu dengan menghentak kaki.


Safa menoleh pada Sinta yang kini tengah menatapnya dengan perasaan bersalah. Safa tersenyum canggung, semoga tindakannya barusan tidak menyinggung Sinta yang notabene adalah gurunya.


Safa murni niat membantu, karena yang dilihatnya Sinta sedikit membutuhkan itu.


“Safa ... maaf karena kamu harus menyaksikan ini semua, malahan kamu mengorbankan rupiah untuk menolong saya. Saya benar-benar berterima kasih sama kamu, nanti pasti akan saya ganti semuanya. Sebenarnya bukan saya tidak mau bertanggung jawab, tapi ....”


“Sstt ... sudah, Bu. Gak apa-apa, kok. Safa ikhlas lagian, hehe.” Untung dia punya tabungan sendiri di kartu debit, jadi Safa tak perlu khawatir harus pakai uang dari bundanya.


“Tapi saya beneran gak enak sama kamu. Nanti saya ganti, ya?”


Safa tersenyum dan mengangguk. “Ibu bisa ganti kapan saja, gak perlu terburu-buru juga gak apa-apa.”


Sinta tersenyum. Murid paling cantik pada masanya itu memang terkenal baik hati. Sinta bangga pernah menjadi gurunya. Meski Safa bukan termasuk siswi berprestasi, tapi dia tetap bersinar dengan caranya sendiri.


“Safa?”


Safa menoleh mendengar seruan itu. Dan seketika mulutnya menganga setengah tak percaya.

__ADS_1


Hey ... apa ini acara reuni? Kenapa hari ini banyak sekali manusia-manusia dari masa putih abu?


__ADS_2