SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 69


__ADS_3

“Pak, mesjidnya di mana, ya? Tadi saya dengar suara adzan-nya dekat?”


“Di samping sebelah kanan gedung ini, Mbak. Agak belakang sedikit.”


“Gitu? Makasih, ya, Pak. Saya titip ini dulu sebentar, ya.”


Pak Roni mengangguk. Safa pun bergegas mencari tempat ibadah yang dimaksud.


Sampai di sana, Safa malah terdiam. Tatapannya berangsur sayu, ingat karena dia masih bolong-bolong shalatnya. Ini membuatnya sedikit malu untuk melangkah. Bacaannya saja mungkin dia sedikit lupa. Apa Safa pantas menginjakkan kaki di sana?


“Dek?”


Safa tersentak saat sebuah suara menyapanya dari arah samping.


Kepalanya menoleh, seorang bapak-bapak berseragam jaksa tersenyum bingung menatapnya.


“Y-ya?” sahut Safa gugup.


“Kamu muslim?” Pertanyaan itu terdengar sangat berhati-hati.


Safa mengangguk dengan gerakan patah-patah. Bapak itu tersenyum teduh.


“Kenapa diam? Gak masuk? Sebentar lagi iqamat. Gak mau ikut berjamaah?”


Safa tergagap tak tahu harus menjawab apa. Mesjid mulai dipenuhi para pegawai kejaksaan, dan mungkin penduduk setempat juga.


Safa menggigit bibirnya sedikit menunduk, kemudian berujar pelan. “Saya malu, Pak.”


Si Bapak terdiam dengan kening berkerut.


“Lho, kok malu?”


“Kenapa harus malu? Ayo, masuk saja. Mushola ini terbuka untuk umum, kok. Jangan pernah malu jika mau berbuat benar. Kamu mau ibadah. Kenapa harus ragu seperti itu? Masuklah, gak apa-apa kalau gak bawa alat shalat, di sana sudah disediakan.”


“Ayo, tempat wudhu-nya di sebelah sana.”


“Nesa!” panggilnya pada dua wanita bersegam sama yang kebetulan lewat. Entah mana yang namanya Nesa. Safa lihat nametag-nya, ternyata yang sebelah kiri.


“Ya, Pak?”


“Kalian ajak adek ini, ya? Sepertinya dia kebingungan.”


Dua wanita itu menatap Safa dengan ramah. “Ayo, Dek. Masuk bareng?”


Safa membalas senyum mereka. Mau tak mau dia mengangguk mengikuti kedua jaksa wanita itu memasuki mesjid.

__ADS_1


...........


Safa keluar beberapa saat kemudian. Dia menunggu terasnya sedikit lengang untuk memudahkannya mencari alas kaki.


Selama itu Safa edarkan matanya menatap sekitar. Safa mengulum bibir, dia merasa pakaiannya paling terbuka di sini. Dress selutut berkerah sabrina rasanya kurang cocok untuk menginjak tempat ibadah seperti ini.


Di antara rasa gundah yang melanda, tanpa sengaja matanya menangkap satu sosok yang sejak tadi ia nantikan —ralat— sejak kemarin.


Tubuh jangkung itu tengah menunduk mengikat sepatu di teras mesjid.


Safa tersenyum lebar. Apa ini jawaban Tuhan?


Spontan dia segera mencari alas kakinya. Tak sulit, karena keadaan sudah berangsur sepi. Beruntungnya lagi Safa menggunakan mule shoes hari ini, jadi tak perlu repot mengikat tali sana-sini.


Bergegas kakinya mengayun menghampiri Edzar. Senyum bahagia terulas di bibirnya. Akhirnya, setelah penantian sekian jam dan menahan lapar, Safa menemukan lelaki pujaannya. Tak sia-sia Safa menunggu hingga sore.


“Om—“


Kalimat Safa tertahan di kerongkongan. Langkah kakinya berhenti dengan senyum yang berangsur hilang.


Safa terpaku. Dilihatnya seorang wanita juga menghampiri Edzar. Siapa? Mungkinkah rekan kerjanya?


“Sudah selesai, Mas?” tanya wanita itu, membuat Edzar mendongak.


Kepala Edzar mengangguk singkat, lalu bangkit berdiri bersiap untuk pergi.


Dua orang itu menoleh bersamaan.


Kening Edzar berkerut saat melihatnya. Pun dengan wanita itu yang sepertinya bertanya-tanya.


“Siapa, Mas?”


Edzar tak menjawab, tatapannya memaku Safa yang kini tampak mendung.


Safa masih berdiri diam di tempatnya. Pandangannya meredup seiring hatinya yang berdenyut bersiap menghantarkan rasa nyeri yang berpotensi meluapkan cairan bening di matanya.


Mereka saling berpandangan cukup lama. Safa pikir, dia akan merasa puas setelah keinginannya melihat Edzar terpenuhi. Tapi, jika yang dilihatnya seperti ini apa Safa masih bisa merasa baik-baik saja?


“Om-“


“Kamu masih di sini?” tanya Edzar dengan suara khasnya yang datar.


Apa katanya? Masih?


“Om tahu Safa di sini sejak tadi?” tanya Safa tak percaya. Dan sialnya Edzar mengangguk.

__ADS_1


Safa mematung. Benarkah? Jadi Edzar tahu Safa menunggunya begitu lama di bawah? Dan pria itu tak mau menemuinya karena sengaja?


“Kalau begitu, Om juga baca pesan-pesan Safa?” Entah itu pertanyaan atau pernyataan. Jawabannya sudah jelas.


Terbukti dari Edzar yang lagi-lagi mengangguk. Membuat kening Safa berkerut dengan mata yang mulai berkabut.


Safa menelan ludah. Berusaha meminimalisir rasa sakit yang menyusupi hatinya.


“Kenapa?” tanya Safa pelan. Suaranya mulai bergetar pertanda gadis itu sedang menahan tangis.


“K-kenapa Om setega itu? Membiarkan Safa menunggu?” tanyanya dengan suara terbata.


“Om menghindari Safa?”


“Kenapa?”


“Apa Safa punya salah sama Om? Om sampai gak mau angkat telpon Safa. Gak mau balas pesan Safa. Kenapa?”


“Apa Om tahu? Safa menunggu selama 4 jam. Seenggaknya Om balas pesan Safa kalau memang gak bisa turun.”


Pertahanan Safa runtuh. Rintik-rintik hujan mulai mengalir di pipinya. Bibirnya gemetar menatap Edzar yang setia terdiam. Safa mematung saat tak menemui kepedulian di mata itu.


Sebenarnya Edzar kenapa? Kenapa tiba-tiba saja pria itu berubah? Atau Safa yang terlalu percaya diri bahwa Edzar mulai menyukainya?


“Om....” Safa mulai menangis.


Edzar menatapnya dengan dingin.


“Memangnya kamu siapa sampai saya harus membalas pesan-pesan kamu?”


“Kamu pikir saya ada waktu untuk itu?”


“Saya kerja. Saya sibuk. Saya bukan kamu yang kerjanya leha-leha di rumah dan tidak punya kegiatan,” ucap Edzar dengan kejamnya. Membuat nafas Safa seolah berhenti. Air matanya semakin deras seakan berlomba ingin keluar. Tidakkah Edzar berkata terlalu kasar?


“Om?” bisik Safa tak percaya.


Edzar menatapnya lurus tanpa perasaan. Safa tahu Edzar memang dingin, tapi tak pernah sebeku ini sebelumnya. Pria itu masih punya sisi lembut. Tapi sekarang, Safa merasa Edzar sangat berbeda.


“Satu lagi. Apapun yang saya lakukan, itu bukan urusan kamu. Dan saya mohon dengan sangat, tolong jangan ganggu saya lagi. Kamu sangat mengganggu,” ucapnya terakhir kali sebelum kemudian pergi bersama wanita itu.


Safa mematung. Air matanya tak tertahan. Dia menatap punggung lebar itu yang menjauh. Begitukah pandangan Edzar padanya selama ini?


Safa tak lebih dari seorang pengganggu yang selalu merecoki hidupnya.


Safa menangis tersedu di halaman mesjid yang sudah sepi. Di bawah lembayung sore yang menjadi saksi biasnya hati yang kini terserai berhamburan.

__ADS_1


Untuk pertama kali dalam hidup, Safa merasakan patah hati sehebat ini. Bisakah dia memperbaikinya lagi setelah ini?


__ADS_2