
“Pak, anda hebat sekali bisa menaklukkan Bernadin. Saya masih ingat dengan wajahnya yang memerah tadi, hahaha ...”
“Tidak sia-sia kita memergokinya waktu itu. Ck, dia terlihat sangat mencintai istrinya. Dia tidak mau istrinya tahu, tapi kenapa masih nekat bermain api? Ini yang membuat saya bingung.”
“Karena kebutuhan biologis,” ucap Edzar.
Doni mengernyit. Edzar menghela nafas sebelum kembali melanjutkan. “Istrinya sudah lama dirawat di rumah sakit. Menurutmu apa yang bisa pria lakukan untuk menghadapi hasrat di saat seperti itu?”
“Kan bisa main solo, Pak,” jawab Doni kelewat polos.
Wajah Edzar bertambah datar, “Don, tidak semua bisa puas hanya dengan itu. Apalagi orang yang kelimpahan materi seperti Bernadin, tidak sedikit wanita mendekatinya.”
“Lalu kenapa? Bapak juga banyak uang. Tapi disuguhi semangka melon mukanya datar-datar aja,” ujar Doni tanpa sadar.
“Malah kelihatan kayak gak naf*su. Jangan-jangan bapak ga-“
“Doni.”
Seketika Doni menghentikan cerocosannya, tangannya memukul pelan bibirnya yang khilaf. Mulut sialan, kenapa lemes banget, ujarnya dalam hati.
Doni meringis melihat atasannya. Wajah Edzar yang kaku kini bertambah beku. Kadang dia heran, bagaimana orang bisa tahan hanya dengan satu ekspresi saja? Meski dicekoki komedi selucu apa pun ia sangsi Edzar akan tertawa. Doni jadi penasaran penampakan Edzar yang terpingkal seperti apa.
Malam sudah larut saat mereka tiba di lobi, satu kendala telah selesai diatasi. Bernadin bersedia menjadi saksi untuk terdakwa korupsi.
Namun Doni merasa sesuatu yang lain. Ada yang janggal. Dia pun menghentikan langkah. Edzar mengernyit melihat Doni yang tiba-tiba berhenti.
“Kenapa?”
Doni mendekat dan berbisik pelan. “Sepertinya ada yang mengawasi kita, Pak.”
Doni tidak berbohong, ada perasaan familiar ketika tengah diawasi seseorang.
“Bapak lihat arah jam 5. Pria jaket hitam yang berdiri di resepsionis.”
Edzar bersidekap mengedarkan pandangan, berpura-pura mengamati interior hotel yang berkilauan.
“Saya melihatnya tadi di minimarket sebelum berangkat.”
Edzar mengangguk samar.
“Pak, saya yakin orang itu mengikuti kita.”
__ADS_1
“Bagaimana ini? Mereka tidak boleh tahu kita menemui Bernadin di sini.”
Edzar diam tampak berpikir. Wajahnya memang terlihat tenang, tapi otaknya berpikir keras membenarkan perkataan Doni. Bernadin adalah saksi, akan sangat bahaya jika orang-orang itu mengetahui pertembungannya dengan Bernadin. Hingga tiba matanya menangkap pintu lift yang terbuka. Saat itulah otaknya memantik sebuah ide yang terbilang gila.
“Eh-eh, Pak?”
Seperti adegan slow motion Doni melihat sang atasan berjalan meninggalkannya. Lelaki itu menghampiri seorang wanita yang berdiri mematung di depan lift.
Lalu ...
Cup.
Matanya dibuat membulat. Edzar mencium seseorang!
Apa bosnya itu sudah gila?
Ini pertama kali sepanjang sejarah Doni bekerja bersama Edzar. Astaga, apa ini salah satu tanda dunia akan kiamat?
Di posisi berbeda, Safa dibuat membeku dengan apa yang baru saja terjadi. Otaknya mendadak blank. Matanya nanap merasakan sesuatu di bibirnya. Benda lembut itu menjauh, tapi Safa masih larut dalam keterpakuan.
“Sudah selesai? Ayo pulang.”
“Hah?” Safa masih terselap ketika suara lembut Edzar mengalun di telinganya. Lelaki itu meraih tangannya secara halus. Safa berkedip lamat, apa ini mimpi? Atau dia sedang berhayal?
“Om?”
“Ini?”
“Kamu yang nyetir,” putus Edzar.
Lelaki itu beralih membuka pintu penumpang belakang, menatap Safa menyuruhnya masuk. Safa yang masih dalam keadaan bingung hanya bisa menurut. Ia kira Edzar akan menutup pintunya setelah Safa berhasil duduk, namun ternyata salah.
Pria itu kembali mengejutkannya dengan meloloskan tubuh secara tiba-tiba. Reflek Safa bergeser memberi ruang untuk Edzar duduk.
Doni yang masih mematung di luar terperanjat mendengar teguran Edzar. Lantas dia segera membuka pintu kemudi bersiap menjadi supir.
Di balik pilar yang terhalang bugenvil, sepasang mata mengamati lekat mobil yang menjauh itu. Acap tangannya meraih ponsel melakukan panggilan pada seseorang.
“Dia masuk berdua dengan temannya. Tapi keluar membawa seorang gadis. Mungkinkah dia hanya menjemput kekasihnya?”
\=\=\=
__ADS_1
Suasana dalam mobil begitu hening, tidak ada satupun yang berinisiatif mengeluarkan suara. Safa masih betah mematung bergulat dengan pikirannya yang berdebat. Otak kanan mengatakan ini nyata, otak kiri mengatakan ini mimpi. Anggap saja analoginya seperti itu.
Safa takut berkhayal terlalu tinggi. Ingat ‘kan saat dia bermimpi kise-kise sama Edzar? Ujung-ujungnya ditampar kenyataan bahwa itu hanya angan-angan yang mengikutinya hingga terlelap.
Dan sekarang itu terjadi lagi. Edzar menciumnya. Meski hanya ciuman ringan yang sekedar nempel doang, itu pun hanya sebentar. Tapi efeknya sangat dahsyat bagi Safa, sampai-sampai dia takut itu tidak nyata.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini bekasnya benar-benar terasa. Lembutnya bibir Edzar masih melekat di ingatan, harum nafasnya masih bisa Safa rasakan. Ingin rasanya Safa ulangi dan resapi kejadian tadi. Safa terlalu terkejut, dia tidak sempat menikmati perlakuan Edzar.
Demi Sehun yang katanya ganteng, demi Han So Hee yang Safa benci karena perannya sebagai pelakor. Kalau diibaratkan bibir Edzar itu hanya memantul di bibir Safa. Sekilas, sedetik pun enggak. Siapa yang tidak kecewa?
Pelan-pelan Safa menoleh pada Edzar, hanya duduk seperti patung pun lelaki itu masih bisa se-memikat ini, apalagi kalau bersikap manis seperti tadi. Ngomong-ngomong Safa belum menanyakan perihal sikap Edzar yang mendadak jadi bunglon. Sebentar manis sebentar pahit. Padahal tadi Safa sudah baper dengan perlakuan lembutnya, eh... sekarang balik lagi kayak balok kayu.
“Om?” panggilnya pelan.
Edzar hanya berdehem. Menoleh pun tidak.
“Tadi itu....” Safa menjeda, dia sengaja ingin memancing dengan membawa topik yang sepertinya akan sulit diangkat ke permukaan. “Om cium Safa?”
Uhuk, uhuk.
Doni yang tengah menyetir mendadak tersedak ludah, matanya melirik sekilas ke arah spion, dia ingin tahu reaksi Edzar.
Edzar sendiri hanya diam. Sama seperti Doni, dia pun hampir tersedak mendengar pertanyaan Safa yang menurutnya kelewat frontal. Tidak bisakah gadis itu diam saja? Dan Edzar kesal dengan wajahnya yang tiba-tiba memanas. Kenapa pula dia bisa punya pikiran gila seperti tadi. Masih ada cara lain ‘kan? Tidak harus dengan ciuman.
Melihat Edzar yang sepertinya salah tingkah, membuat Doni berusaha keras menahan tawa. Sekilas memang terlihat biasa, tapi di balik wajah kakunya Doni tahu Edzar tengah kesulitan untuk bersikap.
Safa yang merasa tak ditanggapi berubah merengut. Tubuhnya condong tiba-tiba hingga mengejutkan Edzar. Masih dengan kepiawaiannya memainkan ekspresi, Edzar mengernyit menatap Safa yang saat ini berjarak lumayan dekat.
“Kenapa?”
Safa memonyongkan bibirnya dengan wajah yang perlahan maju. Sontak Edzar melotot memundurkan punggungnya menjauhkan muka.
“Apa yang kamu lakukan?”
Safa cemberut, matanya menyipit tajam pada Edzar. “Om udah nyuri first kiss-nya Safa. Safa gak terima. Pokoknya Om Edzar harus bayar.”
“Bayar?”
Safa mengangguk.
Edzar merogoh sakunya mengeluarkan dompet bersiap mengambil uang. Namun semua itu dihentikan oleh Safa. Gadis itu menggeleng, menurunkan tangan Edzar yang memegang dompet.
__ADS_1
“Safa tidak menerima pembayaran rupiah.”
Kening Edzar berkerut dalam, “Lalu?”