
“Pak, anda tidak punya istri. Tapi setiap hari bawa rantang.” Karena tidak tahan akhirnya Doni bersuara.
Sesaat Edzar berhenti mengunyah, tangannya kembali berkutat dengan lauk pauk di depannya. Pria itu terlihat sangat menikmati sampai-sampai Doni merasa tengah diabaikan. Kalau saja Edzar tidak segera membuka mulut, Doni akan berpikir dirinya memang dilupakan.
“Memangnya harus punya istri dulu untuk bawa ini?”
Doni menggaruk belakang kepalanya bingung. Kebiasaan Edzar kalau ditanya malah suka nanya balik. Harusnya dia tahu itu.
“Terus, bapak punya pacar?”
Edzar menatap malas pada Doni, “Kenapa kamu mendadak jadi kepoan macam wartawan?”
Lagi-lagi Doni meringis, sepertinya akan sia-sia bertanya pada Edzar. Pria itu tak hanya persisten di meja hijau, dalam percakapan biasa seperti ini saja Edzar selalu tak mau kalah.
“Baiklah, lupakan. Apa saya boleh nyicip?”
Edzar menunjuk kursi di hadapannya dengan lirikan mata. “Begitu saja kamu harus basa-basi dulu. Bilang saja kamu mau.”
Doni menarik lurus bibirnya berusaha tersenyum. Terserah, Pak. Terserah apa kata Bapak. Bos selalu benar. Kalau salah balik lagi ke poin utama, yaitu bos selalu benar.
Selepas makan, Doni yang kebagian membereskan rantang. Edzar merasa jumawa karena dia berperan sebagai pemberi, Doni selaku penerima diharuskan balas budi dengan membenahi semuanya. Tak tanggung-tanggung pria itu juga menyuruhnya melap meja dari sisa-sisa minyak yang menempel.
Dalam keadaan normal Doni akan tertawa ketika melihat sebungkus tisu basah bergambar kepala bayi yang menggemaskan. Dia semakin bertanya-tanya dan penasaran siapa yang menyiapkan bekal selengkap ini. Detail sampai menyediakan hal sepele seperti tisu. Yang pasti Doni yakin orang ini sangat perhatian. Dan pastinya perempuan.
Srrt, srrt.
Doni menolehkan kepala saat mendengar sebuah bunyi dari Edzar. Keningnya berkerut dalam melihat apa yang sedang pria itu lakukan. Mulutnya tak tahan untuk bertanya.
“Pak, sejak kapan anda mulai pakai spray mulut?”
\=\=\=
“Den Edzar, ini ada titipan kain dari Ibu. Katanya terserah Den Edzar mau diapakan.”
Edzar baru saja pulang ketika Bik Yah menghampirinya dengan sebuah kotak berukuran sedang. Keningnya sedikit berkerut. Edzar tidak tahu apakah ini karena keluarganya memiliki usaha tekstil hingga ibunya sering kali mengiriminya kain, atau beliau yang terlalu menyukai benda bertekstur halus itu.
__ADS_1
Wanita itu memang kerap mendesain dan menjahit sendiri bajunya. Bukan, ibu Edzar tidak bisa menjahit, tapi ada tukang jahit langganan yang sering dipakai jasanya. Sebenarnya Edzar lebih suka membeli pakaian jadi, kecuali untuk acara-acara tertentu seperti seragaman dan lain-lain.
Edzar menerima kotak itu dari tangan Bik Yah, melihat jenis kain apa yang dikirim ibunya kali ini.
Sesaat keningnya berkerut, “Lho, Bik. Ini kok kainnya ada dua?” tanya Edzar sembari membolak-balik benda itu berusaha memastikan. Dilihat berkali-kali pun motifnya memang sama.
“Masa, sih, Den? Bibi belum lihat jadi gak tau.”
Edzar menunjukkan kedua kain itu pada asisten rumahnya.
“Oalah... si Ibu keliru kali, Den, ngirimnya dua.”
“Masa iya?” tanya Edzar lebih pada dirinya sendiri.
“Bisa jadi, toh? Kalau enggak, mungkin itu untuk couple, Den?”
“Couple? Sama bibi, gitu?”
“Ya sama pacar Den Edzar, lah. Gimana, sih.”
“Saya ‘kan gak punya pasangan, Bik.”
“Begitu?”
Edzar menghela nafas lelah. Dengan sedikit malas dia membawa kain-kain itu ke kamar, berniat menyimpannya di laci bersama kroninya yang lain.
“Oh iya, Bik. Rantang di depan itu tolong cuciin, ya. Kalau bisa segera kembalikan malam ini juga. Takut lupa.” Edzar berhenti di pertengahan tangga.
Bik Yah mengulum senyum, “Punya Neng Safa, ya, Den? Kenapa gak Den Edzar aja yang balikin?”
“Bik....”
“Iya-iya bibi yang balikin,” ralat Bik Yah.
“Eh, tunggu Den,” serunya menyetop langkah Edzar.
__ADS_1
“Itu makanan yang dari anaknya Pak RT tadi pagi masih utuh. Mau bibi hangatkan atau Den Edzar mau bibi masak yang baru?”
Edzar mengernyit, “Memangnya gak bibi makan?”
“Ya elah, Den... itu ‘kan ngasihnya ke Den Edzar. Bibi rada gak enak kalau mau makan. Takut yang punya gak ikhlas.”
“Itu ‘kan sudah dikasih ke saya, otomatis milik saya. Terserah saya masakan itu mau dimakan siapa,” ucap Edzar.
“Gitu? Ya sudah, bibi lega dengarnya. Tadi siang sempat mau bibi makan, tapi gak jadi karena keingat Den Edzar.”
“Jadi bibi hangatkan atau masak baru, Den?”
“Ya sudah hangatkan saja. Lain kali kalau ada yang ngasih dan saya gak sempat makan, bibi makan saja.”
“Baik, Den. Siap laksanakan.” Bik Yah menggelar hormat sebelum berlalu ke ruang tamu mengambil rantang milik Safa untuk dicuci.
Kepala Edzar menggeleng melihat tingkah asistennya. Dia kembali melangkah menaiki tangga menuju kamar.
Edzar melepas seragamnya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Adzan maghrib sudah berkumandang hampir 10 menit yang lalu. Itu artinya dia sedikit terlambat menunaikan sholat.
Beberapa saat berlalu.
Edzar mengusap wajahnya selepas salam, dia baru saja selesai dengan ibadahnya, melantaskan dzikir dan do’a pada Tuhan yang dianutnya. Getar ponsel sesekali terdengar namun belum sempat ia hiraukan. Tanggung. Jujur saja dia sedikit tak menyukai orang yang menelpon di jam seperti ini. Menurutnya itu sangat mengganggu. Kecuali sesuatu yang sangat mendesak, menyangkut nyawa misalnya.
Edzar menyelesaikan do’a, melipat kembali sajadahnya dan menyimpannya di atas sofa. Belum sempat Edzar melepas atribut sholatnya, sesuatu terdengar mengejutkannya.
Duk, gedebuk!
“Aw....” Suara rintihan seorang wanita.
Edzar mengernyit mencari asal suara, kepalanya menoleh ke arah balkon. Berjalan mendekat sambil melepas pecinya. Orang bodoh mana yang maling di jam seperti ini? Pikirnya.
Srek!
Dengan cepat Edzar membuka gorden yang menghalangi pandangannya. Matanya sedikit membeliak mendapati seseorang di luar sana. Lantas tangannya menggeser sliding door penghubung balkon, membuat kepala yang semula menunduk itu menoleh terkejut.
__ADS_1
“Kamu?” Edzar membawa matanya menatap sekitar. Suasana depan rumah sangat sepi. Lalu kembali pada gadis yang saat ini sibuk memandangi dirinya dengan tatapan.... memuja?
Kening Edzar berkerut dalam. “Kamu naik lewat mana?”