SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 15


__ADS_3

“Meow ...”


“Aduh ... Ini kucing kenapa lagi, sih? Kamu ‘kan udah makan, Meng ... Mau apa lagi?” tanya Safa lesu. Dia capek, ngantuk, pengen tidur.


Efek tidur dini hari ya begini, badan lemas tak bertenaga. Tapi si Molly mana ngerti, kucing songong itu selalu saja bikin masalah kalau ditinggal.


Dari mulai mecahin guci lah, narik-narik gorden lah, bahkan botol Essence Safa ikut-ikutan jadi korban. Benar-benar minta ditenggelamin.


“Sabar, Non ... Namanya juga kucing lagi kumincir, pengennya main terus,” kata Bik Inem saat melihat Safa marah-marah. Bicaranya gado-gado campur bahasa sunda.


Main, sih main, tapi gak usah ngerusakin barang. Dasar kucing gak ada akhlak. Safa ‘kan jadi gak bisa tidur karena harus ngawasin si Meong.


Namanya aja yang imut, Molly. Tapi mukanya sangar macam singa. Kalau jalan suka sok cantik, dilenggak-lenggokin. Dikira Safa bakal iri apa sama pantat berbulunya.


Tuh, lihat, sekarang aja dia nungging-nungging entah mainin apa. Si Molly gak ngantuk gitu ya main terus? Safa jadi berasa lagi jagain balita yang sedang aktif-aktifnya.


Dari mulai makan, minum susu, nemenin main, astaga ... gini amat nasib jomlowati. Mending kalau latihan bareng do’i.


Lah, boro-boro latihan, do’inya saja gak punya. Sedangkan Edzar masih berada di zona abu-abu. Safa harus apa, coba?


“E-eh ... jangan garuk-garuk itu, entar bekas cakar kamu jelek nempel di sana!”


Seakan mengerti dirinya dikatai jelek, Molly mendelik ke arah Safa yang mengangkat tubuhnya. Molly menggeliat minta diturunkan.


“Awas kamu kalau nakal, Safa bakal ikat kamu di kaki meja itu!” tunjuk Safa ke arah meja rias.


Molly hanya melengos tak peduli, kucing itu melenggok melewati Safa yang menghentak kesal.


Dava kapan pulang, sih? Gak tau apa anaknya ngerepotin banget.


Tin!


Bunyi klakson mobil membuat Safa terjengit. Kepalanya melongok ke arah jendela dan mendapati Pak Iwan beserta Nyonya Halim yang baru pulang. Pasti bundanya minta jemput Pak Iwan di rumah sakit.


“Syuut ... kamu tunggu di sini. Awas, jangan rusak apapun!”


Dasar bodoh, memangnya Molly ngerti omongan kamu?


Iya juga, terus gimana dong?


Apa sementara Safa ikat saja, ya? Gak apa-apa kali, cuman sebentar ini. Safa membuka laci mengambil belt kain dengan alasan teksturnya yang halus dan tidak menyakiti. Gini-gini Safa punya hati nurani.

__ADS_1


Selesai dengan Molly, Safa bergegas keluar menuruni tangga saat dilihatnya Nyonya Halim memasuki rumah. Ibu dua anak itu sudah mengganti gaun kebayanya dengan dress rumahan, pasti beli baru.


“Bunda udah pulang, dimana Ayah?” Safa celingukan tak mendapati Tuan Halim.


Nyonya Halim melempar tubuhnya di atas sofa, gurat lelah terlihat jelas di wajahnya. “Ayah sama Dava langsung ke kantor tadi pagi. Bunda nemenin Lalisa di rumah sakit karena kasian anak itu sendirian.”


Safa manggut-manggut, “Oh ... gitu. Terus, keadaan Om Rama dan Tante Evi sekarang gimana?”


“Alhamdulillah ... cuman patah tulang.”


Safa menatap bundanya aneh, “Kok, Alhamdulillah, sih? Patah tulang juga sakit tau, Bun.”


Nyonya Halim berdecak, “Ya seenggaknya gak sampai retak kepala. Masih aman, lah. Gak harus diamputasi juga.”


Astaghfirullah ... Safa cuman bisa elus dada. Terserah bundanya berpikir apa. Bisa seabad lamanya kalau debat sama Nyonya Halim. Lagian hari ini Safa sedang lelah, efek kurang tidur ditambah ngurusin bayi kucing.


“Saf, pesen bakso, gih. Bunda pengen yang seger-seger.”


Safa mengernyit, “Bunda nyuruh Safa?”


Nyonya Halim berdecak, “Jangan mulai, deh. Dosa ngebantah mulu.”


“Beli DO, Bun?”


Nyonya Halim mengibas, “Terserah kamu mau DO atau langsung ke kedainya. Pokoknya abis Bunda mandi harus sudah ada,” ujarnya sembari bangkit dari sofa.


Safa mencebik melihat bundanya menaiki tangga. Melihat tampang lelahnya Safa jadi gak tega. Lagipula, siang-siang gini makan bakso, Safa mana bisa menolak.


\=\=\=


Bakso bening dengan kuah sambal memang yang terbaik. Rasa gurih kaldu bercampur pedasnya rawit berhasil membawa kembali semangat Safa.


Begitupun Nyonya Halim yang terlihat lahap menyantap isi mangkuknya. Kayak gak makan seharian aja.


“Bunda kelaperan, ya?”


Sruup ...


Nyonya Halim menyeruput kuah bakso dengan nikmat. “Ahh ... segar banget. Pusing bunda nyium bau obat semaleman.”


Kening Safa berkerut, “Kalau bau kenapa maksa nginep?”

__ADS_1


Nyonya Halim memutar bola mata. “Udah deh, gak usah banyak tanya. Nanti kamu juga akan ngerti kalau punya anak yang udah mau nikah.”


Safa mengerucutkan bibirnya tak acuh, dia kembali bertempur dengan bakso di mangkuknya yang tinggal setengah. Sesekali Safa membuka ponsel melihat-lihat laman instagram.


Ada Kamila yang baru memposting kegiatannya di kampus. Segera Safa mengetik di kolom komentar.


@Safana_Halim Asik tuhh ....


Kamila langsung membalas, sepertinya dia sedang aktif.


@Kamila_mil Asik dong ... Makanya, hayu ikutan ...


Safa tahu maksud Kamila, secara tak langsung gadis itu mengajaknya kuliah, seperti yang sudah-sudah. Tapi Safa tetap dalam pendiriannya untuk jadi pengangguran.


Sudah cukup sampai SMA saja dia selalu direpotkan dengan tugas, Safa tidak mau menambah beban pikiran lagi. Mending nonton Drakor sambil makan pop corn.


Beralih dari Kamila, tiba-tiba jarinya berhenti pada salah satu postingan. Sebuah foto landasan pesawat oleh akun Akmal_Reza. Masih ingat Akmal? Seseorang yang sempat Kamila ceritakan.


Caption berbunyi 'Selamat datang Indonesia' itu banjir like dan komentar.


Tak heran, mantan pangeran kelas itu memang populer dan banyak fansnya. Post itu sudah dari beberapa hari lalu, sepertinya sekitar 5 hari sebelum Kamila memberitahu.


Meninggalkan postingan Akmal, Safa tiba-tiba teringat Edzar. Apa pria itu punya ig? Iseng-iseng Safa menekan kolom pencarian dan mengetik nama Edzar.


Banyak nama yang mucul membuat Safa bingung. Dia buka satu persatu akun bernama Edzar, tapi tidak ada Safa temukan yang benar-benar Edzar.


Lalu Safa mengetik nama panjang pria itu dan hasilnya ... zonk!


Apa Edzar tidak punya instagram?


Haish.


Safa menggigit bulatan besar bakso dengan garpu. Matanya masih fokus berselancar. Tiba-tiba sebuah DM masuk.


Sebenarnya banyak sekali pesan yang masuk perharinya, tapi kebanyakan tak Safa hiraukan. Sekilas nama di pop up membuat Safa penasaran, akhirnya dia buka dan memang benar itu dari Akmal.


Akmal_Reza : Hai ...


Tulis pria itu lengkap dengan lambaian tangan.


Kening Safa mengkerut. Mau apa cowok itu?

__ADS_1


__ADS_2