SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 27


__ADS_3

Dan tanpa Safa ketahui Edzar mendengus geli, sesuatu yang sangat jarang dan tak pernah dilihat orang, lelaki itu terkekeh pelan menggelengkan kepala, merasa lucu dengan apa yang baru saja terjadi.


Edzar menatap bayangan Safa yang mengecil dari kaca spion, gadis itu masih setia berdiri di sana sampai mobilnya menghilang di tikungan.


\=\=\=


“Eh, Mil. Kamu punya temen selebgram ‘kan, ya? Aku udah lihat-lihat Ig-nya, followersnya cukup banyak.”


“Safa maksud kamu?”


“He’em, Safana Halim. Cantik banget pula orangnya. Imut.”


Kamila mengangguk, ini bukan pertama kalinya dia mendapat pertanyaan soal Safa. Entah itu cowok atau cewek, sahabatnya yang cantik tapi kadang bloon itu banyak menarik perhatian teman-teman kampusnya.


Mereka mengenalnya karena Kamila cukup sering post foto bareng Safa. Maklum lah, dua sejoli itu sulit dipisahkan. Meski Kamila banyak teman, tapi dia lebih sering mengajak Safa ke mana-mana.


“Kenapa emangnya?”


Lena, teman satu jurusan Kamila itu membenarkan duduknya. “Kakak aku punya olshop di Shopee, jual baju-baju import gitu. Dia lagi nyari influencer buat promosiin tokonya.”


Kamila mengernyit, “Safa emang pupuler di medsos, tapi dia bukan influencer. Entah berapa banyak tawaran endorse yang dia tolak. Aku gak yakin dia bakalan mau.”


“Siapa yang tau ‘kan? Kamu coba aja bujuk dia. Kakak ku bisa kirim barangnya kalo mau lihat, kualitasnya dijamin oke.”


Kamila mengangguk, “Oke, nanti aku coba hubungi dia.”


\=\=\=


“Dari kemarin kamu belanja buah, memangnya sudah habis?”


Safa meringis malu. “Aku lagi belajar bikin puding buah, tapi gagal mulu ...” ujarnya cemberut.


Leo terkekeh pelan, dan Safa baru sadar suaranya terdengar merdu. Ah elah ... dulu kemana aja. Kenapa baru sekarang berubah? Coba waktu sekolah Leo kayak begini, pasti banyak yang suka.


“Mau aku ajarin?”


Safa menoleh, matanya berkedip seolah berpikir. “Bisa?”


“Bisa. Nanti aku atur waktunya kalo kamu mau.”


“Serius?” tanya Safa senang. Kapan lagi ‘kan bisa belajar bareng chef, gratis pula.

__ADS_1


Leo mengangguk, “Serius lah. Sekalian aku mau bayar hutang.”


“Hutang?”


“Iya. Hutang makanan spesial buat Nona Muda Halim, hahaha ...”


Safa memukul pelan lengan atas Leo, “Bisa aja si cupu.”


“Hei, sekarang aku udah ganteng, ya. Kamu masih berani bilang aku cupu?”


“Iya tau yang ganteng. Tuh, temen kamu udah nungguin,” tunjuk Safa pada seorang pria yang berdiri di dekat pintu keluar.


Siapa sangka Safa akan bertemu Leo di Starbucks, cowok itu selesai ngopi bersama temannya, sedangkan Safa baru masuk habis belanja.


Tidak seperti di pertemuan pertama mereka yang terkesan canggung, kini Safa sudah mulai akrab dengan perubahan Leo.


“Ya udah, aku juga ada kelas setelah ini. Kamu gak apa-apa sendirian?”


Safa berdecak. “Kamu gak liat dari tadi aku sendiri? Lagian aku bukan anak kecil yang bakal nangis kalo ditinggal. Aku juga bawa sopir.”


Leo menggaruk keningnya meringis pelan. “Iya juga, ya. Kalau gitu sampai jumpa lagi. Nanti aku kabarin tempat dan waktunya.”


Ting!


Safa melihat ponselnya yang menampilkan notifikasi SMS Banking. Matanya berbinar cerah melihat nominal yang masuk di rekeningnya. Ah ... I love you Abang, i love you Ayah. Safa tebak mereka pasti habis menang tender. Lumayan, bonus pertengahan bulan, buat jajan skincare, hihi.


Muach. Safa mencium layar ponselnya sembari tersenyum gila. Bodo amat orang-orang yang ngelihatin. Yang penting Safa senang.


Eh?


Safa menghentikan langkah saat melihat sesuatu yang familiar. Bukankah itu Edzar? Sedang apa dia di sana?


Baru saja Safa berniat menyebrangi jalan, tapi kemunculan sosok lain menghentikan niatnya. Siapa wanita itu? Apakah rekan kerjanya? Sepertinya begitu, seragam mereka sama.


Walau begitu entah kenapa hatinya serasa tersentil saat keduanya memasuki cafe. Tiba-tiba Safa teringat rantang bekal yang dia berikan tadi pagi.


Sebersit rasa penasaran muncul, bagaimana nasib makanan itu kalau Edzar sendiri saat ini tengah makan di luar. Bersama orang lain pula.


Safa tak menampik dia merasa cemburu. Hatinya juga panas mengalahkan sinar matahari di atas kepala. Detak jantungnya meningkat hingga membuat tubuhnya sedikit melemas.


Dasar lemah, baru segitu saja sudah kayak mau pingsan. Katakan Safa berlebihan, nyatanya uforia puluhan juta yang dirasakannya tadi kini hilang entah kemana.

__ADS_1


Safa mau pulang.


\=\=\=


“Nak Edzar?” tanya Nyonya Halim heran.


Edzar tersenyum kaku, kepalanya mengangguk segan.


“Malam, Tante. Maaf mengganggu waktunya. Saya hanya ingin mengembalikan ini.”


Edzar tidak mau mengulur waktu lagi dan berujung kelupaan seperti kemarin.


Nyonya Halim menerima rantang miliknya dari tangan Edzar. Sudah bersih, pasti sudah dicuci. Aduh ... good attitude banget ini anak. Nyonya Halim tersenyum cerah, sekilas mengingatkan Edzar akan pemilik senyum yang sama.


“Gimana, Nak Edzar. Enak gak nasi dan lauknya?”


Edzar tersenyum kecil dan mengangguk. “Enak, Tante. Terima kasih karena sudah repot-repot.”


Nyonya Halim mengibaskan tangannya.


“Aih ... sama sekali gak repot. Saya senang bisa berbagi sama Nak Edzar. Lagian sebentar lagi kita jadi kerabat. Jangan sungkan-sungkan, ya.”


Sekali lagi Edzar mengangguk.


Tak lama dari itu, suara keributan terdengar dari dalam. Nyonya Halim menoleh pada sang suami yang melintasi ruang tamu di belakangnya. Pria itu nampak masam saat berbicara. Nyonya Halim menyela. “Gimana, Yah. Safa udah angkat telponnya?”


Ada kecemasan dalam suaranya, dan itu sedikit membuat Edzar terganggu.


Tuan Halim berbalik menatap sang istri, saat itulah tatapannya beradu dengan Edzar yang berada di luar pintu. Sekilas keningnya nampak berkerut, setelah itu kembali pada istrinya.


“Dia di rumah Ibu. Katanya mau nginap.”


“Nginap? Kok tumben?”


Tak ada jawaban, Tuan Halim kembali fokus pada ponselnya yang menempel di telinga.


“Safa ...? Ayah tanya sekali lagi, kamu serius mau nginap di rumah Oma?”


“Kalau mau pulang Ayah siap jemput kamu sekarang juga.”


Hening sesaat, Tuan Halim nampak mendengarkan seseorang di seberang telpon.

__ADS_1


__ADS_2