
Jepretan demi jepretan berlangsung cukup lama. Hingga waktu menunjukkan pukul 2 siang, barulah mereka benar-benar selesai.
Safa segera menghempaskan tubuhnya di sofa ruang ganti. Mulutnya mengeluarkan desauan lelah.
"Capek banget ya ampun. Badanku pegel-pegel kayak mau remuk. Gak kebayang model yang tiap hari beginian. Haahh... jadi pengen diurut."
"Itu karena kamu belum terbiasa. Banyak-banyak olahraga juga biar ototnya lentur." Leo membantu Kamila membereskan barang-barang.
"Makasih, Cupu...."
Kamila terkikik saat Leo mendelik mendengar panggilan itu. "Canda Cupu—eh ganteng maksudnya."
"Bener, Safa. Kayaknya mulai sekarang kamu harus olahraga, biar tambah langsing juga."
"Emang aku gendut?" tanya Safa agak senewen.
Kamila menatap Safa dari atas ke bawah. Lalu dia berkata, "Berisi dikit," ucapnya sambil mengangkat tangan mencubit udara.
Safa manyun. Leo yang melihat itu sontak menghibur, "Enggak gendut, kok. Menurut aku ideal aja."
Kamila mencibir, "Hilih, disir bicin. Ipi-ipi dibiliin."
Safa dan Leo menatap Kamila bersamaan, ekspresinya sama-sama berkerut. "Kamu ngomong apa?" tanya mereka berbarengan.
Hal itu membuat Kamila makin senewen, matanya melihat keduanya bergantian. "Kompak banget. Fix, kalian jodoh!"
"Apaan, sih." Lagi-lagi Safa dan Leo berucap bersamaan.
"Tuh, kaann...."
"Heh, ribut amat. Jadi makan gak?"
Randy—si fotografer—menyembulkan kepalanya di pintu. Dia adalah kakak tingkat Kamila.
Safa mendengus menyadari Kamila memanfaatkan kesempatan dalam hal ini. Gadis itu meminta Randy menjadi fotografernya pasti sekalian mau pdkt. Safa yakin seribu persen.
Lihat saja Kamila yang mendadak gelagapan sekarang. Kelihatan banget dia lagi salah tingkah.
Kamila... Kamila. Jatuh cinta bisa membuat orang yang tadinya cerewet jadi kalem, ya.
"Jadi, Bang!" seru Safa mewakili Kamila yang tiba-tiba sok sibuk. Padahal beberesnya udah selesai.
.................
"Kamu mau makan apa?" tanya Leo pada Safa.
"Aku gak ditanya?"
Leo menoleh pada Kamila, "Mau makan apa?"
Bukannya menjawab, Kamila malah mencibir. Beda banget nadanya.
Randy yang melihat itu menggeleng sambil berdecak. Perkara makan, tinggal pilih apa susahnya? Tangannya terangkat memanggil pelayan. "Mas!"
Mas-mas itu mendekat ke meja mereka. "Silahkan, Mas, Mbak, mau pesan apa?"
"Saya Nasi Ayam Hainan, ya. Minumnya Lime Squash," ucap Randy yang langsung diangguki pelayan. Tangannya cekatan menulis di note.
"Nasi Oseng Cumi sama Ice Lemon Tea."
Kamila mengerucutkan bibir melihat-lihat menu. "Aku mau yang berkuah-kuah. Kwetiau Kuah Seafood aja, deh."
__ADS_1
"Minumnya, Mbak?" tanya si pelayan.
Kamila kembali melihat menu, lalu dia menunjuk salah satu. "Ini, alpukat yang ini."
Pelayan itu mengangguk, lalu beralih pada Safa.
"Samain aja, ya, Mas. Tapi minumnya mangga." Maksud Safa, sama dengan Kamila.
"Baik. Mohon ditunggu, Mas, Mbak," ucap si pelayan, lantas berlalu meninggalkan mereka.
Suasana diliputi keheningan, sebelum kemudian Randy membuka suara. Dia bertanya pada Safa, "Kamu udah lama ambil endorse?"
"Huh? Belum, sih, Bang. Baru aktif sekarang. Dulu pernah sekali dua kali, tapi gak dilanjut karena males, hehe. Ini aja disuruh Kamila."
Randy mengangguk-angguk, "Padahal lumayan banget duitnya."
"Dia tuh anak sultan, Bang. Gak pernah ngerasain gimana rasanya kekurangan uang." Kamila menyeletuk, membuat Safa melotot padanya. Namun gadis itu hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Pantes," sahut Randy.
Safa meringis merasa malu. Ternyata jadi anak orang kaya aja gak begitu membuat bangga. Safa jadi semakin bertekat untuk mengubah pola hidupnya.
"Tapi kamu beruntung punya sosial media yang ramai. Menurutku gak begitu susah. Asal ada kemauan aja."
"Tuh, denger."
Berbeda dengan Kamila, Leo tersenyum menyemangati Safa, "Aku yakin kamu pasti bisa. Semua orang bisa menjadi orang hebat karena ada kamauan."
"Hadeuh, buciinn...."
"Eh, kayak pernah liat," cetus Kamila tiba-tiba membuat semua orang menoleh.
"Apa?" Leo bertanya kepo.
Kamila menunjuk satu arah yang sontak diikuti Safa. Begitu juga Leo dan Randy yang merasa penasaran.
Lain ketiganya yang bertanya-tanya, Safa malah membelalak karena terkejut.
Sial, bukankah itu Edzar?
Aduh, kenapa harus ketemu di sini, sih?
Apakah ini kebetulan?
Edzar bersama Liandra. Ingin sekali Safa menjerit kenapa Tuhan seolah tak bisa membuat harinya tenang. Lagi-lagi denyutan itu muncul, meremas jantungnya tanpa rasa kasihan.
"Oh, aku ingat!" seru Kamila tiba-tiba.
"Dia orang yang nolongin kamu waktu di mall itu, ya?"
"Mall? Nolongin? Apasih?" Leo tak bisa menahan rasa penasarannya. Hanya Randy yang masih bersikap tenang. Orang dia gak kenal.
Perbincangan terjeda oleh pesanan yang datang. Setelah itu Kamila kembali menjelaskan.
"Dulu kita abis nonton malem-malem gitu. Terus ada maling. Eh, karena takut ketangkep, taunya si maling malah sandera Safa buat ngancem orang-orang. Untung ada si Om Ganteng. Masalah terselesaikan dengan baik."
"Duh, itu orang keren banget, dah. Damagenya gak main. Reza Rahadian mah lewat!"
Andai Kamila tahu orang yang dia tunjuk dan puji-puji itu adalah orang yang membuat Safa patah hati. Apa dia masih akan menyanjungnya sedemikian rupa?
"Sayang banget, kayaknya dia udah punya cewek. Ck, mana ceweknya cantik. Aku yang burik ini berasa jadi itik."
__ADS_1
Kamila tidak sadar bahwa kalimatnya itu menimbulkan rasa perih di hati Safa. Safa menunduk mengaduk makanannya.
"Kamu juga cantik. Cuman emang kurang cocok aja kalau sama dia." Randy menyeletuk tiba-tiba.
Mau tak mau pipi Kamila memerah. Kedua tangannya terangkat menyentuh daerah yang memanas itu. Bibirnya berusaha mengulum senyum.
Leo yang merasa mengerti hanya mengangguk, lalu makan dengan khidmat karena jujur saja dia sangat lapar.
Mereka semua tak menyadari raut Safa yang meredup. Hanya Edzar yang duduk di ujung sana dengan mata tak lepas mengawasinya.
Safa tidak tahu bahwa sepanjang ia makan Edzar terus menatapnya. Laki-laki itu tak menghiraukan Liandra yang duduk bersamanya dan berusaha mengajaknya mengobrol. Edzar hanya sesekali bergumam sebagai tanggapan.
Hingga semua selesai, Safa dan kawan-kawan memutuskan langsung pulang. Akhirnya Safa bisa bernafas lega setelah keluar dari restoran. Dia benar-benar merasa sesak saat di dalam. Berkali-kali dia hampir tersedak karena lubang makanannya bentrok dengan lubang nafas.
Meski hatinya masih merasa panas membayangkan Edzar dan Liandra yang tengah makan berdua. Tapi apa mau dikata, kalau memang takdir tak menghendakinya bersama Edzar, Safa bisa apa?
Safa melepas helm tepat saat motor Leo berhenti di depan rumahnya.
"Makasih, Le. Maaf, ya, ngerepotin kamu. Seharian ini kamu nungguin aku di studio. Aku jadi gak enak."
"Apaan, sih. Santai aja kali. Aku banyak belajar fotografi di sana, hahaha..."
Safa menggeleng tak habis pikir.
"Ya udah, sana pulang. Udah sore. Atau mau mampir dulu?"
Leo menggeleng, "Enggak usah, deh. Kapan-kapan aja. Aku pulang, ya. Dah."
Tin!
Safa melambai seiring motor Leo yang kian menjauh. Dia berbalik hendak memasuki rumah. Namun saat akan membuka pagar, seseorang menyapa mengejutkannya.
Safa menoleh, seketika keningnya berkerut. "Kak Diko?"
Diko tersenyum menatap Safa, "Baru pulang?"
"Eh? Iya."
"Kak Diko habis dari mana?"
"Gak dari mana-mana. Cuman jalan-jalan sore aja. Bosen di rumah."
Safa ber 'oh' panjang sembari mengangguk.
"Besok hari Minggu. Mau gak jogging sama aku?"
"Jogging?"
"Iya, jogging. Gimana?"
"Di taman?"
Diko mengangguk, "Mau, ya? Aku suka males kalo gak ada temen."
Safa terdiam sebentar. Dia ingat perkataan Kamila dan Leo yang menyuruhnya olahraga. Sepertinya jogging bisa jadi pilihan.
"Ya udah, deh. Oke," putus Safa pada akhirnya.
Diko tersenyum senang, setelah itu dia pergi dari hadapan Safa. Mungkin pulang ke rumahnya. Begitupun Safa yang langsung masuk bersiap-siap untuk mandi.
Badannya lengket dan gerah. Dia juga butuh air untuk menyegarkan hati dan otaknya yang memanas gara-gara Edzar.
__ADS_1
Edzar oh Edzar, kapan kamu hengkang dari pikiranku?