
“Dek, Molly udah dikasih makan?”
Kepala Dava menyembul di pintu kamar Safa, lelaki itu baru pulang kerja. Safa mendengus mendapati perhatian Dava pada kucing itu. Sebenarnya Molly milik siapa sampai segitunya banget Dava menjaganya.
Akhir-akhir ini Safa merasa jadi baby sitter tak bertuan. Dari pagi sampai malam Safa tak lepas melihat jadwal makan si Meong.
Safa baru tahu kucing juga harus makan teratur. Dia kira bebas. Makan ya tinggal makan saja. Gak perlu harus tepat waktu segala.
Belum lagi minum susu setiap pagi. Safa yang gak biasa dan gak suka minum susu kecuali malam hari diharuskan membuatnya, yang mana ia seringkali lupa dan berakhir kena omelan Dava.
Kalau masalah mandi aman, itu urusan Bik Inem. Safa mana bisa melakukannya. Dia takut Molly mengamuk dan mencakarnya, bukankah kucing takut dengan air?
Tapi Safa takjub melihat ketenangan si Meong saat Bik Inem mengguyurnya pakai shower. Bahkan dengan santai dia memainkan lidahnya di kucuran air.
Safa lupa Molly bukan kucing liar, dia kucing peliharaan yang sudah biasa dan akrab dengan air setiap harinya.
Tapi ada satu yang menurut Safa tak biasa, Molly harus dipijitin dulu kalau mau tidur, katanya biar nyenyak. Ada-ada saja, dia baru nemu yang seperti ini.
Pantas saja saat pertama kali menginap, Molly tak kunjung tidur dan berakhir mengganggu Safa hingga terbangun beberapa kali di tengah malam. Aneh, bukankah kucing hobinya tidur?
Dan Safa baru tahu besoknya ketika Dava pulang dari menginap di rumah sakit. Pria itu mempraktekan cara memijat si gembul Molly dari mulai kaki hingga kepala. Dan hasilnya, Molly tertidur setelah entah dari kapan matanya tak bisa menutup dengan tenang.
Yang Safa pikirkan saat itu, mungkin si Meong pegal-pegal karena kelelahan bermain. Itu ‘kan yang sering terjadi pada anak-anak? Kata Rizkia begitu, karena anaknya sering mengalami. Eh, tapi Molly anak kucing, bukan anak orang, gimana sih.
“Udah, tuh lagi tidur,” jawab Safa cuek. Gadis itu sedang fokus pada laptopnya di atas ranjang. Safa senang akhirnya dia bisa sedikit bersantai dan menikmati hari.
Sebuah anugerah saat si gembul Molly tertidur, Safa jadi bisa leha-leha, searching-searching film baru.
Kan, ribetnya sudah seperti punya anak saja. Bedanya yang berserakan di lantai bukan mainan bayi, melainkan mainan kucing yang Safa baru kenal bentuk-bentuknya.
“Jangan lupa cuan ....”
“Apa-apa cuan, gak ikhlas banget kamu, Dek. Jagain bayi kucing doang juga.”
Safa mendelik, “Ya justru itu, si Molly rewelnya lebih daripada bayi. Safa gak mau tau, pokoknya Safa minta 5 kali lipat bulan ini.”
__ADS_1
“Lagian kenapa gak titip di penitipan hewan sih Bang? Kan lebih fleksibel.”
Dan dengan kurang ajarnya Dava menjawab, “Biar kamu ada kerjaan gitu, kasian Abang liatnya kalo badan kamu makin melar saking jarangnya digerakkin.” Setelah itu dia menghilang di balik pintu, meninggalkan Safa yang melongo di atas ranjang.
“Abang jelek ...!”
Molly terbangun membuka mata, “Meow ....” Setelah itu dia kembali tertidur dengan tenang, mengabaikan Safa yang merengut di sisinya, terlihat sekali gadis itu sangat menderita.
Krieet ....
Suara gerbang yang digeser terdengar bagai nyanyian. Safa berdiri dengan senyumnya bersiap menyambut seseorang di baliknya.
Hari ini tak kalah paripurna dengan kemarin. Demi menyenangkan mata calon imam, Safa rela sedikit makeup-an walau tipis-tipis, biar flawless natural gitu. Safa pakai trik ala MUA Korea yang hasilnya benar-benar No Make Up Make Up Look.
Asli, kayak gak pakai make up gitu. Ini kalau Safa ikutan casting pasti lolos. Ya ... minimal buat syuting iklan, kalau akting Safa kayaknya gak sepintar Andin. Paling mentok pasti jadi figuran yang numpang lewat saja.
“Lho, Neng ... Safa, ya?”
Suara ragu-ragu itu mengalihkan atensi Safa, dia mendongak mendapati asisten rumah Edzar menatapnya bingung. Safa sedikit kecewa karena yang membuka pintu bukan Edzar. Tapi dia tetap tersenyum walau tak secerah tadi.
Si Bibi mengangguk, “Ada. Tuh, lagi manasin mobil,” tunjuknya ke arah belakang.
Benar saja, Edzar nampak menunduk memasukkan sebagian tubuh atasnya ke dalam mobil. Ekspresi Safa kembali cerah, dia meminta izin menghampiri Edzar yang tentu saja diangguki si Bibi. Memang dia punya hak apa untuk melarang? Itu pikir asisten rumah Edzar.
“Ehm.” Safa berdehem.
Tapi sepertinya Edzar kurang mendengar. Safa menepuk punggung kokoh Edzar yang sumpah demi apapun, jari Safa hampir saja hilaf kalau Edzar tidak segera menoleh. Ekspresinya sedikit kaget, “Kamu?”
Safa tersenyum menunjukkan giginya, “Pagi, Om. Aku bawain bekal lagi buat Om.” Safa mengulurkan rantang di tangannya.
Edzar menerima dengan ragu, “Tempat makan kemarin saja masih di sini?”
Entah itu pertanyaan atau pernyataan. Sepertinya maksud Edzar, yang kemarin saja masih di sini, lah Safa sudah ngasih lagi.
“Gak apa-apa, Om. Di rumah banyak, kok. Lagian ini disuruh Bunda.”
__ADS_1
Wajah Nyonya Halim mendelik di atas kepala Safa. Safa melambaikan tangan bermaksud menepis bayangan seram itu.
“Hehe, kita ‘kan sebentar lagi kerabatan. Kata Bunda harus lebih sering berbagi.”
“Lho, bener itu, Den?”
Edzar mengangguk, “Iya, Bik. Dia ponakan ipar adek saya.”
“Owalah ... dunia memang sempit, ya Den. Pantas saja Bibi agak familiar sama wajahnya, ternyata kalau dilihat-lihat mirip Neng Miranti, calonnya Den Tirta.”
Safa meringis menanggapi ucapan sok tahu si Bibi. Mirip dari mana? Maksudnya Safa kayak tante-tante, gitu?
Di tengah keasyikan membahas kekerabatan, tiba-tiba Valak datang. Canda Valak.
Seorang tamu tak diundang berjalan dengan anggun menghampiri mereka. “Selamat pagi ...” suara halusnya terdengar dibuat-buat di telinga Safa.
Safa menoleh dengan perasaan tak enak. Seketika moodnya mendadak oleng melihat Alisia Hartanto berdiri di hadapannya. Mau apalagi anak Pak RT itu?
Ya, dia putri Pak RT yang sejak kemarin jadi pikiran, dan membuat hari-harinya tak sesemangat biasanya.
Wanita itu tampak rapi dengan setelan kemeja dan celana panjang, sepertinya sama-sama hendak berangkat. Safa dengar dia seorang dokter gigi.
“Mas Edzar sudah mau berangkat rupanya. Saya juga sama.”
Dedemit itu mengulum senyum malu-malu. Apa pula dia gigit-gigit bibir segala, mau pamer giginya sehat gitu? Mentang-mentang dokter gigi, huh.
“Oh iya, saya mau menyampaikan pesan dari Papi. Katanya nanti malam Mas Edzar bisa ke rumah.”
Apa? Rumah?
Kening Safa mengernyit dalam. Rasa penasaran yang besar timbul di hatinya. Dia melirik Edzar mengangguk.
Apa-apaan sih, mereka? Ngapain Edzar harus ke rumah dia? Seketika otak Safa jadi kusut tak beraturan. Alarm waspada berbunyi seakan memberi peringatan.
Safa punya rival!
__ADS_1