
“Ck, membosankan!”
“Ah, gak asyik!”
“Ini cowoknya terlalu cantik. Ceweknya kebanting.”
“Masa cowok badannya kerempeng. Yang milih aktornya gimana, sih?”
“Ah, terlalu lebay!”
“Ini ototnya lumayan, tapi mukanya jelek. Gaya rambutnya apaan banget kayak ekor kalajengking!”
“Ck, aduh... ini konfliknya terlalu berat. Safa gak suka pelakor-pelakoran!”
Begitulah kira-kira ocehan yang keluar dari mulut Safa. Semua film dan drama dia komentari seolah tak ada yang bagus. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Safa memang tidak dalam mood untuk menonton.
Gadis itu hanya mencari pengalihan untuk hatinya yang tengah berkecamuk. Pada kenyataannya, otaknya penuh dengan sosok Edzar.
Safa melirik jam dinding di hadapannya. Pukul 10 kurang 15 menit. Masih ada waktu 2 jam sebelum makan siang. Safa beranjak dari ranjang, dia melangkah keluar kamar mencari Bik Inem. Ternyata wanita baya itu tengah menonton TV di ruang keluarga.
Asisten Nyonya Halim itu menoleh menyadari kehadirannya. “Eh, Non Safa. Sini, ikut Bibi nonton. Yang Rame nih, Haji Isal sama Dodo. Lagi rebutan cucu sama warisan. Urusannya kagak selesai-selesai. Geregetan Bibi, Non.”
Safa tersenyum melesakkan dirinya di samping Bik Inem. Karena tak enak harus mengganggu keseruan si Bibi, Safa menunggu saja hingga acaranya selesai, setidaknya iklan. Barulah Safa membuka mulutnya.
“Bik, Safa mau minta tolong...”
“Tolong apa, Non?” Bik Inem menoleh.
“Bibi keberatan gak kalau sekarang masak?”
“Ya enggak lah, Non... Orang Bibi lagi pri gini,” ucapnya mengibas tangan lengkap dengan bahasa Inggris logat Sunda-nya.
“Memangnya mau dimasakin apa, Non?”
Safa berpikir sejenak, “Emm... tumis tongkol pedas sama jamur crispy. Gimana, Bik? Kayaknya enak.”
“Oh, kecil... itu mah. Serahin aja sama Chef Inem alias teman baiknya Chef Renata. Apapun menu yang Non mau, Bibi pasti bisa,” ucapnya bangga.
Safa menggeleng sambil terkekeh menanggapi cuitan Bik Inem yang terdengar lucu di telinga.
__ADS_1
Lantas, mereka berdua pun bergegas ke dapur. Tak lupa si Bibi mematikan TV terlebih dahulu. Takut panas, katanya. Cukup hati mantan saja yang panas, televisi jangan. Kasihan, nanti demam.
Meskipun Safa gak bisa masak, tapi Safa masih bisa suir-suir jamur dan ikan tongkolnya. Untuk masalah bumbu, Safa serahkan sepenuhnya sama Bik Inem. Safa gak bisa motongnya, takut salah. Nanti malah jelek.
Kurang dari satu jam semuanya sudah siap. Safa menghela nafas tersenyum. Lengannya terangkat mengusap keringat yang mengucur dari dahi hingga leher. Sepertinya dia harus mandi lagi.
Tapi, sebelum itu Safa harus masukin dulu semua ini ke rantang.
“Lho, Non, kok malah diwadahin?” tanya Bik Inem heran.
“Ini buat Om Edzar, Bik.”
“Ya ampun, kirain buat Non. Non Safa kan belum makan dari pagi.”
“Hehe, enggak, Bik. Safa lagi gak nafsu makan. Lagian tadi udah nyemil nugget sama otak-otak yang Bibi goreng.”
Bik Inem melotot, “Oh... jadi nugget sama otak-otaknya Bibi, Non yang makan? Duh, Gusti... tadi Bibi sampai keleyengan mikirin itu. Kirain ada kucing atau tikus gitu, lho. Syukurlah kalo Non yang makan. Bibi gak perlu susah-susah berburu pencurinya.”
Safa meringis mendengar perkataan Bik Inem. Bodohnya dia yang nyomot makanan orang.
“Maaf, ya, Bik. Habisnya menggiurkan banget, sih. Ya udah Safa bawa deh ke kamar, hehe... maaf ya, Bik.”
“Ya udah, Safa ganti baju dulu ya, Bik. Keburu jam 12, nanti telat.”
“Lho, Non gak makan dulu? Ini masih banyak sisanya?”
“Enggak, Bik. Safa masih kenyak.”
Setelah itu, dia berlari menaiki tangga menuju kamar.
Mandi, ganti baju, terus dandan. Semoga, kali ini dia bisa bertemu Edzar.
...............
Safa mendesah mengayunkan kakinya dengan sabar. Kali ini dia diperbolehkan menunggu di tempat penerimaan tamu. Safa juga sudah lumayan akrab dengan petugasnya. Mereka sesekali mengobrol. Dan yang tidak Safa sangka, Bapak itu sempat meminta maaf soal kejadian kemarin. Rautnya juga tidak menyebalkan seperti waktu itu. Apa dia merasa bersalah karena Safa hampir tertabrak motor?
Kurang lebih satu jam Safa habiskan menunggu Edzar. Kata Pak Roni—petugas penerima tamu—Edzar tak nampak keluar hari ini. Itu berarti dia memang ada di dalam. Pesan Safa juga belum dibalasnya, telpon apalagi.
“Mungkin lagi ada briefing, Mbak.”
__ADS_1
“Begitu? Tapi kan ini udah jam istirahat, Pak?”
“Gak tau saya. Kadang suka bablas aja gitu.”
Safa mengerutkan bibir berusaha berpikir. Ah, kenapa Safa gak telpon Mbak Dian saja, ya? Untung waktu itu sempat bertukar nomor.
Buru-buru Safa merogoh ponselnya di tas, lalu mencari nama Dian di kontak.
Dering pertama belum diangkat. Dering kedua masih sama. Safa berharap-harap cemas menghentakkan kakinya di lantai. Dan akhirnya dia bisa bernafas lega saat panggilannya diterima.
Tapi, jawaban Dian tak membantunya sama sekali.
“Saya masih di PN, Saf. Memangnya kamu gak telpon Edzar?”
Safa mendesah lelah, “Sudah, Mbak. Tapi gak diangkat-angkat,” ucapnya.
Beberapa saat tak terdengar suara dari Dian. Safa mengernyit. “Halo, Mbak?”
“Mbak?”
Apa Safa menelpon di saat yang tidak tepat, ya?
“Sebentar, saya coba telpon Doni, ya.”
Safa mengangguk. Semoga ada pencerahan.
Waktu berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 3 sore. Sudah selama itu dia menunggu dan belum ada tanda-tanda Edzar akan keluar. Padahal Safa sudah chat beberapa kali. Dian pun belum memberi kabar lagi.
Safa mulai bosan. Dia juga malu mendapat sejumlah pertanyaan serupa dari orang-orang yang kebetulan beberapa kali melihatnya.
“Kok, masih di sini, Dek?”
“Nungguin siapa?”
“Belum pulang, Dek?”
Bukannya Safa tak mau pulang. Tapi keinginan bertemu Edzar lebih besar. Safa masih berharap siang ini dia bisa melihat Edzar. Ada sesuatu yang ingin Safa tanyakan. Apakah benar pria itu menghindarinya? Alasannya apa?
Adzan ashar sudah berkumandang. Safa menghela nafas mengedarkan pandangan. Dia sudah habis 1 botol mineral dan sekarang mulai merasa lapar. Lupa, Safa belum makan nasi sejak pagi.
__ADS_1
Safa menunduk melihat rantang di tangannya. Sesaat dia meneguk ludah. Tidak, ini buat Edzar. Percuma dong dia ke sini dan lama-lama nungguin kalau ujung-ujungnya dia sendiri yang makan.