SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 134


__ADS_3

"Uda?"


"Hm. Ayah saya orang Minang. Dari dulu saya ingin sekali dipanggil Uda, seperti panggilan Ibu pada Ayah. Mau, ya, kamu panggil Uda?"


Kenapa Edzar harus memasang wajah seperti itu, sih. Safa 'kan jadi gak tega. Padahal dia mau mengusulkan panggilan 'Aa'. Tuan Halim 'kan orang Sunda, sedikit banyak Safa tahu bahasa daerah itu.


Ya sudah, deh. Panggil Uda juga gak apa-apa, sih. Mungkin awalnya akan geli sendiri bagi Safa yang belum terbiasa.


Mau tak mau Safa mengangguk, kontan senyum Edzar melebar. Lelaki itu mengeratkan pelukannya, satu lengannya melingkari tengkuk Safa, lalu mengecup dalam dahi gadis itu. "Makasih, Sayang. Coba, kamu panggil saya Uda."


"Sekarang?"


Edzar mengangguk.


Safa merengut dalam hati. Kok, geli, sih. Harus banget Uda? Mendadak Safa menyesal mengiyakan permintaan Edzar. Kalau tahu begini tadi dia keras kepala saja memanggilnya 'Aa'.


"Ayo...."


Sesaat Safa terdiam menatap Edzar, nafasnya terhela pelan sebelum kemudian mulutnya terbuka mengeluarkan suara yang terdengar ragu. "U-uda," ucapnya terbata.


"Sekali lagi."


"Uda...."


"Lagi."


"Ish!" Safa menghentak kakinya kesal sambil manyun. "Uda! Puas?" Suaranya naik satu oktaf.


"Yang lembut, dong, Ai."


Sabar, Safa. Sabar.....


Sebisa mungkin dia menetralkan emosi, menatap Edzar dengan segaris lurus di bibir. Senyumnya menyungging setengah tak ikhlas. "Iya, Uda.... Uda Edzar bisa gak lepas tangannya? Ai harus ke toilet, pengen pipis," ucapnya dengan nada sehalus Syahrini.


Safa memutar mata kala pria itu mengecup pelipisnya. Refleks tangannya menahan mulut Edzar yang akan berkelana ke bibir. Safa menggeleng, "Safa pengen pipis...." cicitnya dengan wajah merengut.


Dengan terpaksa Edzar melepas lingkaran tangannya, kontan Safa langsung berlari ke kamar mandi dan menutup pintunya kencang.


Edzar terkekeh, kepalanya menggeleng dengan wajah berseri. Safa benar-benar membuat hatinya menghangat.


Sementara itu, Safa menyandarkan punggungnya di balik pintu. Tangannya menyentuh dada yang berdebar kencang, nafasnya sedikit terengah efek lari barusan. Halah, lari lima meter sudah kayak maraton.

__ADS_1


Sikap Edzar yang seperti itu membuatnya geli sendiri. Berbanding terbalik dengan watak aslinya yang seperti tembok. Kenapa bisa begitu, ya?


"Ai, Uda keluar sebentar, ya? Mau beli rokok."


Safa tersentak mendengar suara di belakang, Edzar bicara dari balik pintu, membuat Safa kontan beranjak dari kegiatan bersandarnya.


Ditatapnya benda kayu itu dengan ngeri.


Huaa.... Safa gak tahan lagi mau menjerit.


Safa mengacak rambut sambil menghentak kaki. Jangan tanya mukanya sudah semerah apa. Sebenarnya dia sengaja beralasan ke kamar mandi karena merasakan tanda-tanda pipinya akan merona. Benar saja, ketika dia menoleh ke arah cermin, wajah hingga telinga Safa sudah berubah warna.


Bunda, anakmu terancam diabetes.


...............


"Maaf, Abang belum bisa ke sana. Baru keluar Ayah sudah merecoki pekerjaan. Nanti Abang cari waktu luang buat ke Bandung." Dava berucap dengan wajah menyesal.


Safa tersenyum menatap layar iPad-nya. Matanya berkaca, terharu melihat abangnya sudah keluar dari penjara. "Gak papa, Bang. Safa baik, kok, di sini. Ada Ayah dan Kak Rey juga. Safa senang Abang sudah bebas. Hiks."


Akhirnya dia menangis juga.


"Selamat, ya, Bang. Sekarang Abang bisa traktir Safa lagi...."


"Tega kamu, Dek. Abang baru keluar dari tahanan, kamu sudah niat mau rampok Abang. Kenapa gak minta pacar kamu aja?"


"Pacar?" tanya Safa bingung.


Dava mengarahkan matanya ke belakang Safa. Safa melirik dari layar iPad-nya, seketika dia melotot mendapati Edzar berjalan mendekat. Wajah pria itu datar seperti biasa, benar-benar seakan tanpa dosa. Safa lupa tadi Edzar pamit beli rokok. Dia tak mengantisipasi kedatangannya yang tiba-tiba.


Kalau sudah begini mau bagaimana?


Safa meringis menatap kembali abangnya. "Itu... Ayah minta Om Edzar temenin Safa di sini. Kebetulan Om Edzar ada pekerjaan juga di Bandung. Ya 'kan, Om?" Diliriknya Edzar yang kini berdiri di sampingnya.


Safa memberi tatapan memelas agar Edzar mau bekerja sama.


"Masa, sih? Harus banget kebetulan gitu?" Dava menyipit curiga. Sudah jelas alasan Safa tidak masuk akal. Meski benar Edzar ada pekerjaan, untuk apa dia ada di villa keluarga Halim? Kan bisa check in hotel.


"Ai-"


"Abang sudah dulu, ya. Nanti Safa telepon lagi!" seru Safa buru-buru memotong kalimat Edzar. Di saat seperti ini dia merasa Edzar begitu polos, tidak tahu atau lebih tepatnya tidak peduli situasi.

__ADS_1


Safa menghela nafas melempar iPad itu ke sampingnya, di atas sofa ruang tengah yang ia duduki. Wajahnya merengut melirik Edzar, matanya yang minim semakin menyipit mendapati Edzar yang tampak biasa saja.


Kenapa pria itu tidak mengerti juga?


"Om-"


"Uda," potong Edzar.


Safa berkerut melihat ekspresi kaku pria itu. Bukankah seharusnya dia yang marah?


"Bukankah Safa sudah bilang soal hubungan kita? Jangan beritahu siapapun dulu. Kenapa Uda seolah gak ngerti? Atau Uda memang gak peduli?" cerocos Safa sembari berusaha membiasakan diri dengan panggilannya.


Mata mereka saling bertatapan, sebelum kemudian Edzar mengalihkan pandangan, duduk di lengan sofa samping Safa.


Pria itu menghela nafas, kepalanya menunduk menatap lantai. "Memangnya kenapa, sih, Ai. Sampai kapan?" Edzar menoleh. "Sampai kapan kamu mau menyembunyikan aku seperti ini?" ucapnya rendah dengan mata menghunus tajam.


Safa terdiam. Entahlah, dia masih belum sepenuhnya percaya dengan Edzar. Safa memang senang dan berdebar jika mereka berdekatan. Tapi tidak tahu kenapa hatinya masih ragu. Safa ragu dengan perasaan Edzar yang sebenarnya seperti apa.


"Ai, dulu kamu mengejarku sedemikian rupa. Aku mengerti, mungkin sikapku lah yang membuatmu seperti ini. Tapi aku serius dengan hubungan kita. Bahkan kalau perlu aku akan menikahimu saat ini juga agar kamu percaya."


"Aku tidak pernah main-main, apalagi menyangkut perasaan."


"Jika kamu memang belum yakin dengan perasaanku, aku siap menunggu. Tapi tolong jangan bersikap seperti aku ini orang asing bagimu."


"Aku merasa seperti seorang simpanan, kamu tahu?"


"Jika kamu memang ingin merahasiakan hubungan kita dari publik, tak apa. Tapi tidak di depan orang tuamu, keluargamu."


"Bisakah?" Edzar memohon.


Safa pun hanya bisa bungkam dengan hati bimbang. Edzar meraih jemarinya untuk diusap pelan. "Ai, dalam sebuah hubungan harus ada kepercayaan. Jika kamu saja tidak bisa mempercayaiku, bagaimana aku bisa berjuang mempertahankan? Maksudku, kamu boleh saja hanya diam, biar aku yang maju. Kamu cukup memberi kepercayaan padaku. Bisakah kamu melakukannya?"


"Aku hanya butuh kepercayaanmu, Ai."


Diangkatnya pelan dagu Safa hingga menatap ke arahnya, jemarinya menari di atas pipi.


Safa terpaku, hatinya masih diliputi keraguan. Tapi, kalau bukan sekarang kapan lagi ia akan keluar dari zona nyaman. Safa berusaha mengenyahkan ketakutannya, menekan bayang-bayang menakutkan akan kekecewaan.


Baiklah, Safa akan coba. Safa membalas genggaman Edzar di tangannya. Bibirnya mulai menyungging meski sedikit ragu. Jika Safa masih stuck, bisa saja dia kehilangan Edzar sewaktu-waktu. Dan Safa tidak mau hal itu terjadi.


Ditatapnya mata Edzar yang redup. Tangannya terangkat meraih jemari Edzar yang berdiam di pipinya. Ludahnya ia teguk sebelum memutuskan membuka suara.

__ADS_1


"Bantu aku," lirih Safa. "Uda."


__ADS_2