
Bibir Safa mengerucut sebal, matanya tak lepas menatap ponsel dengan sengit. Sesekali dia menggerutu tak jelas, Nyonya Halim yang sedari tadi melihat pun hanya menggeleng.
"Edzar juga punya kesibukan. Ngapain kamu pantengin terus kayak gitu? Nanti juga kalau udah senggang pasti dia hubungi."
"Katanya cuti seminggu buat di sini?"
"Cuti juga dia tetap menghandle beberapa kerjaan. Cobalah mengerti."
Safa mendelik, "Kok, Bunda jadi belain dia?"
"Bukannya kemarin nasihatin Safa supaya gak terlalu sayang sama A Uda?"
"Ya itu, itu maksud Bunda. Tapi melihat sikapmu yang sekarang, kamu malah seperti wanita posesif yang menyebalkan. Biasa aja. Jadilah wanita elegan yang dirindukan prianya."
"Mau Bunda kasih tips?"
"Tips apa?"
"Supaya Edzar makin tergila-gila padamu dan merindukanmu setiap waktu."
"Bagaimana?"
Nyonya Halim mendekat dan duduk di samping Safa, di sofa panjang ruang rawat yang terletak dekat jendela. Pemandangan asri halaman rumah sakit sangat menyenangkan untuk dilihat, terutama pagi hari seperti ini.
Pluk.
Wanita itu menempatkan tangannya di atas paha Safa. Matanya menatap sang putri penuh arti. Safa menunggu harap-harap cemas.
"Jadilah agresif sesekali, di waktu-waktu tertentu. Seperti saat Edzar akan pulang, atau saat-saat kalian akan berpisah."
"Beri dia sesuatu yang sulit dilupakan."
"Sesuatu yang sulit dilupakan? Contohnya?" tanya Safa bingung.
Nyonya Halim menggerakkan tangan menggerayangi tubuhnya sendiri. Dari leher turun ke dada, sembari matanya mengedip nakal. "Sentuhan dan ciuman. Itu sangat mampu membuat pria manapun mabuk kepayang."
Kedip-kedip.
Safa menatap polos setengah datar bundanya. "Bunda, kata Ayah itu tidak baik dilakukan oleh pasangan yang belum menikah."
Seketika Nyonya Halim mendecak, "Ya jangan bilang-bilang ayahmu, dong!"
"Halah, sekarang aja dia bisa bilang begitu. Orang dulu saja dia goyah sama godaan Bunda," lanjutnya bergumam. Namun masih mampu terdengar jelas.
"Maksud Bunda?"
Nyonya Halim menoleh, "Asal kamu tahu, ya. Dulu ayahmu itu culun, takut.... banget sama yang namanya perempuan. Kayak alergi gitu."
"Bunda yang lihat geregetan, dong. Bunda iseng, tuh, godain. Sikit-sikit, lah. Cuman toel-toel aja,"
__ADS_1
"Setelah sekian lama kami jauh lebih dekat, Bunda tambah lah kadar godaannya, sesekali cium pipi dia di akhir pertemuan."
"Efeknya sangat dahsyat! Ayahmu selalu kepikiran Bunda setiap saat. Ke sananya ayahmu yang malah lebih agresif. Dia bahkan berani cium bibir Bunda. Setiap bertemu yang diminta pasti itu."
Sebentar, kalau ini Edzar juga sama, dia selalu minta ciuman dari Safa. Apa semua lelaki suka ciuman, ya?
"Dan kamu lihat sendiri, kan, sekarang ayahmu bucin banget sama Bunda?" ucap Nyonya Halim bangga.
"Masa, sih, Ayah seperti itu dulu?"
"Kamu gak percaya? Nih, bunda kasih lihat fotonya saat masa kuliah dulu."
Nyonya Halim mengotak-atik ponsel, membuka galeri dan memperlihatkan pada Safa sebuah potret yang diambil dari album foto usang. Tampak seorang lelaki dengan celana cutbray dan kemeja gombrong serta kacamata besar yang bertengger di wajahnya.
Safa mengernyit, apa benar ini ayahnya? Kenapa terlihat beda sekali? Yang Safa tahu saat ini, Tuan Halim begitu tampan dengan penampilan necis dan klimis. Masa, sih, pria kurus di foto itu adalah ayahnya. Tapi dari kontur wajah memang agak mirip, terlebih mata tajamnya yang terhalang kacamata.
"Ini benar Ayah, Bunda?"
Nyonya Halim mengangguk, "Tentu saja. Kamu pikir siapa yang punya alis menukik seperti itu?"
"Hah, pasti tidak akan ada yang menyangka pria dengan wajah seperti itu hobinya menyusu," celoteh Nyonya Halim tanpa sadar.
Safa tersentak, sedikit memundurkan kepala menatap bundanya. "Apa? Me-menyusu?"
"Iya, menyusu. Ayahmu sangat menggilai dada Bunda yang montok ini," ucap Nyonya Halim seraya menyentuh bagian tubuhnya itu dengan bangga.
"Bersyukurlah kamu, Bunda menurunkan bentuk sempurna pa*yu*dara ini padamu. Besar juga, ya." Safa berjengit ketika sang bunda menepuk-nepuk dada bulat Safa dengan tangannya. "Bunda apaan, ih, geli tau!"
"Bunda!!!" jerit Safa malu.
"Sepertinya kalian memang harus segera dihalalkan. Kasian Edzar, pasti dia sering menahan diri, terlebih kamu cukup terbuka jika berpakaian."
.............
Malam harinya, Safa kembali dibuat kesal oleh Edzar yang lagi-lagi hilang kabar.
"Tuh, kan.... Ngilang lagi. Kemarin aja manis-manis. Sekarang malah susah dihubungi. A Uda sebenarnya ke mana, sih?" Safa merengut meremas ponselnya geregetan. Ingin sekali dia remukkan benda pipih itu saat mengingat wajah datarnya yang watados.
"Gak tau apa, Safa bosan di sini. Bunda juga gak biasanya tinggalin Safa selama ini. Kenapa sekarang gak balik-balik? Katanya cuman sebentar, beli kwetiau doang. Mana? Ini bahkan sudah hampir satu jam."
Safa memanyunkam bibirnya, dia kesal sekali. Acara TV tidak ada yang seru, semuanya membosankan.
Dilihatnya kembali ponsel yang saat ini menyala-nyala di genggamannya. Nama Edzar berkedip-kedip, akhirnya setelah sekian jam pria itu menghubunginya.
Safa segera menggeser gambar kamera itu ke atas. Nampaklah wajah Edzar yang tersenyum di balik layar.
"Malam, Sayang. Maaf Uda telat lagi kabari kamu," ucapnya merasa bersalah.
Safa merengut. "Menangnya A Uda ke mana? Katanya cuti, kok sibuk terus?" ketusnya.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang harus Uda urus. Maaf, ya."
"Kamu sudah makan?"
Safa diam tak menjawab.
"Ai?"
Masih hening. Edzar pun menghela nafas. "Kamu mau Uda ke sana?"
Tidak ada respon, tapi Edzar tahu apa yang harus dia lakukan. "Baiklah, Uda ke sana sekarang, ya?"
Pria itu bangkit, nampak kamera ponselnya menampilkan dia tengah berjalan. Sejenak yang Safa lihat hanya langit-langit kamar, sebelum kemudian Edzar muncul lagi dengan jaket kulit yang sudah terpasang di tubuhnya.
Omong-omong, Edzar tinggal di salah satu hotel di Bandung, jaraknya cukup dekat dari rumah sakit. Sekitar lima belas menit dengan kendaraan.
"Jangan matiin," lirih Safa saat Edzar akan memasuki mobil. Pria itu tersenyum, "Enggak, Sayang. Uda simpan di sini." Edzar meletakkan ponselnya di atas dashboard, entah apa pria itu menggunakan tripod kecil untuk menahannya? Sata tidak tahu. Yang pasti ponsel itu tepat menghadap wajah Edzar yang kini tengah sibuk memundurkan mobil.
"Bunda kamu ke mana? Kamu sendirian?"
Safa mengangguk, bibirnya maju beberapa senti. Edzar terkekeh sesekali meliriknya. Dia tetap harus fokus dengan kemudi.
"Mau dibawain apa?"
Safa nampak berpikir sesaat, "Lumpia basah, gimana?"
"Lumpia, ya?" Edzar mengangguk. "Oke, kayaknya ada di depan, nanti kelewatan. Mau apa lagi?"
"Mau Smoothie Mangga."
Terdengar decakan dari mulut Edzar. "Kenapa gak bilang dari tadi? Tau gitu Uda bikinin di hotel."
Safa memutar matanya malas, "Ya tinggal beli aja, sih. Ngapain mesti repot bikin?"
"Kamu belum tahu, sih. Buatan Uda dijamin lebih enak ketimbang beli."
Sontak Safa mencibir. Selain suka memaksa, Edzar juga sangat percaya diri.
"Matiin dulu, ya. Uda mau turun."
"Ngapain?"
Hampir saja Edzar memutar bola mata seperti yang sering Safa lakukan padanya. Beruntung kesabaran Edzar lebih tinggi dan terlatih.
"Kan kamu mau lumpia, Sayang...." ucapnya gemas.
Safa nyengir tanpa rasa bersalah, "Oh iya, hehe. Ya udah, jangan lama-lama. Perawat di sini ganteng-ganteng. Memang, ya, orang Bandung itu beda. Gak nyesel Safa pindah ke sini, sekalian cuci mata."
"Dadah Uda..... Muah." Tut. Safa segera memutus sambungan sebelum Edzar mengamuk.
__ADS_1
Hihi, pasti pria itu sedang cemburu sekarang. Siapa suruh mengabaikannya? Lihat saja, Safa akan buat Edzar uring-uringan nanti. Seperti kata bundanya.