
Safa masih hanyut dalam dunianya ketika Edzar menoleh. Lelaki itu mengernyit heran melihat Safa yang masih standby di depan rumahnya. Gadis itu senyum-senyum sendiri entah memikirkan apa.
Tanpa Edzar tahu hati Safa blingsatan bisa bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan lelaki itu. Dari kemarin Safa menanti hingga jadi penunggu balkon selama 2 jam.
Tapi takdir malah menghendakinya sekarang. Tak apa. Yang penting keinginannya sudah dipenuhi oleh Tuhan. Tinggal minta restu dan meminta agar Edzar menjadi jodohnya.
Oke, Safa. Ini masih permulaan, kamu harus sabar.
“Ada lagi?”
“Hah?” Safa mengangkat alisnya mendengar suara Edzar.
Senyumnya masih belum luntur, matanya berkedip lucu melihat Edzar tahu-tahu ada di depannya.
Edzar menghentikan sejenak kegiatannya untuk melihat Safa.
“Ada lagi yang tertinggal di rumah saya?”
“Hati Safa yang tertinggal,” jawabnya spontan.
Lelaki itu mengernyit. Safa yang tersadar langsung memukul pelan bibirnya yang kurang ajar.
“Hehe. Maksud Safa gak ada yang tertinggal, kok,” timpalnya meringis lebar.
“Lalu?”
“Lalu apa?” tanya Safa bingung.
“Kenapa kamu masih di sini?” Edzar lebih bingung.
“Oh ... Haha, itu ... Safa juga mau dimandiin, hehe ...” ujar Safa sambil menggaruk rambutnya.
Lagi-lagi dia keceplosan. Safa mengigit bibirnya pelan. Ia mendongak menatap Edzar yang berekspresi datar. Minta banget Safa ciumin, eh.
“Maksud Safa, Safa juga mau mandi kayak mobilnya Mas Edzar. Iya, itu. Gerah aduh ...”
Gerah pagi-pagi gini udah lihat yang hot. Safa mengibas-ngibas kerah piyamanya.
Safa kembali meringis melihat Edzar yang diam saja. Ternyata Pak Jaksa cukup nyeremin. Tapi Safa suka, bikin greget. Safa jadi penasaran bagaimana lelaki itu saat bekerja.
__ADS_1
“Mas Edzar biasa berangkat jam berapa?” tanya Safa mengalihkan topik.
“Tujuh,” jawab pria itu singkat.
“Oh ...” Safa mengangguk. “Kemaren kok gak keliatan?” lanjutnya heran.
Edzar mengernyit karena gadis di depannya terkesan banyak tanya. Namun begitu dia tetap menjawab “Kemarin saya di Depok.”
“Oalah ... Pantesan Safa tungguin gak muncul-muncul,” gumam Safa pada diri sendiri. Namun sepertinya masih bisa di dengar oleh Edzar.
“Kamu nungguin saya?” tanya Edzar dengan alis berkerut.
Safa mengulum senyum. Pertanyaan itu entah kenapa terdengar romantis. Apalagi kalau diucapkan di dalam rumah saat lelaki itu pulang kerja. Safa sering dengar ayahnya berkata hal yang sama saat bundanya menunggu di ruang tamu.
Berbeda dengan Safa, Edzar berpikir gadis itu menunggunya karena ingin mengambil rantang.
Lagi asik-asiknya kasmaran, tiba-tiba jelangkung muncul tanpa diundang. Dava berdiri di gerbang rumah dengan tatapan tajam. Abangnya itu sudah rapi dengan setelan kantornya. Ganteng, tapi sayang masih lebih ganteng Pak Jaksa di hadapannya.
“Dek, ngapain kamu di sana? Dicariin juga. Bikin panik orang rumah aja, sih. Pulang, Ayah misuh-misuh tuh anak ayamnya ilang.”
Anak ayam yang dimaksud adalah Safa. Memang saat dia keluar tadi, orang rumah belum pada keluar kamar. Hanya ada Bik Inem yang sudah sibuk di dapur.
“Apa, sih. Safa bukan anak ayam,” ujarnya dengan bibir mengerucut.
Dava berdecak menghampiri adiknya yang mirip anak TK. “Ayo pulang. Manyun-manyun gitu depan orang. Gak malu, kamu?”
Tatapannya beralih pada Edzar yang masih berdiri diam menatap mereka. Sejenak Dava mengamati lelaki itu dengan seksama. “Mas ini tetangga baru itu, ya?” tanyanya.
Edzar hanya mengangguk “Betul.”
“Wah ... Salam kenal, ya, Mas.” Dava mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Edzar.
Dalam hati Safa merutuk keras. Abangnya yang baru beberapa detik saja sudah bisa berjabat tangan. Lah, dia yang dari tadi di sini boro-boro salaman, nyentuh seujung kuku pun belum.
“Maaf, ya, Mas. Adek saya memang suka caper. Kegatelan orangnya.”
Safa memukul qbangnya cukup keras. Bibirnya cemberut pertanda ia kesal. Bisa-bisanya Dava buka kartu sebelum bertanding. Safa ‘kan baru mulai penjajakan.
“Safa abis ambil rantangnya Bunda, tau!” kata Safa memberi alasan.
__ADS_1
Dava menoleh “Sejak kapan kamu peduli sama rantang?” tanyanya malas. Kayak gak tahu aja gimana adiknya kalau lihat cowok ganteng.
“Balik, sana. Ayah nyariin, Bunda juga.”
“Sejak kapan Bunda nyariin Safa?” balas Safa membalik pertanyaan Dava.
“Banyak nanya ya kamu. Pulang aja kenapa?”
Safa merengut. Gak tahu apa dia lagi betah-betahnya di sini. Kapan lagi coba bisa ngobrol bareng Edzar.
Ya ... Meski pria itu kaku kayak kecimpring mentah. Tau kecimpring mentah? Itu, lho. Yang suka dibuat keripik kaca. Kata Kamila, sih, gitu. Gak tau benar enggaknya.
“Abang nyebelin.” Safa menghentakkan kakinya kesal. Dia pulang meninggalkan dua orang pria yang menatapnya dengan ekspresi berbeda.
Dava menggeleng. Umur Safa 22 tahun. Tapi yang dia lihat, Safa kayak bocah 3 tahun yang sering merengut dan merajuk. Entah dapat dari mana sifatnya itu.
Matanya kembali beralih pada Edzar yang setia mematung. Dava tersenyum tak enak karena lelaki itu harus melihat perdebatannya dengan sang adik.
“Maaf ya, Mas. Aktivitasnya jadi keganggu. Saya permisi. Selamat datang di komplek kami. Semoga betah.”
Ya, semoga betah. Apalagi Dava yakin setelah ini Safa gak akan bisa diam karena di sebelah rumahnya ada pria tampan yang kabarnya single.
Bocah pecicilan itu pasti akan melakukan segala cara untuk menarik perhatian Si Tetangga Baru. Karena sebenarnya Safa itu pantang menyerah kalau mengenai sesuatu yang diinginkannya.
Sementara di sisi lain, Edzar menatap kepergian kakak beradik itu dengan datar. Orang-orang aneh. Pikirnya.
Ia pun lantas kembali ke halaman rumahnya untuk mencuci mobil. Edzar sudah terlambat dari waktu biasa ia berangkat.
Saat tengah mengelapi badan mobil, tiba-tiba sebuah teriakan mengejutkannya.
"Mas Ganteng!"
Edzar mendongak. Tepatnya pada lantai dua rumah sebelah. Gadis itu berdiri di sana. Melambaikan tangan ke arahnya. Tak lupa senyuman lebar yang membuat mata sipitnya hilang ditelan kelopak yang melengkung karena tersenyum.
Sesaat keduanya saling pandang. Sebelum kemudian Edzar melengos, melanjutkan kembali aktivitasnya yang lagi-lagi tertunda.
Di atas sana Safa merengut. "Hih, judes banget sih. Untung ganteng," gumamnya dengan bibir monyong sana-sini.
"Mas Ganteng semangat kerjanya, ya! Fighting!" Safa tetap berseru meski Edzar tak menghiraukannya.
__ADS_1
Aduh, sungguh pagi yang indah. Tak apa-apa belum bisa pegang. Yang penting interaksi mereka sudah dimulai.