
"Pelan-pelan, Ai."
Safa tak menggubris, dia memakan lumpia itu dengan lahap. Sumpitnya aktif bergerak mengaduk topping berupa beef and cheese. Edzar juga membelikannya smoothie mangga sesuai permintaan Safa.
"Uhuk!"
"Tuh, kan. Uda bilang pelan-pelan." Dengan sigap Edzar menyerahkan air putih yang sebelumnya sudah dia siapkan.
Safa meneguk rusuh air itu. Edzar menggeleng, tak tahu harus memperingatkan bagaimana lagi. "Makan dan minum itu harus pelan-pelan, supaya tidak tersedak."
Safa menghela nafas lega, menyusut tepian bibirnya dengan punggung tangan. "Safa lapar. Makanan rumah sakit gak enak. Bunda juga belum balik-balik," keluhnya.
Edzar mengulas senyum mengerti. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala Safa. "Makanlah. Habiskan, tak perlu terburu-buru. Makanan akan terasa lebih nikmat jika kita mengunyahnya dengan pelan. Berikan lidahmu kesempatan untuk meresapi seluruh rasa yang kamu makan," ucapnya halus.
"A Uda gak makan?" Safa melirik satu lumpia lagi dengan topping teriyaki. Sayang sekali di sana ada toge-nya. Safa gak suka, jadi dia pilih yang beef saja.
"Ini Uda makan," ucap Edzar lantas mengambil lumpia itu dan mulai mengaduk isiannya.
Mereka makan bersama di sofa panjang dekat jendela. Lampu ruangan sengaja Safa matikan. Dia ingin menikmati ini bersama Edzar murni dengan cahaya bulan yang bersinar di luar. Romantis sekali, bukan?
Keduanya bungkam dalam keheningan. Meski begitu mulutnya tak henti saling melempar senyum. Sesekali Edzar menyelipkan rambut Safa ke belakang telinga karena terlihat mengganggu saat gadis itu makan.
Sungguh suasana yang menyenangkan, lebih dari mereka saat di taman kemarin.
"Beef-nya enak?" tanya Edzar melirik punya Safa.
Safa menoleh, "Enak. A Uda mau coba?"
Edzar mengangguk, lantas Safa mengambil sepotong dengan sumpitnya, mengarahkannya pada mulut Edzar.
Edzar menerima suapan itu dengan netra tak lepas dari Safa. Mata mereka bertemu, dan Safa tak bisa menahan debaran jantungnya melihat tatapan Edzar yang begitu lekat.
"Lagi," ucap Edzar setengah berbisik.
Sedikit salah tingkah, Safa kembali mencomot potongan beef itu dan bersiap menyuapkan kembali pada Edzar. Namun pria itu menggeleng, membuat Safa keheranan saat itu juga.
__ADS_1
Katanya lagi?
"Uda tidak mau disuapi dengan itu."
Safa berkedip, "Lalu?"
"Geser," titah Edzar.
"Geser sini, Ai," ulangnya karena Safa masih tak bergeming.
Seolah baru mengerti, Safa pun menggeser duduknya mendekati Edzar, mengarahkan lagi sumpitnya. Tapi lagi-lagi Edzar menggeleng dan membuat Safa kesal. "A Uda maunya apa, sih? Disuapin aja kok mesti repot?"
Edzar tak menggubris protesan Safa. Dia mengambil alih sumpit itu, lalu mengarahkannya pada mulut Safa. Tentu saja Safa heran. Belum sempat dia protes lagi, wajah Edzar mendekat, sontak Safa terkesiap. Lelaki itu menatapnya sesaat, sebelum kemudian Safa merasa sesuatu mengambil potongan beef itu dari bibirnya.
Safa termangu menatap Edzar yang tengah mengunyah, sambil terus menghunusnya dengan tatapan tajam memikat. "Enak," ucapnya, kemudian menjulurkan lidah menjilat belah bibir Safa yang terbuka, membersihkan sisa saus yang menempeli permukaan kenyal nan lembut itu.
Setelahnya Edzar kembali menjauh, tersenyum menatap Safa yang mematung. Wajahnya nampak polos dengan mata berkedip pelan. Sepertinya gadis itu masih terkejut.
"Bibir kamu sama halnya nikotin, sama-sama membuat Uda candu. Tapi, sepertinya Uda bisa berhenti merokok asal terus mencicipinya."
Hening. Safa masih tak bereaksi atas aksi Edzar. Melihatnya Edzar mendenguskan senyum dan kembali makan. Tanpa diduga tiba-tiba Safa memegang pergelangan tangannya, menghentikan Edzar yang akan kembali menyuap.
Tapi kali ini tidak, Safa malah mengangguk dengan polosnya.
Edzar berkedip, "A-apa, kamu mau lagi?"
Safa mengangguk.
"Maksud Uda yang tadi."
Safa kembali mengangguk. Dan Edzar dibuat tak habis pikir dengan Safa yang tiba-tiba berpindah ke pangkuannya. Sontak Edzar memegang pinggang gadis itu, tentu sebelumnya Edzar mengamankan makanan mereka ke pinggiran sofa.
"Ai?"
"Safa mau lagi, yang tadi. Ternyata gaya makan seperti itu cukup menyenangkan," ucapnya sekonyong-konyong.
__ADS_1
Mata Edzar membelalak. Kenapa sekarang jadi dia yang salah tingkah?
Edzar tertawa garing, terlebih saat Safa mengambil piring yang Edzar letakkan di samping mereka. Gadis itu mulai menyumpit daging ke mulut, lalu perlahan mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dari Edzar.
Ia menelan ludah. Apa yang sebenarnya tengah Safa lakukan. Edzar selalu senang melihat gadis itu gugup karena perlakuan agresifnya. Tapi Edzar tak pernah mengira Safa akan melakukan hal ini juga padanya.
"A-ai? Kamu-" Perkataan Edzar harus berhenti kala bibir Safa menempel di bibirnya.
Sejenak Edzar mematung, berkedip berusaha bangun dari keterkejutan. Matanya menatap tepat di bola mata Safa. Gadis itu sama menghunusnya dengan tatapan menggoda. Apa-apaan ini. Safa tengah merayunya?
Baiklah.
Edzar mengambil potongan beef itu dengan giginya. Dia tak lantas menjauhkan wajah saat mengunyah, sesekali lidahnya menjulur menjilati permukaan bibir Safa yang menyisakan bumbu.
Mata gadis itu terpejam. Dan Edzar tidak bisa untuk tidak mencecapnya lebih dalam. Setelah menelan kunyahan, dia langsung meraup bibir penuh itu dan merasakan kekenyalannya yang menggoda.
Edzar memagut, menyesap, dan menggigit bibir itu penuh kehati-hatian. Dia takut karena sebelum ini Safa sempat mengalami pelecehan. Walau dia tidak yakin apa saja yang disentuh bajingan itu. Mengingatnya seketika emosi Edzar meluap.
Edzar memperdalam ciuman saat mendapati undangan dari Safa. Gadis itu membuka mulutnya, melakukan hal yang sama seperti yang Edzar lakukan padanya. Edzar menggeram merasakan Safa yang tidak pasif lagi. Meski gerakannya terkesan berantakan dan tak beraturan, namun hal itu justru membuat libidonya meningkat.
Edzar melepas ciuman mereka. Nafas Safa terengah meraup oksigen. Diusapnya pelan kening gadis itu, menyingkirkan anak rambut yang berhamburan ke depan.
Sangat cantik. Entah berapa kali Edzar menggumamkan kata ini dalam hati.
"Sudah cukup, nanti ada yang lihat," bisik Edzar.
Safa pun menyingkir, dia turun dari pangkuan Edzar. Edzar pikir Safa akan lanjut makan, namun gadis itu malah pergi ke arah pintu.
Klik.
"Ai, ngapain kamu kunci pintu?" tanya Edzar heran. Ini terasa dejavu. Ingat saat Safa loncat ke balkon kamarnya? Gadis itu juga melakukan hal yang sama seperti saat ini.
Safa kembali menduduki paha Edzar. Lelaki itu terjengit saat bibir Safa kembali mampir menciumnya. Gadis itu mengecupnya pelan, menge*mut bibir bawah Edzar sedikit lama.
Edzar mematung. Berusaha mencerna apa yang sebenarnya tengah Safa lakukan. Ia mengerjap saat Safa menjauhkan wajah, rautnya merengut, seketika membuat Edzar bingung.
__ADS_1
"Ada apa?"
Safa semakin manyun, "Ciuman Safa gak enak, ya? Kenapa A Uda gak balas cium Safa~" rengeknya.