SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 12


__ADS_3

Ucapan Edzar cukup memberi jawaban untuk rasa penasaran Rizkia. Melengkapi asumsinya mengenai seseorang yang disukai Safa sebelumnya.


Sebenarnya Rizkia hanya asal menebak. Namun siapa sangka ternyata itu benar. Edzar adalah pria yang dimaksud Safa sebagai ‘calon’.


Sayangnya Rizkia mencium aroma-aroma cinta sepihak di sini. Tak perlu ditanya siapa yang sedang jatuh cinta. Tanpa menggunakan kacamata pun semua orang bisa tahu aura merah muda itu melingkupi sepupunya, Safana Halim.


Safa itu ibarat buku yang terbuka. Perasaannya bisa terbaca hanya dari wajahnya saja.


Lain hal dengan Rizkia, hati Safa begitu girang saat kulitnya bersentuhan dengan Edzar untuk pertama kali. Tangan besar Edzar terasa kasar dalam genggamannya. Dengan kurang ajarnya Safa malah membayangkan sentuhan lain di tubuhnya.


Sial. Berhenti berpikiran tak senonoh, Safa! Ke mana rasa resahmu yang hadir beberapa saat lalu?


Kenapa sekarang hatinya malah dangdutan hanya karena memegang Edzar. Ini baru tangan, belum yang lainnya. Safa tak bisa bayangkan semenyenangkan apa jika bercumbu dengan Edzar.


Haish, lagi-lagi pikiran Safa jorok. Astaghfirullah, sadar Safa. Kehaluanmu sungguh berbahaya.


“Ehm.” Edzar berdehem canggung.


Rizkia menyenggol bahu Safa saat dilihatnya gadis itu tak juga melepaskan tangan Edzar. Suka sih suka, tapi gak usah bersikap norak juga, bikin malu saja.


Bersamaan Safa yang menarik tangannya dengan berat hati, seseorang muncul menghampiri mereka. Pria jangkung itu sedikit banyak mirip Edzar, pasti saudaranya.


Ya iyalah, Safa. Yang hadir di sini ‘kan cuma dua keluarga. Kalau gak saudara kamu, ya saudara Edzar.


“Kalian keponakan Mbak Mira?”


“Kenalin, saya Reno, adik Bang Tirta dan Bang Edzar,” ucapnya sembari mengulurkan tangan.


Nah, benar ‘kan?


“Rizkia.”


“Safa.”


Mereka saling berjabat tangan satu sama lain.

__ADS_1


Seperti pada kebanyakan cowok ganteng lainnya, mata Safa sama berbinarnya saat melihat Reno. Jika dibandingkan dengan Edzar, Reno ini pembawaannya lebih hangat. Tipe-tipe yang cepat bikin melting.


Gila, sih. Keluarga Edzar berkah banget. Bibit unggul semua ini. Sepanjang yang Safa lihat, dia tak menemukan satupun yang jelek di antara mereka.


Wah ... kalau begini ceritanya, kelak Safa bakal puas cuci mata.


Kayaknya sebagian besar keluarga Edzar laki-laki. Safa tak melihat perempuan kecuali para orang tua. Ada satu orang, sih. Itu pun sudah momong anak.


Safa menyeringai dalam hati, kalau dia gak dapat Edzar, dapat saudaranya pun tak masalah, hihi.


Tapi tenang aja, untuk saat ini hati Safa masih tertambat pada Mas Edzar seorang.


Kedatangan Reno sedikit menghapus kecanggungan yang terjadi. Mereka sedikit terlibat obrolan. Lebih tepatnya Rizkia dan Reno yang berbincang. Safa sesekali menanggapi kalau mengerti. Sedangkan Edzar sepenuhnya diam jadi pendengar. Safa jadi gemas sendiri sama Mas-mas satu ini.


“Oh ... jadi Dokter Rizki itu suami kamu? Saya kenal beliau saat Medical Check Up di perusahaan. Agak terdengar lucu, ya. Istrinya Rizkia, suaminya Rizki,” kelakar Reno yang membuat kami tertawa.


Memang benar, dari dulu Safa selalu tak habis pikir dengan takdir Rizkia yang memiliki kebetulan tak biasa itu. Kadang Safa berpikir kalau dia di posisi Rizkia, kira-kira siapa nama jodohnya. Safar?


................


“Safa gak mau nginep di rumah Oma. Rumah Oma angker, ada hantunya ...”


Rengekan Safa membuat suasana teras Oma Halim jadi hening. Acara sudah selesai beberapa menit lalu, kini mereka sedang berkumpul di halaman hendak pulang.


Tapi sial bagi Safa karena tiba-tiba Dava dapat kabar dari rumah sakit, orang tua pacarnya kecelakaan. Tuan dan Nyonya Halim berniat ikut serta menjenguk keadaan calon besannya.


Sedangkan sore tadi Pak Iwan izin pulang karena anaknya sakit, kemungkinan besok baru kembali.


Kemarin ibunya sekarang anaknya, besok siapa lagi. Bukan niat Safa berpikir tak sopan, hanya saja ia kesal, ngantuk juga.


Rumah Oma? Safa punya trauma tidur di rumah ini. Seperti yang ia bilang tadi, rumah Oma Halim itu angker, Safa pernah mengalaminya sendiri.


Waktu itu Safa terbangun di tengah malam karena mendengar suara aneh, mirip orang yang berjalan menyeret kaki. Safa sampai membangunkan Erina saking takutnya. Sayangnya gadis itu tak dengar apa pun, hanya Safa yang dengar.


Dari sana Safa bertekat untuk menghindari rumah Omanya, setidaknya tidak menginap.

__ADS_1


Kabarnya setelah itu Oma Halim sampai mendatangkan beberapa ustad ke rumahnya. Bahkan menggelar do’a bersama. Tapi tetap saja Safa masih belum berani tidur di rumah Omanya lagi.


“Dek, itu ‘kan kejadian lama. Mana tau setannya udah pulang. Ada-ada aja, kamu.”


Safa mendelik ke arah Dava dengan wajah merengut. Dasar jelangkung, gampang banget ngomongnya. Coba saja dia yang ngalamin, Safa yakin Dava akan kencing di celana.


Oma Halim menatap cucunya sedih, entah setan mana yang sudah menjahili Safa sampai tak mau lagi menginap di rumahnya. “Awas kau, setan. Tak pites lehermu kalau ketemu,” batin Oma Halim.


“Ya sudah, Safa biar aku saja yang antar, Sur. Rumah kita ‘kan searah.”


Semua mata menatap Edi, kakak Tuan Halim yang baru saja bersuara.


“Searah apanya, Mas? Komplek rumahku masih harus belok jauh lagi,” cetus Tuan Halim.


“Ya gak apa, toh. Daripada Safa gak pulang, kasian.”


“Betul, Mas Surya. Safa biar pulang bareng kami saja,” sambung istrinya.


Tuan dan Nyonya Halim menghela nafas, mereka merasa tak enak harus merepotkan Edi dan keluarga.


Masalahnya ini sudah sangat malam, kakaknya itu pasti butuh istirahat juga.


Sedangkan Dava sudah mendumel di tempatnya. Baru sadar punya adik nyusahin banget.


Oma Halim menatap Safa membujuk, “Nak, nginep sini aja, ya? Rumahnya ‘kan udah di do’ain, jadi setannya udah pergi. Kamu tidurnya sama Oma kalo gak mau sendiri, ya?”


"Gak mau, Oma. Dulu aja Safa tidur sama Erina tetep ada setan."


"Ribet banget sih kamu Dek. Udah tidur sini aja, lagian rumah Oma rame, kok. Ada Tante Mira juga."


Miranti mengangguk membenarkan ucapan Dava, "Iya, Safa, kamu tidur sama Tante aja. Dijamin setan gak akan berani mendekat. Atau kamu mau sekamar sama Rizkia juga boleh."


Safa makin merengut, matanya sudah terlihat berkaca. Hal itu membuat Tuan Halim hampir menyerah, dia berniat membawa Safa ke rumah sakit saja ikut mereka daripada harus membuat orang lain repot. Tapi tiba-tiba sebuah suara menyeruak.


“Bareng saya saja, Om. Bukannya rumah kita sebelahan?”

__ADS_1


__ADS_2