SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 112


__ADS_3

"Pak Anjas? Kok, balik lagi?" tanya Safa berusaha biasa saja. Padahal dalam hati dia ketar-ketir.


Lelaki itu terdiam beberapa saat, membuat Safa menelan ludahnya gugup. Sial, bagaimana orang-orang bisa maling di luar sana? Sementara Safa masuk ruangan orang tanpa izin saja sudah begini gagapnya.


"Saya mau memberitahu, orang yang menjemput anda sudah datang."


"Apa?"


Siapa? Orang yang menjemputnya? Padahal Safa hanya beralasan saat mengatakan akan dijemput. Rencananya dia akan naik taksi.


"Oh... Hahaha. Saya kira Pak Anjas sudah pulang. Saya kaget tadi. Mana suasana sepi banget. Bikin merinding, hiiiy...." Safa mengusap-usap lengannya sendiri. Semoga Pak Anjas tidak menyadari kegugupannya.


"Sepertinya anda sudah mau pulang. Lebih baik lekaslah turun."


"Ah, iya! Hehe."


Mereka berdua memasuki lift bersama. Suasana terasa canggung saat keduanya memilih bungkam. Safa masih resah kalau-kalau Pak Anjas tahu apa yang telah dia lakukan. Semoga Tuhan tak setega itu membiarkannya ketahuan.


Duh, kenapa lama sekali.


"Anda dari mana saja?"


"Ya?" kaget Safa.


"Saya sempat mencari ke ruangan, tapi anda tidak ada di sana."


Ruangan siapa? Safa mulai was-was.


"Itu?" Safa berpikir sejenak. "Oh! Saya habis dari toilet dulu tadi."


Lebih baik dia bohong saja.


Pak Anjas kembali bungkam tak bertanya lagi. Memang dasarnya dia kalem dan tak banyak bicara. Persis Edzar, dan sekarang muncul seorang lagi yaitu Galuh. Hah, kenapa hidupnya dikelilingi orang-orang pendiam?


Sampai di lobi, Safa hampir dibuat terjengkang oleh kehadiran seseorang. Inikah yang Pak Anjas maksud ingin menjemputnya?


Orang itu berdiri begitu melihat Safa dan Pak Anjas mendekat. "Sudah selesai? Ayo pulang."


Intonasi rendah bernada halus yang akhir-akhir ini kerap menghampiri telinganya, masih juga belum membuat Safa terbiasa.


Panjang umur, baru saja Safa membicarakannya dalam hati.


Meski sebenarnya dia kesal dengan kehadiran Edzar, namun kali ini sepertinya Safa tak bisa menolak. Ada Pak Anjas, sudah gitu Safa terlanjur bilang akan dijemput tadi. Aneh rasanya kalau Safa bersikap impulsif sekarang.


"Ah, iya." Safa mengangguk pada Edzar. Lalu menoleh pada Pak Anjas yang berdiri di belakangnya. "Pak, kami duluan. Maaf Pak Anjas sampai harus naik lagi. Padalah Bapak bisa telepon saya saja tadi," ucapnya berlagak tak enak hati. Sementara batinnya memaki kenapa pria itu harus kembali.


Pak Anjas mengulas senyum seadanya, "Tidak apa-apa, Nona. Handphone saya kehabisan baterai, jadi saya susul Nona tadi."


"Begitu? Ya sudah, saya pulang, ya, Pak. Pak Anjas juga harus pulang. Bukannya tadi udah ditelepon istrinya?"

__ADS_1


"Tentu, Nona. Mobil saya masih di basement. Anda hati-hatilah di jalan."


"Pak Anjas juga hati-hati. Kalau begitu kami permisi. Mari, Pak, salam buat Ibu dan Adeknya."


Setelah mengatakan itu Safa bergegas menyeret Edzar dari sana. Dia bisa melihat mobil Edzar yang terparkir di halaman.


Buru-buru Safa melepas rangkulannya pada lengan pria itu begitu mereka sampai di samping Fortuner hitam yang terlalu sering Safa lihat.


Safa mendelik karena Edzar tak kunjung menekan remotnya. Bagaimana Safa mau masuk kalau pintunya masih terkunci?


"Ngapain bengong? Buka!" serunya membuat Edzar terkejut.


"Oh, iya." Segera Edzar menekan remot sekaligus membukakan Safa pintu. Padahal Safa gak minta. Sudah gitu sok-sokan mau pasangin sabuk pengaman. Tapi segera Safa tepis. Dasar modus.


"Aku bisa sendiri," ketusnya.


Edzar tak mampu berbuat lebih. Setelah dirasa Safa nyaman dengan duduknya, barulah dia beralih ke kursi kemudi. Melajukan kendaraan tersebut hingga meninggalkan lahan parkir.


Seperti biasa perjalanan mereka terasa sunyi. Edzar ingin menyetel musik tapi takut Safa terganggu. Terlebih Edzar sendiri tidak begitu suka memutar lagu.


Benar-benar suasana yang kaku. Edzar butuh seseorang untuk mencairkannya. Tapi dia ingin mereka berdua saja di mobil ini.


Tak lama suara adzan menyapa pendengaran. Edzar melirik sebentar pada Safa yang meringkuk menghadap jendela. Kening Edzar sedikit berkerut, apa mungkin Safa tertidur?


Mobil berbelok ke pelataran mesjid yang cukup luas. Edzar membuka seat belt dan melirik lagi ke arah Safa yang masih betah dalam posisinya. Dengan hati-hati, Edzar menyentuh dan menepuk bahu Safa dengan pelan.


"Hey."


"Engh...."


Tunggu, sepertinya ada salah. Safa bukan sedang tidur. Edzar yakin barusan gadis itu merintih. Dia tak bisa melihat wajah Safa karena posisinya yang membelakangi.


Sekali lagi Edzar memanggil Safa dan masih tetap sama tak ada jawaban. Malah samar-samar Edzar mendengar Safa mendesis seperti kesakitan.


Dengan raut yang mulai khawatir Edzar mencoba membalik tubuh Safa agar menghadap ke arahnya. Tapi rintihan gadis itu malah semakin parah. Jadi Edzar putuskan untuk keluar dan membuka pintu di samping Safa untuk melihat lebih jelas keadaan gadis itu.


Edzar sukses dibuat terperangah setelahnya. Wajah Safa begitu pucat dan pias. Keringat dingin bermunculan, dan Edzar barus sadar blouse bagian belakang gadis itu basah oleh keringat.


"Safa?" Refleks Edzar menyentuh wajah Safa menyingkirkan anak-anak rambut yang menempel. Tubuhnya condong meraup tisu di dashboard dan lekas menyeka wajah serta lehernya yang bersimbah keringat.


"Hey, Sayang, bangun. Kamu kenapa?" bisik Edzar tak menyadari panggilannya.


Pun Safa yang tak menghiraukan saking tak fokus. "Ssshh... Sakit...." lirihnya sembari meremas perut yang sejak tadi ia peluk.


Edzar menunduk, tangannya terulur mengusap perut Safa perlahan. "Sakit? Kamu balum makan?"


"Tadi makam siang, gak?"


Safa hanya mengangguk sebagai jawaban. Edzar semakin kebingungan sekaligus khawatir. "Terus ini sakit kenapa? Maag kamu kambuh? Kamu mau makan dulu?"

__ADS_1


"Enggak...!" rengek Safa geregetan. Kenapa Edzar terus bertanya makan. Bikin kesal saja.


"Awh.... Huaa.... Sakit....!"


Edzar dibuat gelagapan oleh raungan Safa. Beberapa orang yang lewat mulai memperhatikan mereka. Tidak, Edzar bukan merasa malu, dia lebih ke bingung harus bersikap bagaimana. Dia saja tidak tahu sebenarnya Safa sakit apa.


Sampai seorang ibu-ibu mendekat ke arah mereka dan bertanya. "Mas, itu Mbaknya kenapa?"


Edzar terkejut, "Saya juga belum tahu pasti, Bu. Katanya sakit perut, tapi bukan maag."


Si ibu mengamati keadaan Safa yang belingsatan di dalam mobil. Dia mendekat setelah sebelumnya meminta Edzar menyingkir. Entah apa yang dikatakan si ibu pada Safa. Edzar terlalu kalut takut Safa kenapa-napa. Dia bahkan berpikir untuk segera meluncur ke rumah sakit sekarang juga.


"Owalah.... ini Mbaknya lagi datang bulan aja, kok, Mas."


Edzar menoleh tersentak, "Ya?"


"Biasa sakit perut datang bulan, Mas. Emang suka begitu. Gak semua, sih, cuman beberapa ada yang parah begitu sakitnya."


"Kompres air hangat aja pakai botol. Sakit banget itu pasti. Sampai pucat begitu mukanya."


"Pulang kerja, ya, Mas?"


"I-iya."


"Suruh tidur, nanti juga mendingan kalo bangun."


"Gak perlu ke rumah sakit?" tanya Edzar merasa ragu. Melihat ekspresi Safa yang kesakitan begitu membuatnya tak nyaman.


"Gak perlu. Kalau mau memastikan, ya silakan. Tapi biasanya gak papa, sih."


"Begitu. Kok saya belum lega, ya." Edzar bergumam pelan.


"Mas gak perlu khawatir. Biasanya cuman sehari pas awal haid aja. Selebihnya paling badan lemes dan mudah capek."


"Ya sudah, makasih sudah dikasih tahu, Bu."


"Sama-sama. Kalau begitu saya duluan, ya, Mas, Mari."


Edzar mengangguk dengan seulas senyum. "Silakan."


Pandangan Edzar kembali pada Safa. Dia pun mendekat mengusap wajahnya yang lembab. Rambut gadis itu sudah lepek, pasti sangat tidak nyaman.


"Kamu bawa pembalut?" tanya Edzar.


Safa menggeleng dengan ringisan.


"Ya sudah. Tunggu di sini, ya? Saya gak lama, kok."


Edzar menutup pintu mobilnya dengan hati-hati. Lalu berlari ke warung di seberang jalan.

__ADS_1


__ADS_2