
Safa mengernyit sambil mengunyah, “Aku?” tanyanya setelah menelan makanan.
Kamila mengangguk, “Iya, dia ngotot supaya aku bujukin kamu. Mau, ya? Duitnya lumayan, lho.”
“Ya meski aku tahu saat ini kamu gak butuh. Tapi siapa tahu ini akan bermanfaat buat kamu di masa depan ‘kan? Punya followers banyak itu manfaatin. Daripada rebahan mulu di rumah.”
“Kalau kamu gak bisa sukses lewat pendidikan, setidaknya masih ada jalan lain. Manfaatin itu muka kamu yang secantik idol, pengikut kamu yang bejibun, aku yakin kamu bakalan kaya dengan cara sendiri.”
Kamila asik nyerocos sambil sesekali makan. Sedangkan Safa, untuk pertama kalinya dia merenungkan kalimat orang lain. Jika sebelumnya Safa tak pernah berpikir mencari uang sendiri, entah kenapa kali ini otaknya berpikir lain.
Ada yang aneh, Safa merasa dirinya sudah tidak waras. Sejak kapan dia bisa berpikir sedikit lebih positif. Apa ini pertanda dia sudah dewasa?
Haish, konyol sekali. Safa melahap semua makanan di meja untuk mengalihkan pikirannya. Membuat Kamila mendongak dengan ekspresi bingung. Dia tidak tahu saja ceramahannya berhasil memecut sesuatu dalam diri Safa. Mengendikkan bahu, Kamila lanjut makan tanpa peduli keanehan Safa.
\=\=\=
Safa menoleh pelan pada Kamila, tatapannya seolah menuntut penjelasan. Namun sahabatnya itu malah meringis menggaruk hidung sebelum kemudian mengalihkan pandangan menolak untuk disalahkan.
Safa sudah berkumpul dengan teman-teman Kamila yang lain, sesuai titik temu mereka di depan mall. Namun yang membuat Safa kesal adalah, kenapa Kamila tidak bilang kalau orang itu juga akan ikut?
Tebak siapa yang ada di hadapannya saat ini. Sekarang Safa mengerti kenapa di perjalanan tadi Kamila mendadak bertanya soal mantan. Ya, ini dia alasannya.
Setelah Leo, haruskah Safa juga reuni sama orang satu ini?
“Hai, Safa. Apa kabar?”
Safa hanya tersenyum kaku menanggapi sapaan bernada riang itu. Berbeda sekali dengan ekspresinya yang slengean. Safa yakin dalam hati pria itu tengah menertawakannya.
“Saf, aku gak tau apapun. Dia bukan ngikut aku. Sumpah,” bisik Kamila di telinga Safa.
Safa mendelik dan mencibir, “Matamu gak tau.”
“Kamu gak percaya? Aku taunya pas udah nyampe rumah kamu. Nadine yang bilang.”
Sedetik kemudian Kamila memukul pelan bibirnya, menyadari dia telah membuat kesalahan. Mampus, kenapa harus keceplosan, sih?
“Itu berarti kamu udah tau sebelum kita berangkat. Makanya kamu nanya hal aneh saat di mobil ‘kan?”
Skak mat, Kamila tak bisa lagi membela diri.
__ADS_1
“Ya, emang kenapa, sih? Kalian ‘kan udah gak ada hubungan apa-apa.”
“Lebih tepatnya gak pernah ada hubungan apa-apa,” timpal Safa menegaskan.
“Ya itu tau. Kenapa kamu harus panik?”
“Siapa yang panik?”
“Kamu.”
Safa melotot tak terima, “Aku gak panik.”
“Masa? Kalau enggak, terus kenapa kamu kayak gak nyaman gitu? Santai aja kali.”
Rasanya Safa ingin menggetok kepala Kamila. Siapa, sih, yang bisa santai saat bertemu seseorang yang punya sejarah menyebalkan di masa lalu?
“Kalian ngapain bisik-bisik gitu? Safa, kamu udah kenal Akmal?”
Enggak.
Safa menoleh pada Nadine dan mengangguk. Mau pura-pura gak kenal tapi gak mungkin.
“Kenal lah, kita ‘kan pernah bersama,” ujar Akmal ambigu. Semua orang menoleh padanya, termasuk Safa yang berusaha menahan diri untuk tidak mematahkan leher pria itu. Maksudnya apa, sih, ngomong begitu?
Selain dari gaya rambutnya yang berbeda, Safa masih sama persis seperti yang terakhir kali Akmal lihat saat SMA, malah lebih cantik. Wajahnya awet muda, dan tentunya makin glowing karena Amkal yakin gadis itu pasti makin ekstra perawatan.
“Oh... kirain bersama dalam satu kisah....”
Ledekan itu berasal dari Angga, yang kontan mengundang tawa teman-temannya, termasuk Kamila yang berusaha mengulum senyum karena dia sendiri tahu bagaimana Akmal dan Safa dahulu.
“Kisah kasih di sekolah... dengan si dia... tiada masa paling indah....”
“Hahahaha....”
Agnes mengusap telinga melihat Ozan dengan tatapan malas. “Enggak usah nyanyi, bisa gak? Bikin sakit telinga, tau.”
“Ye... bilang aja cemburu. Kamu suka Akmal ‘kan? Mal, ada yang suka, nih.”
“Apaan, sih, Otan!”
__ADS_1
“Udah udah, ih, kalian. Masuk, yuk. Bentar lagi jam tujuh, nih.” Ola melihat jam tangan.
Mereka pun bergegas memasuki mall. Mau tak mau Safa ikut melangkah walau berat hati. Tanggung, kasian Kamila yang sudah membelikannya tiket. Mereka berdelapan memasuki lift menuju lantai atas, tempat bioskop berada.
Sesuai niat awal, Spider-Man: No Way Home adalah film yang akan mereka tonton sekarang. Karena tiket sudah dibeli secara online, mereka tak perlu lagi mengantri berdesakan di loket. Tinggal cetak di komputer M-Tix lalu beli cemilan dan menunggu jam tayang, sesimpel itu.
“Mil, aku ke toilet dulu, ya? Pengen pipis...”
“Mau dianter?”
Safa menggeleng, “Gak usah, aku sendiri aja.”
“Ya udah, aku beli pop corn sama yang lain. Jangan lama-lama, ya. Bentar lagi kayaknya mulai.”
“Sip.” Safa mengacungkan jempolnya lalu pergi.
Akmal yang sejak tadi memerhatikan mendekat pada Kamila. “Dia mau kemana?”
“Kepo,” sahut Kamila menimbulkan decakan pada pria itu. Merasa tak mendapat jawaban Akmal pun menjauh.
Kamila yang melihat itu menggeleng, dasar gagal move on, batinnya.
Kamila dan kawan-kawan sudah duduk di ruang teater, lampu sudah digelapkan dan film siap diputar. Setelah selesai iklan tentu saja.
Kursi yang mereka pesan sama-sama di bagian tengah, spot paling nyaman saat menonton di bioskop. Kamila menoleh pada Safa yang duduk di sampingnya, entah kenapa sejak kembali dari toilet Kamila merasa Safa sedikit berbeda. Gadis itu cenderung lebih diam, seperti ada sesuatu yang mengganggunya.
Terlihat dari ekspresinya yang seolah tak fokus. Kenapa Kamila bisa berkata seperti itu? Karena kalau fokus Safa sudah jejeritan melihat iklan film horor di depan sana. Yang di TV saja sudah bikin kejer, apalagi yang segede gaban kayak layar bioskop.
Tapi yang terlihat sekarang justru sebaliknya, wajah Safa datar-datar saja. Dan itu membuat Kamila yakin seratus persen ada sesuatu yang terjadi saat Safa ke toilet. Tapi apa?
__ADS_1
“Saf.” Kamila menyentuh tangan Safa membuat gadis itu menoleh.