
Safa termenung, terduduk di samping ranjang dengan mata menatap sesuatu di tangan. Kakinya menekuk di atas karpet bulu yang nyatanya tak mampu memberi kehangatan. Bongkahan ludah berusaha ia telan, tatkala sebaris kata kembali terbaca.
Duda/Gadis.
Dia menemukannya di beberapa lembar pertengahan buku nikah. Safa kembali menangis meratapi kebodohannya. Kenapa dia tidak teliti saat itu? Padahal kebenaran sudah ia genggam andai Safa mau menyelisik lebih dalam.
Safa meraung, memukul-mukul lututnya sebelum membenamkan wajah di sana. Ia tergugu. Bahunya bergetar. Kendati sebanyak apapun ia menangis tetap tak meredakan gejolak di dada. Ia malah ditampar satu fakta lainnya yang lebih menyakitkan.
Ayahnya dan bundanya. Mereka berdua tahu mengenai status dan latar belakang Edzar. Sejak jauh-jauh hari. Lucunya, keduanya kompak tak membuka suara.
Safa semakin merasa terkhianati. Bukan hanya Edzar, tapi orang tua yang paling ia junjung tinggi pun tega mencederai kepercayaannya.
Jika seperti ini, siapa yang harus ia percaya? Sementara semua manusia di muka bumi ini terus saja membohonginya. Seakan-akan Safa adalah satu dari sekian orang bodoh yang pantas menjadi lelucon.
Ia terkekeh, menertawakan nasibnya yang miris. Mendadak dia berharap kebaikan hati Doraemon untuk memberinya pintu ajaib. Safa ingin pergi, menjauh dari orang-orang munafik di sekitarnya. Akan lebih baik jika Safa tak mengenal siapapun. Setidaknya, mereka tidak berpotensi menyakiti hatinya sedalam ini.
Perlahan Safa mengangkat kepalanya dari lutut. Sejenak ia termangu, sebelum kemudian tubuhnya menelungkup mengintip kolong ranjang. Terdiam sejenak, lantas tangannya terulur merogoh sesuatu yang tergeletak di sana.
Ia kembali duduk, menatap kosong botol kecil di genggaman yang sudah lama tak ia pegang. Safa meremasnya, menelan ludah dengan perasaan dilema. Haruskah ia meminumnya lagi?
Padahal, Safa sudah mulai lepas dari ketergantungan. Tapi Safa membutuhkannya sekarang.
Lagipula, Kak Rey bilang dia masih bisa menggunakannya sesekali. Benar. Hanya sekali ini tidak apa 'kan?
Dengan yakin Safa mulai membuka botol kecil itu, menuangkan isinya ke telapak tangan. Satu. Dua. Tidak, Safa menggeleng, memasukkan kembali yang satunya.
Tapi kemudian ia termenung. Setelah pemikiran yang matang, Safa keluarkan lagi obat-obatan itu hingga lima butir. Rasanya tidak akan cukup berefek jika hanya satu.
Ia mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Mata Safa terpejam seiring tangannya terangkat hendak memasukkan obat penenang itu ke mulut.
Sedikit lagi. Hampir dia berhasil menelannya, kalau saja Nyonya Halim tidak membuka pintu secara tiba-tiba dan berlari ke arahnya, menepis tangan Safa hingga butir-butir kecil itu berhamburan.
__ADS_1
Wanita itu berteriak keras. Wajahnya terlihat berang mengguncang bahu Safa. "Apa yang kamu lakukan!"
Safa terdiam. Rautnya datar melihat ke depan. Tak sekalipun dia melirik sang bunda yang menatapnya marah.
"Kamu mau mati? Iya? Istighfar, Safa!"
Apa? Mati? Hanya 5 butir tak akan membuatnya mati, pikirnya. Paling overdosis. Memang itu yag dia mau. Siapa tahu Safa bisa tidur sedikit lebih panjang. Beristirahat sejenak dari rasa sakit yang bertubi-tubi menggerus hatinya.
Kenapa Tuhan begitu tega? Safa bahkan tidak pernah bersentuhan dengan seorang pria. Maksud Safa dalam arti yang lebih.
Tapi, kenapa dia harus mendapatkan bekas orang?
Mungkin Safa terlalu kolot mengharapkan pria suci di jaman sekarang, terlebih di kota besar. Tapi, anak? Entah kenapa Safa sulit menerimanya.
Terserah orang bilang pikirannya terlalu jahat, berlebihan, atau apapun sejenisnya. Seperti kata Edzar, semua ini hanya tentang anak.
HANYA.
Memang mudah berkata tanpa mengalaminya secara langsung. Karena yang bisa merasakan dengan jelas selebam apa hatinya hanya Safa seorang. Bukan Edzar, bukan pula bundanya apalagi ayahnya.
"Bunda tahu aku benci orang yang gagal."
Hening.
Sang bunda terdiam, matanya lekat menyelami keceriaan putrinya yang hilang ditelan kekecewaan.
"Edzar orang yang baik." Nyonya Halim menjawab dengan suara rendah.
Safa menoleh sengit. "Baik?" Dia mendengus. "Baik dalam menyembunyikan kebohongan, begitu?"
Suasana kembali sunyi. Detak jarum jam menggemakan eksistensinya di tengah keremangan kamar Safa yang tertutup gorden.
"Semua orang punya masa lalu."
__ADS_1
"Memang. Tapi tidak semua masa lalu bisa diterima."
Nyonya Halim menggeleng. "Bisa. Asal kamu bersedia melihat dari teropong yang berbeda."
"Safa. Tidak semua orang yang gagal dalam berumah tangga maka dia buruk akhlaknya. Kamu terlalu terpaku pada pengalaman satu orang hingga menutup mata bahwa alasan orang bercerai itu banyak macamnya."
"Ada beberapa faktor entah itu dari pihak suami atau isteri. Kamu tidak bisa menyamaratakan semuanya."
"Dan apa alasannya? Bisakah Bunda jelaskan faktor yang membuat Edzar berpisah dari istrinya?"
Lagi-lagi hening. Safa mendengus melihat sang bunda yang seketika bungkam. "Bunda saja tidak bisa mengatakannya." Ia mengalihkan pandangan ke depan. Pada segaris cahaya yang berhasil menyusupi celah gorden yang ditutup asal.
"Edzar yang berhak menjawab itu. Dia akan jelaskan semuanya sama kamu. Karena kamu istrinya. Dan dia suamimu."
"Suami? Suami mana yang tega menipu istrinya sendiri?"
"Jika memang dia pria yang baik, dia akan jujur sebelum memutuskan menikahi seseorang."
Nyonya Halim terdiam. "Maka dari itu, dengarkan Edzar. Beri dia kesempatan untuk menjelaskan. Dengan begitu kamu bisa puas bertanya langsung padanya, tanpa harus capek menerka-nerka dan terkurung dalam spekulasi yang belum tentu benar."
Nyonya Halim bangkit, memunguti butiran obat yang berhamburan di atas karpet. Memasukkannya kembali ke dalam wadah tanpa sisa. Kemudian dia menatap Safa lagi. "Bunda tidak akan memaksa kamu ke depannya. Kamu sudah besar, sudah saatnya mengambil keputusan sendiri. Bunda juga tidak akan menyayangkan andai kata kamu ingin berpisah. Itu hak kamu. Bunda maupun Ayah tidak berhak ikut campur."
"Mau stop, silakan. Mau lanjut juga silakan. Hanya kamu yang tahu isi hatimu sendiri."
"Namun sebelum itu kamu harus mau bicara dengan Edzar. Setelahnya terserah, apa menurutmu masa lalu Edzar bisa kamu terima atau tidak."
"Satu yang ingin Bunda beritahu. Setiap pernikahan pasti menemui ujian. Apalagi di awal-awal. Macam-macam masalah datang silih berganti. Karena menikah bukan hanya menyatukan dua hati. Tapi watak, karakter, juga kebiasaan masing-masing pasangan turut andil dalam terbangunnya dasar kepercayaan."
"Sederhananya, kamu dan Edzar merupakan dua orang asing yang dikunci dalam satu ruangan. Untuk saling bertahan, tentu kalian dituntut untuk saling mengenal, memahami pribadi satu sama lain supaya terbentuk kekompakan yang akan mendasari pondasi kebersamaan."
"Perselisihan dalam sebuah hubungan adalah hal wajar. Ringan dan beratnya, tergantung bagaimana kamu menerima kenyataan yang sudah ada."
"Ibaratnya kamu membuka kotak hadiah. Apa sebelumnya kamu juga tahu apa isinya?"
__ADS_1
"Tidak 'kan? Begitu pula masa lalu Edzar. Mungkin ini hanya satu dari sekian cerita yang dia punya. Tapi seiring berjalannya waktu, semuanya pasti akan terbuka."
"Tinggal bagaimana keikhlasan kamu menerimanya. Karena Edzar hanya pemberian Tuhan untuk melengkapi kekosonganmu. Menyempurnakan separuh agamamu lewat pernikahan."