SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 191. EDZAR SIDE [FLASHBACK] 1


__ADS_3

12 tahun lalu ....


"Edzar, maaf saya lupa bilang, tadi saya tidak bisa ke kampus karena ada seminar di tempat lain. Kamu tolong bawa tugasnya ke rumah saya saja. Nanti malam saya periksa."


Aku menghela nafas ketika mendapati pesan dari seorang dosen yang hari ini seharusnya kutemui. Akan tetapi hingga sore menjelang pun beliau tidak kelihatan batang hidungnya.


Pantas. Kenapa tidak sedari tadi bilang kalau tidak bisa datang? Tahu begitu aku tidak perlu repot ke kampus pagi-pagi dan menunggu tanpa kepastian.


Ini bukan pertama kalinya. Pun bukan aku saja yang mengalami. Banyak teman-teman yang juga kerap kesal dan merasa dipermainkan. Mau protes pun rasanya tidak mampu. Bisa-bisa nilai yang menjadi taruhannya.


Sebagai mahasiswa tingkat akhir aku sudah mulai disibukkan oleh penyusunan skripsi dan tugas akhir. Belum lagi KKN, persiapan wisuda dan lain-lain. Tapi aku bersyukur tidak terkendala biaya selama masa kuliah. Berbeda saat masih berada di sekolah dasar. Karena memang pendapatan ayah belum sebesar seperti sekarang.


Singkat cerita aku tertimpa kesialan lain saat hendak menyambangi rumah dosen. Motor yang kupakai mendadak pecah ban saat di perjalanan. Terpaksa aku naik angkutan umum karena waktu terus menyingsing. Langit pun mulai gelap oleh kumulus awan yang kelabu. Sepertinya hendak hujan.


Kutatap kembali ponsel di genggaman. Memastikan alamat yang sempat dosenku berikan. Aku mencari sekolah yang dimaksud. Katanya, setelah halte ada SMP yang harus kulewati untuk sampai di rumah beliau.


Setelah menemukannya, langsung saja kuhampiri kediaman yang cukup rindang oleh pepohonan itu. Melihat nomor yang tertera di beton pagar, kemudian memencet bel setelah dirasa benar.


Seorang perempuan baya keluar membukakan gerbang minimalis yang tingginya hanya sebatas dadaku.


"Kamu pasti Edzar, ya? Tadi Bapak sudah bilang salah satu mahasiswanya mau ke sini. Katanya mau nganterin tugas. Benar?" tanya beliau yang ternyata istrinya.


Aku pun mengangguk. "Betul, Bu. Maaf sekali merepotkan," sahutku seraya memberikan sekumpulan tugas yang selesai kukerjakan dini hari tadi.

__ADS_1


Selepas itu, tanpa menunggu waktu lama aku langsung bergegas pulang. Berlari ke halte saat gerimis mulai berjatuhan.


Sial. Aku menggerutu dalam hati. Seharian ini moodku sangat tidak baik. Ditambah perutku lapar karena belum terisi sejak siang tadi. Hujan mengguyur deras permukaan bumi. Aku hanya bisa terdiam menatap rintikan air yang menimpa aspal. Tanpa memedulikan riuhnya suara orang-orang di sekitar.


Halte tampak penuh oleh mereka yang berteduh. Sama sepertiku, sebagian merasa kesal dengan cuaca yang akhir-akhir ini terbilang ekstrim. Diam-diam hati berharap semoga tidak ada kejadian pohon tumbang dan sebagainya yang akan berpengaruh pada aliran listrik.


Akan sangat menyebalkan jika listrik mati, sementara aku entah berapa lama lagi terjebak di sini. Perkiraanku, aku akan sampai di rumah setelah hari berubah gelap.


Dan Ibu pasti akan mencecarku karena khawatir.


Kutolehkan kepalaku kanan kiri menatap sekitar. Petir bergemuruh menyambar-nyambar. Mataku tiba-tiba terpaku pada satu objek yang bisa dibilang paling mencolok. Seorang gadis berambut pendek dengan kulit seputih porselen. Wajah orientalnya membuatku mengira mungkin dia keturunan China atau Korea.


Aku melihat logo yang tertera di seragam putih birunya. Dan seketika tahu bahwa dia salah satu murid dari SMP yang sempat kulewati tadi.


Namun bukan itu yang menarik perhatianku, tapi seorang pria di sampingnya yang tampak mencari-cari kesempatan menyentuhnya.


Kakiku lantas mendekat. Aku tak bisa diam begitu saja ketika kejahatan terjadi di depan mataku sendiri. Apalagi yang menjadi korban adalah gadis di bawah umur.


Namun baru beberapa langkah kuhela, gadis itu tiba-tiba beranjak dari tempatnya. Aku terdiam melihatnya mendekat ke pinggir jalan. Tantu aku mengernyit saat dia berjongkok melepas tas punggungnya. Tubuh mungilnya sedikit terguyur hujan dan basah.


Karena penasaran akupun sedikit memajukan langkah, melihat apa yang sebenarnya gadis itu lakukan. Dan seketika terpaku saat tahu apa yang membuatnya rela kehujanan dan mengorbankan tas yang kutebak lumayan mahal.


Seekor anak kucing liar menggigil kedinginan. Bulunya tampak lembab dan kotor, terciprat reruntuhan air yang menimpa pinggiran halte. Ia tak kebagian tempat berteduh lantaran halte tampak penuh. Dan lagi, sepertinya ia sedikit takut terhadap manusia.

__ADS_1


Bisa dilihat dari sikapnya yang was-was. Matanya beberapa kali melirik si gadis yang menaunginya. Gadis itu menunduk melempar senyum.


Anehnya, malah aku yang merasa tersihir hingga saraf-saraf di ototku mendadak berhenti tak mampu bergerak. Sesuatu terasa berdesir, debaran pun meningkat memompa rasa asing yang tiba-tiba menguak.


Aku mematung. Entah kenapa mataku tak bisa berhenti memakunya. Gadis itu tampak bersinar di bawah guyuran hujan. Cantik. Rautnya terlihat tulus dan murni.


Padahal beberapa ada yang membawa payung. Tapi tak satupun dari mereka peduli. Hanya melihatnya sebentar lalu melengos.


Entah berapa lama gadis itu bertahan dalam posisinya. Aku berusaha keras untuk tak terlalu menghiraukan. Akan tetapi mata tetap saja meliriknya. Hingga kemudian hujan sedikit mereda. Setidaknya tak selebat di awal-awal. Kendati begitu guntur masih kerap bersahutan.


Kembali kulirik gadis yang masih berjongkok melindungi si kucing. Tubuhnya sedikit menggigil meski ia berusaha terlihat biasa. Hatiku mendecak, merasa kesal dengan sikapnya yang sok kuat.


Egoku runtuh. Kulepas jaket yang membalut tubuhku, menatap sejenak ke arahnya. Mulanya aku ragu, tapi nuraniku tak bisa diam saja melihatnya kedinginan.


Lantas aku berjalan mendekatinya. Menyampirkan jaket yang tadi kupakai di atas bahunya yang kecil. Lihat saja tubuhnya yang tenggelam di bawah jaket besarku.


Gadis itu nampak tersentak. Segera kuputar langkah sebelum ia menoleh. Aku merapatkan topi dan memutuskan berlari memecah hujan, meninggalkan halte, gadis itu serta jaketku.


Aku berteduh di depan sebuah rumah yang memiliki gerbang berpagu. Kendati hujan tak selebat tadi, bajuku tetap kuyup diguyur olehnya. Tentu aku tak bisa memaksakan diri menembus hujan. Terlebih aku memikirkan isi tasku yang mungkin saja basah meski kedap air.


Aku melongok ke kanan, pada halte yang berjarak cukup jauh dari tempatku berdiri. Meski sudah berpindah tempat, otak dan mataku tak lantas bisa lepas darinya. Apalagi jantungku masih saja berdebar tak karuan.


Aku sendiri kurang mengerti apa yang tengah terjadi pada diriku. Selama 23 tahun hidup berbaur dan bersosial, tak pernah sekalipun aku memikirkan seseorang sebegininya. Terutama lawan jenis. Meski aku malu mengakui, aku tak bisa menyembunyikan fakta bahwa aku belum pernah berpacaran.

__ADS_1


Tapi Heru sering bercerita saat dia jatuh cinta pada seseorang. Sedikit banyak aku tahu dan bisa membayangkan rasanya.


Dan sialnya sekarang aku bertanya-tanya, apa perasaan gugup dan jantung yang berdebar ini merupakan salah satu tandanya?


__ADS_2