
Berita terjeratnya Dava sudah menyebar luas di kalangan keluarga dan masyarakat. Tak ayal perusahaan juga terkena imbas dengan mundurnya beberapa investor yang berakibat pada ketidakseimbangan keuangan. Tuan Halim yang kewalahan semakin sibuk dan sering lembur. Terlebih kursi Wakil Direktur yang saat ini kosong dan entah kapan terisi lagi.
Kesedihan di rumah belum sepenuhnya sirna. Jelas karena salah satu keluarga mereka kini sedang terombang-ambing nasibnya. Empat hari sudah Dava ditahan, dan selama itu hanya Safa yang belum menjenguknya.
Selain kesehatan yang menjadi hambatan, Safa juga belum siap menemui Dava dalam situasi berbeda. Namun sekarang ia berhasil membobol ketakutannya dan memberanikan diri mendatangi rutan KPK. Menjenguk abangnya yang beberapa hari ini meringkuk dalam jeruji besi.
"Pasti dingin,"
Dava mendongak mendengar bisikan itu. Bibirnya terulas lemah dengan tatapan redup. Safa menunduk melihat tangannya yang tertaut di atas meja. Berbanding terbalik dengan keadaan hatinya yang tercabik, Safa justru berpenampilan terlalu glamor untuk ukuran mendatangi seseorang di lapas.
Setelan Louis Vuitton dan kacamata hitam terlihat mencolok dan menarik perhatian. Belum lagi pump shoes keluaran Louboutin yang membalut kaki putihnya. Safa lebih terlihat seperti selebriti alih-alih tengah bersedih.
Orang-orang pasti menghujatnya karena terkesan tidak bersimpati pada kakaknya yang tengah dipenjara. Namun mereka tidak mengerti bahwa sebenarnya Safa sedang berusaha menyenangkan Sang Kakak dengan cara terlihat baik-baik saja.
Dava malah akan terbebani jika Safa berpenampilan lusuh dan menyedihkan. Maka dari itu, Safa memilih koleksi termahalnya yang ada di lemari. Semoga dengan ini Dava berhenti memikirkan keadaannya dan fokus pada diri sendiri.
Meski Safa kecewa, tapi ia tak sepenuhnya menyalahkan Dava atas semua yang terjadi. Dava pasti punya alasan kuat jika benar melakukannya.
"Tidak terlalu dingin. Kamu sama siapa ke sini?" tanya Dava sekaligus menjawab pernyataan Safa tadi.
Safa masih setia menunduk dengan ekspresi datar. Jika diteliti lebih dalam, rautnya justru nampak tak bersemangat.
"Pak Iwan," jawab Safa masih dengan berbisik.
Dava tersenyum lembut, meraih tangan Safa dan menggenggamnya di atas meja. "Kacamatanya buka. Kamu bikin petugas takut." Kalimat itu jelas sebuah ejekan. Namun entah kenapa Safa justru bergetar mendengarnya. Tentu Safa segera mengendalikan diri tak ingin Dava tahu.
"Ternyata adik Abang sudah dewasa. Selama ini Abang selalu lihat kamu sebagai bayi, hahaha... Baru sadar kamu secantik ini. Cocok jadi Brand Ambassador-nya Givenchy."
Dava mengedip genit dan tertawa melihat raut Safa yang merengut. Tangannya tak kuasa menahan untuk bergerak mencubit pipi halus nan lembut itu.
"Ini Armani, bukan Givenchy," sahut Safa merujuk pada kacamata yang dipakainya.
"Iyakah? Wahh... Abang norak banget kalo gitu."
"Tapi Abang suka outfit kamu. Kelihatan elegan dan dewasa," lanjut Dava
"Safa memang dewasa."
__ADS_1
Hening.
"Safa sudah dewasa," tegas Safa sekali lagi. Nada bicaranya seolah sedang meyakinkan diri sendiri.
"Safa sudah dewasa, Bang. Abang tidak perlu khawatir."
"Safa—"
"Safa gak nangis waktu Abang pergi."
"Saf—"
"Itu berarti Safa sudah dewasa, kan?"
"Iya 'kan, Bang?"
Dava termangu di tempatnya.
"Safa sudah dewasa...."
"Safa sudah dewasa...."
Dava menepuk halus bahu adiknya, namun ia mematung saat sebuah guncangan mulai terasa samar. Safa menangis?
"Hiks. Enggak, Safa gak nangis," sangkalnya.
"Safa sudah dewasa. Safa gak nangis."
"Dek, cukup."
"Safa sudah dewasa—"
"Dek!!!"
Sontak suasana menjadi hening setelah Dava berteriak. Satu petugas yang menemani mereka terkejut dan menoleh. Namun ia tak jadi ikut campur saat tahu bahwa itu masalah pribadi dalam keluarga.
"Dek, cukup. Kamu ini kenapa?"
__ADS_1
Seolah tersadar, Safa mendongak melihat Dava yang tengah menatapnya khawatir. Jarinya terangkat menyentuh pipi sendiri. Basah.
"A—aku, aku kenapa?"
Dava mengernyit dalam mendengar pertanyaan itu. Ada yang salah. Kenapa Safa seolah tak menyadari perilakunya sendiri? Dava beralih duduk di samping Safa, tangannya mengusap lembut rambut Safa yang halus. Dava berusaha tersenyum di tengah kebingungan.
"Barusan..."
"Tidak. Sepertinya kamu harus segera pulang. Jam besuk sebentar lagi berakhir." Dava tidak jadi bertanya atau menjelaskan.
"Kamu baru sembuh, pasti lelah."
Safa terdiam sebentar, lalu menoleh pada petugas yang berjaga di depan pintu. Seolah paham, petugas itu bersuara. "Tiga menit lagi, Mbak."
Safa mengangguk, rautnya berubah sedih ketika melihat Dava. Namun tentu semua itu tertutup oleh kacamata. Inilah tujuan dia menggunakan sunglasses. Selain menyembunyikan mata lelah dan kehitaman, Safa tak ingin siapapun melihat bahwa ia bisa menangis kapan saja.
"Ya udah, Safa pulang. Abang baik-baik di sini."
"Hm," angguk Dava sembari tersenyum. "Salam buat Ayah sama Bunda," lanjutnya.
Safa mencium pipinya berkali-kali, dan Dava tertawa dibuatnya. Mereka berpelukan sebentar sebelum Safa benar-benar pergi dari hadapannya. Senyum Dava surut setelah adiknya berlalu. Pria itu duduk termenung memikirkan keanehan Safa barusan.
Ada apa dengan adiknya itu? Sebentar-sebentar melamun. Dava perhatikan beberapa kali Safa nampak tak fokus. Apa mungkin efek demam kemarin?
Di sisi lain, Safa berjalan gontai di sepanjang lorong. Di balik kacamata hitamnya, mata itu memandang kosong dan menerawang. Tak ada yang tahu sebesar apa rasa takutnya sekarang. Perusahaannya bermasalah, abangnya dipenjara. Ayahnya yang kelelahan, Sang Bunda yang juga sering menangis diam-diam. Tuhan, apa semuanya akan baik-baik saja? Kapan ini berakhir? Apa ia akan segera jatuh miskin?
Safa tak munafik dia takut kehilangan materi dan kemewahan yang selama ini menyelimuti hidupnya dari kecil. Safa takut. Bilamana nanti ekonomi keluarganya jatuh, apa Safa mampu bertahan di tengah kesenjangan sosial yang mungkin saja diterimanya?
Safa terlalu jauh berpikir? Itu hal yang wajar di saat seperti ini, kan?
Dalam lamunannya, mata Safa tiba-tiba menangkap sosok yang dikenalnya melintas beberapa meter di depan. Safa terkejut tentu saja, namun ia lebih penasaran dengan apa yang pria itu lakukan di sini.
Tanpa diminta kakinya berbelok mengikuti seseorang yang nampak tak asing itu. Dengan sedikit menjaga jarak Safa berjalan mengendap menjaga agar suara heelsnya tak terlalu membuat kehebohan.
Safa mengernyit kala orang itu memasuki sebuah ruangan. Bukankah ini jenis ruang besuk tahanan seperti yang Safa masuki beberapa menit lalu? Kadung penasaran, Safa pun mendekat dan mengintip dari celah pintu yang tak tertutup rapat.
Dua orang berlawanan jenis adalah pemandangan pertama yang Safa lihat. Satu penjaga entah sedang membereskan apa. Safa mematung dengan raut terkejut. Matanya membola di balik kacamata hitam.
__ADS_1
"Liandra?" gumamnya tanpa sadar.