SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 133


__ADS_3

"Wah, Mas Edzar jago bikin sop buah, ya? Enak, slurrp...." Pak Iwan menyeruput isi mangkoknya dengan sendok. Rasa manis dan segar seketika melintasi kerongkongannya.


"Saya sempat belajar dari pemasak di Cafe."


"Oh iya, ngomong-ngomong cafenya Mas Edzar itu, dulu saya sering mampir beliin Non Safa pisang goreng. Emang gak main rasanya, Mas. Wenak tenan!"


Edzar pun terkekeh, "Pak Iwan terlalu berlebihan," ucapnya merendah.


"Gak berlebihan. Emang rasanya joss. Iya 'kan, Non?"


Pak Iwan menoleh pada Safa yang juga menikmati sop buah buatan Edzar. Pun Edzar melirik kekasihnya yang sejak tadi bungkam. "Hm," gumam gadis itu.


Samar-samar raut Edzar meredup, Safa masih enggan dekat dengannya, apalagi bicara.


Tak lama kemudian Tuan Halim kembali dari taman belakang, mengangkat telepon dari orang kantor. "Pak Iwan, kita harus ke lokasi proyek sekarang. Katanya ada masalah."


"Lagi?" tanya Pak Iwan. "Bukankah tadi sudah, Pak?" lanjutnya heran. Sedikit tak rela meninggalkan sop buah yang sedang nikmat-nikmatnya ia santap.


"Ada sedikit kendala dalam pengiriman material. Jika dibiarkan, ini akan menghambat pekerjaan para tukang. Saya mau bangunan ini selesai bulan depan."


Mendengarnya mau tak mau Pak Iwan harus rela meninggalkan hidangan dingin itu. "Ya sudah, deh. Tuan gak mau coba dulu sop buahnya? Enak, lho," tawar Pak Iwan, sekaligus dia merayu, siapa tahu Tuan Halim bisa sedikit menahan kepergiannya.


"Enggak. Kalau mau, gampang, saya tinggal suruh dia bikin lagi. Benar, Nak Edzar?"


Kontan Edzar mengangguk, "Benar, Om."


Selepas itu Tuan Halim dan Pak Iwan gegas berangkat meninggalkan vila, menyisakan Edzar dan Safa berdua, lagi. Hal itu membuat dahi Safa berkerut, sepertinya sang ayah terlalu mempercayai Edzar. Kenapa, ya.


Dipikir bagaimana pun, otak Safa tetap buntu.


"Ai?" panggil Edzar dari samping. Lelaki itu menghela nafas sebelum kembali bersuara. "Ada yang harus kita bicarakan."


"Apa?" sahut Safa cuek. Dia kembali menyuap potongan buah yang tersisa di mangkoknya.


"Soal waktu itu." Edzar menjeda sebentar. "Kamu mendengar percakapanku dengan Heru?" tanyanya hati-hati.


Hening.


Safa tak merespon, gadis itu seolah tak mendengarkan dan tetap asik dengan makanannya.


Tiba-tiba Edzar menyeret mangkok Safa menjauh, perbuatannya berhasil membuat Safa menoleh dengan raut kesal. "Kenapa, sih!"


"Kita harus bicara-"


"Apa? Soal Om yang belum bisa melupakan masa lalu?" sewot Safa. Edzar terpaku menatap gadisnya. "Om mau bilang, Om masih cinta sama mantan Om, begitu?"


"Kamu salah faham."


"Salah faham bagaimana? Aku dengar dengan jelas, kok."


"Tapi kamu belum mendengar dari saya."


Safa mendengus, "Karena Om sudah pasti akan beralibi."


"Ai."


"Saya akan jelaskan. Saya akan beri tahu kamu semuanya. Tapi tidak sekarang."

__ADS_1


"Lalu kapan?" tantang Safa.


"Nanti. Setelah waktunya tepat."


"Memang kenapa kalau sekarang? Om belum menyusun alasan, begitu?" Safa mendengus. "Terserah. Jangan salahkan aku jika aku tidak lagi menyukai Om."


Safa bangkit berjalan ke arah dapur. Meninggalkan Edzar yang seketika bungkam di ruang tamu.


Dibukanya kulkas dengan sedikit kasar, mengambil air mineral dan meminumnya langsung dari botol. Safa terengah, tangannya gemetar, perasaannya mulai tak karuan. Dia takut, apa hubungannya dengan Edzar sudah benar? Safa tidak siap jika harus menemui kekecewaan. Haruskah dia mengakhiri ini sebelum semuanya terlalu jauh?


Safa tersentak kala sepasang lengan melingkari pinggangnya. Nafas Edzar berhembus di sekitar rambut dan telinganya. Pria itu memeluk Safa dari belakang. Safa terpaku dengan jantung berdebar.


"Jangan berkata seperti itu. Saat ini, tidak ada seorang pun yang menempati hatiku selain kamu," bisik Edzar.


"Tolong bersabarlah sedikit, karena aku harus menyiapkan mental sebelum bercerita." Dikecupnya telinga gadis itu seraya mengeratkan dekapannya.


Edzar meraih botol yang Safa pegang dan menaruhnya di meja pantry dekat mereka. Pemandangan taman belakang menjadi atensi utama keduanya dari balik kaca.


Safa mematung menerima perhatian Edzar. Dia senang, tapi juga takut. Ketakutan itu terus berkembang seiring Edzar yang semakin terang-terangan. Wajar jika hati Safa masih mengganjal, kan?


"Malam itu aku melihatmu pergi dengan seseorang. Apakah itu Rey?"


Dahi Safa mengerut, "Dari mana Om tahu Kak Rey?"


Edzar menghela nafas, "Sebenarnya aku tidak suka karena kamu memanggilnya begitu mesra," gerutunya pelan.


Safa tak menghiraukan kalimat rajukan itu. Dia kembali bertanya dan mau tak mau Edzar menjawab. "Aku bertemu dengannya di depan vila. Saat kalian baru pulang dan aku baru sampai."


"Aku yang gendong kamu ke kamar," lanjutnya. "Waktu yang tepat karena jika aku telat sebentar saja, dia yang akan membopongmu. Aku gak rela kamu disentuh-sentuh."


"Tetap saja dalam agama kita sepasang sepupu bisa menikah," tegas Edzar.


"Ya, tapi itu tidak mungkin terjadi antara aku dan Kak Rey. Dia sudah tunangan."


"Syukurlah," ucap Edzar yang sebenarnya tak merasa lega sepenuhnya.


Suasana diliputi kesunyian. Meski begitu mereka merasa nyaman satu sama lain. Edzar tersenyum saat Safa mulai menyandarkan kepala di dada bidangnya. Guratan oranye langit senja seakan menebar hangat di hati keduanya. Sinarnya menerpa menembus dinding kaca hingga menyebar ke sepenjuru dapur.


Edzar menghirup rambut Safa yang wangi. Matanya terpejam dengan bibir melengkung membentuk senyuman. Rasanya sangat damai. Dia ingin seperti ini selamanya.


"Mau selfie?" tanyanya tiba-tiba.


Safa sedikit mendongak menatap Edzar, "Hm?"


"Kita belum bernah foto bareng. Ayo kita foto."


Edzar mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mengotak-atiknya sebentar sebelum mengarahkannya ke depan. Safa menoleh menatap kamera, tersenyum kalem dalam pelukan Edzar.


Ckrek.


"Bagus. Kamu sangat cantik." Edzar berucap sembari menyorot Safa dengan tatapan hangatnya. Diusapnya pipi putih itu sembari tersenyum. Sosok Safa semakin indah di bawah terpaan lembayung. Edzar hampir mengira Tuhan menurunkan salah satu Bidadarinya dari surga.


"Safana Halim," bisiknya pelan. "Amo-te." Edzar membalik tubuh Safa dan memeluknya erat. Pipinya ia tumpukan di atas kepala Safa. Matanya terpejam merasakan darahnya yang kian berdesir.


Safa berkedip bingung. "Artinya apa?" tanyanya dengan suara terbenam di dada Edzar.


Bukannya menjawab, pria itu malah menciumi rambutnya. Safa tak bertanya lagi karena tak mau menghancurkan suasana damai mereka. Biar nanti dia cari di google arti kalimat Edzar.

__ADS_1


Hening menyelimuti keduanya. Safa menghirup bau parfum Edzar yang maskulin. Tidak menyengat, wanginya soft dan menenangkan, sangat tipe Safa sekali.


"Ini parfum yang kamu kasih waktu itu."


"Pantas kayak gak asing," gumam Safa.


Edzar terkekeh memainkan rambut Safa yang kecoklatan. "Kamu habis warnain rambut?"


Safa mengangguk.


"Cantik."


"Tadinya mau aku ombre."


"Kenapa gak jadi?"


"Takut Om gak suka," cicit Safa pelan.


Edzar tersenyum, meski gadis itu sempat memberi jarak, dia tetap memikirkannya.


"Saya akan selalu suka asal rambut kamu panjang."


"Om?"


"Hem?"


"Kenapa ngomongnya gak konsisten? Sebentar aku, sebentar saya?"


"Gak tau. Refleks saja. Kamu lebih suka yang mana?"


"Aku."


"Oke. Tapi kamu juga harus ubah panggilan kamu. Jangan panggil Om. Cukup umurku saja yang tua, kamu jangan nambah-nambahi."


"Terus panggilnya apa, dong?"


"Senyamannya kamu. Sayang atau Cinta juga boleh."


"Ish, Lucinta Luna, kali," ketus Safa.


Dada Edzar bergetar saat tertawa.


"Panggil Abang aja gimana?" tanya Safa.


"Nanti ketuker sama Dava."


Bibir Safa mengerucut berpikir. "Mas?"


Edzar menggeleng tak setuju, "Saya bukan orang Jawa."


Gadis itu merengut, "Apa hubungannya? Panggilan itu umum digunakan bahkan di luar Pulau Jawa."


"Justru itu, saya gak mau yang universal."


"Ya terus apa? Rewel banget, deh." Safa menggerutu.


"Uda aja gimana?"

__ADS_1


__ADS_2