SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 181


__ADS_3

Keesokan harinya, Edzar membawa Safa ke Jakarta. Ke sebuah daerah yang tidak Safa ketahui. Lebih tepatnya dia kurang mengenali kawasan ini.


Safa hanya diam, kendati Edzar tak berhenti mengajaknya bicara. Dia hanya sesekali menanggapi jika memang diperlukan. Itupun hanya berupa gumaman. Selebihnya Safa bungkam.


Meski dia memutuskan memberi Edzar kesempatan untuk menjelaskan, bukan berarti Safa bersedia kembali pada Edzar. Sejatinya sulit memaafkan orang yang sudah sedemikian rupa membohongi kita.


Apalagi mengenai status. Menurut Safa ini sudah fatal. Bukan hanya masalah dia pernah menikah dan punya anak. Melainkan tentang kepercayaan yang Safa ragu masih bisa dipertahankan.


Edzar bisa menyembunyikan kebohongan sebesar ini darinya. Tidak menutup kemungkinan akan ada kebohongan-kebohongan lain di masa mendatang. Safa takut. Dia takut andai nanti ada badai besar yang menimpa rumah tangga mereka. Safa tidak akan sanggup menerima kekecewaan lebih besar dari ini.


Sementara yang dia lakukan sekarang hanya ingin menguak kebenaran yang diragukan. Sekaligus mengupas kesalahpahaman yang selama sebulan ini tak menemui pencerahan.


Bunda bilang, sebesar apapun masalahnya kita harus berani menghadapi. Meski hati yang akan menanggung resiko semisal apa yang akan kita ketahui nanti mengecewakan.


"Mau makan dulu?" Edzar menoleh sebentar pada Safa.


Sementara wanita itu melirik jam di dashboard. Sebelas empat lima. Hampir pukul 12. Sudah masuk waktu makan siang. Safa tak bisa berbohong bahwa dia mulai lapar. Terlebih beberapa hari terakhir daya tahan tubuhnya seolah menurun. Ia kerap merasa lelah meski hanya diam di rumah. Mungkin Safa kurang mengkonsumsi serat, makanya mudah sekali letih.


Safa mengangguk menerima tawaran Edzar. Lelaki itu pun membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan pinggir jalan bertema Padang.


"Masakan Padang di sini enak. Malah yang terenak di Jakarta menurut Uda. Kamu harus coba. Pasti ketagihan." Edzar terlihat sangat bersemangat. Meskipun respon Safa tetap sama. Datar.


Ia tak akan patah semangat. Sekeras mungkin akan berusaha mengembalikan kepercayaan Safa padanya.


Safa turun lebih dulu. Sengaja. Karena dia tahu Edzar akan dengan cepat membukakan pintu untuknya. Dan Safa sedang malas menerima perhatian pria itu. Biarkan Edzar menyadari batasannya.


Dibanding itu, Safa belum sepenuhnya memaafkan Edzar. Ia masih perlu waktu untuk benar-benar menerima kenyataan yang ada pada pria itu.


Semua ini terlalu tiba-tiba. Siapapun pasti akan merasakan hal yang sama. Ketika Tuhan memberi kita kebahagiaan, lalu tanpa aba-aba melempar kejutan yang menampar keras kenyataan.


Mungkin sebagian dari kalian menganggap Safa berlebihan. Dan akan melempar pertanyaan, apa yang salah dari duda? Memangnya kenapa jika sudah memiliki anak?

__ADS_1


Sekarang Safa yang akan bertanya. Bagaimana perasaan kalian saat dibohongi oleh pasangan? Terlebih mengenai masa lalunya dengan wanita lain. Juga seorang anak yang kehadirannya tak patut Safa salahkan.


Sekali lagi ini adalah tentang kepercayaan. Sesuatu yang berusaha Safa bangun untuk Edzar, kini runtuh tak bersisa. Jangan salahkan Safa jika nanti ia akan lebih sering berspekulasi dan curiga. Karena kenyataannya pernikahan ini diawali dengan ketidakjujuran. Kendati Edzar sudah membeberkan alasannya menyembunyikan semua itu, kebohongan tetap kebohongan, dan Safa tak bisa begitu saja menerima.


Selepas makan, mereka kembali melakukan perjalanan. Sebenarnya Safa mulai jengah. Teriknya cuaca tengah hari turut mempengaruhi suasana hati. Kepalanya sesekali berdenyut pening. Tapi Safa hanya bisa menyimpan semua itu sendiri. Dia tak mau Edzar tahu dan berujung menunda niat keduanya untuk menemui Dika.


Kendaraan yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan sepi. Safa masih diam, membiarkan Edzar membawanya ke mana. Ia juga tak banyak bertanya ketika kakinya menginjak lintasan tanah merah berupa jalan setapak.


"Hati-hati." Edzar meraih tangannya, membantu Safa berjalan karena permukaan yang mereka pijak sedikit miring.


Mau tak mau Safa biarkan kali ini Edzar menyentuhnya. Ia tak berniat mempermalukan diri dengan adegan terguling atau terpeleset andai kakinya yang manja ini tak bisa menahan keseimbangan.


Hingga akhirnya mereka sampai di permukaan yang rata, barulah Safa melepas pegangan Edzar.


Bisa ia lihat sorot Edzar sedikit meredup. Safa tak peduli. Keduanya lanjut berjalan tanpa saling bergandengan. Edzar berada di depan, sementara Safa di belakang. Persis orang asing yang tidak punya hubungan.


Sebenarnya Safa penasaran. Kenapa Edzar malah membawanya ke hutan. Bukan hutan, sih. Lebih pada lahan kosong yang penuh dengan pohon dan rumput-rumput tinggi. Safa harus berhati-hati karena beberapa putri malu menjulur ke jalan yang mereka lintasi.


Hampir saja Safa keceplosan bertanya, kalau saja Edzar tak segera menghentikan langkah dan membuat kening Safa membentur punggung kekar itu.


Edzar berbalik dengan raut khawatir. "Maaf. Kamu gak papa? Sakit, gak?" Ia hendak mengusap kening Safa, namun tangannya berhenti di udara ketika wanita itu mundur satu langkah.


Edzar menarik lagi tangannya. Berusaha tersenyum meski raut itu tak bisa menyembunyikan rasa kecewa.


"Kemarilah."


Safa kembali mengekori pria itu. Tak lama Edzar berhenti lagi, pun Safa juga ikut berhenti di samping sang suami.


Namun, tubuh Safa dibuat mematung dengan pemandangan selanjutnya yang ia lihat. Nafasnya seolah tercekat mendapati sebuah lahan yang dibentengi dan tampak mencolok karena menjadi satu-satunya bangunan di tempat itu.


Safa menurut ketika Edzar mulai menuntunnya masuk. Otaknya mulai bertanya-tanya dan menyusun spekulasi alasan Edzar mengajaknya ke sana.

__ADS_1


Safa menghentikan langkah. Ia terpaku karena ternyata yang berkunjung bukan hanya mereka berdua. Namun ada seorang wanita yang berdiri membelakangi. Hijab panjangnya sedikit berkibar oleh angin.


Jantung Safa berdetak tak karuan, menerka-nerka siapa gerangan wanita itu.


Hingga kemudian tubuh terbalut syar'i itu berbalik, melempar senyum teduh yang tampak tak asing di mata Safa.


"B-bu Sinta ...?"


"Safa," balas wanita itu menyapa. "Apa kabar? Lama tak bertemu."


Safa tak menjawab. Lidahnya serasa kelu. Otaknya semakin berat dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Terlebih, kenapa mantan wali kelasnya ada di sini?


"I-ini ...."


Mengerti dengan keterkejutan Safa, Edzar merangkul bahu sang istri yang terasa tegang.


"Karena kamu sudah mengenalnya, Uda tak perlu memperkenalkan lagi. Hanya akan menjawab rasa penasaran kamu."


"Ini Sinta. Mantan istri Uda. Dia juga ibu kandung dari Dika."


Terkesiap. Safa semakin tergemap dengan fakta yang barusan Edzar katakan. Ia tidak salah dengar, kan? Apa Edzar bilang, mantan istri? Bu Sinta? Mantan wali kelas Safa saat SMA adalah ibunya Dika?


Dia wanita masa lalunya Edzar?


Permainan takdir macam apa ini?


Safa terlalu larut dalam rasa terkejutnya hingga tak menyadari Edzar membawa tubuhnya bergerak.


"Dan ini Dika. Radhika Wijaya. Putra kami," tunjuk Edzar pada sebuah makam berukuran kecil yang baru Safa sadari keberadaannya.


Nafas Safa tercekat. Apa ini? Dika, anak yang menjadi awal permasalahan hubungan mereka, ternyata hanya tinggal nama di sebuah batu nisan?

__ADS_1


__ADS_2