SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 84


__ADS_3

"Safa?"


"Iya, Ayah?" Safa menengok sang ayah yang tengah menatap padanya. Mereka tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan.


"Aktivitasmu lancar, Nak?"


Mungkin yang dimaksud Tuan Halim adalah kesibukan barunya. Safa mengangguk, "Lancar, kok, Ayah. Kenapa?"


Tuan Halim tampak mengela nafas pelan sebelum berbicara. "Ayah tidak melarang kamu untuk menjadi selebgram. Menghasilkan uang dari endorse, promosi dan sebagainya. Bahkan kamu mau menjadi model atau artis pun Ayah izinkan." Jeda sesaat.


"Hanya satu pesan Ayah, kendalikan dirimu. Jangan sampai kejayaan membuatmu larut. Batasi juga pergaulan, ya? Ayah tidak mau kamu berteman dengan orang-orang yang tidak jelas. Pilihlah mereka yang baik untukmu. Ayah tidak masalah kamu berkawan dengan orang yang status sosialnya lebih rendah. Kamu boleh berteman dengan siapa pun, asal tidak membawa pengaruh buruk. Sebagai contoh, keluar masuk club malam, mabuk-mabukan, dan pergaulan bebas lain yang akan menjerumuskan."


Safa tersenyum, "Ayah tenang saja. Teman Safa masih Kamila. Gak ada yang lain."


"Yakin kamu, Dek? Terus, yang suka antar jemput itu siapa? Tukang ojek?" tanya Dava mengejek yang dibalas delikan mata oleh Safa.


"Itu Leo. Dia teman Safa juga. Sama seperti Kamila."


"Serius cuman teman?"


"Abang kenapa, sih, kepo banget? Leo itu teman SMA Safa. Baru ketemu lagi beberapa hari terakhir."


Dava mengangkat alis sambil manggut-manggut melanjutkan makan.


"Leo?" Pertanyaan bernada tajam itu berasal dari Tuan Halim.


Mampus. Ini semua gara-gara mulut Dava yang comel.


"Kamu sering keluar bareng cowok, Safa? Kok, Ayah gak tau? Kamu diam-diam pacaran?"


Safa menggeleng rusuh, "Enggak gitu, Ayah... Leo itu teman Safa, bukan pacar!"


"Lalu, siapa pacar kamu?"


"Ayah, Safa gak pacaran..." rengeknya.


"Beneran?"


"Bener!"


"Awas kalau kamu berani bohongin Ayah," ucap Tuan Halim tajam.


Nyonya Halim yang sejak tadi diam pun menghela nafas. "Ayah gak usah lebay, deh. Safa itu udah gede. Wajar dong kalo punya pacar. Emang enak apa jadi jomlo terus?"


Ahh... sayang Bunda...!


Tumben Bunda baik begini? Biasanya bentrok mulu kalo sama aku, batin Safa.


Tuan Halim merengut melirik istrinya yang tampak santai memakan sarapan. "Bunda gimana, sih? Bukannya mendukung regulasi Ayah. Emang Bunda gak khawatir sama gaya pacaran anak jaman sekarang? Beda cerita sama kita dulu, paling banter cuman pegangan tangan. Di masa kini orang sudah berani ciuman meski belum ada ikatan halal. Bahkan bisa sampai lebih dari itu."


Andai Tuan Halim tahu putrinya sudah disosor dua kali oleh seorang lelaki yang menjadi tetangganya sendiri. Mungkin komplek perumahan elite ini akan rata oleh amukannya.


Safa meringis membayangkan semurka apa ayahnya bila mengetahui masalah itu. Tanpa sadar dia menggeleng-geleng kepala. Jangan sampai Tuan Halim tahu. Bagaimanapun Safa masih punya hati nurani kalau-kalau Edzar babak-belur di tangan sang ayah.


"Justru itu. Safa butuh lebih banyak mengenal lawan jenis. Biarkan dia tahu macam-macam tipe lelaki. Itu juga berguna untuk ketahanan hatinya agar tidak mudah terlena dan termakan dengan beragam janji manis. Mana yang buaya darat, mana yang tukang PHP, mana yang fuckboy, biarkan dia tahu semua."


"Kalau sudah banyak pengalaman, kecil kemungkinan dia akan tertipu dengan sosok pangeran yang ternyata tak lebih dari sekedar kodok buruk rupa." Nyonya Halim berujar dengan tegas. Membuat suasana ruang makan berubah hening.


Tak ada lagi yang berani membuka suara. Atau mungkin mereka malas untuk berdebat? Entahlah, yang pasti kali ini Safa satu fraksi dengan bundanya.


Pagi beranjak siang. Safa beralih ke kamar dan duduk di atas ranjang. Tangannya sibuk mengambil gambar beberapa produk dari sejumlah klien. Lalu selfie untuk dokumentasi konten yang akan ia upload nanti.


Kali ini Safa tak melibatkan Kamila. Selain karena gadis itu masih sibuk kuliah, yang Safa tangani ini termasuk mudah. Tak perlu bantuan profesional untuk mengambil foto. Kecuali kalau barang serupa baju dan pakaian lain, barulah Safa akan memakai fotografer seperti kemarin.


Ting!


Sebuah notifikasi pesan masuk di Instagram-nya. Safa bukan tipe orang yang suka mengecek DM, terlalu banyak chat dari orang-orang tak dikenal dan itu membuat Safa sungguh pusing. Setiap hari ada saja yang mengiriminya pesan. Karena itulah Safa lebih banyak mengabaikan.


Tapi sekarang Safa penasaran, soalnya dia agak familiar dengan nama yang muncul di pop up.


Diko_Regata : Hai?


Safa mengernyit, jarinya mengetik sesuatu untuk memastikan.


Safana_Halim : Ini... Kak Diko?


Balasan muncul dengan cepat.


Diko_Regata : Iya, hehe.


Mau WhatsApp kamu, tapi gak punya nomornya. Jadi aku DM aja. Gak papa, kan? Btw, boleh dong tukaran nomor?


Safa terdiam sejenak, berpikir apakah tidak apa-apa jika dia berikan nomornya pada Diko? Lagipula mereka sudah saling mengenal. Pria itu juga merupakan tetangganya.


Merasa tidak ada yang salah, Safa pun segera mengetik balasan.


Safana_Halim : Iya, gak papa. Boleh, kok.


Sederet nomor berhasil Safa kirimkan pada Diko. Tak lama kemudian sebuah panggilan video muncul di layar ponselnya. Safa segera menggeser tombol hijau dan nampaklah Diko yang tengah tersenyum sembari melambai padanya.


Safa membalas senyum dan lambaian itu. Setelahnya Diko pun bertanya, "Kamu lagi apa?"


Safa menggeser sedikit handphone-nya menunjukkan serakan barang di atas kasur. "Foto-foto buat paid promote, Kak."

__ADS_1


"Oh, gitu? Ganggu, dong, ya?"


"Enggak, kok. Santai aja. Ini juga udah selesai."


Diko tampak mengangguk, "Baguslah." "Ngomong-ngomong, mau keluar, gak?"


"Keluar?"


"Iya. Jalan-jalan gitu, sekitar komplek aja gak papa. Itu sih kalo kamu gak sibuk."


"Enggak sibuk. Malah aku bingung mau ngapain lagi di rumah. Hahaha."


"Ya udah. Jalan, yuk?"


Safa mengangguk antusias, "Ayuk."


Bergegas Safa merapikan tampilan di depan cermin. Dia tak perlu berganti pakaian. Dandan pun sudah tadi sehabis mandi. Safa hanya menyisir sedikit rambutnya dan mengambil beberapa lembar uang untuk berjaga-jaga. Safa tak bawa dompet, ia selipkan saja di saku celana agar tidak ribet.


Setelah itu Safa keluar menuruni tangga dengan menjinjing sandal. Nyonya Halim yang kebetulan lewat mengernyit heran.


"Kamu mau ke mana?"


"Keluar sebentar, Bun. Mau jajan."


Nyonya Halim hanya mengangguk saja. Lalu melanjutkan langkahnya yang tertunda ke arah dapur.


Safa memakai sandalnya dan keluar. Ternyata Diko sudah menunggunya di luar gerbang. Lelaki itu tersenyum, "Hai?"


"Hai," balas Safa.


"Kita jalan?"


Safa mengangguk. Mereka pun mulai melangkah menyusuri jalan sekitar perumahan. Mengombrol ringan sembari melihat-lihat lingkungan yang lumayan asri. Dari sana Safa tahu profesi Diko yang seorang freelancer dalam bidang desain. Pantas pria itu ada di rumah pada jam seperti ini.


Langkah keduanya berlabuh di pinggir danau buatan yang terletak di tengah lintasan jogging track taman komplek. Berlanjut pada jembatan yang menjadi penghubung dua daratan di sana.


Safa menunduk menatap bayangan dirinya yang terpantul di air. Diko melakukan hal yang sama, bedanya pria itu menengadah mengamati langit yang memang sedikit berawan. Mungkin sore nanti akan turun hujan.


Safa mengeluarkan ponselnya dari saku, membuka ikon kamera dan membuat rekaman pendek yang lalu dia edit menggunakan musik. Safa post video itu di Instastory-nya. Selesai.


"Kamu... punya pacar?" tanya Diko tiba-tiba.


"Huh? Enggak." Safa menggeleng.


"Oh...."


"Yang waktu itu joging sama kita? Dia tetangga kamu, kan?"


Meski bingung mengapa Diko menanyakan hal itu, Safa tetap mengangguk. "Iya. Kenapa?"


Safa menoleh dengan kening berkerut, "Cemburu?"


Diko mengangguk.


"Masa, sih? Kita gak ada hubungan apapun, kok."


'Jangan geer. Jangan geer,' tegas Safa dalam hati.


Safa tak menampik ucapan Diko membuat hatinya sedikit melambung. Namun Safa segera sadar dan menepis butir-butir harapan yang perlahan merasuk, berusaha membangun kembali angan yang serta-merta ingin Safa enyahkan.


Tidak, Safa. Edzar tidak menyukaimu. Mana mungkin dia cemburu.


Safa menghela nafas mengalihkan pandangan. Fokusnya kembali pada kamera, berputar mencari bingkai yang pas untuk ia ambil gambarnya. "Om Edzar itu saudaranya tunangan Tanteku. Dia calon Om ipar aku, Kak," jelas Safa.


Diko terdiam. Tatapannya memaku Safa yang tengah membelakanginya sambil mengangkat ponsel, mengayun ke sana ke mari demi menangkap angle yang bagus.


"Oh..." gumamnya setengah tak percaya. Karena orang buta pun akan tahu tatapan Edzar menunjukkan lebih dari itu.


"Laper, gak? Ngafe, yuk?" Tapi untuk saat ini, Diko akan memilih diam dan mengikuti alurnya. Sampai di mana tiba saat yang tepat, barulah dia akan memulai aksinya.


Safa menoleh, "Ke mana?"


"Mana aja. Terserah kamu. Kamu maunya apa?"


"Aku lagi pengen yang pedas-pedas, sih, Kak. Hehe..."


Diko tersenyum, "Ya udah, ayo."


Keuntungan tinggal di Cluster itu fasilitasnya lengkap. Minimarket, cafe, semuanya ada dalam lingkungan. Jaraknya yang berdekatan hanya butuh beberapa meter untuk ditempuh. Tak perlu repot-repot berjibaku dengan kemacetan jika ingin makan. Tinggal jalan kaki, sampai. Semudah itu.


.......................


"Pak, apa ini gak terlalu berat hukumannya?"


"Berat bagaimana maksud Ibu?"


"Hukuman seumur hidup?"


"Tidak. Itu sudah sesuai."


Jaksa wanita itu mengerutkan kening mendengar jawaban lempeng Edzar.


"Tapi, ini terdakwanya sudah mengakui dan menyesali perbuatannya, Pak," ucapnya tak setuju.

__ADS_1


Edzar menatap datar pada wanita di hadapannya. Tatapannya yang tajam berhasil menguarkan aura intimidasi. Membuat si jaksa wanita sedikit berkerut di tempat duduknya.


"Anda pikir, kejahatan bisa dibayar hanya dengan kata menyesal?" sentak Edzar membuat wanita itu terkesiap.


"Pak-"


"Walaupun dia sudah mengaku, menyesali, atau bersujud, menangis tersedu-sedu sekalipun, tapi kita lihat dari kasusnya. Dan kasus dia ini sudah jelas sangat berat!"


"Pak-"


"Apa gunanya lembaga hukum kalau semua perkara diselesaikan dengan kata maaf dan penyesalan?"


"Pak, maksud saya bukan begitu-"


"Lalu apa maksud anda? Meringankan hukuman yang akan berdampak pada ketidakadilan?"


Wanita ber-nametag Rini itu menunduk menelan ludahnya. Dia sedikit merasa heran, apa ini hanya perasaannya saja kalau Edzar terlihat lebih galak dari biasanya?


"Tidak, Pak. Baiklah, saya mengerti. Kalau memang ini perintah Bapak, saya laksanakan," ucapnya mengalah setengah tak rela.


"Silahkan."


"Baik, Pak. Permisi."


Edzar tak menjawab, menolehpun tidak.


Rini menggeleng-geleng kepala saat keluar dari ruangan pria itu. Mulutnya tak berhenti menggerutu saat berjalan kembali ke mejanya. Rekan-rekannya menoleh dengan raut heran.


"Ada apa dengan wajahmu?"


"Gak tau aku. Pak Edzar sensi banget hari ini."


"Wah, kena juga, ya, kamu? Kirain cuman aku yang kena marah dia."


"Kamu juga?"


"He'em. Aku sampai heran, gak biasanya Pak Edzar segalak itu. Dia bahkan marah hanya gara-gara typo satu huruf di berkas. Menurut aku kan gak ngaruh, masih bisa dibaca dan dimengerti. Toh, kalau memang perlu pasti akan diperbaiki nanti."


"Waduh. Kok, serem, ya? Aku jadi takut kalau dipanggil ke ruangannya..."


"Sensitif banget dia. Apa karena kurang belaian?"


"Hush! Omonganmu itu."


"Lha, iya. Dia kan gak punya istri. Denger-denger dia-"


"Ada apa ini?" Doni yang tanpa sengaja mendengar nama atasannya disebut-sebut pun berhenti.


"E-eh, Pak Doni. Enggak, Pak. Itu, kami lagi heran aja sama Pak Edzar hari ini."


"Heran kenapa?"


"Itu, Pak Edzar kok hari ini galak banget, ya? Semua kena marah sama dia."


Doni mengernyit, "Galak gimana maksudnya? Pak Edzar kan memang tegas orangnya."


"Ini bukan tegas. Dia memang lagi sensian. Semua dia komentarin. Kita dibentak-bentak, lho, Pak."


"Masa, sih, Pak Edzar begitu?" tanya Doni lebih pada dirinya sendiri.


"Kalau Pak Doni gak percaya, coba aja cek sendiri ke ruangannya."


Dengan wajah penuh keraguan, Doni melanjutkan langkahnya yang memang sejak awal tertuju ke ruangan Edzar. Dengan pelan dia mengetuk pintu kayu itu, lalu masuk setelah mendengar sahutan dari dalam.


"Pak?"


"Kenapa?"


"Ini, informasi yang Bapak minta." Sedetik kemudian Doni tersadar, dia menutup mulut dengan wajah panik. Matanya membeliak melirik takut-takut pada sebuah lukisan.


"Tenang. Alatnya sudah saya sabotase," ucap Edzar santai.


Doni menoleh terkejut, "Serius, Pak? Memang Bapak bisa?"


Edzar menatap datar pada Doni, "Kamu meragukan saya?"


Spontan Doni menggeleng. "Tidak, Pak. Tentu saya tahu Bapak itu pintar. Saya percaya saja."


"Katakan," titah Edzar yang sudah kembali fokus pada kertas-kertas di meja.


"Dugaan Pak Edzar benar, orang itu memiliki mata-mata di sini. Dan penyadap itu, seseorang meletakannya saat kita apel pagi, Pak. Itu dugaan saya. Masalahnya, tak ada satupun CCTV yang menangkap aksinya. Sepertinya memang orang dalam, karena dia seolah tahu seluk-beluk kamera di sini. Gerak lakunya tak terlihat di manapun."


"Yang saya pertanyakan, kalau dia memasang itu di lukisan, jelas semuanya akan terekam. Tapi, saya bahkan tidak melihat bayangannya di kamera?"


Edzar mengangguk lamat mendengarkan perkataan Doni. Fokusnya masih sama ke atas meja. "Lupakan. Mungkin itu perbuatan seorang ninja tanpa bayangan. Lebih baik kamu ambil ini dan kembali ke ruangan," ucapnya menyerahkan setumpuk map pada Doni.


Doni terperangah, "Anda bercanda, Pak? Hah! Ninja tanpa bayangan? Manusia macam apa yang tidak punya bayangan?"


"Pak, sejak kapan Anda main Instagram?" tanyanya kemudian. Kepalanya maju berusaha melongok pada ponsel yang tengah Edzar pegang.


Edzar mendelik, sontak Doni pun mengembalikan posisinya seperti semula. Kemudian dia bergumam, "Status siapa yang Anda lihat sampai membuat Anda sentimen siang ini? Semua orang kena marah tanpa sebab."


"Kamu bilang apa?"

__ADS_1


"Ya? Tidak. Saya hanya ingat kucing saya belum makan di rumah."


__ADS_2